siang ini dimulai dengan “ah” dan lagu barumu

engkau biduanita yang pernah mengisi sebagian besar dendangku

kala membaca, kala menulis, kala tertawa, kala menangis

dalam senyap air turun dari pancuran membasahi tubuh letih

dalam semarak percik terlontar dari kembang api teman jiwa sepi

suaramu berat menyampaikan risau

suaramu lekat pada desau asmara nan parau

 

lirih fasih menerjemahkan syahdu

gerak kikuk menggelitik rindu

bahkan nafsu

meski tak pernah sempat kuketahui wangimu

 

sederhanamu hilang, kini

berganti dengan niatmu menunjukkan diri

untuk apa menuruti ku di dalam khayalan

engkau sejati milik semua orang

 

inilah tandanya

tak kutemukan lagi rindu dalam erang syahdu

tak kutemukan lagi rindu dalam lirih rintih memohon ditemani

yang kutemukan hanyalah bising alat musik yang bagiku merusak citramu

menyampaikan bait-bait usaha untuk terdengar hebat dalam jujurmu

 

kau ingin terkenang dengan cara lain

sensasi yang mematikan romansa

kau ingin dikenang oleh orang lain

sensasi yang membutakan rasa

 

tawamu berlandas perih

bibirmu menyeringai pedih

 

biduanita, engkau hanya menyisakan sedih

 

 

Advertisements

2 thoughts on “lagu barumu, biduanita

    1. Salam kenal juga ya!! Waaaaah terima kasih udah mau mampir… aaah aku mah cuma gaya2an aja nulis tentang buku Murakami, bukan resensi lhow ya, sekedar nulis apa yg aku rasa aja… aku sendiri emang suka banget sama Murakami, nulis koq bisa dalem gitu ya…
      Waah makasih banget kalo suka.. makasiiih banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s