anomali

anomali

kau mungkin telah membaca semua yang tertulis di dalam jenak tahun-tahun lalu dan bertanya apa yang ada di balik semua dinding, jendela, pintu, kamar, lagi, lagi, lagi dan lagi, kopi, lagi, kopi, lagi, kopi dan lagi.

Continue reading “anomali”

Advertisements

putih kelabu

putih kelabu

masihkah sama

wangimu yang putih kelabu

dengan aroma senja muda

bahkan saat air dan busa belum membasuh

bahkan saat garam yang basah luber menembus kain penyembunyi lekukmu

masihkah sama

gemetarmu tatkala hasrat ini mencari jalan keluar dari perangkap yang terletak di antara bukit dan lapangan hijau

dan nyanyian hewan yang terbang di langit dan melata di tanah menandakan waktu yang berkali-kali berganti

masihkah sama

merah merembes di atas sayapku yang tertancap erangmu bersama seratus maaf terucap meski kerap terulang

saat matahari melumat setiap rindu dendam

dan bulan mengobati luka-luka dengan hembus dingin nafasnya yang berwarna putih kelabu

buram

buram

lewat imajinasi yang buram

kujawab segala yang kau tanyakan

senyap dan gempita

air mata dan tawa

satu dua dan tiga

pada hitungannya ada bergerak juga diam

tidak kah lelah?

aku pun pernah menanyakannya

pada sisi sebelah sini dan sana

selain yang sedang kudiami

selain yang sedang kunanti

namun jawab selalu tak pasti

sementara rona merah di langit membuahi khayalku

lewat tulisan-tulisan aku mengirim cinta

bunga mekar di atas luka

kembang layu disembunyikan bahagia

dan kala sore habis bersama sisa-sisa matahari

aku mengais khayal pada tumpukan mimpi

kupilih-pilih meski tak akan kuberi

karena percuma adanya

khayal sekedar mimpi buatan

karenanya aku suka berada dalam wadah yang buram

tertutup walau sedikit terlihat

sebatas bentuk terluar dari penampilan

sejauh khayal terliar dari keinginan

dan bukan tanggungjawabku untuk menyatakan

hal terdalam yang kerap kau pertanyakan

benih

benih

benih-benih bintang jatuh

bertumbuh pesat di matamu

bulat nan cerah

menyala penuh pikat

membesar, melesat mengukir jejak

di mataku yang sulit menangkap

gerakmu memancing bimbang merebak

meski selalu engkau mengajak

dalam suatu jarak

adalah cara yang tepat untuk menikmatinya

tak kehilangan kesempatan untuk melihat

awalnya juga akhirnya

pada tiap rindu yang kau selipkan

dan tiap resah yang kau tinggalkan

benih-benih bintang jatuh itu telah menjadi pohon rimbun dalam mata yang hitam