angin berhembus

angin sore berhembus

rayu diberangus

angin sore berhembus

rindu ditebus

~

di sebelah sana ada asa

sebungkah cinta berselubung masa

tak berdaya dalam ruang sela

bersemayam rentan di jiwa nelangsa

~

angin sore berhembus

rayu digerus

angin sore bersembus

rindu berbisik halus

~

di sebelah sini ada rasa

sekotak cinta berikat masa

tak berdaya dalam jenjang kala

bersemayam rentan di jiwa tersiksa

~

pada angin malam di sana sini menaruh harap

hembusannya membawa jawab

meski dengan jengah

selalu mengirim resah

~

pada angin malam kita menaruh harap

sukar bertemu dibalas dekap dalam lelap

meski dengan resah

dan berakhir jengah

~

namun angin sore masih berhembus

dan di sana sini rindu terus tergerus

Advertisements

merah

atas segala usahamu

aku persembahkan rentetan huruf

membentuk kata demi kata

menjadi cerita

terikat erat dalam sampul

berwarna merah putih dan hitam

sekedar sedikit penjelasan

mengenai merah yang terlihat makin mengkilap

ketika disandingkan dengan putihnya ketidakberdayaan

dan hitamnya rupa-rupa keinginan

apakah yang merah itu

tanyamu padaku yang dibalut abu-abu

adalah desir rasa

sebentuk tanda merona

di ruas-ruasmu yang membentang bijak

di relung-relung tempat hasrat berpijak

penuh harap pada akhirnya

jawaban itu kau temukan jua

satelit

aku mampu mendengarkan musik cadas dengan volume yang kencang dengan cermat sambil membaca kisah (cinta) yang rumit dengan lekat dan menyeruput beberapa gelas kopi hitam dengan dosis mematikan

aku mampu menjelaskan semua yang kunikmati bersamaan itu dengan amat detail kepadamu, jika kau menanyakan apa saja yang ada di dalam semua itu

kadang, ruang yang begitu aneh dan luas ini membutuhkan sputnik freak yang dapat memantaunya agar tetap berada di dalam batas

atau menunggu waktu untuk memerdekakannya dan membiarkannya terperangkap dalam ruas suara, kata dan pekat yang hening

*sputnik adalah nama satelit dan aku tak bisa menemukan padanan yang tepat untuk menggambarkannya makanya tetap kugunakan dua kata itu karena terkadang usaha menerjemahkan itu mengacaubalaukan arti sesungguhnya

**penggunaan kata “sputnik freak” terinspirasi setelah membaca buku Sputnik Sweetheart karya Haruki Murakami yang nampaknya paling lekat denganku

Semakin Sering

Semakin Sering

semakin sering kuberdiam saja

saat lagu ini mengalun

lagu kesukaanku

lagu kesukaanmu

lagu kesukaan kita

entah siapa yang lebih dahulu suka

padahal aku sedang duduk membaca

buku dengan cerita yang penuh makna

tak kuasa kuarahkan mata

ke luar sana

melewati jiwa yang berlalu-lalang

dikelabui cinta yang berakhir malang

ah, benar kah malang?

lagu ini sudah empat kali kuputar ulang

padahal baru empat belas baris tertuang

detak jantungmu ketukan yang teratur

nafasmu hangat dekat tengkuk

semarak cinta tertiup menghambur

bahumu ramping

jemari mengalun memetik dawai membaur

tubuhmu merangkum nada dan irama

semesta harmoni menyatu

beragam pesona melebur

selekat itu kumenikmatimu

buku di tangan deret tulisan belaka

penuh makna tapi kurang rasa

itulah mengapa selalu ku ada bersama

mendengar dan membaca

seperti yang kerap kau tanya

saat melihat mataku menerawang jauh ke sana

melewati jiwa yang berlalu-lalang

mendekap cinta yang berakhir malang

ah, benar kah malang?

oh iya

lagu ini sudah sepuluh kali kuputar ulang

sambil membaca

sambil membaca

segelas teh hangat dengan sedikit rasa manis

sengaja kuletakkan di ujung gagang kursi kayu

agar mudah kugapai

saat tubuh bersandar penuh

sambil membaca belasan puisi

yang berupa paku

menancapkan kaki pada jejak pasir yang tak terhapus ombak

dan berupa temali

mengikat tangan pada tiap lembar tertulis

yang menjadi satu dalam kisah yang tak melulu tentang cinta

karena ada benci juga luka

karena ada sesal juga nestapa

dan bantal kursi yang kusandari ini adalah nyamannya jebakan

meski kusadar sedang dipermainkan

namun tak kuasa melepas paku dan ikatan

gerakku terbatas

sejengkal saja

jemariku hanya bisa mengepal dan membuka

sebatas luas telapak tangan saja

tak bisa lebih jauh darinya

maka tepatlah keputusanku

meletakkan segelas teh hangat sedikit manis di ujung gagang kursi

selalu dapat kuraih

tanpa perlu mencabut paku dan memutuskan tali

dan terus bersandar pada bantal kursi

aku tahu telah terlena

namun aku bisa apa

Toleransi Dalam Toilet

Toleransi Dalam Toilet

Sebenarnya udah cukup lama ingin menulis lagi tapi koq ya niat itu tak kunjung dibuahi. Sekali waktu sudah nulis sampai beberapa paragraf, yang jika saja langsung kutuliskan di sini, pasti akan membuat tombol scroll menggulung banyak spasi, sebelum kemudian aku kehilangan mood dan menghapus semua yang sudah tertulis. Terjadi berulang kali. Nampaknya memang aku harus berhenti sejenak dari hobi menulis. Padahal aku bukan penulis yang memang secara rutin harus ¬†menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa saja mengakibatkannya terjebak pada rasa bosan. Aku ini bukan penulis, kenapa aku harus bosan? Aku hanyalah sisa-sisa bumbu kacang yang masih nempel di ulekan, begitu saja dilupakan saat ketoprak sudah tersaji di piring…

Lalu tiba-tiba saja aku ingin menulis. Bukan tentang apa-apa. Sekedar menulis tentang hati yang tercabik-cabik karena harga diri yang terasa tak ada nilainya lagi. Continue reading “Toleransi Dalam Toilet”

swerve city

swerve city

jika ada luang dari waktu yang bisa digunakan dalam hitungan satu hari maka akan kuambil dua sampai dua setengah jam setelah memenuhi durasi kerja untuk duduk di lantai bawah gedung tempat kantorku berada. sekedar membaca karya penulis paling disuka yang menurutku nikmat meski bagimu pelik sambil menikmati alunan lagu dari musisi paling disuka yang menurutku nikmat meski bagimu berisik. kata-kata berbaris dalam kalimat mengantri dengan sabar untuk menyampaikan maksud tersurat. notasi berpola membentuk irama mengantri dengan sabar untuk menyampaikan maksud tersirat. kunikmati keduanya, tulisan dan lantunan dengan hikmat yang tak berkurang, tak buyar meski pesona dan wangi larut malam berlalu lalang, seakan berusaha mengingatkan untuk pulang. segera pulang.

aku menikmati

sendiri

belum bosan saat ini

entah nanti

.

.

.

swerve city adalah judul lagu pembuka dalam album “koi no yokan” milik deftones yang tiba-tiba saja membuatku ingin menulis seperti ini saat mendengarnya sambil asik membaca “the white book” karya han kang. deftones adalah band yang paling aku suka namun han kang bukanlah penulis yang paling aku suka, melainkan haruki murakami. aku suka han kang tapi bukan yang paling disuka.

photo by hxgrm (@_hxgrm_)