ah1

Hai, Kamu!

Ternyata sudah cukup lama ya kita tidak bersama. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan kamu juga sibuk dengan kegiatanmu. Aku senang kita masih terus saling kirim cerita hingga jarak kita seperti tidak jauh. Terima kasih atas semua cerita yang selalu kamu kirim baik melalui bertubi-tubinya chat-box yang memenuhi layar telepon genggamku, juga foto-foto yang selalu membuatku tersenyum. Sekarang giliranku untuk bercerita, lewat tulisan aja supaya bisa dibaca-ulang, berkali-kali.

Apakah kamu masih ingat tentang rindu kita berdua akan karya terbaru dari Pak Cik Andrea Hirata yang pernah memporak-porandakan usaha keras untuk menjaga image kita di depan banyak orang di toko buku itu? Aku masih mengingat kejadian itu dengan jelas, kan saat itu aku sedang pedekate ke kamu jadi pastinya akan selalu teringat. Sengaja kuajak kamu ke toko buku karena tahu membaca adalah salah satu hobimu. Aku ingin kita membaca buku yang lucu dan tertawa bersama. Senangnya saat kamu setuju dan sudi untuk mengikuti keinginanku.

Sejak saat itu kita menanti-nantikan karya baru dari Pak Cik untuk dinikmati bersama, namun sayangnya sampai saat ini belum ada lagi ya… Untuk mengobati kerinduanku akan karya Pak Cik (juga akan keberadaanmu), kubaca-ulang lagi karyanya yang menurutku bagus banget, yaitu Dwilogi Padang Bulan. Rasanya ini sudah kali keempat kubaca ulang dan sama sekali aku tidak bosan. Kenapa aku mau cerita ke kamu? Karena aku tahu kamu belum punya buku ini dan aku ingin “meracunimu” supaya penasaran dan segera beli bukunya. Hehehehehe… 

Dwilogi Padang Bulan ini sejatinya terdiri dari dua buku: Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Pada terbitan awalnya, keduanya dicetak menjadi satu buku, jadi tidak ada sampul belakang karena kedua sampulnya adalah sampul depan dari masing-masing judul. Unik sekali. Aku bahagia mempunyai edisi pertama seperti itu karena selanjutnya dicetak terpisah, mungkin supaya mereka yang mau membeli bisa “nyicil” – tidak mesti langsung beli dua buku dan tidak kerepotan karena harus membawa satu buku yang tebal. Tapi percayalah, ini sesungguhnya benar-benar dwilogi, tidak terpisahkan. Laskar Pelangi adalah tetralogi namun menurutku masih bisa dinikmati satuan, karena situasi dan kondisinya berbeda. Ga masalah kamu mau baca Sang Pemimpi, Edensor atau Maryamah Karpov terlebih dahulu baru kemudian Laskar Pelangi, palingan hanya kehilangan sedikit hal-hal awal saja. Setiap awal dan ending-nya pun berdiri sendiri. Lain hal dengan dwilogi Padang Bulan. Menurutku kamu harus membacanya dari buku pertamanya: Padang Bulan, karena di sini jika bisa kugambarkan adalah pondasi dari keseluruhan cerita dwilogi. Di sini tempatnya salam perkenalan, senyum manis dan jabat tangan sebelum kemudian melebur dalam adukan kisah drama sekaligus komedi yang tiada ampun.

ah2

Drama mengharu biru terasa lebih kental di dalam buku Padang Bulan, kamu tentunya tahu kepiawaian Pak Cik dalam memparkan kisah yang mampu membuat dada terasa hangat dan kadang – kalau tidak kuat – membuat air mata menetes. Lugu, yang menjadi ciri khas tokoh-tokoh dalam kampung udik “ditabrakkan” dengan kenyataan dunia modern sesungguhnya adalah satir namun dalam komposisi yang tidak pedas, malah memberi haru. Halus sekali penyampaiannya. Berpotensi membangkitkan airmata. Ah, ku comot sedikit lah ya buatmu:

Syalimah gembira karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah kejutan. Syalimah tidak tahan.

“Aih, janganlah bersenda, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan.”

Mereka tersenyum

“Kejutan-kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita ni? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau Pak Cik tidak percaya.”

Suaminya – Zamzami – tahu benar maksud istrinya. Harga-harga selalu membuat mereka terperanjat.

Nukilan yang bahkan adalah kalimat-kalimat pertama dalam Mozaik 1 Padang Bulan. Ya, drama seperti itu mengawali perjalanan membacaku. Cukup dengan penuturan nan sederhana mampu kubayangkan kehidupan yang diceritakan. Pondasi yang kuat, yang bukan terbuat dari pasir, namun dari batu kali. Akan kau temukan lebih banyak drama yang – hebatnya – tidak terasa “cengeng” atau “mengiba-iba” meski miris. Drama yang tidak memasang hangat di mata sebagai target, melainkan hangat di dada. Sungguh mulia.

Padang Bulan adalah tentang cinta tulus yang bahkan mampu membuat diri menyangkali segala keinginan pribadi. Syalimah tahu bahwa Zamzami adalah pria yang teramat sangat sederhana namun semata-mata karena cinta dia siap menjalani hidup yang susah. Apa yang dimiliki dan diberikan mereka berdua adalah cerita “singkat” bahwa cinta bukan lah semerta-merta solusi instan untuk mengatasi masalah hidup namun menjadi kekuatan untuk menghadapi dan menanggungnya. Aku sangat tergila-gila dengan gambaran bahwa kebahagiaan itu didapat lebih banyak dalam hal spiritual: tulusnya cinta kepada pasangan dan keluarga. Sementara kebahagiaan materi cukuplah sesederhana berboncengan naik sepeda – menuju bendungan. berdua saja. Bahkan impian-impian yang dibangun pun tetap sederhana, sesederhana punya sepeda baru – sebagai tambahan – supaya nanti bisa berjalan-jalan tidak berduaan saja, namun dengan anak-anaknya. Sepeda baru adalah secuil materi yang diimpikan dan diyakini bisa menyampaikan bahagia. Bahkan sepeda baru harus menunggu belasan tahun sebelum akhirnya Zamzami mampu membeli dan dipersiapkan sebagai kejutan buat sang istri. Ah, aku langsung berpikir tentang hidupku… Betapa aku yang hidup di kota megapolitan dengan berbagai kenikmatan duniawi yang ditawarkan, bahkan mahal untuk ditebus jika ingin menikmati – apalagi memilikinya, kerap membuatku berpikir hanya untuk bekerja dengan keras, mendapat gaji besar dan kemudian membeli ini-itu. Ya, tak sadar telah kuubah definisi bahagia menjadi sesuatu hal yang “mahal” buatku hingga melupakan esensi hidup. Kukejar semua hal sesuai dengan patokan semu yang berlaku di sekelilingku, kumau memiliki semua yang kuinginkan. Sementara yang sudah kumiliki tidak kujaga. Tidak pernah puas. Aku rakus. Ah, kacau balau aku ini… Eh, koq aku jadi curcol ya… maafkan… hehehehehehe… aku lanjut ya…

Mau yang lebih drama lagi? Sepeda baru itu, yang sudah ditunggu belasan tahun itu, yang diimpi-impikan itu, yang rasanya bisa memberikan bahagia itu, ternyata menjadi pertanda hancurnya harapan dan angan yang telah dipupuk sekian lama. Sepeda baru – pada saat yang bersamaan – menjadi monumen tulusnya cinta memperjuangkan kebahagiaan keluarga yang rasanya telah dalam genggaman namun harus berakhir “begitu saja”, seperti direnggut paksa – hati tidak sudi melepaskan namun tak kuasa mempertahankan. Ini gila. Sangat kejam. Tak akan kutulis dengan detail, kuharap kamu dapat membuktikan kekejaman itu sendiri… Jangan kau pikir selesai sampai situ, tunggulah saat kau menemukan kisah bagaimana saat kejadian kejam itu disampaikan kepada anaknya (yang bernama Enong)… Lebih gila lagi… Sangat kejam.. Entah apa yang dipikirkan Andrea saat menuliskan kalimat demi kalimatnya. Bahkan saat kutuliskan surat ini kepadamu, sambil mengingat apa yang telah kubaca, jantungku masih terasa berdetak kencang. Berlebihan? Mungkin kamu akan mengatakan itu namun sesungguhnya memang itu yang terjadi. Semata-mata itu terjadi karena aku memang menyerahkan diri pada suatu kisah supaya aku bisa menikmatinya dengan total. Melarikan diri dari rutinitas yang membosankan bagiku adalah dengan menjadi karakter-karakter dalam buku yang kubaca, supaya aku bisa menikmati dunia lain di luar sana…

Namun Padang Bulan bukan sekedar drama menyilet nadi, juga kutemukan banyak komedi di sini. Andrea selalu berhasil menciptakan tawa terbahak-bahak yang tidak mampu ditahan melalui lugunya semua karakter dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat rekaannya (atau beneran) itu. Kadang aku merasa “ah, masa gitu banget sih lugunya…”, namun tidak ada sedikitpun kurasa bahwa keluguan itu seperti menjadi hal yang “menjelek-jelekkan orang melayu udik”. Sama sekali tidak. Semua diceritakan dengan begitu apik sehingga tak sempat diri ini berpikir negatif mengenainya. Terlebih karena aku melebur, kumerasa menjadi bagian dari masyarakat itu. Gambaran betapa informasi tidak tersebar secara merata yang meyebabkan masyarakat udik menjadi banyak tidak tahunya mungkin menjadi penyebab keluguan itu, tak sanggup kumenulisnya, kulampirkan saja ya sedikit dari yang kumaksud:

ah4

Ikal tetap menjadi karakter utama kedua dan kisah cinta penuh kegalauan antara dirinya dengan A Ling (ya, A Ling yang di Laskar Pelangi itu) menjadi bagian yang sangat kuat dalam membangun cerita dan – mungkin – sebagai penyebab banyak munculnya komedi dan keterlibatan seorang pria bernama Detektif M. Nur. Bisa kamu bayangkan ada seorang yang dipanggil Detektif (judul lengkap profesinya adalah detektif swasta) di kampung nan udik? Gerangan apa penyebabnya? Pasti kamu penasaran kan? Dan aku yakin penasaranmu akan bertambah jika kusebut nama Jose Rizal ternyata adalah seekor burung merpati pos yang piawai dalam menjalankan tugas yang diembannya. Bayangkan ini: suatu kolaborasi antara pria lulusan (beasiswa) universitas bergengsi di luar negeri dengan seorang detektif Melayu bersama dengan merpati pos binaannya dan kasus spesifik yang menyatukan mereka. Aku yakin, kamu akan menyia-nyakan martabak manis coklat keju yang tersedia di hadapanmu karena sibuk untuk tertawa terpingkal-pingkal.

Secara keseluruhan, jika boleh kusimpulkan buku Padang Bulan ini kuat membawa drama keluarga dan percintaan yang diisi dengan banyak haru, tawa dan aksi spionase kelas udik. Buku ini berakhir dengan bahagia namun tidak berarti bahwa kisah sudah selesai. Kamu lihat tadi di dalam foto yang kusemat ada nama Enong, nah.. dia lah tokoh utama dari dwilogi ini maka tentu ada kelanjutan kisah tentangnya dalam buku selanjutnya.

ah3

Cinta di Dalam Gelas. Jika kamu membeli edisi dua buku terpisah dan lebih dahulu membeli judul ini, aku rasa khayalanmu akan mengalami kesulitan untuk membangun karakter-karakter juga situasi kondisi tentangnya. Tadi telah kusebut dwilogi ini tak terpisahkan, kan? Salah satu bukti bahwa ada kesinambungan dalam dwilogi ini adalah adanya cerita yang berakhir “menggantung” dalam buku Padang Bulan halaman 37, dan terselesaikan dengan indah pada Cinta di Dalam Gelas halaman 181. Asik kan?

Akan kamu temukan kisah tentang kopi bergelas-gelas, dendam terbalas, aktivitas spionase tingkat tinggi yang menghubungkan belahan dunia bagian barat sana dengan kampung udik kurang informasi, plin-plannya seorang paman yang menit ini marah-marah namun di menit setelahnya merangkai bunga-bunga kata, tersusunnya Buku Besar Peminum Kopi , blender bernama Yamuna, para pendekar catur yang petantang petenteng, jasa preman pasar nan cebol dan pengemudi sepeda yang mampu melesat sampai kira-kira 70 km/jam. Lalu apa hubungan semua itu dengan judul buku? Jelas ada. Karena si Ikal, ternyata bekerja di warung kopi pamannya. Lalu? Ya tak akan aku paparkan semua di sini – tentunya – aku ingin kamu sendiri yang menemukan “teori konspirasi itu”. Aku rasa informasi yang kupaparkan sudah cukup untuk membuatmu mengambil keputusan. Namun kupesankan dari sekarang supaya kamu siap-siap menderita jika kamu membacanya di tempat umum dan kamu masih seperti kita yang dulu: jaga image, karena buku ini akan menderamu dengan tawa yang sangat sulit untuk kau tahan dan berpotensi memancing pandangan aneh dari orang-orang yang ada di sekitarmu. Saranku, sebisa mungkin bacalah buku ini di tempat kamu dapat menyendiri. Puaskan dirimu untuk terbahak, sampai mengeluarkan air mata. Percayalah, niscaya penatmu hilang digantikan sakitnya rahang karena terlalu banyak tertawa (juga perih di hati demi membaranya rindumu padaku, ahahahaaaaay…).

Kekagumanku pada daya khayal seorang Andrea Hirata dalam sosok seorang bujang lapuk bernama Ikal itu semakin bertumpuk akibat pertunjukkan khayalan tingkat tinggi yang dituangkannya melalui teori menilai seseorang melalui caranya minum kopi. Ya, semua itu dituangkannya dalam Buku Besar Peminum Kopi (yang kuharap bisa menjadi salah satu buku beneran yang diterbitkan). Menurut Ikal, minum kopi sudah menjadi ciri khas orang Melayu dan bahkan bisa dibilang menjadi kebutuhan primer mereka – selain air putih. Maka syah-syah saja jika melalui cara/gaya minum, permintaan banyaknya takaran sendok kopi, gula dan banyaknya putaran sendok untuk mengaduk kopi dia dapat menyimpulkan garis besar sifat-sifat yang dimiliki peminum kopi. Dalam hal ini aku yakin kamu akan terperangah ketika membacanya sekaligus terkagum-kagum karena – ternyata – Buku Besar Peminum Kopi punya andil yang sangat besar dalam menentukan arah penuntasan dendam kesumat! Bisa kamu bayangkan dahsyatnya?

Lebih hebat lagi adalah kepiawaiannya  dalam menghayalkan permainan catur yang nampaknya menjadi alur cerita utama dalam buku ini. Ah, ini hebat sekali! Bagi seorang yang – menurut pengakuan Ikal – tidak mengerti permainan catur, apa yang digambarkan di sini sudah lebih dari cukup! Bahkan menurutku fantastis! Aku yang sama sekali tidak mengerti catur bahkan dapat dibuatnya mengerti segala gambaran rumit yang dibangun oleh jurus-jurus catur semacam Grundfeld Hindia, Benteng Bersusun, Guioco Piano dan lainnya. Bagaimana Andrea mengubah benda mati dalam bentuk pion, benteng, kuda, menteri, ster dan raja menjadi insan-insan bernyawa yang bertempur dengan dahsyat dan meja kayu berpola kota-kotak hitam putih menjadi medan laga penuh darah, tempat dendam dibalaskan sampai tuntas. Tak mudah rasanya untuk membuat alur permainan catur (yang bagiku membosankan) menjadi dongeng semacam kisah mahabharata atau pertempuran dengan bajak laut di samudera yang begitu rapat intensitasnya. Aku yakin kamu pun akan merasakan hal yang sama.

Dan telah kutemukan apa penyebab kita tertawa terbahak-bahak waktu itu di toko buku (dan aku yang terbahak-bahak lagi ketika membaca dwilogi ini). Aku rasa Pak Cik menerapkan resep “Jangan Kasih Kendor” alias ngelawak tiada ampun! Nih, kalo kamu mau liat sedikit:

ah6ah7

 

Pak Cik pintar mengarahkan fokus. Ya, kamu tahu kan kelemahanku adalah mudah hilang fokus namun membaca dwilogi ini aku merasa malah dituntun olehnya untuk menikmati setiap lapisan ide liar lawakannya. Rasa-rasanya itu memang keunggulan seorang Pak Cik. Pantaslah dia mendapat banyak penghargaan, meskipun pernah kubaca ada yang meragukan keabsahan penghargaan-penghargaan itu. Bagiku, Pak Cik Andrea Hirata adalah juara!

Walhasil, ketika buku ini tandas kubaca tak kurang dari ratusan rasa puas dan bahagia memenuhi batinku. Rasa yang hanya bisa dikalahkan oleh bahagia saat kamu menerima tawaran cintaku…

Ah, panjang sekali suratku kali ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ketika aku membaca buku ini, aku mengingat masa-masa indah di mana kita tertawa bersama sampai-sampai kita dipandangi dengan tatapan aneh oleh orang lain. Ya, kita berada di dunia milik kita berdua, mereka hanya menyewa, tak berhak protes! Ketika membaca buku, selalu kuteringat padamu yang juga suka membaca buku. Dunia kita ternyata sama. Khayalan kita juga sama. Bosan karena banyak sama-nya? Sama sekali tidak. Justru aku berharap kita akan terus bersama, supaya bisa kita ulangi lagi saat menyenangkan itu: pergi ke dunia lain, dunia yang hanya milik kita berdua.

Kunantikan balasanmu.

Aku rindu.

Advertisements

8 thoughts on “Tentang Buku: Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (sebuah dwilogi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s