Tentang Lagu: Indonesian With Attitude

Tentang Lagu: Indonesian With Attitude

Inilah sedikit tulisan untuk membagikan apa yang saya dengar dari single baru yang dikeluarkan oleh the one and only Iwa K. Sebelum membaca lebih jauh, mohon dimengerti bahwa ini tulisan ini dibuat berdasarkan selera pribadi, tanpa ada maksud untuk ngasih tau ini-itu mengenai hal-hal teknis, sekedar mau berbagi apa yang saya temukan lewat pendengaran (yang bahkan mulai berkurang kemampuannya gara-gara suka pakai in-earphone dengan ukuran volume yang cukup kencang dan dengerinnya lagu-lagu hardcore-metal gitu deh) ajah. Continue reading “Tentang Lagu: Indonesian With Attitude”

Advertisements

bahkan

bahkan

sepulangnya dari mencari jawab atas pertanyaan yang tak juga kutemukan, aku rebah pada kenyataan bahwa semua perkara pencarian makna sesungguhnya hanya mencemari kain yang dibentang sebelumnya dengan warna-warna bermacam nuansa, yang kata mereka lebih indah jika tetap dijaga putih saja.

lalu dengan merebahkan diri kubentang kain yang terlanjur penuh warna di dalam pikiran, memilah dan mengingat apa yang menjadi gurat dan siapa yang menorehnya. jemari menarikan huruf-huruf supaya terbaca oleh mata hati yang selama ini buram. menjelmalah mereka dalam kibar kain yang tertiup angin siang dan malam. tertembus panas dan dingin, kain putih penuh warna kecokelatan. terpapar cinta dan harapan, kain putih menyerap biru pagi dan jingga sore. terpapar setia, kain putih menyimpan bercak merah malam perawan. tercakar nafsu, kain putih terkoyak dan menyingkap hitam kelam yang bersemayam pada dinding di belakangnya.

apakah bisa kain bertahan putih jika setiap saat dibawa dan dikenakan? bahkan jika tidak ada apapun putihnya akan tetap pudar kehilangan cahaya yang memang meredup menjelang akhir masa pengabdian.

maka dalam lelah aku tetap mampu tersenyum saat melihat dan meraba kain itu dalam pikiranku.

beda halaman

beda halaman

saat kemarau mendera, halaman ini menjadi kecoklatan karena tanah yang tidak lagi tertutupi hijaunya rumput tipis-tipis yang dahulu memenuhi setiap ruas yang tidak ditindih semen dan tegel – saat aku menetap di sini sebelum mengucap janji untuk keluar, pindah dan mencoba membangun ruang baru dengan halaman yang lebih kecil namun terlihat apik.

penghujan dan kemarau gilir ganti menurutku adalah hal yang amat baik karena asrinya tampilan membutuhkan air pengasup mineral pada rumput supaya hijaunya tetap terjaga bekerjasama dengan panas yang membantu mengolahnya, meski tak dapat dihindari ada sebagian yang mengering, lalu mati dan tercabut tanpa paksa, namun belakangan akan kembali hijau karena ada tunas-tunas baru muncul di atas akar yang terus mencari jalan keluar menuju pendewasaan. Continue reading “beda halaman”

bagaimana

bagaimana

bagaimana mau menulis cerita jika setiap kali mencoba untuk memulai rasanya dadaku mendadak penuh oleh pikiran-pikiran yang tak sempat mendekam lama di benak – bermacam isi namun senada – dan bersepakat untuk tetap merapatkan barisan lalu menekan-nekan sampai mataku menghangat yang jika tak kutahan akan memburam lalu mencair dan menetes jatuh bersama daun-daun di halaman yang terhembus angin dingin sebelum hujan? Continue reading “bagaimana”

baju usang

baju usang

“mengapa bajumu terlihat usang?”

ya, memang sudah usang, termakan usia pemakaian sejak pertama kali kutebus dari etalase pusat perbelanjaan tempat keindahan semu dipamerkan – meriah juga hangat ketika lampu benderang, sunyi ketika segalanya dipadamkan, saat tak terlihat lagi senyum mengembang sebulan sekali sebab upah 30 hari yang baru masuk rekening, juga seringai abadi dari mereka yang memang tidak pernah dipusingkan oleh besaran kebutuhan, semua pulang setelah waktu menyatakan lelah sebab sejak jam delapan pagi ia telah membenturkan jarum-jarum diri di setiap hitungan detik sampai larut malam datang yang adalah tanda untuk meredam segala hingar bingar usaha rekam gambar instagram dengan menyampaikan rasa bosan, lalu lelah, kemudian mengantuk. pulang.

“aku tau hal itu, namun pertanyaanku: mengapa bajumu terlihat usang?”

Continue reading “baju usang”

giliran

membaca buku cerita bagiku adalah suatu perjalanan, tak usah terburu-buru menghabiskannya, tokh tidak ada suatu tujuan spesifik selain “selesai” di ujung jalannya. namun lain hal jika memang kau merasa bahwa cerita yang ada di dalam buku itu sedikit banyak membuatmu merasa mirip dengan karakter-karakternya, lalu merasa kisah hidupmu merasa mirip dengan alur ceritanya, lalu kau merasa sudah cukup bahan untuk juga membuat buku yang berisi tentang cerita hidupmu. Continue reading “giliran”

Tanyakan Aku Tentang Sepi

Tanyakan Aku Tentang Sepi

tanyakan aku tentang sepi

.

adalah sepasang kaki terangkat dan diletakkan di atas sadel sepeda gunung yang tersandar sendirian di tegel pembatas antara teras dengan tanah merah yang sedikit basah akibat hujan semalam dan tidak cukup panas sinar matahari untuk mengeringkannya

.

adalah dua mata yang kebingungan antara terbuka atau tertutup akibat angin yang mendesah perlahan seakan puas jika bisa membuat yang merasakannya bimbang antara meneruskan membaca kisah-kisah misterius atau memimpikan cerita-cerita yang tak pernah usai dan kerap membuat pakaian basah oleh keringat dingin dan kesal tak berujung

.

adalah membiarkan detik-detik larut dalam minuman panas yang memang telah disiapkan sebelumnya lewat ketidaksabaran menanti mendidihnya air dijerang dan tergesa-gesanya tangan yang menuang bubuk pekat lalu mengaduk pahitnya kenyataan sampai menjadi cair meski melekat erat di kerongkongan dan mempengaruhi semua yang terucap dan terbuat

.

tanyakan aku tentang sepi:

roda sepeda gunung ini ternyata kempis

kedua mata ini ternyata mengambang saja melihat matahari yang hampir habis

minuman ini sudah dingin dan rasa pahit jika membiasakan untuk menyesapnya ternyata berujung manis

oh, maafkan sandal yang terjepit itu, tak ada kesalahannya selain berusaha menjaga agar tidak terpeleset karena licinnya ragu yang kemarin membuat kaki bengkak dan membiru. tak apalah kalau hanya kaki, jangan hati.

iya kan?