Jadi gini…

Sekitar dua minggu yang lalu kulihat satu twit (aku masih ga nyaman menggunakan “cuit” sebagai serapan dari “tweet”) akun @America yang menginformasikan bahwa Mondo Gascaro – musisi indie – akan mengadakan konser (kecil) di sana pada tanggal 11 Maret 2017. Berhubung banyak karya Mondo yang aku suka – sejak masih menjadi personil band indie bernama Sore sampai saat dia memutuskan untuk bersolo karir, maka kuputuskan untuk hadir dalam perhelatan itu. Ditambah lagi acara di @America selalu gratis!

Aku sendiri bisa dibilang cukup sering nonton pertunjukan musik di sana dan memang enak sih. Enak itu bukan semata karena gratis, meski tidak bisa kupungkiri itu adalah daya tarik utama, juga karena ruangan yang tidak terlalu besar jadi terasa santai dan didukung oleh tata suara yang sangat baik! Jadi nonton pertunjukan musik di @America pasti memberikan kepuasan tersendiri selama musisinya memang bagus. Pernah sekali aku mengalami “zonk” pada saat pertunjukan musik dengan genre hip-hop. Benar hip-hop sih namun artisnya adalah sang rapper dengan gaya maksimal namun skill minimal (baca: sampah) sehingga ga sampai setengah dari durasi acara aku sudah meninggalkan ruangan untuk kemudian makan junk-food.

Karena Mondo Gascaro merupakan musisi indie kenamaan yang karya-karya banyak digemari, maka aku yakin konser mini di @America pasti didatangi oleh banyak penonton. Jadi telah kurencanakan agar tiba lebih cepat supaya bisa memilih spot duduk yang paling enak. Terlebih aku sendiri punya spot favorit di sana, ingin kupastikan bahwa aku duduk di tempat yang sama. Maka jam 15:50 aku berangkat dari bekasi dan jam 17:00 baru tiba. Cukup melelahkan perjalanan itu karena ruas MT Haryono – Pancoran maceeeeet banget hingga aku harus menggunakan rute berputar. Setibanya di pacific place aku merasa haus. Butuh minuman yang segar. Maka perjalanan sabtu malam seru nan hemat kumulai.

Setelah melewati security check aku segera menuju toilet untuk sekedar membasuh wajah yang udah keburu dekil gara-gara asap knalpot dan debu pembangunan highway sepanjang kalimalang. Setelah kurasa wajah terlihat agak cerah (meski tetap ga kece), kulangkahkan kaki ke Starbucks di lantai 4 (kalau tidak salah). Masih ada promo buy 1 get 1 dengan ukuran apa saja untuk pembelian minuman dengan menggunakan kartu Starbucks. Sebelum berangkat telah kucek terlebih dahulu saldonya dan masih tersisa  sekitar Rp.85rb. Ini cara kuberhemat: kupesan minuman berjudul Iced Valencia Orange Cocoa dengan ukuran tall saja (yang paling kecil – paling murah) seharga Rp.49rb dan sebagai gratisannya kudapat frappucino Asian Dolce dengan ukuran yang sama dan kuminta disajikannya nanti saja. Ya, promo buy 1 get 1 itu sangat penting jika ingin nongkrong sendirian dengan durasi yang lama namun kocek terbatas. Aku berencana nongkrong sampai dengan jam 18:30 dan dua gelas minuman yang diatur penyajiannya aku rasa cukup pas, aku yang ngerasa haus ga perlu kuatir akan cepat kehabisan minuman jika aku minum minuman yang pertama itu dengan cepat tokh masih ada gelas kedua yang belum kuambil hehehehe…

Yang aku suka dengan Starbucks di sini ada satu spot yang sangat di ujung, seperti dalam lorong dan mentok. Hanya pas untuk berdua saja. Nah itu tempatnya asiiik banget, dijamin cocok banget jika kamu ga kepingin diliatin orang-orang lain. Aku bilang begitu karena banyak juga yang memanfaatkan nongkrong di cafe sebagai ajang ngeceng yang artinya dia akan ngeliatin dan ingin diliatin orang lain. Nah, kalo spot yang satu ini agak sulit untuk memenuhi keinginan itu. Cocok banget buat aku yang kalo ke cafe emang buat duduk dan menikmati waktu sendiri yang seringnya untuk nulis atau baca buku. Kemarin itu aku puuuuaaaaassss banget baca buku tanpa mengalami gangguan dari pengunjung lain yang kadang suka berisik karena ketawa kencang-kencang atau ngeliatin mereka bolak balik mondar mandir… Nih kalo kalian mau liat spot yang aku maksud:

FullSizeRender

Kalian liat ada buku berwarna biru? Judulnya Jakarta Sebelum Pagi karya penulis yang namanya sangat unik Ziggy Z. Buku yang 60 halaman pertamanya kuhabiskan di sudut ini. Menyenangkan sekali membaca buku di pojokan nan syahdu dan adem ini diiringi lagu indah yang mengalun via in-earphone.. Begitu nyamannya duduk di sini sampai hampir kulupa bahwa tujuan utamaku adalah nonton mini konser (gratis) Mondo Gascaro. Maka jam 18:25an aku beranjak ke @America.

FullSizeRender-3

Pukul 18:30 aku masuk dalam ruangan dan segera duduk di spot fave yang tidak perlu bergeser kiri dan kanan. Tepat sekali keputusanku untuk segera masuk dalam ruangan karena selang 10 menit kemudian ruangan segera menjadi ramai dan ketika pukul 18:55 orang sudah kesulitan untuk mendapat posisi duduk yang nyaman. Hebat juga ya sihir seorang Mondo Gascaro. Acara dimulai lewat sedikit dari yanng seharusnya, diawali dengan bincang-bincang sekitar 10 menit, berbagi 3 CD Rajakelana yang ditandatangani oleh Mondo dan tak lama kemudian pertunjukan dimulai. Mondo membawa band-nya full team, 1 gitaris, 1 keyboardist, 1 drummer, 1 bassist, 3 pemain brass, 3 pemain biola, 1 pemain cello dan 2 orang backing vocals. Mondo sendiri sebagai lead vocal turut bermain keyboard. Lagu-lagu yang dimainkan begitu membuai. Irama tropicana, indonesiana atau apalah itu namanya, sungguh cocok untuk didengarkan bagi mereka yang sudah bosan dengan kebisingan ibukota, ribetnya kerjaan, berisiknya pasangan, dan suramnya percintaan. Hanya satu yang kusayangkan dari penampilan Mondo beserta band di malam itu, kurang obrolan. Padahal dengan venue yang cukup intim aku rasa bisa lebih nyaman bagi Mondo untuk membangun komunikasi dengan penonton. Niscaya akan membuat penampilanya lebih berkesan. Sama satu lagi deh, aku tadinya berharap dia akan memainkan beberapa lagunya saat masih bersama dengan Sore, lagu-lagu yang aku rasa cukup legendaris macam Karolina, No Fruits For Today atau Pergi Tanpa Pesan, namun memang tidak dibawa. Semua hanya lagu yang terdapa dalam album Rajakelana. Sore adalah masa lalu, mari lupakan. Hehehehe… Pertujukkan selesai sekitar pukul 20:30 dengan perasaan yang bahagia dan ada rasa hangat di jiwa. Good job, Mondo!

FullSizeRender-5

Lalu aku merasa lapar… Berhubung tema hari ini adalah Sabtu Malam Mewah Murah Meriah, maka aku tidak akan makan di salah satu restoran dalam mall ini, karena sudah pasti akan mencapai sekitar Rp.100rb (untuk makanan + minuman). Kuputuskan untuk keluar mall dan menyusuri jalanan area SCBD untuk mencari sesuatu yang murah meriah bahagia. Di dalam kawasan SCBD sih sudah pasti tidak ada, maka kuberjalan kaki ke arah Grand Lucky / Sudirman Mansion dan menemukan ada tukang nasi goreng di ujung jalan keluar/masuk kawasan. Terlepas dari bokek-nya aku, namun siapa yang dapat memungkiri nikmatnya aroma telur dadar hasil karya sang tukang nasgor? Maka segera kupesan nasi goreng dengan telur yang didadar. Kuambil kursi plastik (yang sudah didobel agar tidak meletot demi menahan bobot badanku yang extra) dan duduk di pinggir jalan. Adalah kenikmatan yang hakiki (apalah itu artinya hakiki) saat masih bisa menikmati pemandangan di pinggiran jalan sudirman yang tidak terlalu ramai lagi. Kelebat warna warni dari lampu mobil yang berseliweran ditambah dengan angin sejuk yang berhembus sepoi-sepoi menambah nikmatnya sabtu malam nan syahdu ini. Tak perlu lama menunggu, nasi goreng telur dadar telah siap untuk kusantap. Adanya beberapa potong sosis sapi – atau entah daging apa – berwarna merah genit dan kumpulan kerupuk dengan pinggiran warna warni memberikan tampilan yang menarik. Mungkin karena aku lapar aja jadi apapun yang diberi saat itu pasti akan kusebut menarik. Tanpa banyak cingcong segera kusantap nasi goreng itu dan merasa sukacita karena rasanya lumayan nikmat, porsi yang lumayan banyak dan – ini yang terpenting – harganya sangat murah! Hanya Rp.13rb saja! Bayangkan, Boi! Inilah yang kusebut dengan Mewah Murah Meriah! Kalo kamu makan di restoran mahal, yang gede cuman piringnya aja, makanan yang disajikan cuma secuil, tapi harganya bikin dompet meringis bahkan bisa bikin bunuh diri. Hih! Maka nasi goreng di pinggiran jalan itu adalah penyelamat kehidupan!

IMG_3936

Kuingin lebih lama menikmati  sabtu malam yang semakin larut di daerah elit ini. Tapi rasanya ga adil kalo cuma numpang duduk di kursi plastik itu dan berbengong ria. Tak kusadari bahwa sesungguhnya persis di samping gerobak nasi goreng itu terdapat sepeda mini yang dipenuhi dengan banyak minuman sachet. Itulah Starling! Setarbak Keliling! Entah kalian menyebutnya apa, namun aku sih menyebutnya itu aja, soalnya sepeda mini itu menyediakan seduhan kopi, semacam starbucks, namun edisi yang sangat murah. Luar biasa ya efek kelaparan tu, bisa membutakan mata. Makanya jangan heran kalo orang lapar bisa jadi mata gelap dan melakukan hal yang engga-engga. Wong aku aja yang baik-baik gini bisa sampe tidak memperhatikan keberadaan Starling. Maka tanpa ragu kupesan white coffee yang katanya luwak… ya, luwak white coffee! Kalian bilang kopi luwak itu mahal? Ikutilah caraku, beli coffee luwak yang sachet! Akhirnya segelas luwak white coffee panas disajikan dalam sebuah gelas bening nan tipis yang membuatku sedikit merasa sulit untuk menggenggamnya.. panas banget, Boi! Namun dengan panasnya kopi itu maka aku punya alasan untuk bisa duduk lebih lama lagi di kursi plastik (yang mulai mletot) sambil menikmati situasi.FullSizeRender-2

Kulihat sekeliling, ada tukang bakso malang di sisi yang lain. Sayangnya aku sudah kenyang maka kuputuskan tidak membelinya. Ada seorang mbak berseragam, mungkin SPG, yang menghampiri gerobak nasi goreng. Sejenak kumerasa ada yang aneh dan kuarahkan pandanganku ke mba SPG itu, ternyata dia lagi ngeliatin aku. Beneran, aku bukan ge-er, namun itu yang beneran terjadi. Dia ternyata beberapa lama memperhatikanku sampai saat aku memperhatikan balik, baru deh dia mengalihkan pandangannya. Aku juga kembali mengarahkan pandangan ke jalanan, namun untungnya aku menguasai teknik melirik menggunakan ekor mata, jadi meskipun wajahku mengarah jauh ke depan sana namun bola mataku ternyata melirik ke situ dan memang si mba SPG ternyata masih ngeliatin aku. Tapi kali ini tidak akan kupergoki, kubiarkan saja. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena teknik melirik dengan ekor mata itu sesungguhnya bisa mengakibatkan pusing kepala.

Perut kenyang. Luwak white coffee tandas. Hati puas. Malam semakin larut. Aku harus pulang. Kulangkahkan lagi kaki menuju area SCBD, ke gedung parkir motor yang terletak persis di seberang Pacific Place. Kusempatkan diri untuk mengambil beberapa gambar area SCBD di kala malam yang sepi. Aku senang melihat mobil yang jarang berkeliaran dan sekalinya lewat pasti dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali kulihat juga pasangan yang berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Ah, aku merasa senang dengan keberadaanku yang sendirian ini. Mungkin itulah yang disebut dengan “me time”. Aku puas menikmati pemandangan gedung pencakar langit yang terlihat hitam kala malam dan kelap kelip lampu jalanan yang menghiasi gelapnya langit malam…

Entah mengapa tiba-tiba lagu yang terputar dari hape ku adalah Lost Star-nya Adam Levine, padahal sebelumnya lagu-lagu Deftones. Ah, pasti ini karena aku shuffle deh playlist-nya… Dan lirik “ … turn the page, maybe we’ll find a brand new ending where we’re dancing in our tears…” membawaku kepada motor yang terparkir dengan setia, menyalakannya dan membawaku kembali kepada kehidupan yang sebenarnya…

 

Ya, sabtu malam tidak selalu kelabu bagi mereka yang bisa menyiasatinya.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Sabtu Malam Yang Mewah Murah Meriah

  1. Nah… @America. Nggak pernah nemu tempat serbaguna semacam ini, dengan tingkat kekerenan mencapai langit! Betah banget tiap main di sana. Begitu mau masuk aja serasa masuk dunia berbeda. Dan atmosfernya itu.. semuanya pas. Lighting, entertainment, sampai desain interior nyaman banget. Saya paling suka duduk di atas, rebutan bantal empuknya, terus nyantai cari posisi wuenak huhu

    MT Haryono-Pancoran lagi ada pemasangan kabel listrik 30000 MW itu ya. Macetnya nggak terkatakan. Mending tol deh bang. Keluar sebelum Semanggi. Yah itupun kalo tolnya lagi nggak rame sih

    Dan tentang selera makanan, sepertinya kita serupa. Hidup street food Jakarta! HA HA!

    1. *toss bolak balik*!!!
      emang ini tempat keren maksimal. Khususnya buat nonton konser musik, aduh nikmatnya tiada tara. Pernah nonton berbagai genre dari jazz, rock sampai pop di sana dan selalu pulang dgn hati puas! eargasm gitu deh…

      street food memang JUARA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s