Puskesmas Jatibening

Pagi ini sejarah kembali menorehkan pena-nya di dalam lembaran hidup seorang Bigbangjoe.

Didera rasa nyeri yang ternyata masih terus menyiksa perut sedari kemarin namun enggan jika harus periksa ke dokter umum yang buka praktek di daerah galaxi – sekitar 3km dari rumah – selain kuatir ga sanggup untuk menahan desakan rasa mulas saat di tengah perjalanan, maka kuputuskan untuk mengunjungi puskesmas yang berada tidak jauh dari rumah. Hanya berjarak sekitar 100m saja namun sungguh, meski sudah hidup selama lebih dari 20 tahun di pondok cikunir indah (nama perumahan yang kutempati) baru kali ini aku akan menggunakan fasilitasnya. Aku enggan ke puskesmas karena selalu ramai dan tidak tertib, juga telihat dekil dan tidak bersih. Itu yang selalu ada di dalam pikiranku. Terakhir kali aku melihat puskesmas itu sekitar 2 tahun yang lalu, sebentuk bangunan satu lantai dengan dominasi warna hijau muda pada dindingnya dan coklat tua atau hitam pada bagian atapnya, belum lagi banyak rumput liar yang kurang sigap untuk segera dibersihkan dari halaman membuatnya terlihat “suram” dan dekil. Ah, sayangnya aku tak punya foto kondisi jaman itu, seandainya saja ada pasti kulampirkan dalam tulisan ini supaya tidak dituduh lebay….

Ide ini mencuat setelah kemarin malam aku bicara ke orang tua. Papa menganjurkanku untuk ke puskesmas. Katanya puskesmas yang sekarang ini sudah berubah, bersih dan memadai banget lah untuk periksa penyakit-penyakit yang tidak terlalu berat. Tetap ada rasa enggan yang muncul karena emang pada dasarnya aku malas sekali berurusan dengan dokter. Tapi pagi ini kondisi memaksaku untuk memeriksakan diri, tidak bisa berlama-lama membiarkan nyeri ini mengganggu tanggungjawabku di pekerjaan juga kesibukanku melatih paduan suara yang semakin dekat dengan waktu konser dan pertandingan. Aku harus segera pulih!

Berdasarkan petuah papa yang sudah beberapa kali menikmati fasilitas puskesmas, pukul 6:45 aku berjalan kaki ke sana untuk mengambil nomor antrian. Dengan berbagai gambaran ribet juga dekil yang masih terus bersliweran di kepala tibalah aku di depan puskesmas…. dan aku terhenyak…. yang terlihat di hadapanku adalah sebuah bangunan dua tingkat yang terlihat kokoh, dengan cat berwarna krem muda (aaah, aku selalu sulit untuk mendeskripsikan warna) dan terlihat bersih! Pada halamannya pun tidak ada lagi rumput liar yang tumbuh tinggi seperti yang kulihat dua tahun yang lalu. Tak percaya dengan pemandangan ini, aku segera mencari papan nama gedung tersebut. Tertera dengan jelas tulisan Puskesmas Jatibening. Sesungguhnya tak perlu aku mencari papan nama itu karena identitas yang tertulis dengan huruf jauh lebih besar terpampang dengan jelas di salah satu bagian dinding yang menghadap ke jalanan. Itulah bukti bahwa terkadang kekhawatiran mampu mengelabui diri atas fakta yang terjadi. Aku sempat terdiam dan berkata pada diri sendiri, betapa aku jarang sekali menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar rumah sehingga tidak menyadari segala perubahan dan pembangunan yang terjadi. Ya abisnya gimana, keperluanku ke luar rumah kan hanya untuk ke kantor dan bergaul dengan teman dan kerabat. Ke luar pagar rumah aku harus selalu belok ke kanan untuk ke luar area perumahan. Mau ke mini market, ke tukang cukur, beli nasi goreng, sate padang, seblak, martabak, semua harus ku tempuh dengan belok kanan. Sementara untuk menuju puskesmas aku harus belok ke arah kiri, semakin masuk ke dalam perumahan. Lah, kalo aku emang ga ada keperluannya, untuk apa aku masuk ke dalam sana, iya kan? Jadi bukan salah aku dong kalo aku emang ga sadar dengan metamorfosa puskesmas itu… Yakaaaan???

puskesmas1

Maka aku melangkah masuk melewati pagarnya, menghampiri sebuah meja yang terdapat di sisi kiri persis di depan pintu masuk. Ah, di sinilah aku baru menemukan “ciri khas” puskesmas: ada dua tumpuk kertas kecil berwarna biru dan merah yang masing-masing tumpukannya tersemat pada “paku”. Itu adalah tumpukkan nomor antrian. Pada bagian bawah dari tumpukan kertas merah bertuliskan “gigi” yang artinya merujuk pada gigi, dan untuk tumpukan kertas biru bertuliskan “umum” yang artinya merujuk pada dokter umum. Dikarenakan nyeri di perut dan diare pastinya bukan urusan dokter gigi, maka aku mengambil nomor antrian pada tumpukkan kertas biru. Nomor 7 telah kupegang dan kemudian ku melangkah pulang karena jam pelayanan baru dimulai pada pukul 8. Setelah di luar pagar, ku sempatkan diri untuk mengambil foto sambil berpikir untuk nantinya membuat tulisan tentang perubahan ini.

Jam 8 aku kembali berjalan kaki menuju puskesmas. Setibanya di sana ku melihat sudah banyak orang yang duduk-duduk di halaman. Walah… aku sempat berpikir bahwa puskesmas ini tidak memiliki ruang tunggu yang memadai. Dengan menengok ke kiri dan kanan, aku melangkah masuk ke dalam gedung dan menemukan bahwa sesungguhnya masih banyak kursi kosong yang tersedia di dalam ruang tunggu, entah mengapa mereka lebih suka menanti di luar sana. Sambil duduk aku mengarahkan pandangan ke sekeliling puskesmas, ah sudah benar-benar hilang itu gambaran dekil yang selama ini teringat-ingat. Yang kulihat sekarang hanyalah ruangan berdinding cerah dan amat nyaman. Memang tidak ada AC di ruang tunggu namun hembusan angin sepoi-sepoi dari kipas yang tergantung di atas cukup untuk membangun suasana yang nyaman tanpa harus kepanasan, tapi ga tau deh ya kalau siang… Sambil kudengar para petugas pendaftaran memanggil nomor urut yang telah diambil sebelumnya, aku teringat bahwa aku tidak membawa kartu BPJS karena entah di mana aku menaruhnya, tak bisa kutemukan. Aku mengira-ngira apakah bisa aku berobat di puskesmas tanpa membawa kartu BPJS, namun aku bersedia koq membayar semua biayanya. Tiba-tiba aku mendengar petugas pendaftaran berkata seperti ini, “ iya Ibu, silahkan ambil nomor antrian dan tunggu di tempat yang tersedia. Yang tertib ya, jangan berdesak-desakkan sepert itu”. Hahahahaha barulah aku sadar mengapa banyak orang yang memilih untuk duduk-duduk di luar, karena rasanya – menurut mereka – itu adalah jarak terdekat untuk bisa menuju tempat pendaftaran. Mungkin kalo duduk lebih dekat dengan meja pendaftaran bisa jadi mereka dilayani lebih duluan. hahahahahahaa…

“Nomor 7, kartu biru. Ada nomor 7 kartu biru?”, demikian terdengar suara itu memanggilku. Bergegas ke petugas pendaftaran dan benar saja dia menanyakan kartu BPJS ku. Jujur saja kubilang hilang.. Lalu dia menanyakan apakah aku membawa kartu kesehatan, aku bingung, kartu kesehatan yang mana? Petugas akhirnya paham bahwa ini adalah kunjungan pertamaku. Maka dia meminta KTP ku untuk dibuatkan kartu kesehatan yang harus selalu aku bawa jika ingin berobat lagi. Hanya perlu menunggu sebentar, aku rasa 5 menit saja, kartu kesehatanku sudah selesai. Petugas memberikannya kepadaku sambil berkata, “Jangan lupa untuk selalu bawa kartu ini jika mau datang berobat ya Pak. Kartu ini bisa digunakan oleh seluruh anggota keluarga Bapak”. Keluarga? Hhhmmmmmm…… *ngebatin*

Setelah itu aku kembali duduk untuk kemudian dipanggil lagi oleh petugas lainnya. Tekanan darahku diukur sambil ditanyakan secara singkat keluhan yang kualami. Lalu aku diberikan sebuah buku yang nampaknya adalah buku rekam medik dan diarahkan untuk masuk ke dalam ruangan periksa. Di dalam ruangan sudah ada seorang dokter yang nampaknya sudah tidak muda dan sangat baik. Aku sempat berpikir kualitas dokter di puskesmas adalah “seadanya saja” karena “murah”. Namun yang kutemukan adalah seorang dokter yang baik tutur bicaranya, jelas omongannya dan juga mengingatkanku untuk menjaga kartu kesehatan yang sudah kupunya itu dan membawanya tiap kali berobat untuk mempermudah mereka dalam proses administrasi rekam medik. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan memberikan nasihat supaya aku tidak beli makanan yang di pinggiran jalan, dokter pun memberikan resep obat untuk kuambil di apotik yang berada di dalam puskesmas.

Berada di depan loket apotik, kuserahkan kertas resep pada apoteker yang ada di dalamnya. Ku melihat ada dua orang apoteker yang bertugas. Tak lama menunggu kudengar namaku dipanggil. Seorang apoteker kemudian memberikan obat-obatnya kepadaku dan aku minta diberikan keterangan yang jelas. Tak lupa juga aku menanyakan mana obat yang secara spesifik tadi dibilang oleh dokter untuk harus dihabiskan dan ada yang harus dihentikan jika sudah tidak mencret lagi. Nah, saat itulah sang apoteker agak kebingungan. Aku juga jadi bingung dong. Untungnya apoteker yang satu lagi langsung mengambil alih. Ah, ternyata apoteker yang kedua ini adalah senior. Aku rasa yang pertama tadi adalah apoteker magang, mungkin dari sekolah kesehatan, atau memang masih baru saja. Sang apoteker senior langsung mengumpulkan lagi obat-obatan yang sudah diberikan kepadaku untuk kembali didata. Dia mengajarkan kepada sang junior untuk menghitung kembali jumlah obat yang ditulis oleh dokter dan menyuruhnya untuk menuliskan keterangan dengan menggunakan spidol hitam. Hehehehehe… untung aje aku sempat nanya-nanya ya… Tak lama proses pemberian obat pun selesai. Obat sudah ditanganku. Namun tak ada kuitansi atau apapun yang mengaju pada bagian pembayaran.

“Setelah ini aku harus urus ke bagian apa lagi kah?”, tanyaku kepada sang Apoteker.

“Mmmmm, tidak ada Pak. Sudah selesai koq”, demikian jawabnya dengan wajah yang agak bingung namun senyum.

“Oh gitu ya. Terima kasih banyak ya”.

“Sama-sama, Pak. Cepat sembuh ya”.

Dan aku melangkah meninggalkan puskesmas menuju rumah.

Processed with Snapseed.
obat-obat gratis dari puskesmas
Selama perjalanan, aku bersyukur kepada Tuhan atas berkatNya. Hari gini masih ada yang GRATIS????? Luar biasa! Aku berpikir, memang, puskesmas pasti hanya memberikan obat-obat generik yang murah. Namun kan tetap saja ya, semurah-murahnya obat kalau carinya di apotik luar pasti harus beli ya, ga mungkin gratis. Nah ini aku dapatkan dengan gratis! Apapun judulnya, mau murahan keq, yang penting bisa jadi penyembuh sakitku. Wong sakitku juga cuma nyeri perut dan diare karena bakteri yang – aku duga – akibat jajan tahu krispi di pinggiran jalan. Biasanya sih ga apa-apa, tapi mungkin kali ini ketahanan tubuhku sedang turun karena sedang sibuk menyiapkan konser dan pertandingan, jadi memang kurang istirahat aja. Hehehehhehee…

Demikianlah pengalaman pertamaku menggunakan jasa Puskesmas Jatibening. Aku sungguh bersyukur karena pemerintah semakin berkomitmen untuk membangun dan terus membenahi fasilitas kesehatan masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan oleh sang dokter puskesmas pun tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh dokter praktek pribadi yang beberapa kali kukunjungi saat aku sakit. Untukku sendiri, aku tidak akan menganggap Puskesmas dengan “sebelah mata”, ini adalah bantuan dan fasilitas yang luar biasa membantu bagi masyarakat, malahan katanya sudah dilengkapi dengan ambulance juga! Luar biasa! Mari, kita doakan supaya hal baik seperti ini boleh terus terjadi dan merata di seluruh negeri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s