ukuran waktuku

ukuran waktu dalam satu hari adalah 24 jam atau 1.440 menit dalam satu hari. dalam sekian itu aku harus membagi 8 jam atau 480 menit minimal untuk mencari nafkah, 1 jam atau 60 menit di antaranya kugunakan untuk sekedar menenangkan pikiran sambil menikmati makanan yang kadang mahal kadang murah, 1,5 jam atau 90 menit di pagi dan 1 jam atau 60 menit di sore/malam hari kuhabiskan di dalam perjalanan menuju/pulang kantor, 1/2 jam atau 30 menit di pagi dan 2,5 jam atau 150 menit di sore/malam kupakai untuk bincang-bincang dengan orang tua, 2,5 jam kugunakan untuk bersosialisasi dengan kerabat atau latihan yang berhubungan dengan musik dan paduan suara. Continue reading “ukuran waktuku”

Cerita

Cerita

Di tiap gambar pada sampul depan cerita

Di tiap perkenalan cerita

Di tiap awal dan akhir tiap bab cerita

Di tiap lembar kertas dengan deret cerita

Di tiap penutupan cerita

Di tiap ucapan terima kasih pada helai terakhir cerita

Di tiap puja puji di sampul belakang cerita

 

Palsu adanya

 

Semua sudah direncanakan sedari awal

Jika tak melihat gambar di depan, lalu perkenalan di awal, melewati tiap bab dan halaman

Maka tak perlu membaca penutup cerita

Tak usah iri melihat puja puji di belakangnya

 

Palsu adanya

 

Puja puji meluncur tanpa hambatan jika diberikan kesempatan

Puja puji bukan ketulusan

Puja puji bukan keikhlasan

Karena meski tak suka pada cerita tetap saja puja puji itu ada

Menempel di sampul belakang cerita

Dan dapat cap “Cerita Paling Laku” di halaman depan

 

Palsu adanya

 

Jadilah pesona

Jadilah karisma

Jadilah matahari panas pada titik tertingginya

Jadilah bulan dingin pada titik tergelapnya

Jadilah jiwa yang tak murahan

Meski tak mampu mencegah keberadaannya

Yang selalu hadir di tiap cerita

Kau sebut namanya cinta

 

Gerah. Getah. Darah.

Puja puji cerita adalah masalah.

Hemat Pangkal Kaya

Apa yang paling dibutuhkan saat musim libur tiba? Duit!

Apa yang paling cepat hilang saat menikmati musim libur? Duit!

Bahkan seringkali duit keburu lenyap saat musim libur belum usai… Lembar-lembar yang sebelumnya nampak begitu jumawa membuat dompet sulit untuk dilipat – seakan ingin dilihat keberadaan dan segera digunakan – hanya berlaku pada 3 hari pertama saja… Tersisa 4 hari lagi menuju masa sibuk kerja yang membuat kehidupan kembali “normal” karena dihabiskan di depan meja kerja sambil menatap angka-angka dalam bermacam dokumen digital berformat .pdf, .xlsx, .docx dan lain sebagainya, sehingga mempersempit kemungkinan untuk melihat barang-barang yang dipajang oleh para penjual melalui media sosial yang melekat erat pada telepon genggam. Ya… Musim libur adalah musim yang paling boros… Tapi aku cinta musim libur, hanya saja kata cinta itu tak pernah cukup untuk membiayai kebutuhan foya-foya saat berlibur. Didasari kesadaran atas rendahnya kemampuan dompet dalam menjaga stabilitas ekonomi, maka kuputuskan untuk tidak mengambil cuti bersama selama masa liburan ini. Untungnya kantorku yang berpusat di London itu memang tidak libur – jadi kantorku di Jakarta pun tidak meliburkan diri hingga siapa saja yang tidak ambil cuti bisa tetap masuk kerja. Alih-alih tidak ada urusan selama liburan dan dengan adanya deadline report yang memang jatuh pada salah satu tanggal dalam masa cuti bersama, maka kubulatkan tekad untuk masuk dan bekerja. Akhirnya aku terlepas dari jerat konsumerisme liburan! Continue reading “Hemat Pangkal Kaya”

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Beberapa hari yang lalu aku datang ke acara bertajuk Freedom of Speech, Freedom of Preach yang kalo diambil maknanya secara bebas pasti berkisar pada orang yang akan menyampaikan sesuatu secara bebas, dengan caranya sendiri. Memang demikian. Acara ini dimaksudkan untuk mereka yang ingin menyampaikan uneg-uneg, keresahannya, atau apapun yang terlintas dalam pikiran mereka. Dalam publikasi yang tersebar lewat media sosial disampaikan bahwa turut mengambil bagian beberapa nama tenar dan yang mulai dikenal dalam dunia musik indie. Nama-nama yang tercantum itu rata-rata sudah memiliki basis penggemar yang cukup besar dan fanatik, yang kemanapun si idola akan manggung, maka penggemar itu pasti hadir. Itulah yang terjadi. Paviliun 28 sebagai tempat perhelatan acara tersebut menjadi penuh sesak, sampai tidak muat dan memaksa beberapa penonton harus puas untuk menyaksikan penampilan sang idola hanya lewat sisi luar kaca jendela.

Sebelum lanjut, perlu kukatakan bahwa aku tidak akan menyebut nama di sini, well, satu atau dua nama sih mungkin akan kusebut deh, namun kebanyakan tidak karena aku tidak mau disebut mendiskreditkan mereka karena ini hanya pendapat pribadi dan aku tidak berusaha untuk mempengaruhi kalian yang udah mau buang waktu untuk membaca tulisan ga penting ini. Yang ingin kusampaikan adalah kesan yang kudapat selama menonton acara ini. Itu saja. Continue reading “Freedom of Speech, Freedom of Preach”

ketahuan

jika aku pencinta hujan dan tak takut kebasahan karenanya dan lebih takut jika tidak bisa tiba di rumah sebelum jam 12 malam, maka kenapa aku tidak bergegas jalan hujan-hujanan lalu ambil kendaraan yang ada di parkiran?

ah, ternyata aku tak sebesar tulisan-tulisan yang selalu kupaparkan.

tak heran engkau memilih berpergian.

dunia

di lubang telingaku menancap alat pengeras suara

yang tidak bisa kau dengar bunyinya

kecuali kau turut menancapkannya pada lubang telinga

 

di hadapanku terpampang sebuah buku

dengan deret kalimat rapat dan penuh

yang tak bisa kau baca jika dudukmu jauh

 

di genggamanku terdapat segelas kopi hangat

yang tak akan kau tahu sepahit apa rasanya

kecuali kau memintaku untuk membaginya

 

tak pernah susah jika kau ingin tahu tentangku

cukup ketiga hal itu

duniaku

 

sesederhana itu

tenang

aku tak pernah takut pada gerimis syahdu atau hujan menderu

namun aku waswas jika pijak kakiku menjadi licin dan aku akan terpeleset jatuh pada cinta yang tidak semestinya

siapa yang dapat memilih kapan akan jatuh atau tidak, bukan?

meski demikian, tetap kunanti hadirnya gerimis dan hujan

dibalut doa doa yang kerap kau panjatkan

supaya hujan sejenak dihentikan

dan kau tenang jika aku berpergian