Lagu (saat) Hujan

Hujan.

Jika sebagian orang malas dengannya akibat kerepotan yang timbul karena hadirnya, aku malah senang. Hujan datang selalu membawa buaian yang kutunggu. Gerimis dengan senyumnya. Deras dengan tawanya. Banjir? Ah itu luapan cintanya – aku bisa berenang-renang. Jika hujan reda, maka berhembus angin dingin. Tak lain bagai kecupnya yang selalu membuat bulu kuduk merinding. Ya, aku memuja hujan. Aku memujamu.

Selain duduk bengong sambil melihat ke arah luar dari balik kaca yang basah oleh butiran air, aku paling suka menikmati turunnya hujan sambil mendengar lagu. Bagiku yang menyukai – juga suka memainkan lagu-lagu cadas – hujan adalah pengecualian. Tak kubiarkan suasana syahdu terganggu oleh power chord gitar yang meraung-raung, senar bass yang membetot dan mencabik perasaan, dentuman drum-kick dan pekak rentetan snare bagai senapan mesin juga crash yang merobek-robek jiwa. Semua itu diperlukan jika ingin menambah semangat/menaikkan adrenalin. Tapi hujan adalah momen yang harus dijaga kesakralannya. Dalam hujan kupasrahkan semua angan dan harapan, yang tadinya kusam karena ditutupi debu mungkin bisa menjadi sedikit lebih cerah,  yang tadinya kering mungkin setelah dibasahi bisa menjadi gembur. Siapa tahu kemudian jadi subur. Dalam hujan pula kubiarkan jiwaku dibuai oleh lagu yang mendayu-dayu. Hey, jangan kau salah duga, tak selamanya lagu yang mendayu-dayu itu adalah lagu melayu nan dangdut. Dan tak selamanya lagu yang mendayu-dayu itu sendu. Ah, untuk apalah aku melakukan pembelaan diri seperti itu, kan yang penting aku menikmatinya – terserah apa kata mereka, tokh aku sudah diberi gelar “muke rembo hati rinto” oleh teman-temanku. Ga masalah.

Demikian adanya, aku yang berwajah bopengan juga berewokan, yang harus setiap dua kali sehari cukuran supaya terlihat klimis (syukur-syukur jadi manis) mempercayakan syahdunya hujan pada lagu-lagu sebagai berikut. Kutuliskan di sini bukan sebagai promosi – wong aku ga kenal sama mereka semua koq – hanya sebagai monumen jika suatu saat nanti aku mulai lupa sama yang namanya cinta – aku tinggal buka tulisanku yang ini, membaca semua judul lagu yang tercantum dan – siapa tahu – aku jadi ingat lagi sama kisah-kisah yang menorehkan banyak gurat di dalam kehidupanku.

… dan inilah mereka … alunan nada dalam hujan  …

  • Terpaut Oleh Waktu yang dinyanyikan oleh Danilla. Sesungguhnya ini adalah lagu yang paling cocok untuk dijadikan soudntrack hujan, seperti yang pernah kutuliskan dalam blog ku: https://bigbangjoe.wordpress.com/2015/06/30/terpaut-oleh-waktu/
  • Mata Berdebu yang dinyanyikan oleh Sore. Menurutku, ini adalah lagu terindah yang pernah Sore ciptakan. Nadanya teramat sangat mengalun dengan chord dan aransemen yang tidak neko-neko. Denting piano berteman petikan gitar dan hembusan melodi terompet juga alunan string yang sederhana tetapi mampu membuat penyampaian kalimat “… dan aku rindu melangkah di duniamu …” terdengar megah dan jauh dari cengeng. 
  • Rahasia yang dinyanyikan oleh Payung Teduh. Hujan selalu menyimpan rahasia: Rindu. Entah rindu yang baru tumbuh, telah tumbuh namun belum disampaikan, telah tumbuh namun tak tersampaikan. Juga rindu yang telah berlalu… Lalu pertanyaan “… atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya?” adalah pertanyaan yang akan terlibas hujan deras…
  • Sampai Jadi Debu yang dinyanyikan oleh duo Banda Neira. Aku membayangkan alunan intro solo piano selama sekitar dua menit adalah denting gerimis pengiring dua orang untuk mengucap kalimat “… selamanya sampai kita tua, sampai jadi debu, ku di liang yang satu, ku di sebelahmu” yang adalah sakralnya janji untuk selalu berdampingan, bahkan ajal tak mampu memisahkan. Edan! Lagu ini ditutup oleh solo piano lagi yang makin lama makin lembut, melayang… hujan selesai, angin dingin berhembus…
  • Color My World yang dinyanyikan oleh grup asal amerika: Chicago. Siapa yang mampu memungkiri rasa nyaman atas indahnya melodi flute yang mengalun dari pertengahan lagu sampai pada akhirnya?  Lagu ini aku tahu sejak usiaku masih 1 digit – saat aku belum mengenal cinta dan hujan masih merupakan saat paling menyenangkan untuk turut menceburkan diri dalam air yang tergenang di lapangan, dan siapa yang menyangka bahwa sampai setua ini pun masih menjadi alunan indah bagi hatiku bermain-main dengan kenangan dan harapan… Semua dalam hujan! “… color my world with hope of loving you …” hujan membuat kaca basah dan akibatnya cahaya yang menembus diterjemahkan ke dalam berbagai pendar warna. Indah.
  • Julia yang dinyanyikan oleh The Beatles. Bayangkan ini, ketika diri harus menepi dan mencari tempat berteduh karena hujan yang terlalu deras sementara rindu nampaknya tidak mengerti susahnya diri memenuhi janji tepat waktu. Dalam gelisah yang dapat dilakukan hanyalah menyebut nama dirinya berulang kali, berharap agar angin yang berhembus mampu menyampaikan rindumu yang belum sampai itu.
  • Cinta (dalam versi akustik) yang dinyanyikan oleh GAC. “… tak bisa ku dapat berpisah, terlepas dari peluk hangatmu …”, kau tidak akan pernah mengerti apa itu hangat jika tidak mengalami dingin. Hujan membawa angin dingin. Itulah saat paling indah untuk memeluknya. Dalam hujan. Dan selalu kau mengharapkan dirinya kembali, untuk menghangatkanmu…
  • Desember yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca. Mungkin kalau liriknya ditelaah sesungguhnya berlawanan dengan nuansa hujan yang kupuja. Tapi secara musik sih aku merasa lagu ini sangat cerdas dalam menggambarkan hujan.
  • Close To You. Lagu ciptaan Burt Bacharach ini dipopulerkan oleh grup jadul bernama The Carpenters. Lagu ini sudah dimainkan dalam – rasanya – ribuan versi namun aku paling suka versi orisinil The Carpenters dan sekarang ini sedang tergila-gila dengan versinya Gary Chaw Project Sensation yang bernuansa jazz. Dengan vokal wanita yang “dalam” diiringi dengan lantunan irama swing, adalah representasi sempurna angin dingin yang mendahului dan mengakhiri hujan. Dekat dengan dirinya – bukankah saat hujan turun maunya selalu seperti itu?

Sesungguhnya masih banyak lagi namun tidak akan kutuliskan semuanya di sini, selain tidak penting banget tangan pun sudah lelah untuk menulis. Tapi ijinkan kutulis lirik satu lagu sebagai penutup tulisan (ga penting) ini. Kurasa dengan membaca liriknya maka kau akan setuju bahwa ini adalah lagu yang cocok untuk didengar saat hujan: Solitude yang dinyanyikan oleh Ella Fitzgerald.

“Solitude”

In my solitude you haunt me

With reveries of days gone by

In my solitude you taunt me

With memories that never die

I sit in my chair

Filled with despair

Nobody could be so sad

With gloom ev’rywhere

I sit and I stare

I know that I’ll soon go mad

In my solitude

I’m praying

Dear Lord above

Send back my love 

Solitude. Kesendirian. Hujan. Cukup sekian.

 

jika kalian memperhatikan gambar yang menjadi header di blog-ku, itu adalah foto yang kubuat sendiri dari belakang kaca jendela saat gerimis turun. Ya, aku memuja hujan

 

Advertisements

5 thoughts on “Lagu (saat) Hujan

      1. aku pas pertama denger…. ini beneran liang gitu??? haha… bgs tp, nunggu yang nyanyi dimenit hampir mau 2 menitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s