Hai Cherry Wave, apa kabar?

Aku sedang duduk di kursi kayu di halaman rumah, bersama dengan segelas besar kopi yang untuk kali ini kutambahkan susu kental manis karena kehabisan kopi dan agak malas untuk pergi beli ke warung. Besok saja lah. Lagian aku kali ini ingin bercerita tentang isi buku yang kamu beri sebagai hadiah tanpa dibungkus kertas kado, hanya dalam plastik putih dengan label toko buku bahkan stiker harganya pun masih terlekat. Sambil tertawa kamu minta pengertianku supaya tidak kecewa karena kamu tahu aku selalu melepaskan stiker harga sebelum memberikan suatu barang dan kali ini kamu tidak melakukan hal yang sama. Alasanmu adalah aku sudah tahu duluan harganya karena kita sama-sama melihat buku ini dan kagum dengan harganya yang (termasuk) murah meskipun dikemas dalam bentuk hardcover.

Kita berdua setuju bahwa buku ini memiliki gambar sampul yang menarik dan kamu tahu banget kan bahwa salah satu alasanku untuk membeli buku adalah jika memiliki gambar sampul yang bagus, ditambah lagi dengan adanya deskripsi singkat isinya pada bagian sampul belakang, sedikit absurd namun justru menambah keinginanku untuk memiliki. Aku bersyukur karena dompetku yang menipis saat itu hingga batal membelinya dan akhirnya malah kamu jadikan kejutan di pinggir jalan saat akan kutaruh buku itu dalam bagasi motor. Kamu memang selalu penuh kejutan. Itulah mengapa aku mencintaimu.

FullSizeRender-5

Sebagai balasannya aku mau sedikit menceritakan isi buku ini – karena kamu bilang lebih asik membiarkanku membaca dan tenggelam dalam alur cerita dan kemudian menceritakannya ulang untukmu. Mengapa demikian akan kutanyakan kepadamu, segera setelah kuketahui keberadaanmu…

Jack Cheng adalah nama sang penulis yang nampaknya sudah menghasilkan beberapa buku sebelumnya yang tak pernah kutahu, jadi ini adalah pengalaman pertama membaca karyanya. Ceritanya sangat ringan, tidak ada hal yang njelimet. Tidak perlu mengernyitkan dahi saat membaca tiap kalimatnya. Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang anak laki usia 11 tahun bernama Alex yang memiliki ketertarikan yang sangat besar pada bidang antariksa dan terobsesi membangun sebuah roket untuk diluncurkan ke luar angkasa demi menyampaikan rekaman berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan di luar angkasa sana selain cerita tentang kegiatan sehari-harinya kepada para alien yang dipercayainya ada dan tinggal di suatu tempat di sana. Ide cerita yang sangat simpel meski menurutku agak “absurd”, namun bukankah anak-anak memang “absurd”? Kamu tahu persi bahwa aku sangat suka dengan anak yang punya daya khayal sangat tinggi, karena menurutku khayalan tinggi itu justru menunjukkan kecerdasan seorang anak. Bahkan inventor-inventor kelas dunia pun dikenal sebagai orang yang suka berkhayal, betul kan?

Alex adalah anak yang pintar, dengan segala pertanyaan dan rasa ingin tahunya yang begitu besar namun tidak punya tempat untuk bertanya, bahkan pada orang-orang yang seharusnya dekat dengannya. Ibu dan Ayahnya telah bercerai dan sang ayah dipercayainya sudah meninggal, sementara sang Ibu mengalami “guncangan mental” sehingga sangat sulit untuk bisa menjalin komunikasi dengannya. Memiliki seorang kakak pria dengan usia yang dua kali lipatnya namun sudah tidak tinggal bersama dengan Alex dan sang ibu, tinggal di negara bagian lain demi mengejar karirnya. Praktis Alex hanya sendirian dan dengan demikian syah saja nampaknya jika internet dan gawai menjadi sahabat terdekatnya – juga seekor anjing penakut yang diberinya nama Carl Sagan. Alex tidak suka menonton TV, hanya suka menonton film sains. Ia lebih terikat pada internet yang dapat memberikan jawaban-jawaban praktis atas apa yang menjadi kebutuhannya, khususnya dalam mencari informasi mengenai cara membangun roket dengan segala keperluan dan materi yang (dikiranya) dapat membuat roket itu terbang sampai di luar angkasa. Namun jangan pernah lupa bahwa internet bukanlah sumber atas segala pertanyaan. Banyak hal yang tidak dimengerti oleh Alex yang membuatnya merekam segala pertanyaan ke dalam golden iPod dan juga berbagi kisah mengenai segala kegiatan sehari-harinya dengan harapan bahwa Alien di luar sana dapat memberi jawaban dan juga tertarik untuk mempelajari kehidupan sehari-hari manusia di dunia. Mungkin dengan demikian dia merasa bisa mendapat teman.

Cerita yang sederhana ini menjadi sedikit njelimet saat Alex bersikeras untuk pergi ke luar kota yang jauh demi mengikuti suatu pertemuan komunitas pencinta roket dan di sana dia turut ambil bagian dalam kompetisi menerbangkan roket. Perjalanannya menemukan beberapa kesulitan karena dia masih terbilang di bawah umur untuk bisa bepergian jauh, harus ada orang dewasa yang menemaninya dan (mungkin) menjadi penanggungjawabnya. Tak lama ada orang yang berbaik hati untuk menjadi “orang dewasa” itu meski harus berbohong. Maka tibalah Alex di tempat tujuan. Setelah mengikuti kontes membangun roket dan mencoba untuk menerbangkannya – dan gagal – Alex malah terlibat dalam perjalanan yang absurd untuk mencari ayahnya yang sudah lama tidak tinggal bersamanya – dan yang dipercayainya sudah meninggal namun menurut salah satu mesin pencari di sana dikatakan bahwa ada seseorang yang “cocok” dengan dirinya yang bisa saja bahwa itu adalah ayah kandungnya. Nah dalam perjalanan ini sebenarnya aku merasa agak berlebihan (makanya kusebut absurd), bagaimana mungkin ada dua orang pria yang sudah dewasa mau menemani anak usia 11 tahun yang baru dikenal hanya dalam hitungan beberapa jam saja selama dalam acara perkumpulan pencinta roket dan kemudian rela untuk pergi mencari ayahnya yang kemungkinan besar sudah tidak ada (meninggal), berbekal infomasi yang minim (menduga-duga saja) namun akhirnya tunduk pada kehendak anak itu, tetap menemaninya bahkan sampai mengorbankan kepentingan mereka berdua. Apakah mungkin masih ada orang dengan akal sehat yang mau melakukan hal itu? Dalam usaha pencariannya Alex akhirnya menemukan kakak tirinya, juga Carl Sagan yang sempat menghilang saat di Las Vegas. Kakak tiri yang baru dikenal beberapa saat saja akhirnya mau menolong Alex, terlepas dari segala “fakta keluarga” yang baru diketahui yang membuat sang kakak marah-marah pada ibunya, dan kemudian mengambil keputusan untuk menemani Alex (dan mencari Carl Sagan) meskipun dia akhirnya harus berhenti dari pekerjaan. Lalu kakak laki-laki Alex datang dan mengurus beberapa hal dan sang Ibu akhirnya diobati, dan bahkan Alex akhirnya dapat kesempatan untuk pergi ke NASA karena para petinggi di NASA melihat betapa Alex memiliki kepribadian yang mengagumkan. Lalu sang kakak akhirnya mau mengurus keluarganya. Dalam pemahamanku cerita ini berakhir dengan happy ending meski tentu saja pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Alex tidak (belum) mendapat jawaban.

FullSizeRender

Tidaklah salah jika kamu mengambil kesimpulan dari apa yang kusampaikan tadi bahwa cerita ini terlalu sederhana bahkan sangat “renyah”. Garing. Yak, memang itulah adanya. Aku tidak menemukan sesuatu hal yang cukup “bermutu” untuk membandingkannya dengan cerita yang sebelumnya kubaca dan memang tidak sedikitpun bermaksud membanding-bandingkan, malahan aku mencari buku yang ringan untuk mengalibrasi pikiran (juga jiwa) yang sebelumnya diobrak-abrik oleh cerita rumit (dalam bahasa inggris dengan banyak kosa kata baru buatku – that made the story “double rumit”). Tapi aku percaya, bahwa dari hal yang sangat “remeh” pun pasti ada pelajaran yang bisa didapat.

Dari buku ini kusadari bahwa anak-anak memang selalu memiliki banyak pertanyaan. Mereka tidak akan berhenti bertanya juga menduga dan hal-hal semacam itu justru baik untuk perkembangannya. Hanya saja orang dewasa harus hadir untuk bisa memberikan arahan kepadanya. Anak-anak membutuhkan orang tua (atau orang dewasa lainnya) lebih dari sekedar internet karena banyak pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari sekedar deret tulisan namun melalui gestur, intonasi, sentuhan dan kasih sayang yang – aku yakin – sampai kapanpun tidak akan ada ilmuwan yang berhasil untuk menciptakan sesuatu yang artifisial berkenaan dengan itu, suatu Rasa, meski mereka mampu menciptakan kecerdasan buatan (baca: computer chips). Maka aku yang pada awalnya sempat kaget, koq ya Jack Cheng menceritakan seorang anak laki usia 11 tahun namun terlalu lugu dan terlalu tidak banyak tahu. Bagaimana mungkin? Anak seusia itu – jaman sekarang – rasanya bahkan sudah memikirkan untuk berpacaran dan bahkan jika tidak diarahkan bisa tumbuh jadi begal. Nah kalo Alex ini malah jauh dari segala kejahatan. Alex malah terlalu lugu. Dalam keluguannya dia akan banyak bertanya. Satu hal yang rasanya perlu mendapat perhatian adalah seorang anak bisa menjadi berani dan nekad jika dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya. Naluri? Bisa jadi. Mungkin memang hal itu yang ingin disampaikan oleh Jack Cheng. Keberadaan keluarga menjadi hal yang sangat penting bagi pertumbuhan seorang anak. Menurutku, meski buku ini memang bukan tentang parenting tapi rasanya bisa menjadi pertimbangan untuk menjadi bahan bacaan bagi keluarga yang baru memiliki anak di jaman serba internet dan gawai mutakhir ini, sekaligus bisa menjadi hiburan bagi diri sendiri.

Kira-kira itulah garis besar yang kudapat dari cerita ini. Ada keunikan yang sangat kusuka, yaitu setiap bab dinamakan sebagai “New Recording” dengan satuan durasinya. Uniknya saat aku iseng untuk mencoba menghitung berapa lama durasi yang kubutuhkan dalam membaca satu bab, ya kira-kira waktunya sama dengan “durasi rekaman” tersebut. Contohnya, pada “rekaman pertama” tertulis berdurasi 6 menit 19 detik, ternyata durasi membaca bab satu tersebut ya kira-kira hampir sama. Unik juga kan?

FullSizeRender-2

Terima kasih ya Cherry Wave karena kamu sudah memberikan buku ini untukku. Buku yang sedikit banyak membuatku berkaca karena kutemukan beberapa bagian dari diriku yang ada dalam karakter seorang Alex: aku yang sampai kelas 2 SMP masih berharap bisa memiliki sepasang Smurf untuk menjadi teman mainku dan bahkan menyampaikan harapan itu dalam doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan YME, namun yang kutemukan hanyalah kekecewaan karena tiap kali kubuka mata seusai berdoa, sepasang Smurf tidak pernah muncul… Bukan, aku bukan kecewa sama Tuhan, namun ternyata pada kelas 2 SMP itu wajah berkumisku tidak menjamin bahwa aku sudah punya pikiran yang dewasa, selain jambul rambutku yang semakin tinggi karena aku ingin menjadi Vanilla Ice – sang rapper idola. Terima kasih ya, Cherry Wave atas kado yang sampai pada halaman terakhirnya kutemukan berbagai kesenangan, meski ada satu pertanyaan yang tertinggal, bukan Alex yang bertanya namun aku: yang manakah kamu di antara semua bintang yang ada di atas langit sana?

Salam rindu untukmu, dariku yang berada di dalam semesta sebentuk kursi kayu di bawah pohon jambu yang rindang banget di halaman rumahku…

Your most fave person,

Chino.

FullSizeRender-3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s