sabtu malam duduk di kedai

sabtu malam duduk di kedai

sabtu malam

duduk di kedai ini selama dua jam

mencari ide yang tak jua kutemukan

 

sabtu malam

duduk di kedai ini selama dua jam

seharusnya mencari cinta yang tak jua kutemukan

 

sabtu malam

duduk di kedai ini selama dua jam

bergelas kopi dan potongan-potongan kue manis membuat otakku keracunan

Advertisements

cicak dalam bagasi

jika kamu tahu bahwa aku amat sangat tidak menyukai cicak, itu berarti kamu sudah mengenalku cukup lama dan cukup dekat. ya, sejak kecil aku amat tidak menyukai keberadaan cicak. apapun warnanya, dari yang off-white, coklat tua, loreng-loreng dan ukuran apa pun, kecil maupun besar, juga usia berapapun, tua atau muda, aku sangat tidak suka sama cicak.

lalu pagi ini gerimis halus kembali turun. ku siapkan segala keperluan menembus hujan saat bermotor ke kantor. ku lipat kemeja batik, chino pants, juga kolor sebagai cadangan jika nantinya celana yg kupakai basah kuyup dan tembus sampai dalam. kubuka bagasi dan kuletakkan semua itu termasuk tas berisi komputer jinjing dan buku-buku, juga sepatu yang akan kupakai nanti. ada satu barang tertinggal, kumasuk rumah dengan keadaan bagasi terbuka. kutemukan barang yang tertinggal, kumasukkan dalam bagasi lalu kututup. berangkatlah aku berkendara motor sambil bersiul-siul.

Continue reading “cicak dalam bagasi”

lagu barumu, biduanita

lagu barumu, biduanita

siang ini dimulai dengan “ah” dan lagu barumu

engkau biduanita yang pernah mengisi sebagian besar dendangku

kala membaca, kala menulis, kala tertawa, kala menangis

dalam senyap air turun dari pancuran membasahi tubuh letih

dalam semarak percik terlontar dari kembang api teman jiwa sepi

suaramu berat menyampaikan risau

suaramu lekat pada desau asmara nan parau Continue reading “lagu barumu, biduanita”

ukuran waktuku

ukuran waktu dalam satu hari adalah 24 jam atau 1.440 menit dalam satu hari. dalam sekian itu aku harus membagi 8 jam atau 480 menit minimal untuk mencari nafkah, 1 jam atau 60 menit di antaranya kugunakan untuk sekedar menenangkan pikiran sambil menikmati makanan yang kadang mahal kadang murah, 1,5 jam atau 90 menit di pagi dan 1 jam atau 60 menit di sore/malam hari kuhabiskan di dalam perjalanan menuju/pulang kantor, 1/2 jam atau 30 menit di pagi dan 2,5 jam atau 150 menit di sore/malam kupakai untuk bincang-bincang dengan orang tua, 2,5 jam kugunakan untuk bersosialisasi dengan kerabat atau latihan yang berhubungan dengan musik dan paduan suara. Continue reading “ukuran waktuku”

Kejutan

Kejutan

Duduk di bangku kayu panjang dalam sebuah warung penjual mi rebus di tepi jalan saat perjalanan pulang menuju rumah setelah seharian didera tuntutan profesi yang tak suka basa-basi.

“Kamu ga pesan apa-apa kan hari ini?

“Lho kita kan mau pesan mi rebus?”

“Maksudku selain mi rebus yang sudah pasti ini, adakah?”

“Ada hal yang spesifik yang ingin kamu tahu?”

“Tidak, hanya mau tahu apakah kamu ada memesan sesuatu”

“Belum sih, tapi aku sedang berpikir untuk memesannya”

“Oh ya, apa yang ingin kamu pesan?”

“Rahasia” Continue reading “Kejutan”

Hemat Pangkal Kaya

Apa yang paling dibutuhkan saat musim libur tiba? Duit!

Apa yang paling cepat hilang saat menikmati musim libur? Duit!

Bahkan seringkali duit keburu lenyap saat musim libur belum usai… Lembar-lembar yang sebelumnya nampak begitu jumawa membuat dompet sulit untuk dilipat – seakan ingin dilihat keberadaan dan segera digunakan – hanya berlaku pada 3 hari pertama saja… Tersisa 4 hari lagi menuju masa sibuk kerja yang membuat kehidupan kembali “normal” karena dihabiskan di depan meja kerja sambil menatap angka-angka dalam bermacam dokumen digital berformat .pdf, .xlsx, .docx dan lain sebagainya, sehingga mempersempit kemungkinan untuk melihat barang-barang yang dipajang oleh para penjual melalui media sosial yang melekat erat pada telepon genggam. Ya… Musim libur adalah musim yang paling boros… Tapi aku cinta musim libur, hanya saja kata cinta itu tak pernah cukup untuk membiayai kebutuhan foya-foya saat berlibur. Didasari kesadaran atas rendahnya kemampuan dompet dalam menjaga stabilitas ekonomi, maka kuputuskan untuk tidak mengambil cuti bersama selama masa liburan ini. Untungnya kantorku yang berpusat di London itu memang tidak libur – jadi kantorku di Jakarta pun tidak meliburkan diri hingga siapa saja yang tidak ambil cuti bisa tetap masuk kerja. Alih-alih tidak ada urusan selama liburan dan dengan adanya deadline report yang memang jatuh pada salah satu tanggal dalam masa cuti bersama, maka kubulatkan tekad untuk masuk dan bekerja. Akhirnya aku terlepas dari jerat konsumerisme liburan! Continue reading “Hemat Pangkal Kaya”