ukuran waktuku

ukuran waktu dalam satu hari adalah 24 jam atau 1.440 menit dalam satu hari. dalam sekian itu aku harus membagi 8 jam atau 480 menit minimal untuk mencari nafkah, 1 jam atau 60 menit di antaranya kugunakan untuk sekedar menenangkan pikiran sambil menikmati makanan yang kadang mahal kadang murah, 1,5 jam atau 90 menit di pagi dan 1 jam atau 60 menit di sore/malam hari kuhabiskan di dalam perjalanan menuju/pulang kantor, 1/2 jam atau 30 menit di pagi dan 2,5 jam atau 150 menit di sore/malam kupakai untuk bincang-bincang dengan orang tua, 2,5 jam kugunakan untuk bersosialisasi dengan kerabat atau latihan yang berhubungan dengan musik dan paduan suara.

1 jam atau 60 menit di pagi hari untuk membaca kitab suci dan berbincang dengan Sang Pemilik Sejarah dan Masa Depan.

jika untuk memenuhi syarat hidup sehat aku harus menggunakan syarat 8 atau 480 menit sebagai waktu minimal tidur, maka aku menjalani hitungan waktu yang salah dalam satu hari, keteraturan semesta menyalahi kodrat.

jika kukurangi waktu minimal tidur malamku sebanyak 2 jam atau 120 menit hingga menjadi hanya 6 jam atau 360 menit, maka barulah semestaku sesuai dengan kodratnya yang 24 jam atau 1.440 menit. namun bukan berarti itu sudah benar, karena itu berarti harus kubungkam kesenanganku untuk membaca, menulis, bermain musik sendiri (bukan latihan dengan yang lain) dan juga mencuci baju sebagai kesenanganku yang – rasanya – paling bermanfaat dalam hidup bersama orang tua.

maka yang paling bijaksana adalah kukurangi lagi waktu tidurku sebanyak 2 jam atau 120 menit lagi, sehingga tinggal 4 jam atau 240 menit saja sehari. karena tak mungkin kukurangi waktu perjalanan pergi dan pulang kantor yang hanya bisa pasrah pada keadaan, mengurangi waktu kerja yang berakibat surat peringatan, mengurangi waktu istirahat yang berakibat kelelahan kerja dan buteknya pikiran, mengurangi waktu bincang-bincang dengan orang tua yang berakibat dianggap sebagai anak tak tahu budi, atau mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan kerabat yang beresiko diasingkan secara adat.

apalagi mengurangi waktu berinteraksi dengan Sang Pemilik Sejarah dan Masa Depan, tak tahu terimakasih-nya aku, dikasih hidup sehatr walafiat malah mau melupakanNya begitu saja? bisa dikutukNya hatiku menjadi sekeras batu dan kemudian dibuang ke dalam nyala api yang membuat hidupku bergeser kiri kanan goyang goyang tak beraturan karena kepanasan dan akhirnya gosong dan hilang dalam kegelapan.

ya ga apa-apalah, kurang tidur masih lebih baik daripada kurang ajar, ya kan?

satu lagi, dengan semesta yang seperti itu, di manakah dapat kuselipkan beberapa menit yang bisa menjadi jam untuk bersama denganmu?

ah, pantas saja tidak akan pernah ada alat yang tercipta untuk bisa pulang pergi ke masa lalu bahkan ke masa depan.

eh, aku tidak cermat, waktu yang 1 jam atau 60 menit di saat makan siang itu kan termasuk di dalam 8 jam atau 480 menit jam kerja ya? aha! kutemukan saat yang tepat untuk bisa berinteraksi denganmu, wahai kopi dan fantasi, jadi tak perlu kurombak lagi tatanan hitung barusan. tak cukup waktuku.

saatnya sekarang untuk minum teh dan makan donat (yang akan menghabiskan 1 jam atau 60 menit dengan mengorbankan waktuku untuk tidur siang di saat akhir pekan)

tea and donut

 

Advertisements

3 thoughts on “ukuran waktuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s