lagu barumu, biduanita

lagu barumu, biduanita

siang ini dimulai dengan “ah” dan lagu barumu

engkau biduanita yang pernah mengisi sebagian besar dendangku

kala membaca, kala menulis, kala tertawa, kala menangis

dalam senyap air turun dari pancuran membasahi tubuh letih

dalam semarak percik terlontar dari kembang api teman jiwa sepi

suaramu berat menyampaikan risau

suaramu lekat pada desau asmara nan parau Continue reading “lagu barumu, biduanita”

ukuran waktuku

ukuran waktu dalam satu hari adalah 24 jam atau 1.440 menit dalam satu hari. dalam sekian itu aku harus membagi 8 jam atau 480 menit minimal untuk mencari nafkah, 1 jam atau 60 menit di antaranya kugunakan untuk sekedar menenangkan pikiran sambil menikmati makanan yang kadang mahal kadang murah, 1,5 jam atau 90 menit di pagi dan 1 jam atau 60 menit di sore/malam hari kuhabiskan di dalam perjalanan menuju/pulang kantor, 1/2 jam atau 30 menit di pagi dan 2,5 jam atau 150 menit di sore/malam kupakai untuk bincang-bincang dengan orang tua, 2,5 jam kugunakan untuk bersosialisasi dengan kerabat atau latihan yang berhubungan dengan musik dan paduan suara. Continue reading “ukuran waktuku”

Kejutan

Kejutan

Duduk di bangku kayu panjang dalam sebuah warung penjual mi rebus di tepi jalan saat perjalanan pulang menuju rumah setelah seharian didera tuntutan profesi yang tak suka basa-basi.

“Kamu ga pesan apa-apa kan hari ini?

“Lho kita kan mau pesan mi rebus?”

“Maksudku selain mi rebus yang sudah pasti ini, adakah?”

“Ada hal yang spesifik yang ingin kamu tahu?”

“Tidak, hanya mau tahu apakah kamu ada memesan sesuatu”

“Belum sih, tapi aku sedang berpikir untuk memesannya”

“Oh ya, apa yang ingin kamu pesan?”

“Rahasia” Continue reading “Kejutan”

Hemat Pangkal Kaya

Apa yang paling dibutuhkan saat musim libur tiba? Duit!

Apa yang paling cepat hilang saat menikmati musim libur? Duit!

Bahkan seringkali duit keburu lenyap saat musim libur belum usai… Lembar-lembar yang sebelumnya nampak begitu jumawa membuat dompet sulit untuk dilipat – seakan ingin dilihat keberadaan dan segera digunakan – hanya berlaku pada 3 hari pertama saja… Tersisa 4 hari lagi menuju masa sibuk kerja yang membuat kehidupan kembali “normal” karena dihabiskan di depan meja kerja sambil menatap angka-angka dalam bermacam dokumen digital berformat .pdf, .xlsx, .docx dan lain sebagainya, sehingga mempersempit kemungkinan untuk melihat barang-barang yang dipajang oleh para penjual melalui media sosial yang melekat erat pada telepon genggam. Ya… Musim libur adalah musim yang paling boros… Tapi aku cinta musim libur, hanya saja kata cinta itu tak pernah cukup untuk membiayai kebutuhan foya-foya saat berlibur. Didasari kesadaran atas rendahnya kemampuan dompet dalam menjaga stabilitas ekonomi, maka kuputuskan untuk tidak mengambil cuti bersama selama masa liburan ini. Untungnya kantorku yang berpusat di London itu memang tidak libur – jadi kantorku di Jakarta pun tidak meliburkan diri hingga siapa saja yang tidak ambil cuti bisa tetap masuk kerja. Alih-alih tidak ada urusan selama liburan dan dengan adanya deadline report yang memang jatuh pada salah satu tanggal dalam masa cuti bersama, maka kubulatkan tekad untuk masuk dan bekerja. Akhirnya aku terlepas dari jerat konsumerisme liburan! Continue reading “Hemat Pangkal Kaya”

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Beberapa hari yang lalu aku datang ke acara bertajuk Freedom of Speech, Freedom of Preach yang kalo diambil maknanya secara bebas pasti berkisar pada orang yang akan menyampaikan sesuatu secara bebas, dengan caranya sendiri. Memang demikian. Acara ini dimaksudkan untuk mereka yang ingin menyampaikan uneg-uneg, keresahannya, atau apapun yang terlintas dalam pikiran mereka. Dalam publikasi yang tersebar lewat media sosial disampaikan bahwa turut mengambil bagian beberapa nama tenar dan yang mulai dikenal dalam dunia musik indie. Nama-nama yang tercantum itu rata-rata sudah memiliki basis penggemar yang cukup besar dan fanatik, yang kemanapun si idola akan manggung, maka penggemar itu pasti hadir. Itulah yang terjadi. Paviliun 28 sebagai tempat perhelatan acara tersebut menjadi penuh sesak, sampai tidak muat dan memaksa beberapa penonton harus puas untuk menyaksikan penampilan sang idola hanya lewat sisi luar kaca jendela.

Sebelum lanjut, perlu kukatakan bahwa aku tidak akan menyebut nama di sini, well, satu atau dua nama sih mungkin akan kusebut deh, namun kebanyakan tidak karena aku tidak mau disebut mendiskreditkan mereka karena ini hanya pendapat pribadi dan aku tidak berusaha untuk mempengaruhi kalian yang udah mau buang waktu untuk membaca tulisan ga penting ini. Yang ingin kusampaikan adalah kesan yang kudapat selama menonton acara ini. Itu saja. Continue reading “Freedom of Speech, Freedom of Preach”

ketahuan

jika aku pencinta hujan dan tak takut kebasahan karenanya dan lebih takut jika tidak bisa tiba di rumah sebelum jam 12 malam, maka kenapa aku tidak bergegas jalan hujan-hujanan lalu ambil kendaraan yang ada di parkiran?

ah, ternyata aku tak sebesar tulisan-tulisan yang selalu kupaparkan.

tak heran engkau memilih berpergian.