pas

pas

keinginan ini akhirnya terpuaskan

lewat takaran yang tepat

suhu seduhan yang pas

dan adukan yang sabar

Continue reading “pas”

Advertisements

perhitungan

memang, sedekat itu jaraknya. seperti yang telah kita perhitungkan. dalam dua masa yang berbeda, sekarang atau yang akan datang.

dan memang sedekat itu jaraknya, yang telah kita persiapkan. dalam dua hati yang berbeda, tersayang sebelum terhilang.

senyum adalah suaka bagi yang cemas. kerap menyudahi kuatir yang mengundang lemas. namun dia memaparkan kenyataan bahwa sesungguhnya tiada ada daya kita untuk menahan lajunya waktu yang menggulung jarak, seperti yang telah kita perhitungkan dan persiapkan.

kita bersiasat dengan angka, berupaya mengelabui dilema. jemari terus menulis cerita supaya semua yang dilewati ada ingatannya. kata terus diucap supaya semua yang terlewati ada maknanya. menghirup semerbak rindu dan menyimpannya lekat-lekat supaya terikat aromanya.

namun apakah dengan bersiasat kita akan mampu menolak datangnya akhir cerita?

kita tak lain hanya sosok yang berusaha melebur jadi hitungan angka, lalu meminta pada semesta agar menari bersama lidah api yang membakar matahari ketika siang dan hangus menghitam ketika gelap malam datang di belakang bulan, supaya terhindar dari jarak yang meminta pertanggungjawaban atas perhitungan dan persiapan kita.

maka, sebelum jarak itu habis tergulung, mari kita mengaku dan mencinta sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya, seluas-luasnya. sejujur-jujurnya supaya kelak dikenang: kita adalah yang pernah berjuang di tiap ruas ukuran, pada akhir jarak yang telah kembali pada titik awal.

kita tak lain hanya sosok yang berusaha menulis pada tiap gulungan jarak dengan perhitungan dan persiapan.

angin berhembus kembali

masa silih berganti

meski tak lebih dari panas dan dingin

dua hal yang pasti

hanya kadang kurang kadang lebih

~

angin berhembus tanpa disuruh

datang tiba-tiba tanpa beritahu

sejenak membawa sejuk

terlena dingin merasuk

~

aku selalu suka dingin

menimbulkan rasa ingin

dipeluk

didekap

.

diselimuti

.

halaman dibolak balik untuk membaca cerita

halaman disapu untuk membuatnya ceria

halaman dibolak balik untuk menulis cerita

halaman disapu untuk kembali menerima cahaya

~

cinta dibolak balik untuk mengulang cerita

cinta disapu untuk mengulang hangatnya

~

angin berhembus

membawa namanya terus

terlena membuatnya membeku

membatu di dalam hatiku

angin berhembus

angin sore berhembus

rayu diberangus

angin sore berhembus

rindu ditebus

~

di sebelah sana ada asa

sebungkah cinta berselubung masa

tak berdaya dalam ruang sela

bersemayam rentan di jiwa nelangsa

~

angin sore berhembus

rayu digerus

angin sore bersembus

rindu berbisik halus

~

di sebelah sini ada rasa

sekotak cinta berikat masa

tak berdaya dalam jenjang kala

bersemayam rentan di jiwa tersiksa

~

pada angin malam di sana sini menaruh harap

hembusannya membawa jawab

meski dengan jengah

selalu mengirim resah

~

pada angin malam kita menaruh harap

sukar bertemu dibalas dekap dalam lelap

meski dengan resah

dan berakhir jengah

~

namun angin sore masih berhembus

dan di sana sini rindu terus tergerus

merah

atas segala usahamu

aku persembahkan rentetan huruf

membentuk kata demi kata

menjadi cerita

terikat erat dalam sampul

berwarna merah putih dan hitam

sekedar sedikit penjelasan

mengenai merah yang terlihat makin mengkilap

ketika disandingkan dengan putihnya ketidakberdayaan

dan hitamnya rupa-rupa keinginan

apakah yang merah itu

tanyamu padaku yang dibalut abu-abu

adalah desir rasa

sebentuk tanda merona

di ruas-ruasmu yang membentang bijak

di relung-relung tempat hasrat berpijak

penuh harap pada akhirnya

jawaban itu kau temukan jua

satelit

aku mampu mendengarkan musik cadas dengan volume yang kencang dengan cermat sambil membaca kisah (cinta) yang rumit dengan lekat dan menyeruput beberapa gelas kopi hitam dengan dosis mematikan

aku mampu menjelaskan semua yang kunikmati bersamaan itu dengan amat detail kepadamu, jika kau menanyakan apa saja yang ada di dalam semua itu

kadang, ruang yang begitu aneh dan luas ini membutuhkan sputnik freak yang dapat memantaunya agar tetap berada di dalam batas

atau menunggu waktu untuk memerdekakannya dan membiarkannya terperangkap dalam ruas suara, kata dan pekat yang hening

*sputnik adalah nama satelit dan aku tak bisa menemukan padanan yang tepat untuk menggambarkannya makanya tetap kugunakan dua kata itu karena terkadang usaha menerjemahkan itu mengacaubalaukan arti sesungguhnya

**penggunaan kata “sputnik freak” terinspirasi setelah membaca buku Sputnik Sweetheart karya Haruki Murakami yang nampaknya paling lekat denganku

Semakin Sering

Semakin Sering

semakin sering kuberdiam saja

saat lagu ini mengalun

lagu kesukaanku

lagu kesukaanmu

lagu kesukaan kita

entah siapa yang lebih dahulu suka

padahal aku sedang duduk membaca

buku dengan cerita yang penuh makna

tak kuasa kuarahkan mata

ke luar sana

melewati jiwa yang berlalu-lalang

dikelabui cinta yang berakhir malang

ah, benar kah malang?

lagu ini sudah empat kali kuputar ulang

padahal baru empat belas baris tertuang

detak jantungmu ketukan yang teratur

nafasmu hangat dekat tengkuk

semarak cinta tertiup menghambur

bahumu ramping

jemari mengalun memetik dawai membaur

tubuhmu merangkum nada dan irama

semesta harmoni menyatu

beragam pesona melebur

selekat itu kumenikmatimu

buku di tangan deret tulisan belaka

penuh makna tapi kurang rasa

itulah mengapa selalu ku ada bersama

mendengar dan membaca

seperti yang kerap kau tanya

saat melihat mataku menerawang jauh ke sana

melewati jiwa yang berlalu-lalang

mendekap cinta yang berakhir malang

ah, benar kah malang?

oh iya

lagu ini sudah sepuluh kali kuputar ulang