Dear Cherry Wave,

Kesabaran selalu membuahkan hasil: La La Land yang tak sempat kita tonton di bioskop akhirnya mencapai taraf HD 1020p di situs download yang sering kukunjungi. Ya, hampir tiap hari ku-refresh laman itu sebab sejak sebulan yang lalu telah memunculkan judulnya namun masih dalam kualitas yang sangat rendah. Tak sudi menikmati sesuatu dengan sekedarnya saja, maka kuurungkan niat segera mengunduhnya dan memilih untuk menanti kualitas terbaiknya yang akhirnya muncul kira-kira seminggu yang lalu. Segera kuunduh dengan penuh semangat, sambil berharap cemas apakah penantian ini akan sebanding dengan kualitas ceritanya. Syukurlah aku bekerja di perusahaan yang menyediakan wifi gratisan dengan kuota berlimpah sehingga tak perlu kuatir merasa rugi jika ternyata aku tak suka film yang kuunduh – tinggal hapus dan beres sudah. Sayangnya aku sakit selama 2 hari jadi tidak bisa segera kutonton dan di hari ketiga saat kesehatan sudah membaik barulah kudedikasikan waktu sekitar jam 12 malam sampai dengan jam 2 dini hari untuk menikmatinya.

Dear Cherry Wave,

Cerita dalam La La Land ini sebenarnya sangat simpel – malah menurutku terlalu simpel, seperti kebanyakan cerita yang sudah pernah ada. Lalu menurutmu akan kubilang jelek kah film ini? Sama sekali tidak, hanya saja ada beberapa hal yang rasanya bisa kita jadikan sebagai bahan diskusi sok-sokan sekedar mengisi waktu di malam minggu. Haha! Eh, kamu belum nonton kan ya? Mmmmmm…. ga apa-apa deh, aku bukain dikit aja supaya kamu bisa punya gambaran sekaligus menilai sendiri apakah cara pandang aku bener atau salah – menurutmu. Tokh kamu juga bakal nanya melulu ke aku mengenai apa yang akan terjadi saat film sedang berlangsung karena kamu tau aku udah nonton duluan. Betul kan?

Oke jadi inilah yang aku lihat dari film La La Land.

Pertama, aku jatuh cinta pada warna-warna yang bertebaran di sepanjang film ini, mengingatkanku pada Technicolor. Kuning terlihat sangat cerah, merah terlihat sangat tajam, hijau terlihat sangat teduh, biru terlihat sangat romantis, dan masih banyak warna lainnya yang secara keseluruhan mampu membuat film ini terlihat seperti diproduksi tahun 1980an namun lebih modern. Beberapa kali terdapat ending yang sangat unik, seperti di film kartun jaman dulu, itu lhoooow yang tiba-tiba ada lingkaran hitam yang makin lama mengecil dan akhirnya menutup tampilan. Ngerti kan apa yang aku maksud?

Kedua, aku sangat suka dengan koreografinya. Ya, beberapa kali ada adegan dansa yang terlihat sangat seru! Bahkan pembukaan film ini pun sudah menggunakan dansa berjamaah, di jalan tol, di antara mobil-mobil yang terjebak kemacetan, dengan puluhan (atau jangan-jangan ratusan) penari. Hebat sekali! Belum lagi adegan dansa yang dilakoni oleh dua pemeran utamanya, Ryan dan Emma. Beneran seru banget ngeliatnya. Jika kamu memang penyuka dansa pasti akan suka, karena mereka berhasil melakukan dansa yang sangat apik, dengan gerakan yang sangat luwes. Aku sangat kagum saat dansa mereka itu digabung dengan tap-dance, itu lhoooow yang sepatunya diketuk-ketukkan ke lantai sehingga menghasilkan beat yang unik. Sungguh menyenangkan melihatnya.

Ketiga, film ini bercerita tentang si cowo yang adalah seorang pianis jazz-maniac, otomatis akan ada banyak adegan di mana dia mempertontonkan keahliannya dalam memencet tuts piano. Aku sih memberikan nilai 9.5 dari maksimum 10 atas keberhasilan si Ryan dalam mempertontonkan keahliannya memainkan piano yang bahkan bukan dia pemain sebenarnya. Aku ga tau apakah Ryan memang bisa main piano atau tidak. Seandainya bisa pun aku tetap memberikan nilai tinggi karena tingkat kesulitannya – paling tidak dia harus bisa mengingat kapan pause, kapan sustain, kapan breathe, ah, luar biasa deh. Tapi memang itu yang aku lihat dari banyak film asing, mereka tidak menganggap bahwa tampilan saat bermain musik itu hanya sekedar tempelan sehingga mereka pasti menyiapkan bagian itu dengan sangat detail. Akan sangat jarang kamu menemukan ketidaksinkronan antara musisi – sebagai contoh – pemain drum yang dalam lagu harus memukul cymbal namun dalam tampilan dia asik aja mainin hi-hat. Kamu pasti ngerti kan maksudku? Aku begitu kagum dengan kepiawaian Ryan dalam menerjemahkan musik ke dalam visual, sehingga aku benar-benar menganggap bahwa dialah pianis sebenarnya. Sinkronisasi musik dengan visualnya nyaris sempurna. Nampaknya aku akan nonton lagi untuk mencoba mencari kesalahannya ah… soalnya dua kali aku tonton koq aku ga melihat ada yang aneh, hehehehehee…Aku rasa Ryan musti dapat Oscar dalam kepiawaiannya meniru kelihaian jemari seorang jazz-master! Yeah!

Dan sekarang giliran hal yang terasa kurang pas yang akan kusampaikan untukmu. Pertama, film ini mungkin memang tidak secara spesifik atau secara khusus mengusung musik jazz sebagai garis besar / benang merah ceritanya, namun Ryan – sebagai Sebastian yang adalah salah satu tokoh utama telah dinyatakan sebagai penggila jazz nomor wahid sekaligus musisi yang amat berbakat yang bercita-cita ingin melestarikan jazz yang dirasanya mulai “punah” karena tidak banyak lagi orang yang mau menikmati musik jazz karena lebih memilih untuk menikmati musik lainnya – tidak dipungkiri membuat film ini jadi ada kaitannya dengan jazz. Memang, di beberapa bagian terdapat musik-musik “jazz beneran” – misalnya dalam adegan di kafe “Lighthouse”, bukan “light jazz” macam Acid atau Funk tapi lebih ke “pure jazz” atau dalam bahasa yang digunakan seorang manajer restoran “wild jazz”, yang improvisasi-nya bisa timbul di mana saja bahkan – mengutip kata-kata Seb – masing-masing musisi melakukan apa yang mereka kehendaki sendiri. Tapi bukan berarti aku mengharapkan film ini menjadi film tentang jazz ya, namun semua itu semata-mata karena kesan yang dibangun oleh karakter Seb hingga akhirnya aku (cukup) kecewa karena justru soundtrack unggulannya malah tidak jazz sama sekali. Itu lhow, lagu City of Stars, yang dibuka dengan denting piano nan “catchy” sehingga saat ini teman-teman di gereja ku pun setiap kali melihat piano pasti langsung mencoba untuk mengeja notasi-notasinya – tak terkecuali diriku, hahahahaha…. Ya, lagu itu menurutku sama sekali bukan jazz, walau bukan berarti jazz tidak boleh punya notasi yang “ear catchy” ya, namun ini lebih ke bagaimana pembawaannya. Menurutku, lagu City of Stars dimainkan dengan cara “modern classic”, kuterjemahkan semua itu melalui cara pianisnya menekan tuts piano dan menentukan dinamikanya dan lebih dalam lagi – caranya memainkan emosi lagu tersebut. Ah, sulit ya kalimatku ini? Tapi aku yakin kamu mengerti apa yang kumaksud karena kamu kan pengajar piano klasik. Emosi yang kudapat di dalam lagu City of Stars dan dalam beberapa bagian yang dibawakan oleh si Mia dan Seb dibawakan secara kabaret, dengan piano yang lebih klasik. Bukan jazz. Tapi untunglah, dalam suatu bagian film lagu City of Stars itu dibawakan secara jazz meski hanya instrumental saja.

Kedua, aku merasa kurang puas dengan cara membangun ceritanya. Terlalu mudah dari seorang Mia yang awalnya kesal pada seorang pria yang sekelebat saja lewat (perhatikan kata sekelebat itu), lalu setelah beberapa jam kemudian, secara kebetulan, saat Mia sedang berjalan kaki pulang – karena mobilnya diderek oleh petugas sebagai akibat melanggar durasi waktu parkir – lewat depan sebuah cafe, dia mendengar ada suara piano yang sedang memainkan “jazz liar”. Sekonyong-konyong dia tertarik, lalu masuk dan melihat seorang pria – yang ternyata dilihatnya sekelebat saja sambil mengacungkan jari tengah – yang memainkan jazz liar tersebut. Lalu ketika Mia ingin berkenalan pun dicuekin oleh pria tersebut. Selisih beberapa jam kemudian, pria itu dilihatnya lagi sedang main musik bersama band beraliran pop 80’an dalam suatu pesta. Tak diduga, pria itu mengenali Mia, yang dilihatnya hanya sekelebat saja, dan kemudian terlibatlah suatu pembicaraan remeh-temeh… Dan kemudian berlanjut pada pembicaraan lainnya, dan akhirnya mereka menyanyi berdua, lalu membicarakan “tak mungkin aku suka padamu”…. semudah itu. Pria itulah si Sebastian, yang kemudian menjadi pilihan Mia setelah dia meninggalkan seorang pria – yang notabene adalah pacar resminya di dalam sebuah acara makan malam – sesaat setelah dia mendengar ada alunan musik yang keluar dari speaker di dalam restoran yang memainkan lagu bernuansa jazz, yang mengingatkannya pada Sebastian…Dengan demikian putuslah Mia dan jadilah dia berpacaran dengan Sebastian. Adakah kau temukan konflik dalam penuturanku tentang mereka berdua? Aku rasa tidak… tapi itulah yang terjadi. Untunglah itu hanya film ya, karena dalam kehidupan nyata pasti ada adegan siram minuman ke wajah atau perkelahian antara dua pria memperebutkan seorang wanita demi cinta. Atau mungkin juga tidak seperti itu ya, karena hal itu cemen… hahahahaha…. Ya, sesederhana itulah “konflik”nya…. Tapi mungkin si penulis cerita memang ingin mengedepankan bahwa cinta itu bisa timbul kapan saja, di mana saja dan bagaimana saja caranya. Ga perlu yang ribet, sekelebat waktu berhiaskan jari tengah yang teracung pun bisa menjadi bibit jatuh cinta. Dan kemudian mereka pun akhirnya tinggal serumah! Yeay!

Ketiga, Mia menyatakan bahwa dia tidak suka dengan musik jazz, namun hanya dengan diajak oleh Seb dan diberi penjelasan mengenai sejarah jazz, Mia pun langsung suka… Semudah itulah seseorang menyukai musik yang – sesungguhnya – bukan musik yang “ringan”? Bagiku, jazz adalah rasa, soul, mood dan segala sesuatu yang berhubungan dengan karakter, tidak mudah untuk menyukainya – kecuali hanya dijadikan sebagai musik pengiring saat sedang nongkrong menikmati wifi gratisan di cafe. Ah, mungkin aku saja yang terlalu ribet ya karena menyukai musik kan adalah hak asasi semua insan di dunia ya. Siapa lah aku yang berhak memberi batasan seperti itu hehehehe…

Keempat, okay, aku akhirnya menemukan konflik yang sedikit berat daripada sekedar meninggalkan satu pria untuk pria lainnya, yaitu: saat Seb dan Mia harus memilih antara memprioritaskan hubungan atau mengejar mimpi yang sebentar lagi jadi kenyataan. Konflik itu akhirnya membuat mereka beradu argumen namun tak diduga ternyata jawaban seorang Seb begitu “menyakitkan”, kalimat yang menurut pendapatku hanya bisa terucap saat telah ada akumulasi argumen dan rasa ketidakpuasan yang tak terucapkan selama berwaktu-waktu, bukan sekedar dalam hitungan detik berpikir… Namun itulah yang terjadi. Dalam argumen di meja makan saat sedang menyantap makan malam kejutan, tercium bau gosong dari makanan yang kelamaan di panggang, maka Seb – yang memasak – segera ke dapur dan waktu yang ada itu dimanfaatkan Mia untuk pergi meninggalkan Seb yang (mustinya) kesal dan sedih. Aku rasa kemudian argumentasi di meja makan itu akhirnya memberikan sedikit pencerahan kepada Seb sampai akhirnya kemudian dia merasa yakin bahwa dia tidak nyaman di dalam caranya mengejar mimpi, yang akhirnya dia meninggalkan mimpinya dan kemudian berusaha untuk kembali pada Mia, namun terlambat… Mia keburu kesal dan kecewa… Maka mereka berpisah. Putus. Tidak serumah lagi. Kisah cinta usai. Itulah konfliknya.

Cerita pun kemudian ditutup dengan selisih beberapa tahun kemudian…. Namun sungguh, untuk bagian penutup ini kuakui bahwa aku SUKA dengan cara cerita film ini diakhiri. Sederhana. Mungkin akan terlihat picisan buat mereka yang suka dengan film “berat” dan berpikiran “njelimet”, tapi buat aku yang awam, bagian penutup ini justru sangat sejalan dengan cerita keseluruhan yang memang tidak berat. Dan ada satu adegan di mana Seb kemudian mengangat wajahnya untuk memandang Mia dan memberikannya senyum untuk terakhir kalinya, kuakui, itu adalah bagian yang terasa sangat bagus. Sekelebat pertemuan diakhiri dengan sekelebat senyuman. Kisah pun usai. Pada akhirnya, film ini memang sesuai dengan istilah yang sering kita dengar: La la laaaaaaaaa….. Ya, Seb dan Mia memang hidup di dalam dunia yang la la laaaaaaaa…. dengan kisah yang la la laaaaaaa…. dengan akhir yang la la laaaaaaa…

Secara keseluruhan, menurutku film ini memang tidak istimewa namun bukan berarti film ini sangat jelek sampai aku menyarankan supaya kamu tidak nonton, sama sekali tidak. Film ini cukup menarik, bahkan sangat menarik jika kamu mau menontonnya sebagai film hiburan saja, ga usah berharap banyak akan cerita yang berkualitas. Seperti yang kubilang di awal tadi, ada banyak hal yang bisa membuatmu tertarik: pilihan warna a la Techincolor, koreografi dan keluwesan Ryan dan Emma dalam berdansa, dan kelihaian Ryan dalam menirukan permainan piano nan modenr-classic juga jazz murni itu. Dan aku sendiri tidak keberatan untuk menontonnya lagi – jika kamu mengajakku, tokh ga nonton di bioskop kan? selama gratis mah aku siap nonton ulang film ini beberapa kali juga hehehehehehee…. Tapi jujur ya, aku tidak merasa bahwa film ini “layak” untuk Oscar untuk kategori cerita. Eh, tapi apakah sudah ada penghargaan untuk film ini? Aku ga ngikutin berita tentang Oscar sih… Kalau ternyata film ini banyak mendapat Oscar yaaaaa maaf, ini kan menurut pendapatku sendiri ya yang memang suka sok tau, hehehehe…

Kasih kabar ya kapan kamu kembali dan mau nonton agar bisa kusiapkan banyak camilan.

With Love,

Chino

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Film: La La Land

    1. hahahaha sengaja banget bikin spoiler Bro, soalnya film nya udh cukup lama dan udah ga ada di bioskop lagi hehehehehe… abisnya bingung kalo ga ngebahas kaya gitu jadi ga tuntas aja rasanya hahahahaha….
      tapi tetep deh layak utk ditonton walopun udah ada spoilernya hahahahaa

      1. hehehehehehee… ini mah cuma iseng2 Bro, bukan review ah, sereeeem… saya mah ga punya kapasitas buat review.. cuma sekedar share apa yg saya liat hehehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s