Freedom of Speech, Freedom of Preach

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Beberapa hari yang lalu aku datang ke acara bertajuk Freedom of Speech, Freedom of Preach yang kalo diambil maknanya secara bebas pasti berkisar pada orang yang akan menyampaikan sesuatu secara bebas, dengan caranya sendiri. Memang demikian. Acara ini dimaksudkan untuk mereka yang ingin menyampaikan uneg-uneg, keresahannya, atau apapun yang terlintas dalam pikiran mereka. Dalam publikasi yang tersebar lewat media sosial disampaikan bahwa turut mengambil bagian beberapa nama tenar dan yang mulai dikenal dalam dunia musik indie. Nama-nama yang tercantum itu rata-rata sudah memiliki basis penggemar yang cukup besar dan fanatik, yang kemanapun si idola akan manggung, maka penggemar itu pasti hadir. Itulah yang terjadi. Paviliun 28 sebagai tempat perhelatan acara tersebut menjadi penuh sesak, sampai tidak muat dan memaksa beberapa penonton harus puas untuk menyaksikan penampilan sang idola hanya lewat sisi luar kaca jendela.

Sebelum lanjut, perlu kukatakan bahwa aku tidak akan menyebut nama di sini, well, satu atau dua nama sih mungkin akan kusebut deh, namun kebanyakan tidak karena aku tidak mau disebut mendiskreditkan mereka karena ini hanya pendapat pribadi dan aku tidak berusaha untuk mempengaruhi kalian yang udah mau buang waktu untuk membaca tulisan ga penting ini. Yang ingin kusampaikan adalah kesan yang kudapat selama menonton acara ini. Itu saja. Continue reading “Freedom of Speech, Freedom of Preach”

ketahuan

jika aku pencinta hujan dan tak takut kebasahan karenanya dan lebih takut jika tidak bisa tiba di rumah sebelum jam 12 malam, maka kenapa aku tidak bergegas jalan hujan-hujanan lalu ambil kendaraan yang ada di parkiran?

ah, ternyata aku tak sebesar tulisan-tulisan yang selalu kupaparkan.

tak heran engkau memilih berpergian.

dunia

di lubang telingaku menancap alat pengeras suara

yang tidak bisa kau dengar bunyinya

kecuali kau turut menancapkannya pada lubang telinga

 

di hadapanku terpampang sebuah buku

dengan deret kalimat rapat dan penuh

yang tak bisa kau baca jika dudukmu jauh

 

di genggamanku terdapat segelas kopi hangat

yang tak akan kau tahu sepahit apa rasanya

kecuali kau memintaku untuk membaginya

 

tak pernah susah jika kau ingin tahu tentangku

cukup ketiga hal itu

duniaku

 

sesederhana itu

tenang

aku tak pernah takut pada gerimis syahdu atau hujan menderu

namun aku waswas jika pijak kakiku menjadi licin dan aku akan terpeleset jatuh pada cinta yang tidak semestinya

siapa yang dapat memilih kapan akan jatuh atau tidak, bukan?

meski demikian, tetap kunanti hadirnya gerimis dan hujan

dibalut doa doa yang kerap kau panjatkan

supaya hujan sejenak dihentikan

dan kau tenang jika aku berpergian

Doa (yang) Terucap Untuk Pahlawan Rock

Tuhan,

Mengapa Engkau mengizinkan Chris Cornell mengambil keputusan untuk menyelesaikan hidupnya dengan cara seperti itu? Mengapa Engkau mengizinkan orang yang banyak jasanya dalam dunia musik rock tahun 90an, yang secara tidak langsung juga telah memberi banyak warna di dalam kenangan masa sekolahku itu, menyebabkan rasa sesak di dada? Aku dan banyak temanku tak sanggup melawan rasa lemas yang timbul saat membaca berita itu, tak sanggup menahan diri untuk langsung sibuk membicarakan segala kontribusinya dalam dunia musik meskipun saat itu aku sedang dikejar deadline report yang harus dipresentasikan ke bule-bule yang cuma tau nyuruh-nyuruh dan menuntut hasil kerja maksimal, yang cuma boros dalam mengucapkan “good job, mate” atau “big thanks” atau “wonderful” tapi pelit saat kami mengajukan kenaikan gaji dan bonus. Aku tidak peduli dan mengambil waktu lebih dari satu jam untuk terus terpaku pada layar komputer, bukan untuk menyelesaikan amanat atasan namun untuk melebur dalam percakapan bersama para sahabat pencinta musik rock lewat aplikasi whatsapp via web sambil tetap memasang wajah berkerut supaya tetap terlihat sedang serius bekerja. Aku bersyukur karena wajah aku memang selalu berkerut saat sedang menatap layar komputer, baik sedang serius atau tidak, dikarenakan silindris mata yang cukup mengganggu… Engkau tahu, Tuhan, betapa aku sedih dan merasa terpukul atas kepergian Chris Cornell.  Continue reading “Doa (yang) Terucap Untuk Pahlawan Rock”

Haruskah Berusaha (Untuk) Menarik Perhatian?

Haruskah Berusaha (Untuk) Menarik Perhatian?

Ya, aku pernah menulis dan mengatakan juga dalam banyak kesempatan bahwa jika ingin melakukan sesuatu, lakukanlah karena senang dan jangan karena adanya keinginan supaya dilihat keren. Mengevaluasi diri sendiri, apakah aku memang menerapkan hal itu, apakah memang aku cuap-cuap, nulis, nge-band, bikin foto atau melakukan hal-hal apapun yang kemudian menjadi konsumsi umum (nulis taruh dalam blog, nge-band direkam dan ditaruh dalam channel yutub, bikin foto dan kemudian ditaruh dalam instagram, dlsb) itu kulakukan tanpa maksud untuk mencari perhatian orang lain?

Dari segala keberadaan media sosial dan aplikasi-aplikasi yang telah dikembangkan untuk mempermudah akses penggunaannya – yang menurutku menjadi “revolusi industri” yang kedua adalah kemudahan mengakses facebook melalui hape. Mungkin sebelumnya sudah ada yang lebih dahulu, tapi seingatku – pas orang-orang masih menggunakan friendster sebagai akun media sosial – baru facebook saja yang memulainya. Yahoo! dulu hanya menyediakan Yahoo Messenger sebagai ajang chatting. Dengan adanya aplikasi Facebook yang tersedia untuk hape, maka aku dengan mudah menggunakannya di mana saja. Waktu itu akhir tahun 2008, meninggalnya adikku menjadi momen pertamaku berkenalan dengan facebook (FB) dan twitter. Terlepas dari segala kesenanganku saat itu untuk meng-update status dengan kalimat-kalimat yang ngaco, aku sangat senang dengan keberadaan wadah Notes di FB, yang membuatku menemukan siapa diriku sebenarnya. Ternyata aku adalah orang dengan banyak pemikiran serius maupun ngaco yang kerap tidak tersampaikan dalam forum-forum formal dan informal, semisal diskusi atau sekedar nongkrong bareng teman-teman. Continue reading “Haruskah Berusaha (Untuk) Menarik Perhatian?”