lagu barumu, biduanita

lagu barumu, biduanita

siang ini dimulai dengan “ah” dan lagu barumu

engkau biduanita yang pernah mengisi sebagian besar dendangku

kala membaca, kala menulis, kala tertawa, kala menangis

dalam senyap air turun dari pancuran membasahi tubuh letih

dalam semarak percik terlontar dari kembang api teman jiwa sepi

suaramu berat menyampaikan risau

suaramu lekat pada desau asmara nan parau Continue reading “lagu barumu, biduanita”

ukuran waktuku

ukuran waktu dalam satu hari adalah 24 jam atau 1.440 menit dalam satu hari. dalam sekian itu aku harus membagi 8 jam atau 480 menit minimal untuk mencari nafkah, 1 jam atau 60 menit di antaranya kugunakan untuk sekedar menenangkan pikiran sambil menikmati makanan yang kadang mahal kadang murah, 1,5 jam atau 90 menit di pagi dan 1 jam atau 60 menit di sore/malam hari kuhabiskan di dalam perjalanan menuju/pulang kantor, 1/2 jam atau 30 menit di pagi dan 2,5 jam atau 150 menit di sore/malam kupakai untuk bincang-bincang dengan orang tua, 2,5 jam kugunakan untuk bersosialisasi dengan kerabat atau latihan yang berhubungan dengan musik dan paduan suara. Continue reading “ukuran waktuku”

Cerita

Cerita

Di tiap gambar pada sampul depan cerita

Di tiap perkenalan cerita

Di tiap awal dan akhir tiap bab cerita

Di tiap lembar kertas dengan deret cerita

Di tiap penutupan cerita

Di tiap ucapan terima kasih pada helai terakhir cerita

Di tiap puja puji di sampul belakang cerita

 

Palsu adanya

 

Semua sudah direncanakan sedari awal

Jika tak melihat gambar di depan, lalu perkenalan di awal, melewati tiap bab dan halaman

Maka tak perlu membaca penutup cerita

Tak usah iri melihat puja puji di belakangnya

 

Palsu adanya

 

Puja puji meluncur tanpa hambatan jika diberikan kesempatan

Puja puji bukan ketulusan

Puja puji bukan keikhlasan

Karena meski tak suka pada cerita tetap saja puja puji itu ada

Menempel di sampul belakang cerita

Dan dapat cap “Cerita Paling Laku” di halaman depan

 

Palsu adanya

 

Jadilah pesona

Jadilah karisma

Jadilah matahari panas pada titik tertingginya

Jadilah bulan dingin pada titik tergelapnya

Jadilah jiwa yang tak murahan

Meski tak mampu mencegah keberadaannya

Yang selalu hadir di tiap cerita

Kau sebut namanya cinta

 

Gerah. Getah. Darah.

Puja puji cerita adalah masalah.

Butuh

Butuh

kupikir setiap orang butuh waktu untuk duduk di kursi taman mendengar musik bagus sambil menatap langit cerah pukul 16:30 dalam bengong selama 10 menit

kupikir setiap orang butuh waktu untuk tiduran di sofa mendengar musik bagus dan membiarkan diri diliputi gelap pukul 18:00 dalam ruang tanpa pendar lampu dan tirai menutup rapat celah kaca jendela

kupikir setiap orang butuh waktu untuk berjalan di ruas relatif antar menit mendengar musik bagus dan membiarkan diri dikelilingi bisik pukul 00:00 dan bising pukul 23:59 dalam ragu harapan

mari

mari

terletak di sela-sela notasi

bersemayam dalam larik narasi

adalah keresahan

adalah kerinduan

hangat terpantik

tersengat, kau panik

     
duhai mendung di sore ini

kutenggelam dalam senandung sunyi

rintik hujan penyampai janji

angin semilir pelipur hati

     
di sini, ada semut merah mati

setelah menggigit kaki

dan kutekan sampai mati

saat kusadar ternyata ini panas matahari

      
lagu ini berisik sekali

buku ini sekedar luka hati

    
mari,

tidur denganku lagi

Doa (yang) Terucap Untuk Pahlawan Rock

Tuhan,

Mengapa Engkau mengizinkan Chris Cornell mengambil keputusan untuk menyelesaikan hidupnya dengan cara seperti itu? Mengapa Engkau mengizinkan orang yang banyak jasanya dalam dunia musik rock tahun 90an, yang secara tidak langsung juga telah memberi banyak warna di dalam kenangan masa sekolahku itu, menyebabkan rasa sesak di dada? Aku dan banyak temanku tak sanggup melawan rasa lemas yang timbul saat membaca berita itu, tak sanggup menahan diri untuk langsung sibuk membicarakan segala kontribusinya dalam dunia musik meskipun saat itu aku sedang dikejar deadline report yang harus dipresentasikan ke bule-bule yang cuma tau nyuruh-nyuruh dan menuntut hasil kerja maksimal, yang cuma boros dalam mengucapkan “good job, mate” atau “big thanks” atau “wonderful” tapi pelit saat kami mengajukan kenaikan gaji dan bonus. Aku tidak peduli dan mengambil waktu lebih dari satu jam untuk terus terpaku pada layar komputer, bukan untuk menyelesaikan amanat atasan namun untuk melebur dalam percakapan bersama para sahabat pencinta musik rock lewat aplikasi whatsapp via web sambil tetap memasang wajah berkerut supaya tetap terlihat sedang serius bekerja. Aku bersyukur karena wajah aku memang selalu berkerut saat sedang menatap layar komputer, baik sedang serius atau tidak, dikarenakan silindris mata yang cukup mengganggu… Engkau tahu, Tuhan, betapa aku sedih dan merasa terpukul atas kepergian Chris Cornell.  Continue reading “Doa (yang) Terucap Untuk Pahlawan Rock”