makna (4)

makna (4)

di luar sana hujan dan semestinya dingin

gerangan hal yang sama kah di tempatmu sekarang?

aku tak tentu

angin dingin merenggut hangatku

dia dingin karena tak perlu tahu

apa yang menjadi lamunanku

apa yang menjadi lagu-laguku

dan tetes air yang menyapa tubuh adalah ribuan rindu

yang kerap mengisi mimpiku

   

Advertisements

makna (3)

makna (3)

kian tertambat

kian terikat

pada rindu yang menyerbu saat senyum tersudut di pojok penuh debu

pada basi-basi umpama warna-warni keinginan hati

hingga rela menghabiskan banyak jenak yang tak terulang

menikmati tiap kemungkinan yang menjelang

nan buyar semua rencana tatkala teringat nestapa

mengalun lembut lagu pilu tiap bertegur sapa
untuk apa mencintai yang tidak mungkin?

di seberang sana belum tentu melihat batin

jauh lah hal itu, bicara pun hanya seperlunya

sebatas tawa mengelabui luka
… tak kau lihat kah ku sampaikan warna-warna selain hitam yang biasa kukenakan sejak kau panggil semua riang yang sekian lama tersimpan …

??? ??? ???

tak akan kau pahami senandung rindu di balik ratap hati

karena memang tak akan kubagi rahasia ini

kagum dan sayangku cukuplah untuk hari ini

dan mungkin akan ada lagi di esok hari

jika aku belum mati

lihat saja nanti…

makna (2)

makna (2)

satu per satu

percaya diriku terdiri dari bambu bambu

berkeliling membentuk pagar menjaga agar ku tak jatuh

dan sukar diserbu

namun cukup seukir senyum maka semua jadi berantakan

dan perlahan ku hilang pegangan

buyar semua rencana, luluh lantak

mesti buka mata agar tak hilang jejak

masalahnya yang menunggu di sana adalah keraguan

tanpa kepastian setelah berbulan-bulan, berbulan-bulan

dan senyum itu hadir begitu saja

akankah ku menyerah dalam tawa?

aku di sini

aku di sini, cantik

di balik gincu merah bibirmu nan merekah

di balik warna warni kuku jemari

di sela-sela helai rambutmu nan wangi

 

aku di sini, cantik

di luar jauh puja-puji pengagummu

di dekat gambar yang terpajang selalu

kau berpelukan dengan belahan jiwamu

 

aku di sini, cantik

terhimpit di antara nomor – nomor dalam telepon genggammu

asik berpelukan dengan masa lalu

 

aku di sini, cantik

aku yakin kamu tahu

 

 

ketahuan

jika aku pencinta hujan dan tak takut kebasahan karenanya dan lebih takut jika tidak bisa tiba di rumah sebelum jam 12 malam, maka kenapa aku tidak bergegas jalan hujan-hujanan lalu ambil kendaraan yang ada di parkiran?

ah, ternyata aku tak sebesar tulisan-tulisan yang selalu kupaparkan.

tak heran engkau memilih berpergian.