Duduk di bangku kayu panjang dalam sebuah warung penjual mi rebus di tepi jalan saat perjalanan pulang menuju rumah setelah seharian didera tuntutan profesi yang tak suka basa-basi.

“Kamu ga pesan apa-apa kan hari ini?

“Lho kita kan mau pesan mi rebus?”

“Maksudku selain mi rebus yang sudah pasti ini, adakah?”

“Ada hal yang spesifik yang ingin kamu tahu?”

“Tidak, hanya mau tahu apakah kamu ada memesan sesuatu”

“Belum sih, tapi aku sedang berpikir untuk memesannya”

“Oh ya, apa yang ingin kamu pesan?”

“Rahasia”

“Aku juga ingin memesan sesuatu”

“Oh ya? Apa yang ingin kamu pesan?”

“Rahasia”

“Mengapa harus dirahasiakan dariku?”

“Mengapa kamu bertanya sedangkan aku tidak bertanya saat kamu bilang itu rahasia?”

“Karena aku tak ingin ada rahasia di antara kita”

“Klise, sedangkan tadi kamu merahasiakan sesuatu”

“Dan aku berharap kamu bertanya apa yang kurahasiakan”

“Untuk apa?”

“Membangun pembicaraan di antara kita”

“Sungguh? Perlu kah demikian?”

“Kurasa perlu”

“Mengapa perlu?”

“Supaya kulihat reaksimu”

“Untuk apa?”

“Mengambil keputusan apakah perlu kulanjutkan pembicaraan itu”

“Rumit sekali cara berpikirmu”

“Aku hanya berusaha sebaik mungkin”

“Terbaikmu adalah dengan merahasiakan sesuatu yang akan menimbulkan pertanyaan dariku kemudian kita akan membahasanya”

“Demikian kira-kira”

“Agak berlebihan rasanya”

“Sungguh kah? Dengan diam tak menanyakan apa yang kurahasiakan menurutmu itu adalah yang terbaik?”

“Kurasa demikian”

“Kurasa kamu salah”

“Jelaskan pendapatmu”

“Jika yang terbaik darimu adalah diam supaya tidak perlu membahas apa-apa maka kurasa selama ini kita menjadi sia-sia”

“Mudah sekali kamu katakan semua ini sia-sia”

“Karena kamu tidak berusaha”

“Bukankah dengan tidak berusaha bertanya itu namanya sudah berusaha?”

“Ada usaha-usaha lain yang lebih baik”

“Misalnya?”

“Ya dengan menanyakan apa yang menjadi rahasia di antara kita berdua dan kemudian kita membahasnya bersama”

“Karena aku tahu apa yang kamu rahasiakan”

“Kamu tidak pernah tahu apa yang kurahasiakan sampai kukatakan apa rahasia itu”

“Aku bisa merasakannya”

“Kalau begitu, katakan apa yang kamu rasakan”

“Itu rahasia”

“Rahasiamu adalah untuk menghindari pembahasan”

“Karena bagiku ada beberapa hal yang memang tidak untuk dibahas”

“Seperti hal yang kamu rahasiakan itu”

“Tidak. Tapi seperti hal yang dirahasiakanmu”

“Ada alasanku mengapa merahasiakannya”

“Demikian juga denganku”

“Lalu bagaimana dengan kalimat “jangan ada rahasia di antara kita?””

“Itu hanya modifikasi dari sepenggal lirik dalam lagu yang mencoba untuk menjadi ideal”

“Apakah salah dengan menjadi ideal?”

“Sama sekali tidak”

“Lalu mengapa kamu tidak setuju dengannya?”

“Siapa bilang aku tidak setuju? Aku hanya bilang lagu itu berusaha untuk menjadi ideal”

“Menurutmu apakah kita pasangan yang ideal?”

“Rahasia”

“Ah, mengapa rahasia lagi?”

“Karena aku tak mau dinilai sebagai pasangan yang takabur. Apalagi jika ternyata kamu tidak memiliki pikiran yang sama denganku”

“Kamu tidak mau menanyakan apa yang kupikirkan?”

“Tak perlu, kurasa. Karena kamu pun akan menjawabnya sebagai rahasia”

“Dari orang yang mengharapkan supaya tidak ada rahasia di antara kita, kamu berpikir demikian?”

“Bisa jadi kan?”

“Hahahahahaa bisa jadi”

“Okay, jika memang kita masing masing tidak mau menyampaikan apa pikiran kita, menurutmu bagaimana dengan pikiran orang lain tentang kita”

“Nah kalau ini tidak perlu rahasia ya”

“Maka kita membahasnya”

“Hhhhmmm… sayangnya mereka tidak akan pernah punya pikiran apa-apa tentang kita”

“Mengapa?”

“Karena hubungan kita ini kan rahasia”

“Oh iya…”

“Jangankan mereka, aku pun kadang tidak tahu apakah kita ini”

“Ah, kamu berusaha menyudutkanku”

“Lho, mengapa kamu berpikir demikian?

“Rahasia”

“Ahahahahahaa… Ternyata memang tepat kita merahasiakan segala sesuatu karena kita percaya bahwa rahasia itu penting demi kelangsungan banyak hal”

“Jadi kamu percaya dengan rahasia dan membiarkannya ada di antara kita?”

“Rahasia!”

“Hahahahaha kamu iseng juga ya!”

“Hahahahahaa…”

dua porsi mi rebus pakai telor sudah selesai dimasak. dua minuman coklat dingin pun sudah tersedia. dua hal yang membuat keduanya terdiam, beberapa jenak.

“Apa sih yang membedakan antara mi instan rebus buatan para penjual ini dibandingkan dengan buatanku?”

“Ya, mengapa selalu beda ya?”

“Selalu lebih gurih”

“Padahal berulang kali kuperhatikan cara mereka membuatnya”

“Lalu, apakah kau temukan sesuatu yang berbeda?”

“Tidak. Sama saja koq caranya. Merebus air dalam panci kecil, lalu memasukkan mi instan ke dalamnya, sambil mengisi waktu dia akan menyiapkan bumbu pada mangkok, bumbu yang dipakainya pun sama saja, hanya yang ada di dalam kemasan, tidak ada tambahan lainnya, beberapa saat kemudian dimasukkannya sawi hijau ke dalam air rebusan. Lalu dimasukkannya telur sehingga memenuhi perkiraan bahwa saat mi instan tersebut telah cukup masak untuk disajikan keberadaan sawi hijau itu masih terasa segar – tidak layu karena kelamaan direbus dan – ini bagian yang kusuka – telurnya tidak menjadi matang sepenuhnya, kuning telurya masih agak lunak sehingga jika kau pecahkan melelehlah dia ”

“Betul, kamu ternyata benar-benar memperhatikan dengan detail”

“Tentunya, karena aku ingin suatu saat nanti saat aku pensiun dan mendapat uang akan kugunakan untuk membuka warung mi rebus”

“Tidak jadi buka kedai kopi seperti yang kau impikan?”

“Nampaknya tidak, warung mi instan nampaknya jauh lebih menjanjikan, tanpa kesan muluk-muluk, tanpa harus bikin menu yang terlalu kekinian, pengunjung akan tetap datang, tak selalu membuat warung nampak penuh namun pengunjung bergantian datang, terus menerus”

“Sementara kedai kopi impianmu itu kesannya hanya jadi tempat nongkrong orang yang setelah beli satu minuman saja dia akan duduk berjam-jam di sana, tanpa spending tambahan”

“Begitulah”

“Belum lagi kamu harus mencari barista dan asisten yang loyal supaya ga gonta-ganti aja yang nantinya bisa merepotkan dan merugikanmu”

“Ditambah kadang mereka suka terlalu sok asik ya gayanya”

“Hahahaha, yang pasti akan jauh beda dengan tukang mi rebus ini”

“Eh tapi tukang mi rebus ini juga pakai pomade lhow, tak kamu lihat kah bahwa dia terlihat klimis?”

“Ah betul juga, kamu bahkan memperhatikan sampai sedetail itu”

“Aku sedang mencoba untuk membuat teori apakah ada hubungan antara penjual klimis dengan mi instan rebus yang enak hasil buatannya”

“Hahahaha… kamu mulai putus asa”

“Hahahaha… aku mulai kesal”

“Pasti ada rahasia yang disimpannya”

“Demi menjaga kelangsungan usahanya”

“Supaya pelanggan terus mencarinya”

“Supaya pelanggan terus mencintainya”

“Kamu mencari pembenaran atas rahasiamu”

“Kamu menganalogikan hubungan kita dengan cara buat mi instan rebus yang enak?”

“Ga ada salahnya, kan?”

“Well, katamu aku juga pintar bikin mi instan rebus kan?”

“Siapa yang bisa mengalahkan mi instan rebus dengan campuran mentega dan telur yang kamu masukkan ke dalam mangkok sesaat sebelum disajikan?”

“Tapi tetap kamu lebih suka dengan buatan tukang mi rebus yang ini kan?”

“Kamu mau disamakan dengan tukang mi rebus ini?”

“Di mana salahnya?”

“Menurutmu ada yang salah?”

“Menurutku? Rahasia!”

“Ah, sudahlah… Mari makan dulu”

dua porsi mi rebus pakai telor disantap dalam diam beberapa jenak, sesekali keduanya menyeka bulir keringat yang timbul di pelipis dan di atas bibir, yang satu kadang sambil mengipas-ngipas, sementara yang lain sambil sesekali memindahkan pandangan dari mangkok menuju motor yang terparkir tak jauh, kuatir ada orang yang jahat dan mau mencuri motor itu yang meski butut namun penuh dengan kenangan dan jasa.

….

“Ya sudah, aku tak mau simpan rahasia lagi”

“Jadi kamu akan memberitahu aku?”

“Ya karena aku mau mencoba untuk lebih terbuka denganmu”

“Selama ini memang belum cukup terbuka?”

“Tubuh kita saat telanjang masih jauh lebih terbuka”

“Hahahahaha… keterlaluan kamu, menganalogikan usahaku untuk terbuka dengan telanjangnya kita”

“Apakah salah?”

“Tak salah, hanya aneh”

“Tapi aku selalu suka saat kita berdua telanjang, apakah itu aneh?”

“Tidak juga sih… Hanya saja aneh membahas tubuh telanjang kita di dalam warung ini”

“Sambil makan mi rebus”

“Dan minum susu coklat dingin”

“Dan dalam keadaan kekenyangan!”

“Hahahaha! Mungkin setelah kamu katakan rahasia itu kita akhirnya mengerti sesuatu”

“Ah, kamu macam penyanyi itu saja pakai sesuatu”

“Mungkin, tapi dia tidak suka merahasiakan sesuatu, dia memamerkannya, malahan”

“Ada yang dia rahasiakan koq”

“Apa?”

“Sumber penghasilannya untuk bisa hidup supermewah seperti itu”

“Ah, itu pasti jadi rahasia supaya tidak ada yang mengikuti jejaknya”

“Nah, setuju kan kamu bahwa rahasia itu ternyata baik untuk menjaga rasa sejahtera?”

“Buat dia mungkin ya”

“Aku mau pesan sesuatu sebagai hadiah ulang tahun kamu nanti”

“Lho, aku juga mau pesan sesuatu sebagai kejutan untuk kamu”

“Untuk apa? Aku kan tidak berulang tahun”

“Ya sebagai kejutan saja”

“Lah aku juga berharap bahwa yang kupesan itu bisa menjadi kejutan untuk kamu”

“Makanya kamu merahasiakannya”

“Kamu juga”

“Apa sih yang kamu pesan?”

“Buku terbaru penulis kesukaanmu yang sudah beberapa tahun tidak berkarya”

“Ah, aku juga memesan buku terbaru penulis kesukaanmu dan sudah kubayangkan kamu pasti akan berteriak kegirangan lalu memeluk aku”

“Itu tujuanmu sesungguhnya?”

“Mendapatkan pelukanmu”

“Harus seperti itu kah? Sampai harus merahasiakannya?”

“Karena aku tahu kamu suka kejutan”

“Dan aku pun tahu kamu menantikan kejutan selanjutnya”

“Ah, apa kejutannya kalau sudah jelas seperti ini?”

“Makanya aku memilih untuk merahasiakannya”

“Aku juga hahahahhaa”

“Apakah kamu cinta padaku?”

“Kalau aku jawab “rahasia”, apakah kamu akan kecewa?”

“Rahasia”

dua mangkok yang tadinya berisi mi rebus dengan telur dan sawi hijau, juga dua gelas minuman coklat dingin telah kosong melompong.

harganya Rp. 78.000

 

Kejutan!

Advertisements

2 thoughts on “Kejutan

  1. Entah sebab rahasia atau sebab aku benar-benar ingin tahu sebuah rahasia, aku tandas mengikutinya, dan ternyata ya demikianlah. Sayangnya selera kita berbeda, rebus dan goreng sudah itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s