Kebiasaan dan Keselamatan

Musik memiliki daya magis yang mampu merasuk ke dalam benak dan punya kemampuan untuk mempengaruhi suasana hati. Bagiku, musik memang tak bisa lepas dari kehidupan. Memiliki seorang Ayah yang master gitar dan Ibu yang aktif dalam kegiatan paduan suara, membuatku terlihat memiliki bakat menyanyi sejak usia 2 tahun. Ya, pada usia segitu aku disinyalir sudah bisa menyanyikan lagu “Kidung” dengan cukup baik meski cadel, dan pada usia 4 tahun aku sudah cukup aktif dbergabung dengan paduan suara gereja. Sejak kecil aku dipengaruhi dengan The Beatles, Earth Wind and Fire, Bee Gees, Cool & The Gank, Led Zepelin, Deep Purple, Rolling Stones, Chicago, Sergio Mendez dan masih banyak lainnya. Tak sadar, semua itu terekam dalam benakku sehingga aku menjadi sangat akrab dengan melodi, notasi dan berbagai macam bunyi-bunyian. Ditambah lagi saat remaja aku mulai main band dan kesetiaanku ikut dalam paduan suara menyampaikanku pada tingkat pelatih. Bagiku, menjadi pelatih paduan suara adalah suatu pencapaian tertinggi dalam kehidupan yang selalu diisi dengan musik. Mudah bagiku untuk mencerna musik namun sulit untuk bisa menyampaikan keindahan yang kudengar itu kepada orang lain, salah satunya adalah lewat paduan suara. Musik adalah hidupku.

Jika aku bilang musik adalah hidup, maka tak mampu rasanya terpisah dengan musik. Seringkali aku ketiduran dengan musik yang masih terus terpasang. Beberapa kali earphone rusak karena tergencet saat tidur, putus kabelnya… Dulu kala masih sekolah dan kuliah pun aku selalu sambil dengar lagu bahkan pada saat harus berkonsentrasi penuh ketika mengerjakan tugas. Makan, olah raga, dan masih banyak lagi kegiatan yang kulakukan sambi mendengar lagu. Bahkan saat “nongkrong di toilet” pun aku sambil mendengar lagu. Itulah saat mendengar lagu yang paling asoy, karena saat itu aku jadi semakin konsen saat mendengar chord, melodi dan ritme lainnya. Kenikmatannya setingkat di bawah nikmatnya mendengar lagu sambil minum kopi pahit hangat.

Kebiasaan mendengar musik sambil mengerjakan hal lainnya – dan sebaliknya, membuatku tumbuh menjadi orang yang – merasa – berkemampuan multitasking. Konsentrasiku tidak akan terganggu saat bekerja, bahkan ketika harus melakukan perhitungan-perhitungan yang rumit sekalipun. Bahkan sering kali aku melakukan perhitungan yang rumit sambil mendengarkan musik cadas, bukan sekedar rock namun metal, dan metalnya pun bukan heavy metal tapi lebih ke technical death metal, hardcore, mathcore, thrashmetal dan lain sebagainya. Ah, jangan kau sebut aku anak metal ya, aku cuma orang yang suka dengan skill tingkat tinggi meskipun aku ga punya skill yang tinggi hehhehehee. Aku juga suka banget dengan musik pop, hip-hop, jazz, blues, r&b, gospel dan masih banyak lagi. Bahkan keroncong pun aku suka. Kalian akan kaget kalau ngeliat isi playlist harianku. Tak kurang dari Deftones, Siksakubur, Stone Temple Pilots, Dillinger Escape Plan, Silverchair, Smashing Pumpkins, Barasuara bercampur dengan Kahitna, The Groove, Penny Dai, Ella Fitzgerald, Jobim, Danilla, dan lain sebagainya. Satu teman pernah menyebutku “absurd” setelah melihat kumpulan laguku… Hehehehheehhee…

Kebiasaan mendengar musik dalam setiap keadaan kuanggap sebagai latihanku untuk bisa membagi fokus. Aku sama sekali tak takut saat mengendarai motor, ngebut di jalan yang ramai, ngepot-ngepotan sambil mendengarkan lagu cadas. Bahkan aku punya beberapa lagu yang kujadikan soundtrack kebut-kebutan. Lagu yang memang memacu adrenalin dan makin memfokuskan pikiranku untuk bisa mencari celah yang efektif TANPA HARUS MEMBAHAYAKAN PENGENDARA LAINNYA. Ya, harus kutulis dengan huruf besar karena aku ngerasa bahwa banyak sekali orang yang cara ngebutnya norak, ngepot sana-sini sekedar nunjukkin “keahliannya” tapi ngasih resiko celaka yang besar ke pengendara lain. Itu norak. Dan bego. Seandainya kalian mengenal aku barulah kalian mengerti apa dan bagaimana itu ngebut dan tetap ngepot tanpa harus membahayakan orang lain. Beberapa teman yang pernah kubonceng pun meng-amin-kan hal itu. Hehehehehe..

Namun sekarang ini, kebiasaan mendengarkan lagu sambil mengendarai motor (riding) telah hampir setahun kutinggalkan. Bahkan kulupakan. Bukan, bukan karena ada kejadian yang menimpaku sehingga membuat aku trauma – Puji Tuhan, sampai saat ini aku masih aman dan sehat walafiat, namun semata-mata karena timbul kesadaran yang lebih tinggi mengenai keselamatan diri sendiri dan orang lain. Aku bekerja di perusahaan tambang asing yang menjadikan keselamatan kerja sebagai ukuran kinerja yang paling utama di atas segalanya. Kami memiliki jadwal stand-up safety meeting setiap hari Jumat, dan kami membahas bermacam hal sehubungan dengan keamanan dan keselamatan. Tidak terbatas dalam lingkup kerja saja, namun juga kehidupan sehari-hari. Hal itu dimaksudkan untuk membangun health and safety awareness  yang lebih tinggi. Bahkan pada setiap meeting pun kami akan memulainya dengan safety share. Dulu aku merasa kegiatan itu sangat “aneh”, menganggap mereka berlebihan aja dalam menilai keadaan. Namun jika sekarang dikembalikan ke diriku sendiri, emangnya aku punya nyawa cadangan? Sekali mati ya udah kan? Emangnya kalo ada suatu kecelakaan yang menimpaku dan mengakibatkan cacat permanen mampukah aku putar ulang sang waktu supaya bisa melakukan tindakan pencegahan? Ga bisa kan? Sekali cacat ya udah akan seterusnya aku menderita… Tidak ada kesempatan kedua.

12 tahun sudah aku bekerja di perusahaan ini dan perlahan mereka berhasil membangun safety awareness  dalam diriku. Sekarang segala sesuatu akan kupantau dahulu apakah ada dan bagaimana tingkat resiko bawaannya. Satu contoh sederhana: aku tidak akan chatting/texting sambil berjalan kaki. Jika memang harus menjawab chat/sms, aku akan menepi baru kemudian lanjut mengetik. Karena ketika mengetik sambil tetap berjalan kaki, kita cenderung tak memperhatikan keadaan sekitar, karena kepala asik menunduk sehingga tidak peka akan apa yang datang mendekati atau ada di sekitar kita. Bahaya sekali, kawan! Hal sederhana namun efeknya besar, bukan?

Rasanya kita semua sepakat bahwa kondisi lalu-lintas di Jabodetabek sudah terlalu “semrawut”, ditambah lagi dengan kemacetan yang menjadi-jadi dan mental pengendara yang tidak sabaran. Semua hal tersebut berkumpul untuk membentuk satu kata: STRESS. Yup. Bohong deh kalo kalian (yang hidup di Jabodetabek) ga merasa tekanan batin, bahkan juga mereka yang setiap hari menggunakan jasa pengemudi bayaran (baca: supir), bohong dah kalo kalian ga marah-marah saat terjebak macet dan kemudian ada pengendara lain yang ga sabaran lalu main potong jalur seenaknya (apalagi sekarang sedang trend balik arah lawan arus, sungguh kampret!). Aku pikir dengan adanya musik yang mengalun bisa membuatku lebih santai, apalagi kalo denger lagu-lagunya Danilla, sang biduanita cantik rupawan bersuara merdu yang mendayu-dayu merayu… Jadi memang tadinya musik itu adalah sebagai penekan level stress. Eh ternyata engga juga sih, aku tetep aja ngerasa kesal dengan kelakuan orang-orang yang sembrono. Ditambah lagi pas playlist tiba di urutan lagu yang cadas, sadar ga sadar adrenalin meningkat dan emosi lebih cepat terpancing. Atau pada saat playlist tiba di lagu pop galau mengiris nadi… jadi kepikiran mantan… terus bawaannya jadi kesal… terus ngeliat semua pengendara seakan berwajah bagai mantan… lalu aku merasa sendiri di dunia… lalu aku merana… motor jalan dengan begitu pelan… tiba di kantor terlambat dua jam dengan wajah bermuram durja… Macam mana… Jadi, aku merasa bahwa sesungguhnya mendengar lagu dengan menggunakan earphone saat riding bukanlah solusi yang tepat bagiku. Jadi aku akan menghadapi stress dong. Iya. Aku ga takut. Kan setiap pagi sebelum berangkat sudah berdoa dulu. Nah, bawalah dalam doa semua rasa kuatir, niscaya akan lebih tenang deh… (ini bukan sok alim yaaaa).

Demi hal itu juga – seperti yang telah kusebut tadi – sekarang aku tidak pernah mendengarkan lagu saat riding. Bukan karena kehilangan kepercayaan diri karena aku yakin masih mampu membagi fokus antara riding dengan mendengar lagu sambil bersenandung atau bersiul mengikutinya, namun hanya ingin lebih menjaga diri saja. Pasti kalian tahu kan betapa ngaco-nya rider di sini? Mereka yang mengejar waktu yang penting cepat sampai tujuan tanpa peduli orang lain aman atau tidak, mereka yang merasa semacam pemain sirkus sehingga mau nyelip-nyelip dan kadang menyodok antrian yang sudah terjalin dengan rapih dan hanya tersisa sedikit celah, dan masih banyak lagi yang lainnya – adalah mereka yang harus diwaspadai! Mereka adalah bahaya laten! Setertib apapun berkendara namun kerap kita mendengar bahwa kecelakaan terjadi akibat pengendara lain yang ngaco, dan – sialnya – yang tertib malah biasanya lebih parah kondisinya… Damn… Maka dari itu maka aku berkeputusan untuk menyatukan konsentrasi demi meminimalisir resiko. Emang sih, yang namanya “nasib” ga bisa dihalangi ya, wong orang lagi tidur aja bisa tiba-tiba meninggal karena atap rumahnya runtuh akibat hujan deras dan kemudian menimpa dia yang lagi tidur enak sambil mimpi dipeluk artis cantik… kurang tertib apa cobak… tetep aja mokat… Hehehehehehehe… Bagiku sendiri, bukan masalah “nasib”nya yang penting mah aku udah berusaha untuk tertib, bahkan saat ngebut pun harus tetap tertib. Jika seandainya “nasib” jelek itu harus menyapaku dan misalnya aku kecelakaan – setidaknya orang tak akan mengungkit kesalahan yang lain karena menemukan kabel earphone yang masih menggantung. Setidaknya mereka tidak mengira aku terdistraksi oleh hal lainnya. Gitu lhoooow… Hehehehehehe…

Maka aku bersyukur karena dipilih menjadi salah satu safety leader di tempatku bekerja. Aku bersyukur atas banyaknya pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam mengenai keamanan dan keselamatan kerja. Keamanan dan keselamatan kerja tak bisa dicapai jika tidak menjadikannya sebagai habit / kebiasaan dalam hidup sehari-hari. Hidup adalah anugerah, aku ingin bersyukur kepada Tuhan dengan cara lebih bertanggungjawab dalam memelihara dan menjaga hidupku ini.

Stay safe, people!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s