Kali ini ijinkan aku menulis sesuatu tanpa tujuan, sekedar nyampah dan mungkin akan terbaca nyinyir. Kali ini aku mau sedikit rese’, atau mungkin biasanya juga rese’ tapi ga sadar aja kalau rese’. Aku mau nulis tentang suatu “gaya” yang sedang “happening” banget di sini: kebiasaan minum kopi. Sebelum melanjutkan tulisan ini, ijinkan aku memohon maaf terlebih dahulu supaya jika ada pembaca yang lama-lama ngerasa kesal ya paling tidak mereka sudah tau sejak awal bahwa aku emang bakal bikin mereka kesal. Maafken yaaaa…

Aku suka minum kopi, meski kopi kerap membuatku teringat suatu kejadian yang pahit: perceraian, dan menjadi maniak kopi demi melawan rasa pahit atas kegagalanku. Semenjak itu kopi menjadi teman setia yang hampir setiap hari menjadi menu wajib yang “haram” hukumnya jika hanya dikonsumsi satu gelas, minimal tiga gelas per hari lah. Dan harus kopi hitam, tanpa gula. Makin pekat makin nikmat. aku suka hampir semua jenis kopi, dengan kata lain tidak ada suatu jenis/merk yang menjadi keharusan, apapun itu asal pahit aku pasti suka. Tolong garis bawahi kata “apapun itu asal pahit aku pasti suka” itu hanya berlaku untuk kopi, karena aku tetap suka sama yang manis-manis, apalagi wanita, itu suatu keharusan. Paras cantik itu relatif dan kerap kali artifisial, karena bisa dicapai dengan cara pake kosmetik yang kalo ketebalan bisa jadi topeng, makanya cantik itu bisa bosan ngeliatnya. Namun wanita berparas manis itu long lasting, tak akan jemu memandangnya, malah akan menimbulkan perasaan kangen, ketagihan dan jika tidak terpenuhi bisa bikin keringet dingin menetes berbarengan dengan iler dan ingus yang meleleh – jika rasa kangen pada wanita itu timbul pada saat kamu sedang flu berat. Namun mari kita kembali pada topik yang ingin kubahas, bukan tentang paras wanita, melainkan tentang ngopi. Maafkan aku yang akhir-akhir ini makin sulit untuk menjaga fokus….

Terlepas dari segala yang dipercayai oleh kebanyakan orang, kopi adalah suatu zat yang mampu membuatku merasa ditemani saat sedang sendiri, disemangati saat sedang merasa down, dihibur saat sedang merasa sedih, diajak lompat-lompat saat sedang merasa bahagia, dihangati saat sedang merasa kedinginan, didingini saat sedang merasa kepanasan. Di atas segalanya, kopi membuat aku merasa mencintai dan dicintai. Entah bagaimana aku bisa mendapat kesimpulan itu, namun memang itulah yang kurasakan, alami, tidak dibuat-buat. Saat sedang mumet oleh banyak hal, aku segera bikin kopi dan kemudian duduk diam sambil mengendus aroma yang keluar, tak lama tekanan yang mencubit-cubit kepala pasti mengendur…. Saat sedang ngerasa “romantis”, aku pasti segera mengaduk kopi dan menyeruputnya perlahan sambil tersenyum dan kemudian muncul keinginan untuk menulis… Saat sedang merasa galau (dan mungkin menurut kalian ini yang paling sering terjadi), aku segera jalan ke kedai terdekat, memesannya dan kemudian menikmatinya sambil duduk memandang ke luar. Duduk sambil memandangi hal yang ada di luar sana merupakan kenikmatan yang hakiki. Ketika sedang sedih, cukup untuk pergi ke suatu tempat di pinggir jalan di sekitar kantorku, duduk di sana sambil menanti hadirnya tukang kopi yang berkeliling menggunakan sepedanya – starling alias setarbak keliling – demikian kumenyebutnya. Memesan kopi panas seharga Rp. 3.000 segelas yang disajikan di dalam gelas plastik nan tipis (aku tak yakin itu food grade, but what the heck, when you’re sad you won’t give a damn about such thing) dan bisa kuminum bergelas-gelas, karena sekuat-kuatnya kuminum kopi starling harganya tidak akan pernah semahal kopi termurah di kedai made in america.

Seperti yang aku bilang, tidak ada satu jenis/merk kopi yang spesifik menjadi kesukaan, namun mengenai tempat ngopi tentunya aku punya tempat favorit. Berdasarkan kenyataan bahwa aku menganggap ngopi itu adalah aktifitas yang “sakral” maka pemilihan tempat ngopi yang nyaman adalah hal yang paling utama. Tidak harus di tempat yang mewah, aku bisa ngopi di mana saja, yang penting suasananya menyenangkan. Ditambah dengan kenyataan bahwa aku ini – menurut analisis seorang psikolog – adalah introvert sejati yang telah beradaptasi dengan sangat baik sehingga mampu bersosialisasi, dan bahwa sesuatu yang sakral itu harus dihargai dengan sepenuh hati, maka kenyamanan adalah mutlak. Kenyamanan suatu tempat untuk ngopi itu tidak semata-mata bergantung pada keunikan interior namun lebih pada suasana yang kemudian berhasil dibangun. Ada suatu tempat ngopi di bilangan Blok M yang namanya sudah sangat “kopi sejati” sehingga dengan sekedar membaca atau mendengarnya saja para penikmat kopi pasti kepingin ke sana. Demikian yang juga terjadi padaku. Kedai kopi itu segera menjadi idola remaja dan berdasarkan penilaian bebas yang dilakukan banyak food blogger, tempat itu direkomendasikan banget untuk ngopi. Maka segera kucari celah waktu yang masih tersisa di antara blok-blok jadwal yang (saat itu) sudah memenuhi kolom-kolom agendaku (biar dibilang sibuk) untuk menghampirinya. Begitu sulit usaha yang kulakukan sampai mesti berbohong pada seorang wanita (yang saat itu sedang aku modus-in) yang memaksa untuk ikut namun tidak kuijinkan demi menjaga kekhidmatan sakralnya ngopi, hingga akhirnya kudapati satu celah waktu di sabtu malam. Ngebut dengan motor tercinta demi bisa mempercepat waktu tiba, akhirnya kusampai di tempat itu dengan perasaan yang membuncah. Penasaran ini akhirnya akan terbayar…

Namun ketika ku melangkah masuk, bibit kecewa jatuh di hamparan ladang hatiku yang kosong, saat kulihat seorang barista yang dengan gaya “sok asik” langsung mengatakan “yak, mau pesan apa?”… Barista itu adalah seorang pria yang kuperhitungkan 12-15 tahun lebih muda selisih usianya denganku. Dengan mata yang – menurutku – disendu-sendukan biar terlihat teduh dipadupadan dengan kumis yang sekarang emang lagi nge-trend di kalangan anak muda, seperti tanpa semangat dia melaksanakan tugasnya. Wahai barista muda, tidak adakah sapaan yang lebih cocok untuk kau ucapkan saat menyambut calon pembeli komoditas yang kau jual? Hanya itu kalimat yang bisa kudengar dengan jelas karena selanjutnya dia berbicara dengan tidak jelas, atau mungkin aku saja yang budeg karena memang sedang dimainkan lagu bergenre pop-punk sebagai musik latar, cukup berisik sehingga aku musti mendekatkan telingaku ke arah mulutnya agar bisa mengerti apa yang dikatakannya… Ah, mood mendadak hilang. Langsung saja kuingat untuk memesan menu rekomendasi dari para food-blogger, yaitu es krim yang disiram dengan espresso. Bibit kecewaku telah bertumbuh menjadi tunas yang mulai mengeluarkan daunnya saat kududuk menunggu pesananku siap untuk dikonsumsi: alunan pop-punk ternyata dinaikkan volumenya, sehingga menambah berisik suasana di dalam kedai. Lalu tunas kecewaku berkembang menjadi pohon, saat lebih dari lima menit menunggu namun tiada yang memanggil namaku untuk mengambil pesanan di bar penyajian. Penantian nan berisik itu terasa makin membosankan karena tidak sanggup kuisi waktu dengan membaca buku kesukaan yang memang sengaja kubawa. Bahkan saat kupasang lagu kesukaanku dan mencoba mendengarnya via earphone, segera kumatikan lagi karena bebunyian pop-punk di luar sana ternyata mengacaukan ketukan alunan syahdu jazz dangdut yang telah kusiapkan untuk menemani sakralnya ngopi-ku. Kecewaku sudah menjadi pohon beringin. Saat lebih dari sepuluh menit didiamkan saja, tiada yang menyebut/memanggil namaku, akhirnya kudatangi bar itu dan bertanya pada barista berkumis tipis bermata sendu sok teduh itu perihal pesananku. Tiba-tiba dia menyodorkan es krim dalam gelas dan segelas kecil espresso, itulah pesananku, yang ternyata sudah ada dari sekitar 5 menit yang lalu di meja bar. Aku protes kenapa aku tidak dikasih tahu bahwa pesananku sudah selesai hingga akhirnya kelamaan mengambilnya dan es krim mulai mencair. Aku percaya banget bahwa dia tidak memanggilku karena mataku selalu ke arah bar penyajian. Dan aku memang melihat pesananku disajikan, tapi ya aku ga mau berasumsi bahwa itu pesananku, karena bisa saja orang lain memesan hal yang sama, bener kan? Beringin kecewaku sudah mengakar kuat saat dengan terburu-buru kuhabiskan pesananku untuk kemudian segera pergi dan mencari tempat nongkrong lain di kisaran Blok M, yang akhirnya kuputuskan untuk makan sate padang saja di pinggir jalan.

Sesungguhnya, kedai yang kuceritakan di atas itu memiliki interior yang sangat bagus. Aku suka dengan pilihan tegel, aksen bata dan ornamen yang diaplikasikan pada dinding. Pilihan kursinya pun bagus, penampakan bar tempat para barista dan staff lainnya bekerja pun bagus. Aku juga suka dengan pencahayaannya, tidak terlalu terang namun juga tidak temaram macam klab disko dangdut di lantai atas Pasar Rumput. Secara keseluruhan konsepnya bagus dan sesuai banget untuk namanya, namun mereka salah dalam mengeksekusi kenyamanannya. Mungkin memang target mereka adalah anak muda (dalam hal ini kusebut sebagai abege yang lagi mencari jati diri) sehingga mereka harus membangun suasana seperti itu, well, mungkin memang nyaman buat mereka yang berjiwa muda, namun buat kami yang melihat dan menganggap ngopi adalah suatu saat yang khidmat nan sakral maka kedai itu tidak menjadi tempat yang tepat. Seringkali ide-ideku untuk membuat suatu karya muncul di kedai, namun pastinya tidak akan bisa muncul di tempat macam itu… Sedih sekali…

Tempat favorit sejauh ini adalah satu kedai setarbak yang jaraknya hanya sepelemparan kolor dari gedung kantorku. Menjadi favorit karena tepatnya memang nyaman. Interior “standar” dalam arti “tidak kekinian”, namun karena berlokasi dalam business district jadi otomatis suasana yang terasa lebih formal, ditambah lagi banyak ekspat yang mampir jadi memang bukan tempat yang asik buat para abege untuk caper. Hal ini juga yang rasanya menjadi alasan utama mereka tidak menempatkan barista dengan gaya seperti yang kuceritakan tadi itu. Setarbak di sini juga selalu pasang lagu yang sesuai dengan niat mereka untuk mempertahankan suasana yang nyaman, tidak berisik – masih bisa ngobrol dengan wajar tanpa harus berteriak dan memajukan telinga ke dekat mulut lawan bicara, namun cukup jelas terdengar untuk diikuti ketukannya dan sesekali ikut menyenandungkan melodinya , dan bisa merenung dengan takzim jika sedang mencari ide atau sekedar duduk untuk membaca. Namun bukan berarti setarbak favorit ku itu menjadi tempat yang sempurna, pernah juga koq ada baristanya yang “sok asik”, yang kalo bicara harus lebay, waktu itu sih sampai keluar dari bar demi menghampiri seorang pelanggan tetap yang nampaknya sudah cukup lama tidak hadir, jadi kaya adegan ingin melepas rindu gitu… Well, akrab sih boleh, namun karena gaya sang barista itu agak lebay sampai akhirnya entah bagaimana dia menyenggol lengan si pelanggan tetap yang menyebabkan jatuhnya gelas berisi minuman yang sedang dipegang si pelanggan. Semua mata langsung memandang dan barista meminta maaf berkali-kali dan bermaksud mengganti minuman itu, namun si pelanggan tidak mau bahkan akhirnya langsung jalan saja… Males banget kan? Hehehehehehe…

Sangking seringnya mengunjungi setarbak dekat kantorku ini, tak pelak aku dinobatkan sebagai seorang pria yang sangat cinta sama setarbak, ditambah lagi karena aku punya beberapa tumbler dan pernak-pernik lainnya, sehingga sering saat sedang bicara tentang ngopi banyak yang bilang “yang di sini lebih enak dari setarbak lhow” atau “setarbak mah bukan kopi beneran, kalo mau ngopi ya mustinya di xxx aja…”. Mereka itu salah… Yang kusuka dari setarbak tidak lebih dari suasananya dan untuk minuman lain yang mengandung kopi pun memang rasanya setarbak masih bisa diandalkan, tapi memang untuk kopi hitam ya tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan kopi tubruk di warteg. Maka aku suka kesal sama mereka yang bilang bahwa belum ngopi jika hanya minum kopi kemasan (sachet), bagiku itu sok tahu. Minum kopi sachet itu juga tetep ngopi koq, masa iya dibilang nyusu, ga masuk akal kan?

Namun, tidak ada tempat yang lebih nyaman daripada sebuah kursi kayu yang terletak di teras, cukup untuk berdua namun biasanya hanya diduduki oleh satu orang saja karena di sampingnya akan terdapat beberapa buku dan laptop, juga segelas besar kopi hitam yang bisa berulang kali diisi jika sudah habis. Ya, itu lah kursi kayu di teras rumahku, tempat paling nyaman sedunia untuk menikmati empat sendok teh penuh kopi bubuk yang diaduk dengan air mendidih tanpa diberikan gula, mengeluarkan aroma pekat yang bercampur dengan aroma khas tanaman keakungan orang tuaku. Tempat nan murah meriah, tempat ide dan inspirasi bermunculan, sambil menikmati alunan lagu kesukaan. Namun, kadang aroma pekat kopi hitam itu kalah oleh bau pesing akibat kucing yang sembarangan kencing… Macam mana…

Demikian tulisan ga pentingku ini… Aku lanjut ngopi dulu ya…

*meneguk kopi gelas kelima*

Advertisements

9 thoughts on “Mengenai Minum Kopi

  1. Wah ngopinya bisa 3 kali sehari. Kopi hitam pula. Saya cuma berani dua gelas saja. Satu kopi hitam biar tidak ngantuk setelah bangun tidur, dan satu kopi sachet di malam hari ketika membaca dan menulis. Klo minum kopi hitam di malam hari bisa susah tidur. Tapi sebenarnya saya juga pingin sekali nyoba starbuck karena sering dibicarakan orang. Sayangnya di desa saya masih nggak ada wkwkwk……..

    1. kopi buat saya mah ga ada pengaruh yg bisa bikin ga tidur… mau minum sebanyak apapun kalo udah waktunya tidur ya tetep aja tidur… saya pernah nongkrong dari jam 6 sore sampai 10 malam dan minum 7 gelas kopi hitam. jam 12 tetep tidur dengan sukses ahahahhah…
      ngomong2 tentang desa, saya malah pengen ngerasain suasana ngopi di warung kopi desa, kira2 semacam yang suka ditulis sama andrea hirata dalam buku2nya, itu adalah suasana yg paling nyaman deh rasanya… hehehehe

    1. haahahahaha.. kalo gitu ngopinya jangan ketahuan sama emak doooong! dan jangan sampe jadi sakit perut pas selesai ngopi, karena akan tetap ketahuan emak! hahahahaha

      yup, seperti yg kutulis, mau hasil seduhan bubuk dalam sachet pun itu tetap ngopi… selama masih kopi yang mendominasi isi gelas maka adalah syah disebut ngopi. kecuali kalo kopi hanya sebagai tambahan rasa yaaa… hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s