jalan di depan

jalan di depan

jalan di depan sana rusak

mereka menambalnya

dengan puing-puing

sisa dinding keangkuhan

yang hancur

saat engkau lewat

bersalut senyum kemenangan

tak apa

setidaknya kehancuranku berguna

bagi mereka yang mau melintas

jalan di depan sana

Advertisements

menjelang agustus

menjelang agustus

bendera negaraku

kembali dijajakan oleh mereka yang mencari nafkah dengan keringat

bendera negaraku

kerap dipermalukan oleh mereka yang kelebihan nafkah tanpa berkeringat

bendera negaraku

tak pernah tahu apa-apa selain berkibar seturut angin yang berhembus

semoga para koruptor MATI MEMBUSUK di tahanan yang pake AC, ada kulkas, ada water heater, ada tv dan ada alat-alat rias…

bagi mereka

bagi mereka

rasa pahit itu

tak selamanya menjadi musuh

bagi mereka yang mencari manisnya cerita di ruas-ruas rindu menggebu yang tersirat pada kecup dan tubuh yang dibasahi tetesan keringat dalam gerak usang maju mundur naik turun yang kerap disebut tidak ada tujuan

rasa pahit itu

tak selamanya menjadi musuh

bagi mereka yang penah mengecap manisnya cerita pada lipatan-lipatan kisah yang tergurat pada luka-luka tubuh dibasahi tetesan keringat setelah gerak usang naik turun maju mundur yang kerap dinilai tidak ada tujuan

rasa pahit itu

tak selamanya menjadi musuh

bagi mereka yang saling merebahkan tangan pada detak jantung di dalam tubuh yang basah oleh tetesan keringat selewat gerak usang berulang-ulang pengirim senyum hangat tanda rasa yang telah diterima

rasa pahit itu

adalah pijak awal

permulaan segala pencarian

janganlah melulu dijauhkan

dan siapa bilang gerak usang itu tidak memiliki tujuan?

pastilah itu diucapkan oleh mereka yang belum pernah menemui kepuasan

mereka, yang memusuhi rasa pahit itu

perhitungan

memang, sedekat itu jaraknya. seperti yang telah kita perhitungkan. dalam dua masa yang berbeda, sekarang atau yang akan datang.

dan memang sedekat itu jaraknya, yang telah kita persiapkan. dalam dua hati yang berbeda, tersayang sebelum terhilang.

senyum adalah suaka bagi yang cemas. kerap menyudahi kuatir yang mengundang lemas. namun dia memaparkan kenyataan bahwa sesungguhnya tiada ada daya kita untuk menahan lajunya waktu yang menggulung jarak, seperti yang telah kita perhitungkan dan persiapkan.

kita bersiasat dengan angka, berupaya mengelabui dilema. jemari terus menulis cerita supaya semua yang dilewati ada ingatannya. kata terus diucap supaya semua yang terlewati ada maknanya. menghirup semerbak rindu dan menyimpannya lekat-lekat supaya terikat aromanya.

namun apakah dengan bersiasat kita akan mampu menolak datangnya akhir cerita?

kita tak lain hanya sosok yang berusaha melebur jadi hitungan angka, lalu meminta pada semesta agar menari bersama lidah api yang membakar matahari ketika siang dan hangus menghitam ketika gelap malam datang di belakang bulan, supaya terhindar dari jarak yang meminta pertanggungjawaban atas perhitungan dan persiapan kita.

maka, sebelum jarak itu habis tergulung, mari kita mengaku dan mencinta sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya, seluas-luasnya. sejujur-jujurnya supaya kelak dikenang: kita adalah yang pernah berjuang di tiap ruas ukuran, pada akhir jarak yang telah kembali pada titik awal.

kita tak lain hanya sosok yang berusaha menulis pada tiap gulungan jarak dengan perhitungan dan persiapan.

angin berhembus kembali

masa silih berganti

meski tak lebih dari panas dan dingin

dua hal yang pasti

hanya kadang kurang kadang lebih

~

angin berhembus tanpa disuruh

datang tiba-tiba tanpa beritahu

sejenak membawa sejuk

terlena dingin merasuk

~

aku selalu suka dingin

menimbulkan rasa ingin

dipeluk

didekap

.

diselimuti

.

halaman dibolak balik untuk membaca cerita

halaman disapu untuk membuatnya ceria

halaman dibolak balik untuk menulis cerita

halaman disapu untuk kembali menerima cahaya

~

cinta dibolak balik untuk mengulang cerita

cinta disapu untuk mengulang hangatnya

~

angin berhembus

membawa namanya terus

terlena membuatnya membeku

membatu di dalam hatiku

angin berhembus

angin sore berhembus

rayu diberangus

angin sore berhembus

rindu ditebus

~

di sebelah sana ada asa

sebungkah cinta berselubung masa

tak berdaya dalam ruang sela

bersemayam rentan di jiwa nelangsa

~

angin sore berhembus

rayu digerus

angin sore bersembus

rindu berbisik halus

~

di sebelah sini ada rasa

sekotak cinta berikat masa

tak berdaya dalam jenjang kala

bersemayam rentan di jiwa tersiksa

~

pada angin malam di sana sini menaruh harap

hembusannya membawa jawab

meski dengan jengah

selalu mengirim resah

~

pada angin malam kita menaruh harap

sukar bertemu dibalas dekap dalam lelap

meski dengan resah

dan berakhir jengah

~

namun angin sore masih berhembus

dan di sana sini rindu terus tergerus