mari

mari

terletak di sela-sela notasi

bersemayam dalam larik narasi

adalah keresahan

adalah kerinduan

hangat terpantik

tersengat, kau panik

     
duhai mendung di sore ini

kutenggelam dalam senandung sunyi

rintik hujan penyampai janji

angin semilir pelipur hati

     
di sini, ada semut merah mati

setelah menggigit kaki

dan kutekan sampai mati

saat kusadar ternyata ini panas matahari

      
lagu ini berisik sekali

buku ini sekedar luka hati

    
mari,

tidur denganku lagi

Advertisements

Doa (yang) Terucap Untuk Pahlawan Rock

Tuhan,

Mengapa Engkau mengizinkan Chris Cornell mengambil keputusan untuk menyelesaikan hidupnya dengan cara seperti itu? Mengapa Engkau mengizinkan orang yang banyak jasanya dalam dunia musik rock tahun 90an, yang secara tidak langsung juga telah memberi banyak warna di dalam kenangan masa sekolahku itu, menyebabkan rasa sesak di dada? Aku dan banyak temanku tak sanggup melawan rasa lemas yang timbul saat membaca berita itu, tak sanggup menahan diri untuk langsung sibuk membicarakan segala kontribusinya dalam dunia musik meskipun saat itu aku sedang dikejar deadline report yang harus dipresentasikan ke bule-bule yang cuma tau nyuruh-nyuruh dan menuntut hasil kerja maksimal, yang cuma boros dalam mengucapkan “good job, mate” atau “big thanks” atau “wonderful” tapi pelit saat kami mengajukan kenaikan gaji dan bonus. Aku tidak peduli dan mengambil waktu lebih dari satu jam untuk terus terpaku pada layar komputer, bukan untuk menyelesaikan amanat atasan namun untuk melebur dalam percakapan bersama para sahabat pencinta musik rock lewat aplikasi whatsapp via web sambil tetap memasang wajah berkerut supaya tetap terlihat sedang serius bekerja. Aku bersyukur karena wajah aku memang selalu berkerut saat sedang menatap layar komputer, baik sedang serius atau tidak, dikarenakan silindris mata yang cukup mengganggu… Engkau tahu, Tuhan, betapa aku sedih dan merasa terpukul atas kepergian Chris Cornell.  Continue reading “Doa (yang) Terucap Untuk Pahlawan Rock”

Tentang Buku: Strange Weather in Tokyo (Hiromi Kawakami)

Tentang Buku: Strange Weather in Tokyo (Hiromi Kawakami)

Buat kamu yang pernah mengajakku berdebat tentang cinta,

Jika ingin memahami bagaimana cara berpikirku, kusarankan kamu pergi ke toko yang menjual buku import dan carilah novel “Strange Weather in Tokyo” karangan Hiromi Kawakami. Mengapa, tanyamu? Karena aku mau kamu mengerti apa makna “absurd” dan “random” yang sering kau tempelkan pada keningku saat kita bertukar pikiran tentang cinta. Kamu yang selalu mengatakan bahwa cinta itu mesti masuk akal sementara aku merasa bahwa jika masuk akal maka itu bukanlah cinta. Masuk akal bagimu salah satunya adalah harus bisa diprediksi, namun bagiku cinta bisa muncul begitu saja, tanpa bisa ditahan.

Tsukiko Omachi seorang wanita yang bahkan ga bisa dibilang terlalu muda dengan usia 37 tahun, punya hobi minum sake dan beer di bar yang kemudian dihampiri seorang pria yang berusia hampir 70 tahun (berdasarkan fakta bahwa selisih usia mereka dikatakan lebih dari 30 tahun). Pria tua itu ternyata adalah seorang guru yang pernah mengajar Tsukiko saat sekolah dan kebetulan punya hobi yang sama seperti Tsukiko: minum sake dan beer, juga merupakan pengunjung tetap bar lokal. Continue reading “Tentang Buku: Strange Weather in Tokyo (Hiromi Kawakami)”