hari ini

hari ini

aku dibangunkan papa dari lelap di atas sofa depan televisi. perlu kali kedua untuk membuatku bangun, meninggalkan situasi nyaman di ruang keluarga, pindah ke kamar tidur. ya, sudah beberapa bulan ini aku lebih suka tidur di ruang keluarga dibandingkan di kamar tidurku sendiri. bukan karena kamar tidurku tidak nyaman namun entah mengapa aku sangat menikmati saat-saat malam tertidur di sofa saat sedang asik bincang-bincang dengan orang tua sambil nonton acara-acara absurd di saluran televisi lokal. kipas angin tua menghembuskan dingin pelan-pelan dan aku rasa itu adalah penyebab utama mudahnya aku menyerah pada lelap kala memeluk bantal-bantal kecil yang duduk berjajar. sesungguhnya sofa itu tidak cukup untuk panjang badanku sehingga kerap kuharus meringkukkan kaki atau menaruh kaki pada bagian tangan kayunya yang biasanya menimbulkan rasa sakit pada pergelangan kaki disertai dengan tanda garis merah di situ. kadang mengakalinya dengan menjadikan dua bantal kecil sebagai alas empuk bagi pergelangan kaki kiri dan kanan namun pastinya tidak akan bertahan lama karena aku tidak pernah bisa bertahan lama dalam satu posisi tidur. meski demikian tetap kulakukan karena posisi dengan kaki lurus sedikit terangkat seperti itu adalah yang paling nikmat, meski hanya lima menit saja rasanya, namun itu adalah lima menit yang berkuasa membuatku larut dalam mimpi-mimpi indah maupun resah yang menahanku dalam tidaksadarnya kesal dan gelisah. aku tidak akan terbangun meski suara tiang listrik yang dipukul oleh satpam perumahan saat ronda cukup kencang – dan salah satu tiang listrik yang dipukul itu bertempat pas di depan rumahku yang memang berada di ujung jalan masuk blok. bahkan saat sedang dalam bulan puasa pun aku tidak akan pernah terganggu oleh suara mereka yang membangunkan penghuni perumahan untuk sahur. juga saat malam takbiran di mana penghuni perumahan lainnya asyik memasang petasan bahkan sampai latut malam berganti tugas dengan dini hari, aku tetap tidak akan terbangun. aku asik menjalin janji dengan mimpi-mimpi yang kebanyakan teringkari. satu-satunya usaha yang bisa membangunkanku adalah gerak tangan yang kesal milik papa atau mama yang menyuruhku pindah ke kamar tidur. mereka kesal karena mereka kan juga mengantuk tapi melihat aku tidur dengan posisi yang tidak baik mereka nampaknya tidak tega. jadi itulah yang membuat mereka kesal: mengantuk tapi harus berusaha membangunkanku. namun itu nampaknya hanya berlangsung di minggu-minggu awal kebiasaanku itu saja, sisanya mereka mulai cuek. mereka akan membangunkanku jika mereka mendengar alarm dari telepon genggamku berbunyi dengan kencang pada jam 4:30 pagi yang kuatur supaya berbunyi ulang setiap sepuluh menit. lagu yang kuatur sebagai penanda adalah “what you know” milik two door cinema club yang intro gitarnya sangat garing dan cukup menyayat pendengaran, yang tetap tidak segera membangunkanku meski posisi telepon genggam kuletakan tak jauh dari telinga, yaitu di sandaran sofa. namun papa atau mama akan terbangun kemudian membangunkanku. demikianlah strategiku. Continue reading “hari ini”

Advertisements

Tentang Lagu: Indonesian With Attitude

Tentang Lagu: Indonesian With Attitude

Inilah sedikit tulisan untuk membagikan apa yang saya dengar dari single baru yang dikeluarkan oleh the one and only Iwa K. Sebelum membaca lebih jauh, mohon dimengerti bahwa ini tulisan ini dibuat berdasarkan selera pribadi, tanpa ada maksud untuk ngasih tau ini-itu mengenai hal-hal teknis, sekedar mau berbagi apa yang saya temukan lewat pendengaran (yang bahkan mulai berkurang kemampuannya gara-gara suka pakai in-earphone dengan ukuran volume yang cukup kencang dan dengerinnya lagu-lagu hardcore-metal gitu deh) ajah. Continue reading “Tentang Lagu: Indonesian With Attitude”

bahkan

bahkan

sepulangnya dari mencari jawab atas pertanyaan yang tak juga kutemukan, aku rebah pada kenyataan bahwa semua perkara pencarian makna sesungguhnya hanya mencemari kain yang dibentang sebelumnya dengan warna-warna bermacam nuansa, yang kata mereka lebih indah jika tetap dijaga putih saja.

lalu dengan merebahkan diri kubentang kain yang terlanjur penuh warna di dalam pikiran, memilah dan mengingat apa yang menjadi gurat dan siapa yang menorehnya. jemari menarikan huruf-huruf supaya terbaca oleh mata hati yang selama ini buram. menjelmalah mereka dalam kibar kain yang tertiup angin siang dan malam. tertembus panas dan dingin, kain putih penuh warna kecokelatan. terpapar cinta dan harapan, kain putih menyerap biru pagi dan jingga sore. terpapar setia, kain putih menyimpan bercak merah malam perawan. tercakar nafsu, kain putih terkoyak dan menyingkap hitam kelam yang bersemayam pada dinding di belakangnya.

apakah bisa kain bertahan putih jika setiap saat dibawa dan dikenakan? bahkan jika tidak ada apapun putihnya akan tetap pudar kehilangan cahaya yang memang meredup menjelang akhir masa pengabdian.

maka dalam lelah aku tetap mampu tersenyum saat melihat dan meraba kain itu dalam pikiranku.

beda halaman

beda halaman

saat kemarau mendera, halaman ini menjadi kecoklatan karena tanah yang tidak lagi tertutupi hijaunya rumput tipis-tipis yang dahulu memenuhi setiap ruas yang tidak ditindih semen dan tegel – saat aku menetap di sini sebelum mengucap janji untuk keluar, pindah dan mencoba membangun ruang baru dengan halaman yang lebih kecil namun terlihat apik.

penghujan dan kemarau gilir ganti menurutku adalah hal yang amat baik karena asrinya tampilan membutuhkan air pengasup mineral pada rumput supaya hijaunya tetap terjaga bekerjasama dengan panas yang membantu mengolahnya, meski tak dapat dihindari ada sebagian yang mengering, lalu mati dan tercabut tanpa paksa, namun belakangan akan kembali hijau karena ada tunas-tunas baru muncul di atas akar yang terus mencari jalan keluar menuju pendewasaan. Continue reading “beda halaman”

bagaimana

bagaimana

bagaimana mau menulis cerita jika setiap kali mencoba untuk memulai rasanya dadaku mendadak penuh oleh pikiran-pikiran yang tak sempat mendekam lama di benak – bermacam isi namun senada – dan bersepakat untuk tetap merapatkan barisan lalu menekan-nekan sampai mataku menghangat yang jika tak kutahan akan memburam lalu mencair dan menetes jatuh bersama daun-daun di halaman yang terhembus angin dingin sebelum hujan? Continue reading “bagaimana”

baju usang

baju usang

“mengapa bajumu terlihat usang?”

ya, memang sudah usang, termakan usia pemakaian sejak pertama kali kutebus dari etalase pusat perbelanjaan tempat keindahan semu dipamerkan – meriah juga hangat ketika lampu benderang, sunyi ketika segalanya dipadamkan, saat tak terlihat lagi senyum mengembang sebulan sekali sebab upah 30 hari yang baru masuk rekening, juga seringai abadi dari mereka yang memang tidak pernah dipusingkan oleh besaran kebutuhan, semua pulang setelah waktu menyatakan lelah sebab sejak jam delapan pagi ia telah membenturkan jarum-jarum diri di setiap hitungan detik sampai larut malam datang yang adalah tanda untuk meredam segala hingar bingar usaha rekam gambar instagram dengan menyampaikan rasa bosan, lalu lelah, kemudian mengantuk. pulang.

“aku tau hal itu, namun pertanyaanku: mengapa bajumu terlihat usang?”

Continue reading “baju usang”

giliran

membaca buku cerita bagiku adalah suatu perjalanan, tak usah terburu-buru menghabiskannya, tokh tidak ada suatu tujuan spesifik selain “selesai” di ujung jalannya. namun lain hal jika memang kau merasa bahwa cerita yang ada di dalam buku itu sedikit banyak membuatmu merasa mirip dengan karakter-karakternya, lalu merasa kisah hidupmu merasa mirip dengan alur ceritanya, lalu kau merasa sudah cukup bahan untuk juga membuat buku yang berisi tentang cerita hidupmu. Continue reading “giliran”