makna (7)

makna (7)

menuju akhir, kerap muncul ingatan-ingatan basi

menuju akhir, kerap muncul angan-angan sangsi

seandainya begitu, seandainya begini

panas dingin bergilir ganti

 

aku tak akan bertanya lagi

bimbang sekujur diri

niat yang merambat bagai akar beringin

kerap tercabut tatkala engkau muncul terbawa angin

aku bisa apa? jika ternyata cerita berjalan lain?

saat pena kembali menulis dan cinta pun menyalin?

 

kesulitanku menyampaikan rasa

kebimbanganku menerjemahkan makna

kegilaanku melawan fakta

kesalahanku membiarkan membabi buta

 

sungguh berbeda, kau lukisan muda tanpa perlu kata

aku carut marut  merah nestapa

yang putih berbaurlah dengan yang putih

kelabu jiwa tak keberatan untuk berakhir perih

 

tujuh adalah sempurna

muslihat ini berakhir jua

Advertisements

makna (6)

hari berlalu, makna terurai

lelahkah kau turut dalam permainan?

semua bicara dan tulisan telah berubah

menjadi remah berserakan di atas meja

dan rindu adalah kuitansi belanja yang harus dibayar

lalu diremas dan dilempar ke tempat sampah

    

memang ingin kulangsung bertanya tanpa perlu bersiasat kata

namun mendadak kedai ini ramai oleh tawa dan teriak

membuyarkan ancang-ancang yang telah kubuat

untuk melompat ke tempat di mana resah bersemayam

    

kita terpisah sejengkal saja

namun tak pernah sanggup tangan merengkuh rasa

berisik di sana, kelu di jiwa

penat menduga apa yang hendak dipapar

makna (4)

makna (4)

di luar sana hujan dan semestinya dingin

gerangan hal yang sama kah di tempatmu sekarang?

aku tak tentu

angin dingin merenggut hangatku

dia dingin karena tak perlu tahu

apa yang menjadi lamunanku

apa yang menjadi lagu-laguku

dan tetes air yang menyapa tubuh adalah ribuan rindu

yang kerap mengisi mimpiku

   

makna (3)

makna (3)

kian tertambat

kian terikat

pada rindu yang menyerbu saat senyum tersudut di pojok penuh debu

pada basi-basi umpama warna-warni keinginan hati

hingga rela menghabiskan banyak jenak yang tak terulang

menikmati tiap kemungkinan yang menjelang

nan buyar semua rencana tatkala teringat nestapa

mengalun lembut lagu pilu tiap bertegur sapa
untuk apa mencintai yang tidak mungkin?

di seberang sana belum tentu melihat batin

jauh lah hal itu, bicara pun hanya seperlunya

sebatas tawa mengelabui luka
… tak kau lihat kah ku sampaikan warna-warna selain hitam yang biasa kukenakan sejak kau panggil semua riang yang sekian lama tersimpan …

??? ??? ???

tak akan kau pahami senandung rindu di balik ratap hati

karena memang tak akan kubagi rahasia ini

kagum dan sayangku cukuplah untuk hari ini

dan mungkin akan ada lagi di esok hari

jika aku belum mati

lihat saja nanti…

makna (2)

makna (2)

satu per satu

percaya diriku terdiri dari bambu bambu

berkeliling membentuk pagar menjaga agar ku tak jatuh

dan sukar diserbu

namun cukup seukir senyum maka semua jadi berantakan

dan perlahan ku hilang pegangan

buyar semua rencana, luluh lantak

mesti buka mata agar tak hilang jejak

masalahnya yang menunggu di sana adalah keraguan

tanpa kepastian setelah berbulan-bulan, berbulan-bulan

dan senyum itu hadir begitu saja

akankah ku menyerah dalam tawa?

makna (1)

makna (1)

mengapa kamu begitu menarik?

dan mengapa terlambat muncul?

kusebut muncul karena engkau bagai yang tak terpikirkan

mendadak hadir dan mencuri perhatian

meski tidak dengan terus terang

tak banyak yang terucap di waktu yang terbentang

hanya tawa, bahkan tak berani bertukar pandang

aku takut dibilang lancang

oleh banyak aturan yang akan terlanggar

namun bukan oleh gerakku yang makin tak menentu

dan rasa percaya diriku yang mulai runtuh satu persatu