dunia

di lubang telingaku menancap alat pengeras suara

yang tidak bisa kau dengar bunyinya

kecuali kau turut menancapkannya pada lubang telinga

 

di hadapanku terpampang sebuah buku

dengan deret kalimat rapat dan penuh

yang tak bisa kau baca jika dudukmu jauh

 

di genggamanku terdapat segelas kopi hangat

yang tak akan kau tahu sepahit apa rasanya

kecuali kau memintaku untuk membaginya

 

tak pernah susah jika kau ingin tahu tentangku

cukup ketiga hal itu

duniaku

 

sesederhana itu

seketika

seketika

seketika sejengkal menjadi begitu jauh

nyala-nyala itu tak nampak seperti sebelumnya

siapa yang tahu berapa lama pijar kembang api?

siapa yang dapat menghitung perciknya?

maka peganglah kembang api itu dekat dari baranya

supaya tersengat panas yang tersisa

di beberapa jenak saat bara telah padam

dan menjadi sadar

bahwa nyala harus dipertahankan

  

ya, sejengkal itu masih terlalu jauh

Haru

Sore kemarin aku merasa terharu oleh sebuah kesederhanaan. Saat aku sedang menyiapkan motor untuk menikmati angin sepoi-sepoi di jalanan yang pastinya macet, aku melihat seorang Bapak mengendarai motor dengan membonceng kedua anaknya yang masih kecil, yang lebih kecil duduk di depan sementara yang lebih besar duduk di belakang sambil memeluknya. Melintas perlahan di depan halaman rumahku.
Lamat-lamat kudengar suara si Bapak melagukan “… meletus balon hijau, dooor! Hatiku sangat kacau…”, yang kemudian dihadiahi tawa renyah kedua anaknya. Setelah itu tak kudengar dengan jelas lagi apa yang selanjutnya mereka bicarakan… Kejadian yang berlangsung tak lebih dari 3 kejap mata itu ternyata memberi kesan yang jauh lebih dalam dari sekedar hitungan detik.
Aku selalu senang dan bahagia melihat orang tua yang berinteraksi dengan anaknya. Berapa pun usia sang anak, masih batita, balita, tanggung, remaja bahkan dewasa, aku selalu merasa ada kehangatan terpancar dari obrolan mereka. Maka aku sering sekali memberikan tanda “👍🏽” atau “❤️” pada postingan saudara, teman atau kerabat yang menampakkan hal-hal kekeluargaan melalui akun media sosial mereka. Walaupun aku tau beberapa dari mereka melakukan hal itu sebatas “pencitraan” (maap, ga bermaksud sok tahu/menghakimi yaaa…), namun selalu kebersamaan bersama keluarga mendapat simpatiku yang paling besar…
Khususnya dalam penampakkan beberapa detik tadi, aku merasa sangat luar biasa melihat seorang Bapak masih mau bernyanyi buat anaknya. Entahlah, mungkin aku yang memang tidak tahu bahwa itu sebenarnya hal yang lazim terjadi, tetap aku melihatnya sebagai suatu keistimewaan. Yang ada dalam pikiranku adalah dunia jaman sekarang kan jauh lebih sibuk ya, kondisi ekonomi lebih sulit, lebih banyak hal yang stressfull yang kadang meminta waktu lebih banyak untuk bisa mengejar target-target dan kebutuhan hidup yang sudah ditentukan sebelumnya, yang akhirnya (sering) malah menjauhkan hubungan keluarga… Belum lagi kemajuan teknologi melalui perangkat digital nan hebat yang mampu mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat, di tengah kondisi seperti itu kulihat seorang Bapak bernyanyi buat anaknya… Hangat merasuk sukma!


Suatu saat nanti, jika Yang Mahakuasa memberikan kesempatan untuk memiliki keturunan, akan kujadikan diriku sebagai orang tua yang membesarkan anak dengan penuh syukur dan tanggungjawab. Akan kubacakan banyak dongeng buatnya, banyak lagu akan kunyanyikan untuknya, dari pop, rock, tak lupa dangdut juga…

Keluarga adalah segalanya…

bicara sendiri

 

Waktu berubah, tidak ada hal yang pernah sama

Yang terlihat sama itu hanyalah khayal belaka

Jika kau sadari, jarum detik menunjuk angka yang sama saat ini dengan 59 detik sebelumnya

namun apakah saat ini sama dengan 59 detik yang lalu?

 

Mungkin kita masih duduk di tempat yang sama

Karena kita sudah duduk selama belasan menit

Menghirup kopi yang sama pahit, sama hitam

dan sama panasnya

Continue reading “bicara sendiri”

Gurat

lalu kembali ku toreh

gurat pelan membentuk asa

di atas kanvas usang yang sebelumnya memang sudah bergelimang resah

 

pelan, teliti, hati-hati

supaya tidak terputus lagi

gurat asa mencampur warna pelangi

kanvas usang memaparkan terang kusam

tetapi bulan barulah terang dalam gelap malam

 

teruslah menggurat

sampai alurnya melekat

erat

entah hadirnya melepas hela nafas berat

atau malah tak kan pernah mendekat

 

akan terus ku menggurat

seperti janji yang kusampaikan tersirat maupun tersurat

ditemani

jika ku sampaikan hal yang sebenarnya, engkau menyebutku tukang bual

jika ku sampaikan hal yang tidak benar, engkau memanggilku pendusta

jadi biarlah ku sampaikan segala hal yang aku rasa dalam diam

diam seperti tanah menanti sang hujan berhenti turun

sampai tiba musim tanam

diam seperti air yang merindu salurannya dikeruk dan terbuka lebar

supaya mengalir menyusuri kerontang masa kelam

 

dalam diam aku menemukan kecilnya jiwa

berisik membuatku terlena tak tentu arah

dalam diam aku terima segala sayat dari tajamnya belati

dihunus oleh banyaknya mata yang penuh sakit hati

tak mengapa

dalam diam kuterima semuanya

 

dalam diam juga ku terima hadirnya

tanah yang basah tersentuh oleh ujung pelangi banyak warna

ya, ujung pelangi ternyata tiba di permukaan tanahku

tak ku sangka, masih ada semburat warna yang sudi singgah

 

“tak tahu kah kau siapa aku?” kataku pada pelangi

“aku tak perlu tahu, aku perlu mengenalmu”, kata pelangi

“aku sudah ceritakan semuanya” ku berusaha menjauh

“ya, dan kamu banyak bicara, tidak diam” lanjut pelangi

“engkau mencoba mempengaruhiku”

“mengapa kamu menolak warna?”

“aku tau siapa diriku, aku kenal siapa diriku, tidak ada kesempatan kedua, aku terlahir sunyi. tak pernah bicara”

“kesalahanmu adalah menyia-nyiakan kesempatan yang dulu pernah ada. apakah kamu ingin mengulangi lagi kesalahan yang sama?”

“aku lelah”

“yang kamu butuhkan hanya warna. terlalu lama kamu hidup gelap. sekarang tanahmu sudah basah, ijinkan aku berpijak di atasnya sambil menanti musim tanam datang dan kemudian kamu pelihara segalanya dan panen lah hasilnya”

“untuk apa?”

“itulah dirimu yang merelakan jiwa dimakan kelam”

“matamu tidak menghunus belati, bibirmu tidak mencibir bengis. mengapa?”

“karena setiap kita sesungguhnya butuh didampingi, bukan dibenci”

“aku sudah tersesat terlalu jauh, tak tahu di mana awalnya dan entah bagaimana akhirnya”

“kamu sudah melihat ada ujung warna di atas tanah? mari, jadikan itu awal kakimu kembali melangkah”

“mengapa?”

“aku selalu suka matamu yang coklat bersinar, ada nyala di dalamnya, namun telah lama padam. aku melihatnya bernyala ketika kamu menemukan ujung warnaku di atas tanah basahmu. berbagilah nyala itu denganku”

ditemani

meski tetap aku tidak tahu bagaimana akhirnya

lihat saja nanti

 

 

diam tidak selamanya buruk, diam tidak selamanya baik, aku harus makin bijak melihat hidup dan berterima kasih pada warna-warni yang masih sudi memberi lebih banyak arti…