yang penting

yang penting

langit biru selalu di sana

di atas

bayang hitam selalu di sana

di bawah

sekali waktu keduanya tak nampak

saat kelam merebut malam dari sinar-sinar buatan

bintang cemberut

bulan mengerut

saat pertanyaan-pertanyaan menjadi usang

berbasa-basi sekedar menanyakan keadaan

Continue reading “yang penting”

Advertisements

bunga kering (tulisan yang entahlah)

bunga kering (tulisan yang entahlah)

halaman terakhir kusentuh

di sebelah halaman yang menawarkan kesimpulan

tulisan-tulisan yang berbaris penuh

kemudian kosong tak ada apa-apa di selanjutnya

gemuruh nyanyian ragu sebelumnya

kosong melompong pada paparan kemudian

Continue reading “bunga kering (tulisan yang entahlah)”

neon

neon

pada lampu neon di halaman

yang tergantung di dinding putih penuh retak halus

kugumamkan iri hati sekaligus kagum

atas redup sinarnya yang terasa malas

saat malam merenggut ceria siang hari

dan rona jingga sore hari telah melebur dalam kisah kisah romantis pujangga yang tidak jadi

karena terlanjur gelap

hingga tak terlihat lagi ke mana berbeloknya

kalimat-kalimat yang sudah diletakkannya

pada serat-serat udara gerah

karena hujan yang urung turun

namun sudah lembab jiwa yang terlanjur berharap

terasa sesak akibatnya

Continue reading “neon”

dalam tulisan tentang kesendirian

dalam tulisan tentang kesendirian

adalah tentang daun berguguran, saling tumpuk dan yang berada paling bawah akan bertahan paling lama

adalah tentang butir pasir yang saling mempersilahkan untuk mengisi celah kosong dan memenuhinya sedemikian rupa hingga tak terlihat oleh mata yang hanya melihat indahnya paparan jingga sepanjang laut sana

adalah tentang rupa mata, telinga, bibir, alis, juga garis kerut, lubang bekas jerawat, luka sisa cukuran

tak lupa ada merah bekas luapan amarah

 

kesendirian adalah tentang hari-hari terlewati

dalam kesendirian kita bisa dengan sempurna menikmati ramainya kembang api

dengan percikannya yang mencubit kulit

 

dalam kesendirian kita bisa mengerti apa yang ingin disampaikan oleh deru petir di langit yang sedih

dan ketika tangisnya tumpah kita rasakan dingin dan gemetar akibat kaki yang tersiram air keruh karena debu luruh 

 

dan hanya dalam kesendirian kita temui tempat yang benar-benar teduh

ketika hati terangkat, tangan dilipat dan kaki bersimpuh

gelap-gelapan

gelap-gelapan

entah mengapa aku sangat suka pada apa yang kudapat dalam gelap saat banyak orang yang membencinya. membenci gelap itu sendiri atau bahkan membenci yang kudapat. namun bagaimana mungkin mereka tahu apa yang kudapat apabila sejauh yang mereka dapat tidak lebih dari gelap?

itulah alasan mengapa aku memilih baju dan celana hitam, penutup kepala dan alas kaki hitam, cerita dan lagu hitam. lalu kau akan mengerti kenapa aku suka dengan kopi hitam meski itu alasan usang.

gelap memaksaku untuk meraba.

gelap memaksaku untuk menghirup aroma.

gelap memaksaku untuk lebih baik memejam mata.

gelap memaksaku untuk mendengar dan menyerah.

gelap memaksaku untuk mempercayai rasa.

maka mataku melihat apa yang lebih dari yang terlihat: isi hati

lalu jemariku mampu menjamah lebih dari yang dapat kuraba: kuatir di balik bibir tersenyum

hidungku dapat menghirup lebih banyak dari apa yang terbawa harum: kejujuran

dan akhirnya telingaku mendengar lebih dari apa yang berbunyi: cinta

jadi, mengapa harus takut pada gelap?

ah, semoga kamu bisa mengerti mengapa aku seakan tak pernah mengenal warna lain

selain gelap

–> hey, gelap itu keadaan, bukan warna

–> apa yang kamu lihat dalam gelap?

–> tak ada apa-apa selain hitam

–> apakah hitam itu bukan warna?

–> baiklah. hitam adalah warna

–> tak perlu berdebat lagi. pejamkan mata saja

–> sama seperti tak perlu terlihat lagi. mengalir saja?

–> nampaknya demikian

–> mengapa tak ada keyakinan?

–> keyakinan kerap terjelembab pada kesombongan

–> maka menutup mata memaksamu meraba, merasa, mencium dan mendengar lebih banyak

–> demikian lah adanya

hari ini

hari ini

aku dibangunkan papa dari lelap di atas sofa depan televisi. perlu kali kedua untuk membuatku bangun, meninggalkan situasi nyaman di ruang keluarga, pindah ke kamar tidur. ya, sudah beberapa bulan ini aku lebih suka tidur di ruang keluarga dibandingkan di kamar tidurku sendiri. bukan karena kamar tidurku tidak nyaman namun entah mengapa aku sangat menikmati saat-saat malam tertidur di sofa saat sedang asik bincang-bincang dengan orang tua sambil nonton acara-acara absurd di saluran televisi lokal. kipas angin tua menghembuskan dingin pelan-pelan dan aku rasa itu adalah penyebab utama mudahnya aku menyerah pada lelap kala memeluk bantal-bantal kecil yang duduk berjajar. sesungguhnya sofa itu tidak cukup untuk panjang badanku sehingga kerap kuharus meringkukkan kaki atau menaruh kaki pada bagian tangan kayunya yang biasanya menimbulkan rasa sakit pada pergelangan kaki disertai dengan tanda garis merah di situ. kadang mengakalinya dengan menjadikan dua bantal kecil sebagai alas empuk bagi pergelangan kaki kiri dan kanan namun pastinya tidak akan bertahan lama karena aku tidak pernah bisa bertahan lama dalam satu posisi tidur. meski demikian tetap kulakukan karena posisi dengan kaki lurus sedikit terangkat seperti itu adalah yang paling nikmat, meski hanya lima menit saja rasanya, namun itu adalah lima menit yang berkuasa membuatku larut dalam mimpi-mimpi indah maupun resah yang menahanku dalam tidaksadarnya kesal dan gelisah. aku tidak akan terbangun meski suara tiang listrik yang dipukul oleh satpam perumahan saat ronda cukup kencang – dan salah satu tiang listrik yang dipukul itu bertempat pas di depan rumahku yang memang berada di ujung jalan masuk blok. bahkan saat sedang dalam bulan puasa pun aku tidak akan pernah terganggu oleh suara mereka yang membangunkan penghuni perumahan untuk sahur. juga saat malam takbiran di mana penghuni perumahan lainnya asyik memasang petasan bahkan sampai latut malam berganti tugas dengan dini hari, aku tetap tidak akan terbangun. aku asik menjalin janji dengan mimpi-mimpi yang kebanyakan teringkari. satu-satunya usaha yang bisa membangunkanku adalah gerak tangan yang kesal milik papa atau mama yang menyuruhku pindah ke kamar tidur. mereka kesal karena mereka kan juga mengantuk tapi melihat aku tidur dengan posisi yang tidak baik mereka nampaknya tidak tega. jadi itulah yang membuat mereka kesal: mengantuk tapi harus berusaha membangunkanku. namun itu nampaknya hanya berlangsung di minggu-minggu awal kebiasaanku itu saja, sisanya mereka mulai cuek. mereka akan membangunkanku jika mereka mendengar alarm dari telepon genggamku berbunyi dengan kencang pada jam 4:30 pagi yang kuatur supaya berbunyi ulang setiap sepuluh menit. lagu yang kuatur sebagai penanda adalah “what you know” milik two door cinema club yang intro gitarnya sangat garing dan cukup menyayat pendengaran, yang tetap tidak segera membangunkanku meski posisi telepon genggam kuletakan tak jauh dari telinga, yaitu di sandaran sofa. namun papa atau mama akan terbangun kemudian membangunkanku. demikianlah strategiku. Continue reading “hari ini”