Tentang Buku: Tentang Kita

reda2

“life is like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.” – Forrest Gump

Membaca adalah pelarianku untuk menjauh dari monotonnya rutinitas setiap hari. Membaca adalah saat di mana aku bisa menikmati waktu yang memang hanya untuk aku, oleh karenanya lebih nikmat jika saat membaca aku ditemani beberapa gelas kopi dan cemilan penambah berat badan. Jadi kalian tahu kenapa aku susah turun berat badan, kan? Namun tidak berarti kenikmatan membaca dibatasi oleh tersedianya kopi dan cemilan, seringnya aku malah hanya ditemani satpam dan petugas kebersihan yang sibuk mondar-mandir di lobby kantor demi menjalankan tugasnya. Asal sikonnya ga aneh-aneh banget mah, aku bisa membaca hampir di mana saja. Dan kali ini, telah selesai kubaca sebuah buku yang ditulis oleh salah seorang penulis Indonesia, yang sesungguhnya baru kukenal dan baru kutahu ada karya lain yang dibuatnya selain menjadi penyanyi dalam duet AriReda dan Dua Ibu, dialah Mba Reda Gaudiamo, sang penulis buku Na Willa. Ya, berawal dari buku itulah kukenal sosok beliau dan menjadi tahu  bahwa ada karya lain yang ditulisnya bahkan jauh sebelum Na Willa. Berdasarkan rasa suka pada buku Na Willa, maka kuputuskan untuk mencari karya beliau sebelumnya. Saat ingin sekali bertanya langsung pada beliau mengenai keberadaan buku-buku sebelumnya, eeeeeh ternyata tersedia beberapa eksemplar karyanya di toko buku POST yang pada saat itu kukunjungi demi menikmati acara peluncuran buku “Aku, Meps dan Beps” – karya teranyar berkolaborasi dengan sang anak, Soca Sobitha. Ah, beruntungnya aku! 

Ada dua judul buku karya Mba Reda yang terpampang di meja dan menurut Maesy (dari POST) memang tidak tersedia banyak, aku memilih judul “Tentang Kita”, yang saat itu terlihat hanya ada satu. Tak menunggu lebih lama segera kuamankan buku itu ke dalam tas setelah – tentunya – menebusnya dengan sejumlah rupiah… hehehehehehe… Berdasarkan informasi yang tertera, “Tentang Kita” adalah kumpulan cerpen yang ditulis dalam rentang waktu dari akhir 1980-an sampai dengan 2014.

Maka beberapa hari kemudian, pada pukul 19:00, di lobby gedung kantor, berteman dengan satpam dan petugas kebersihan gedung yang terus bolak-balik, kumulai pelarianku untuk melepas lelah, memuaskan penasaran dan tenggelam dalam kisah-kisah yang aku tidak tahu seperti apa.

Ayah, Dini dan Dia dan Mungkin Bib Benar adalah dua cerpen pertama di dalam buku ini yang tak perlu menunggu terlalu lama atau membaca terlalu jauh, aku sudah merasa terhanyut dalam cara pemaparan Mba Reda. Dengan gaya penulisan yang sangat ringan dan mengalir (ya, kukatakan sangat ringan karena memang bahasa yang digunakan sangatlah apa adanya – tidak “berbunga-bunga” atau sok puitis kaya tulisan-tulisanku ahahahahahahaa), dua kisah ini cukup kuat untuk menjadi pembukaan sekaligus perkenalanku dengan gaya penulisan Mba Reda – di luar buku Na Willa dan Aku, Meps dan Beps. Cerita yang mengalir membuat jariku enggan untuk berhenti membalik halaman…

Anak Ibu dan Menantu adalah cerpen selanjutnya dan aku sungguh tersenyum-senyum membaca cerita ini. Yang kurasakan adalah rasa “terjebak” antara ingin menjadi seorang anak yang berbakti, menyenangkan orang tua, yang kadang kala harus bertentangan dengan apa yang dipercaya oleh diri sendiri. Konflik yang klasik dan sehari-hari, namun dipaparkan dengan sangat baik ini tak ayal membuatku seperti ngerasa “bener juga ya”… Mba Reda berhasil menggambarkan masalah keluarga yang rumit – sebenarnya – namun dengan bahasa yang ringan. Jauh dari membosankan!

Halaman terus bergulir sampai pada cerpen berjudul Potret Keluarga. Hahahahaha…. aku beneran ketawa membacanya dan aku merasa seperti ada konflik yang tidak tertuangkan di dalam kisah Anak Ibu yang lalu dituangkan di sini, namun dengan bobot yang berbeda: ketidakkonsistenan dalam berpikir, sementara sebelumnya justru tentang keteguhan suatu prinsip. Hehehehhee… Asik deh… Namun dalam cerpen ini aku menemukan adanya salah pengetikan nama tokoh – namun hal itu sudah diberitahukan sebelumnya oleh Mba Reda saat aku sedang memintanya untuk membubuhi buku ini dengan tandatangannya.

Tentang Kita adalah suatu cerita yang membuat jantungku berdegup cukup kencang. Tentang keraguan, tentang kesulitan menentukan pilihan di saat segala hal nampak sama-sama memberi dukungan yang kuat pada masing-masing sisi yang berlawanan, tentang berlarut-larutnya harapan yang kadang menjadi buram karena keinginan untuk mengejar berbagai macam impian, sampai akhirnya menjadi hambar…. Ini kisah tentang pasangan suami-istri, yang aku rasa bisa untuk dijadikan suatu bacaan bersifat “reflektif” bagi mereka yang berpikir untuk menikah dan juga yang sudah menikah. Menurutku, Tentang Kita adalah cerpen yang memiliki kisah terkuat dari keseluruhan buku ini. Menggambarkan prioritas hidup berpasangan yang memang seringkali bertentangan dengan ego pribadi. Cerpen ini ditutup dengan akhiran yang sangat “menyedihkan”. Tragis – menurutku… Aku paling suka dengan cerpen ini!

Sayangnya, petugas kebersihan gedung mulai rese – masa sepatuku disenggol-senggolnya dengan alat pel sampai akhirnya aku harus melirik ke jam tangan – ternyata sudah pukul 20:30 dan memang lobby sudah sepi. Ah, aku diusir. Terpaksa kupendam dulu keinginan terus membaca. Menuju parkiran, ngebut pulang kemudian.

Esok harinya kembali melakukan ritual yang sama. Sekitar pukul 19:15 turun dari lantai 31 dan kembali duduk di lobby, membuka tas, mengeluarkan hape, memutar lagu-lagu romantis nan syahdu, mengambil buku dan meneruskan pelarian yang kemarin dihentikan oleh petugas kebersihan.

24 x 60 x 60 adalah cerita selanjutnya. Cerita ini dibagi dalam sub judul “Pagi”, “Siang”, “Sore”, “Malam” dan diakhiri dengan “Pagi” lagi. Kusimpulkan judul itu pasti mengandung unsur waktu, karena memang cerita ini berkisah tentang “sulitnya” membagi waktu. Hehehehhee…. Terkekeh-kekeh aku membacanya…

dan jari terus bergerak membalik halaman. Si Kecil, Bayi, Taksi dan Minggu Dini Hari adalah cerita-cerita yang menggugah sekaligus mempertanyakan rasa kepedulian kepada orang lain, meski dalam komposisi yang berbeda.

dan aku tertawa bangeeeet saat membaca Aku: Laki-Laki. Ahahahahaha…. Ini seperti mengingatkanku pada masa di mana jatuh cinta adalah hal yang sangat menyenangkan, berinteraksi dengan pujaan adalah dambaan dan menyatakan cinta adalah super deg-degan! Ya, cerita ini bikin aku tersenyum-senyum sendiri saat mengingat masa lalu ketika udah berusaha keras membangun sikon untuk saat “penembakan” eeeeeh malah terinterupsi dengan hal yang “minor” yang menjadi “major”: doski ga dengar! Buahahahahahahahhahahaaaa….. Seru banget! Koq Mba Reda ngerti banget sih hal seperti ini? Pasti ada yang pernah curhat ke beliau deh… Hahahahahaha

Dunia Kami pun bercerita tentang dunia seorang remaja pria yang berusaha menentukan jatidiri-nya, bukan mencarinya, namun dengan segala ke-naif-annya malah terjerumus pada hal-hal yang tidak pernah diduga sebelumnya – padahal mungkin dia menginginkannya. Ingin menjadi hebat adalah keinginan banyak remaja pria dan akupun mengalaminya, sehingga tak ayal cerita ini bikin aku senyum-senyum lagi membayangkan kisah hidupku di jaman SMA dan betapa hal-hal yang terlihat “rusuh” dan “bandel” dirasa “perlu” untuk menjadi seorang laki-laki. Padahal maaah…. Hahahahahhaa… Persis banget nih, Mba Reda bisa merangkum hal ini dengan baik.

Maaf adalah cerita yang menurutku paling misterius! Ya, agak sedikit horor karena sampai dengan saat ini aku masih belum bisa mengerti siapa yang dijadikan tokoh di dalam cerita itu. Yang pasti cerita ini ditutup dengan kesedihan dan aku bisa merasakannya dengan sangat jelas. Namun, siapakah dia itu, Mba Reda???? Siapaaaaa?????

Cik Giok adalah cerita dengan ending paling “mencengangkan”… Mba Reda berhasil membangun rasa penasaran dan aku sempat “kesal” karena banyaknya “rahasia” dan ekspresi-ekspresi yang muncul namun aku tidak bisa menebak apa penyebabnya. Yang aku tebak pun salah semua. Ya, aku ga pernah menyangka bahwa dengan bahasa yang sangat sederhana dan ringan Mba Reda bisa menjaga rahasia itu sampai pada saat aku sudah tidak bisa menahan diri untuk secepatnya mau tahu apa yang dirahasiakan – kalimat terakhir memberikan jawaban yang sangat jelas…. Hebaaaaat!!!!

Buku ini ditutup dengan cerpen Pada Suatu Pagi. Kisah yang bagiku cukup tragis, saat cinta dan sayang hanya sebatas kata – bukan tindakan, saat waktu yang ada tidak digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencinta dan menyayangi, maka ketika waktu itu usai tidak ada kata sesal yang mampu memutar balik waktu. Cerpen ini sungguh menggetarkan hati sekaligus menjadi pengingatku bahwa selama masih dikasih waktu maka cinta dan sayang itu harus dipraktekkan, bukan sekedar kata yang terucap. Basi.

Maka berakhirlah buku ini dan barulah kemudian kubaca kata pengantar yang tertulis dan meng-amin-kan semuanya! Yang aku salut dari Mba Reda adalah, cerpen-cerpen ini sebelumnya telah dimuat di beberapa majalah dan tabloid, di antaranya: Nova, Femina, Good Housekeeping, Spice, Kompas dan Hai yang dalam sepengetahuanku sih memiliki genre yang berbeda. Bagiku, cerpen-cerpen itu sangat sesuai dengan genre medianya, salah satu contohnya adalah Mba Reda bisa menjelma menjadi remaja pria dalam cerpen untuk majalah Hai dan memang sangat sesuai dengan waktu terjadinya – saat tawuran sering terjadi dan yang menyebabkan hanyalah hal-hal yang – sesungguhnya sepele.

Yang aku suka juga adalah sampul-nya. Sebagai buku terbitan Stiletto Book yang memang mengkhususkan diri pada buku perempuan, aku suka dengan warna merah muda samar-samar yang menjadi latar sampul dan dengan warna-warni meriah yang berasal dari butiran benda berbentuk biji – entah butiran cokelat macam M&M’s atau batu koral yang diwarnai – aku tidak tahu. Aku menganggapnya sebagai butiran cokelat warna warni, karena menurutku (kebanyakan) wanita suka dengan cokelat dan cokelat bisa menjadi hadiah yang sangat menyenangkan untuk diberikan oleh seorang pria kepada wanita. Cokelat pun bisa menggambarkan keseharian, kita mencomotnya dari dalam kotak dan menikmatinya begitu saja tanpa tau apa rasa yang terkandung di dalamnya – karena semuanya tertutup oleh cokelat – yang kita suka. Kaya kalimatnya si Forrest Gump gitu deh… entah bener ato engga… Yang pasti aku suka dengan gambar di sampulnya. Kuat banget!

Demikian beberapa hal yang kudapat dari buku kumpulan cerpen “Tentang Kita”. Kutegaskan sekali lagi bahwa ini bukanlah resensi, sama sekali bukan, sekedar berbagi pengalaman atas apa yang kudapat saat membaca dan apa yang membuatku terhanyut. Bagiku, buku ini cocok untuk dibaca oleh siapa saja, bahkan oleh seorang yang tidak suka membaca pun aku yakin buku ini bisa menjadi satu hal yang akan mengubah kebiasaannya kelak. Buku sederhana ini memiliki kisah (dan konflik-konflik) keseharian yang kuat untuk membuat kita (sedikit) merenung, mengevaluasi diri dan kemudian menertawakan banyak hal yang sudah terlewati namun juga bersiap-siap untuk menghadapi masa depan jika tidak ingin mengalami keseharian yang tragis. Beneran deh, itu yang aku dapatkan. Aku sih percaya, pelajaran bisa didapat di mana saja dan melalui apa saja, dan buku “sederhana” ini menjadi salah satu contoh konkritnya.

Buat kalian yang sudi membaca tulisanku (yang kayaknya panjang ini) aku ucapkan terima kasih namun maaf aku tidak menuliskan banyak isi dari cerpen-cerpen itu, karena kalo kalian mau tahu lebih banyak ya mendingan beli dan baca langsung aja ceritanya, beneran bagus-bagus koq!

Untuk Mba Reda, terima kasih atas buku yang bagus ini. Mohon maaf jika aku begitu sok tahu dalam menuliskan pengalaman membacaku ini (sampai sok-sok-an ngebahas hampir semua isinya). Kunantikan karya-karya menyenangkan – yang adalah ciri khasmu – selanjutnya. All the best!

reda3
yes, Mba Reda…. I LOVE THIS BOOK SO MUCH!
Advertisements

3 thoughts on “Tentang Buku: Tentang Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s