Suaramu, Biduanita

Suaramu, Biduanita

Tergila-gila aku pada album berjudul Lintasan Waktu dan telah kutuangkan lewat barisan kata-kata kagum

Namun kurasa masih ada yang perlu untuk kutulis lebih, yang istimewa dari yang indah, adalah suaramu, Biduanita

Boleh lah kukatakan bahwa mendengar suaramu bagaikan cinta pada pandangan pertama – sekali lihat langsung sikat – sekali dengar langsung mekar beribu bunga cinta Continue reading “Suaramu, Biduanita”

Advertisements

cicak dalam bagasi

jika kamu tahu bahwa aku amat sangat tidak menyukai cicak, itu berarti kamu sudah mengenalku cukup lama dan cukup dekat. ya, sejak kecil aku amat tidak menyukai keberadaan cicak. apapun warnanya, dari yang off-white, coklat tua, loreng-loreng dan ukuran apa pun, kecil maupun besar, juga usia berapapun, tua atau muda, aku sangat tidak suka sama cicak.

lalu pagi ini gerimis halus kembali turun. ku siapkan segala keperluan menembus hujan saat bermotor ke kantor. ku lipat kemeja batik, chino pants, juga kolor sebagai cadangan jika nantinya celana yg kupakai basah kuyup dan tembus sampai dalam. kubuka bagasi dan kuletakkan semua itu termasuk tas berisi komputer jinjing dan buku-buku, juga sepatu yang akan kupakai nanti. ada satu barang tertinggal, kumasuk rumah dengan keadaan bagasi terbuka. kutemukan barang yang tertinggal, kumasukkan dalam bagasi lalu kututup. berangkatlah aku berkendara motor sambil bersiul-siul.

Continue reading “cicak dalam bagasi”

… dan terus saja …

… dan terus saja …

… dan kita terus berbincang

di dalam tempat yang tak terlihat 

oleh jiwa-jiwa penuh penasaran

    

… dan kita terus bercanda

di dalam tempat yang tak terduga

oleh jiwa-jiwa penuh curiga

   

… dan kita terus saja demikian

di dalam tempat yang tak teraba

oleh jiwa-jiwa yang memang tak ada

   

… dan aku terus saja demikian

di dalam tempat yang tak ada apa-apa

selain nelangsa yang larut melebur masa

Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)

Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)

Album kedua, istilah kerennya: sophomore, sering dikatakan sebagai ajang taruhan antara sang artis dengan nasib yang akan menentukan kelanjutan karirnya, akankah langgeng atau berhenti sampai di situ sebelum kemudian menghilang perlahan, tanpa pesan, seperti si mantan, yang kaya setan (maap, ada nuansa curcol, mohon abaikan). Danilla akhirnya tiba di fase sophomore, yang kusambut dengan hati penuh debar dan tanda tanya besar. Penasaran menggerogoti rasa sabar. Harapan begitu besar. Sekitar 2,5 tahun kutunggu kehadirannya setelah Telisik di tahun 2014, album yang penuh dengan rasa cinta baik melalui lirik juga notasi dan – tentunya – paras rupawan dalam kemasan wanita kikuk pemalu pembangkit rindu. Memang dalam album Telisik tak melulu tentang cinta yang utuh, ada juga yang tak (bisa) utuh membawa galau, namun segala notasi yang manis dan jazzy, akan kuingat Telisik sebagai album cinta.

Maka ketika kemarin, Senin 18 September 2017, sekitar pukul 5 sore kulihat pengumuman lewat akun instagram-nya, segera kusambangi album bertajuk Lintasan Waktu ini di Apple Music. Sungguh aku deg-degan. Ditambah dengan suasana diri yang baru saja bangun dari tidur siang yang ditemani mimpi tentang makan indomi telur dua porsi, lengkaplah gelisah yang kualami. Tak sabar kunanti unduhan selesai – aku tak suka streaming – sebab sinyal provider kerap tidak stabil berpotensi merusak kekhusyukan mengamati dan menikmati musik. Ketika akhirnya unduhan selesai, segera ku keluar rumah menuju teras untuk kemudian mendengarkan dengan teliti karya terbaru dari Danilla dan tim. Dengan segelas besar kopi di tangan, in-earphone tertancap di kuping kiri-kanan, posisi duduk sudah nyaman, sambil angkat kaki di bangku taman, maka dimulailah perjalanan.  Continue reading “Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)”

Dirimu, Biduanita

Dirimu, Biduanita

Masih teringat

    
Waktu itu gelap di kamar

Gelap di selasar

Gelap di luar

Gelap sekitar

Mencari pegangan agar tak hilang rasa percaya

pada cinta yang rasanya tak lebih dari kumpulan dusta beraroma wangi berasa manis

    
Pejamkan mata mencari suara 

Nelangsa jiwa mencari suaka

Risau membimbing jemari memilih satu nama

Pengalun nada-nada hangat asmara

Yang tak kutahu dan belum pernah kudengar sebelumnya

Suaramu adalah debur ombak di tepi pantai pukul 2 pagi

Matamu sesyahdu dua bintang jatuh

Penampilanmu lukisan anggun tanpa cela

Saat itu hatiku terikat pada harap gelap warna warni resah

Pelik harap, menanggalkan logika

Aku jatuh cinta pada lagu-lagumu, Biduanita

      
Waktu melintas

Kini kupejamkan lagi mata untuk mendengar

deru risau yang menggebu

pada dia yang telah ku tahu

pernah mengalun di deru ombak jam 2 pagi

dua bintang jatuh adalah mesra yang kau bagi

      
Dalam lintasan segala bisa terjadi

Biduanita, engkau telah menjadi

pribadi yang sesungguhnya menanti

Kejujuran terungkap lewat jati diri

Tak kutemukan lagi senandung rindu

Karena memang tak pernah ada itu rindu

Selain sekedar caramu untuk membuka jalan

Menjaring jiwa jiwa gelisah 

dengan perangkap lembutmu

Dan telah kau dapat semua itu

       
Tak ada yang salah, tak ada yang gagal

Ini semua teramat baik adanya

Tidak ada yang buruk, jika engkau jujur

Dan disekitarmu adalah pembawa pesona

Pelontar bunga-bunga api

Pengemas dan penentu penampilanmu

yang berhasil mewujudkan

Mimpi-mimpi indahmu, Biduanita

    
Kubuka mata yang terpejam

Melihat tajuk cerita di atas karyamu

Dan kusampaikan dengan jujur

bahwa indah itu masih ada

hanya saja sudah tidak kutemukan yang dulu ada

Tak ada cinta

Tak ada rindu

Hanya sendu

Menerjemahkan tatap matamu

yang bersembunyi di balik kacamata bundarmu

     
Kupejamkan mata

Kembali

Berusaha menerjemahkan

Dirimu yang baru