Album kedua, istilah kerennya: sophomore, sering dikatakan sebagai ajang taruhan antara sang artis dengan nasib yang akan menentukan kelanjutan karirnya, akankah langgeng atau berhenti sampai di situ sebelum kemudian menghilang perlahan, tanpa pesan, seperti si mantan, yang kaya setan (maap, ada nuansa curcol, mohon abaikan). Danilla akhirnya tiba di fase sophomore, yang kusambut dengan hati penuh debar dan tanda tanya besar. Penasaran menggerogoti rasa sabar. Harapan begitu besar. Sekitar 2,5 tahun kutunggu kehadirannya setelah Telisik di tahun 2014, album yang penuh dengan rasa cinta baik melalui lirik juga notasi dan – tentunya – paras rupawan dalam kemasan wanita kikuk pemalu pembangkit rindu. Memang dalam album Telisik tak melulu tentang cinta yang utuh, ada juga yang tak (bisa) utuh membawa galau, namun segala notasi yang manis dan jazzy, akan kuingat Telisik sebagai album cinta.

Maka ketika kemarin, Senin 18 September 2017, sekitar pukul 5 sore kulihat pengumuman lewat akun instagram-nya, segera kusambangi album bertajuk Lintasan Waktu ini di Apple Music. Sungguh aku deg-degan. Ditambah dengan suasana diri yang baru saja bangun dari tidur siang yang ditemani mimpi tentang makan indomi telur dua porsi, lengkaplah gelisah yang kualami. Tak sabar kunanti unduhan selesai – aku tak suka streaming – sebab sinyal provider kerap tidak stabil berpotensi merusak kekhusyukan mengamati dan menikmati musik. Ketika akhirnya unduhan selesai, segera ku keluar rumah menuju teras untuk kemudian mendengarkan dengan teliti karya terbaru dari Danilla dan tim. Dengan segelas besar kopi di tangan, in-earphone tertancap di kuping kiri-kanan, posisi duduk sudah nyaman, sambil angkat kaki di bangku taman, maka dimulailah perjalanan. 

Total ada 10 lagu dalam album ini, 2 di antaranya telah dirilis terlebih dahulu sebagai single. Semua kudengar dengan tanda tanya besar tercetak jelas di jidat yang penuh guratan tua: di mana kah lagu-lagu cinta penuh nada indah semacam di Telisik? Tak kutemukan jejaknya barang sedikit lagu macam Wahai Kau yang selalu berhasil menyihir hatiku dengan siulannya yang bisa kusejajarkan dengan siulan John Lennon dalam lagu Jealous Guy, atau irama bossanova manis macam Senja Di Ambang Pilu atau lagu penyampai rindu serindu-rindunya macam Terpaut Oleh Waktu? Tidak ada sedikitpun… Kecewa? Sedikit. Ah, ternyata aku memang masih berharap Danilla melahirkan hal-hal romantis. Itulah sisi buruk berharap pada hal yang fana: membutakan. Tak bisa menerima kenyataan. Lalu kupejamkan mata, mengubur harapan, mendengar untuk kedua kalinya. Ya, ini adalah album yang sangat berbeda dengan Telisik.

Danilla 1

Sengaja kupejam mata supaya bayangan cinta penuh romantisme basa-basi menghilang dari benak dan ku dapat masuk dalam dunia baru yang dijanjikan mengawang-awang dalam alunan chord beserta progresinya yang tak lazim. Semua lagu dibalut dengan tata suara yang amat baik, reverb, echo, delay, panning, dan segala hal yang membentuk detail bebunyian membangun nuansa yang amat bagus! Dan harus kuakui, suara Danilla yang cukup berat makin terasa matang di album ini, suara yang tadinya terdengar dominan syahdu manis di Telisik kini menjelma menjadi makin gundah, meski tetap syahdu. Unik sekali. Bagus sekali.

Akhirnya aku paham mengapa terjadi perubahan citra dari seorang Danilla saat tampil era 2014-2016 yang terlihat lebih cute dan memesona namun di akhir 2016-2017 berubah menjadi seperti hippie meski tetap cantik (itu kayaknya udah bawaan orok). Ternyata memang ini yang ingin disampaikan olehnya. Perubahan yang amat signifikan. Satu-satunya yang menjadi jembatan antara kedua album tersebut adalah lagu Kalapuna yang saat pertama kali kudengar masih dapat kutemukan jejak lagu Junko Furuta – yang merupakan lagu paling mengawang-awang dalam Telisik karena membawa cerita yang amat kelam, sementara Kalapuna memuat lirik yang cukup kejam. Lalu ketika single kedua – Aaa – dikeluarkan, aku sudah mempunyai firasat bahwa memang album yang akan datang akan sangat berbeda, namun masih kuat harapan untuk mendapatkan lagu-lagu romantis. Percaya kan? Harapan membabibuta sungguh-sungguh membutakan, bahkan menolak firasat yang sudah jelas terlihat. Aku sendiri sangat suka dengan Kalapuna dan nampaknya masih jadi lagu andalanku di album Lintasan Waktu ini.

Mendengar album Lintasan Waktu secara keseluruhan kumendapatkan sensasi yang berbeda, meski sama-sama melayang. Telisik menjanjikan peluk hangat sementara Lintasan Waktu mengakibatkan kedinginan. Menggigil. Dan entah mengapa aku menjadi bagai tak punya hati. Daya magis album ini tinggi sekali. Ada dua lagu yang berpotensi besar mengambil takhta Kalapuna dari posisi yang paling kusuka, yaitu: Ikatan Waktu Lampau dan Dari Sebuah Mimpi Buruk dikarenakan adanya string section ­yang mengalun sendu di balik suara gitar dan synthisizer yang bagai gemetar. Kuacungkan jempol bagi pengaransemen dan pengarah musik album ini.

Tak sengaja kuteringat pada Silverchair era album Neon Ballroom, Diorama dan Young Modern atas chord dan progresinya yang tak lazim. Bahkan melodi lagu yang kadang keluar dari pakem-pakem nada. Ah, sulit aku menjelaskannya, pokoknya agak-agak out of the box dah. Tapi Lintasan Waktu belum segebleg Silverchair koq, masih bisa diterima lah oleh para penggemar (dan pencinta) Danilla era Telisik yang kiyut menggemaskan, hanya saja dibutuhkan waktu dua kali atau lebih untuk bisa mencerna maksud dari lagu-lagu yang ada, beda banget dengan Telisik yang sekali dengar bisa langsung jatuh cinta. Dan mungkin akan ada risiko “susah sing-a-long” dalam lagu ini, kalo pun memaksakan untuk nyanyi bareng pas konser ya bakalan fals sefals-fals-nya deh… Beda dengan Telisik yang punya ear-catchy notes and chords yang amat memudahkan pendengarnya untuk membidik nada.

Yah, itulah yang kurasakan dari album Lintasan Waktu ini. Album yang cerdas dengan segala persiapannya yang matang dan eksekusinya yang gemilang! Meski dengan jujur kukatakan bahwa aku masih menempatkan Telisik sebagai yang terutama di hatiku, semata-mata karena nuansa cinta yang amat lekat dan aku adalah orang yang romantis sangat. Ha!

Akhirnya aku ingin berkata: What an album, Danilla! Great job!

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)

  1. i love both. junko furuta masih bikin- akan selalu bikin merinding. gue ga ngarepin nuansa romantis, sih dari karya-karya nya. gue juga ga ngarepin yg ear catchy, justru lebih ngawang2, lebih sulit dicerna,lebih kelam, lebih magis danilla, lebih suka gue (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s