Kejutan

Kejutan

Duduk di bangku kayu panjang dalam sebuah warung penjual mi rebus di tepi jalan saat perjalanan pulang menuju rumah setelah seharian didera tuntutan profesi yang tak suka basa-basi.

“Kamu ga pesan apa-apa kan hari ini?

“Lho kita kan mau pesan mi rebus?”

“Maksudku selain mi rebus yang sudah pasti ini, adakah?”

“Ada hal yang spesifik yang ingin kamu tahu?”

“Tidak, hanya mau tahu apakah kamu ada memesan sesuatu”

“Belum sih, tapi aku sedang berpikir untuk memesannya”

“Oh ya, apa yang ingin kamu pesan?”

“Rahasia” Continue reading “Kejutan”

Advertisements

Lembah

Lalu aku merasa letih
Ingin ku ajak Sepi keluar dari lubuk hati
Lalu masuk ke dalam pikiran yang bergerak tanpa henti

Demi menyicipi resah, enggan dan lelah

Pembahasan tak kunjung usai, penuh keluh kesah
“Baik, aku mau tau apa yang ingin kau sampaikan”
Aku menggugat. 
“Mengapa kau bawa aku menyusuri Lembah?”
Hanya senyum yang kudapat, mengulum rahasia dengan erat.

Memaksa

Aku mengajak Sepi berjalan 
Menapak lurus ke depan sana

Tempat cahaya lampu bersinar memancar bahagia

“Perempuan itu berwarna jingga, pecahan merah saat kau hempas biru-mu”

Aku terdiam, tak mampu menerka

Aku terdiam, tak kuasa bicara

Aku terdiam, terus berjalan 
Sepi tersenyum, angin terasa makin dingin

Seharusnya malam ini bulan sudah penuh

Seharusnya banyak bintang menemani

Entah mengapa kelam

Adakah rahasia tersimpan?
Seandainya saja aku mampu memaksa

Engkau sajalah temanku melangkah

Jarak

“Jarak rumah kita ternyata berdekatan”

“Lokasi kantor kita juga dekat”

“Tempat kita makan setiap siang juga ternyata selalu berdekatan”

“Profesi kerja kita juga hampir sama”

“Cara berpikir kita juga hampir sama”

“Aku suka melihatmu tertawa”

“Aku suka melihatmu mengucap canda”

“Menyenangkan saat kamu kaget”

“Dan kamu tau aku selalu suka kejutan”

“Sengaja aku melakukan itu”

“Karena kamu suka melihat lesung pipiku”

“Koq kamu bisa tau?”

“Banyak lagi hal yang aku tau tentang kamu”

“Aku merasa begitu dekat dengan kamu”

“Demikian juga aku”
….. Lalu perlahan terdengar sayup-sayup tawa redup bernama Takdir …..
“Sayangnya, hati kita berdua ternyata tidak bisa dekat”

“Tak perlu disesali, sejak awal memang tidak akan bisa dekat”

“Sekuat apapun aku berusaha”

“Cukuplah kita dekat dalam nuansa”

“Tanpa Cinta”

“Tanpa Cinta”
…. meneguk gelas terakhir, menikmati pilu …

(terinspirasi oleh obrolan sepasang insan yang duduk di deret kursi belakang dalam ruang tunggu kantor pajak)

Kabar

image

Aku mendengar kabar
Engkau akan pergi ke luar sana
Dengan berbagai alasan yang telah kau ucap
yang bukan hak ku untuk mempertanyakan
bahkan melarang
Banyak hal yang telah aku ucap
Kasat telinga maupun tersirat
yang tersampaikan dengan segala ketidakpercayaan
bahwa kau akan menerimanya
Tidak akan pernah kau mengerti bahwa sesungguhnya ada yang lain dalam siratan itu
Ketidakpuasan dibalik senyum atas ucapan
“terima kasih karena telah menghabiskan waktu bersama”

Berapa banyak kah waktu yang telah habis?

Dalam segala keterbatasan
Aku sungguh ingin mengatakan
Betapa masih banyak waktu yang ingin aku habiskan
– sebenarnya – bersamamu
Dalam segala kebutuhan akan kehadiranmu

Sungguh aku ingin selalu kau hadir

Dalam segala keterbatasan
Tanganku ingin merengkuh tanganmu
yang sedang menulis rencana masa depan selama berwaktu-waktu di sana
Kalut, ingin ku rengkuh kakimu
yang sedang bergerak kesana kemari melangkah setapak demi setapak
Menjauh
dari keberadaanku yang berdiri di tempat yang sama
Tempat yang sama denganmu beberapa waktu yang lalu
Tempat yang adalah saksi betapa sulitnya lidah ini bergulir
untuk mengatakan apa yang seharusnya aku katakan

Kata yang ingin kuucap
Mungkin bukan kata yang ingin kau dengar
Hal yang kuingin kau percaya
Mungkin bukan hal yang dapat kau percaya
Egoisku menurutmu
adalah jujurnya isi hati kecilku

Tak bisa kubiarkan kabar itu menjadi kenyataan
Tapi tak bisa kubiarkan diri ini mencegah
Karena akan berdampak pada semesta
Kebodohan tunggal yang kulakukan dapat berakibat lipat ganda
… dan masih kah kau sebut aku egois?

Aku mendengar kabar
Yang sesungguhnya tidak pernah ingin kudengar
Bahkan mungkin sebaiknya tidak pernah kukenal
Sosokmu
Sehingga tak perlu ada perpisahan
Tak perlu ada kenangan

…karena kenangan bersamamu adalah warna pelangi yang selalu muncul saat cahaya matahari menyeruak usai kelabunya langit…

> terinspirasi oleh tweet seorang teman dan akibat kebanyakan baca buku bertema tragis non horor

Posted from WordPress for Android

Ninja Love

image

image

Apa yang paling menyenangkan saat menyukai seorang wanita?

Saat dia tidak sadar bahwa dirinya begitu berbeda
Lain daripada lawan jenismu yang lain
Padahal dulu dia bersama dengan gerombolan anak-anak pemakai seragam hitam bertato sebadan
Setia melihatmu beraksi di atas panggung musik bersama teman bandmu
Saat usai kau beraksi maka dia akan memberikan high five
Lalu kau pergi nongkrong bersama dia dan geng-mu
Di depan sebuah toko 24 jam penyedia barang-barang kebutuhan kalian
Duduk bersama, bersila, di pinggir toko, berhadapan dengan jalan raya, malam hari, banyak mobil, udara malam bercampur bau asap knalpot karena daerah tongkronganmu tetap macet sampai jam 3 dini hari
Wanita itu duduk tidak di sebelahmu namun selalu menjadi bahan ledekanmu dan dengan setia dia membalas setiap guraumu
Seru, lucu, lalu kau acak-acak rambutnya, tonjok pundaknya, ambil minumannya dan menumpahkannya sedikit
Maka dia akan berteriak sambil tertawa, lalu menyerang balik setiap perlakuanmu

Apa istimewanya? Continue reading “Ninja Love”