ketahuan

jika aku pencinta hujan dan tak takut kebasahan karenanya dan lebih takut jika tidak bisa tiba di rumah sebelum jam 12 malam, maka kenapa aku tidak bergegas jalan hujan-hujanan lalu ambil kendaraan yang ada di parkiran?

ah, ternyata aku tak sebesar tulisan-tulisan yang selalu kupaparkan.

tak heran engkau memilih berpergian.

dunia

di lubang telingaku menancap alat pengeras suara

yang tidak bisa kau dengar bunyinya

kecuali kau turut menancapkannya pada lubang telinga

 

di hadapanku terpampang sebuah buku

dengan deret kalimat rapat dan penuh

yang tak bisa kau baca jika dudukmu jauh

 

di genggamanku terdapat segelas kopi hangat

yang tak akan kau tahu sepahit apa rasanya

kecuali kau memintaku untuk membaginya

 

tak pernah susah jika kau ingin tahu tentangku

cukup ketiga hal itu

duniaku

 

sesederhana itu

tenang

aku tak pernah takut pada gerimis syahdu atau hujan menderu

namun aku waswas jika pijak kakiku menjadi licin dan aku akan terpeleset jatuh pada cinta yang tidak semestinya

siapa yang dapat memilih kapan akan jatuh atau tidak, bukan?

meski demikian, tetap kunanti hadirnya gerimis dan hujan

dibalut doa doa yang kerap kau panjatkan

supaya hujan sejenak dihentikan

dan kau tenang jika aku berpergian