Tentang Buku : Dunia Simon

DS1Beberapa kali aku sadari bahwa hal yang baik bisa saja ditemukan dengan tidak disengaja. Saat itu seorang teman – yang mengetahui hobi membaca dan selera bacaanku – menganjurkan sebuah buku yang ditulis oleh temannya. Menurutnya aku pasti menyukai buku itu dan dia rela meminjamkannya kepadaku. Pada hari yang disepakati buku yang oleh temanku dilapisi plastik itu aku pinjam dan segera membacanya. Judulnya “Dunia Simon”, aku menyukai desain dan jenis kertas yang digunakan untuk menjadi sampul depan dan belakang buku itu. Sampul depan dan belakang memiliki desain yang sama, berwarna ungu muda (entahlah, aku selalu kesulitan dalam menentukan nama warna) namun dikelilingi dengan “bingkai putih”, ditambah dengan sebuah gambar di bagian tengah bawah tentang wanita sedang merokok dan asapnya membentuk siluet wajah pria, seperti melihat refleksi wanita di dalam cermin. Aku juga suka dengan jenis tulisan dan tata letaknya pada sampul yang menurutku terlihat elegan, malahan aku amat suka dengan tata letak dan jenis huruf yang digunakan mengukir nama Sang Penulis. Entahlah, sulit untuk mendeskripsikannya yang pasti aku ngeliatnya indah. Baru begini aja aku sudah suka dengan buku ini. Mulai membuka bagian dalamnya dan secepat itu pula aku semakin suka dengannya. Kertas yang digunakan (terasa berat dan elit), warnanya, jenis tulisan dan spasi antar barisnya menurutku sangatlah menawan, ditambah dengan ilustrasi yang menurutku membantu pembaca untuk semakin menghayati ceritanya. Ah, aku jatuh cinta pada buku ini bahkan sebelum membaca satupun ceritanya. Aku makin suka karena ada kartu pos yang senada dengan ilustrasi yang terdapat di dalam buku, yang disisipkan di sini untuk dijadikan pembatas buku. Elegan sekali! 

Kepuasan yang kuperoleh dengan hanya melihat segala kebaikan dari penampilan fisik tak urung membuatku berharap sangat banyak untuk juga mendapat kepuasan melalui ceritanya. Bersegeralah aku membuka cerita pertama berjudul “If An I Could Talk”. Cerita yang pendek ini membuatku mengatakan “damn!” berkali-kali. Dalam kesingkatannya aku menemukan tokoh cerita tenggelam dalam perenungan dan menarik tanganku untuk turut tenggelam dalam ungkapan isi hatinya yang bertabur pengandaian, sungguh puitis namun jauh dari istilah “menye’-menye’”, lebay bahkan cengeng, padahal aku yakin, ada ribuan tetes air mata yang siap tercurah dari mata tokoh di dalam cerita namun yang pada akhirnya memilih untuk tidak menangis… Ah, cerita pendek ini mencuri hatiku… Setengah cangkir double shot espresso tandas dengan sukses…

Lalu aku bergerak ke cerita kedua yang berjudul “Ketik”. Sesungguhnya cerita kedua ini benar-benar membuatku seperti bermain antara kenyataan dengan lamunan. Kenyataan pun dibatasi oleh daya imajinasi Sang Penulis yang menceritakan kesulitan si tokoh cerita saat mencari ide untuk menulis namun dalam pencariannya malah bergerak jauh ke dalam perenungan-perenungan kisah cintanya. Ah, aku dibuat kagum dengan ke-elegan-an Sang Penulis dalam memilah dan memilih kalimat sebagai ide bagi si tokoh yang kemudian dengan tanpa terasa membawaku ke dalam lamunan kisah cintanya. Begitu indah dan dalamnya kalimat yang dituturkan dalam lembar-lembar cerita ini hingga membuatku mengira-ngira, apakah ini adalah kisah nyata Sang Penulis? Entahlah. Tandaslah setengah bagian terakhir dari double shot espresso-ku dan secepat itu aku mengambil keputusan untuk menyudahi membaca dan mengembalikan buku ini ke temanku, kemudian membelinya langsung. Aku ingin memiliki buku indah ini. Buku yang bisa kubawa kemana-mana tanpa harus kuatir akan lecek atau terlipat-lipat karena terlalu sering aku bolak-balik dan diletakkan sembarangan di dalam tas yang kubawa kemana-mana. Lagian juga aku ga enak dengan temanku itu, dengan sampul buku yang diberi plastik pelindung saja menjadi tanda bahwa dia ingin bukunya tetap dalam kondisi yang rapih. Well, sebenarnya sih pas kukembalikan kepadanya pun sudah ada lipatan-lipatan kecil di ujung tiap lembarnya, ya karena aku suka taruh sembarangan saja di dalam tas.. Maaf ya, teman.. hehehheee… (Buku-buku ku sendiri tidak ada yang rapih, semua lecek dan kumal…)

Segera kutanyakan bagaimana caranya untuk memiliki buku ini karena tak pernah melihatnya terpampang di toko buku – toko buku dalam pusat perbelanjaan. Temanku yang akhirnya membantu memesan langsung kepada Sang Penulis, Mbak Wihambuko Tiaswening Maharsi, dan tak lupa kutitipkan pesan sekiranya Sang Penulis (selanjutnya kusebut dengan Mbak Tias aja ya…) sudi untuk membubuhkan tanda tangannya pada buku itu. Transfer rupiah dilakukan dan seminggu kemudian – kalo ga salah – aku menerima Dunia Simon milikku sendiri! Ditandatangani pulak! Yeaaay!

DS3

Hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan cerita-cerita pendek namun memberi banyak makna. Bukan, bukan karena aku mengalami semua kejadian yang dialami oleh para tokoh cerita, namun lebih karena terhanyut oleh tutur kata dan kalimat yang dibangun oleh Mbak Tias, membuatku merasa seakan-akan aku adalah tokoh utama di setiap ceritanya – untung saja semua tokoh utamanya adalah perempuan, kalau tidak aku pasti semakin terikat batinnya. Halaman demi halaman tandas dengan senyum terukir di wajah. Halaman demi halaman memberiku pengalaman untuk lebih memahami cara pandang seorang wanita yang katanya memang lebih kompleks daripada pria. Itu menurut pendapatku lhow yaaaaa, kamu setuju atau tidak ya itu mah terserah aja. Hehehehehee…

Aku ga akan menceritakan pengalaman membaca semua ceritanya, tapi akan ambil beberapa judul (selain dua yang telah kuceritakan duluan di atas) yang memang (menurutku) sangat kuat. Sekarang giliran “Rokok”. Well, cerita ini tentu tidak membuatku ingin menghisap rokok, karena aku memang tidak suka rokok hehehehehehe.. Yang aku suka adalah bagaimana Mbak Tias menggambarkan rokok sebagai wadah perenungan, membuat sang tokoh cerita berada dalam pelarian dan berangkat dari rokok pula bisa timbul kejujuran. Tersenyum-senyum aku membacanya sampai pada bagian akhir cerita ada “twist” yang membuatku mengucapkan amin atas keberhasilan Mba Tias dalam menggambarkan rokok sebagai pengalih perhatian. Cinta itu seperti sebatang rokok, demikian sabda Sang Penulis…. Kuberikan standing applause yang panjang saat tiba pada titik terakhir cerita ini. Luar biasa!

“Busur” adalah cerita yang lebih pendek dari yang sebelumnya… Apa yang dapat aku katakan ya buat cerita ini… mmmmm… Cinta yang dipandang dengan sinis namun dituturkan dengan bahasa yang manis… Ah, menurutku Mba Tias ini sedang berpuisi namun diterjemahkannya dalam bentuk obrolan antara hati dan pikiran si tokoh sendiri. Singkat. Padat. Sinis. Aku meringis. Tepuk tangan tak habis-habis! Aku tidak akan mengutip puisi yang terkandung di dalamnya… Bacalah sendiri, aku yakin kalian akan menemukan hal yang lebih dalam lagi. Aku tertarik dengan pemilihan Busur sebagai judulnya. Kenapa harus busur ya? Jika busur yang dimaksud adalah alat untuk melontarkan panah, maka aku menemukan maknanya pada kalimat terakhir di cerita ini… Damn!

Ah, tak benar rasanya jika aku tak berbagi pengalaman dengan cerita “Dunia Simon” itu sendiri. Cerita yang secara khusus ditentukan untuk menjadi nama kumpulan cerpen ini. Aku yakin pasti ada maksud tertentu atas penobatan judul ini. Mengapa Dunia Simon? Mungkin Mba Tias mendapat ide saat mendengar lagu Ordinary World milik Duran-Duran. Lalu kenapa? Ya kan nama lead vocal-nya Simon Le Bon. Hehehehhehee… Nah sebenarnya lirik lagu itu memuat beberapa kalimat klise yang disetujui juga tidak disetujui oleh tokoh cerita. Tokoh cerita menyetujui kata yang sejalan dengan perasaannya dan tidak menyetujui yang tidak sejalan, bahkan Simon pun nampaknya musti belajar banyak dari pengalaman si tokoh cerita. Sebenarnya sih ceritanya seperti pada umumnya: perselingkuhan yang klise, namun aku suka dengan cara Mba Tias mempermainkan tokoh sekunder dan membuatnya tak berdaya untuk mengikuti kemauan tokoh primer. Dalam cerita yang “klise” ini Mbak Tias nampaknya sengaja menggunakan kata dan kalimat yang biasa juga, lebih apa adanya saja, tidak sepuitis beberapa cerita yang sebelumnya. Aku rasa malah bener banget seperti itu, kan temanya Ordinary World… hehehehhee… Dan setelah membaca cerita ini, maka aku mengira-ngira bahwa kejadian di dalam Dunia Simon-lah yang bisa dijadikan tonggak awal keseluruhan cerita di dalam buku ini. Cerita Dunia Simon sesungguhnya memberikan rasa sakit yang bisa saja menjadi penyebab semua tokoh utama dalam buku ini (atau jangan-jangan sebenarnya hanya satu tokoh utama untuk keseluruhan cerita?) merenungkan “nasib”nya… Itu kalo menurutku lhow yaaaaaaa……

Akhirnya, aku sangat menyukai buku ini. Aku kagum dengan kepiawaian Mba Tias dalam menggambarkan sesuatu yang mengawang-awang. Pernah aku tanyakan kepadanya via DM di twitter, apakah dia belajar filsafat juga sehingga bisa punya perenungan yang semacam itu… Menurutnya tidak. Mbak Tias “hanya” suka merenung tapi ya menurut aku sih perenungannya daleeeem banget, makanya bisa bikin buku yang semuram (setahuku Mbak Tias penggemar Haruki Murakami) dan sepuitis (yang setauku juga menggemari Joko Pinurbo) ini. Buku ini memberikanku kepuasan lewat isi cerita yang menyenangkan dalam muram, dipresentasikan dengan amat baik oleh tampilan fisiknya dan dalam kalimat yang terukir pada sampul belakangnya, bacalah sendiri:

DS2

Demikianlah sekedar berbagi pengalaman membacaku kali ini. Sekali lagi ini bukan resensi ya, jaaaauuuuhhh banget kemampuanku untuk melakukannya. Lagian juga siapa aku berani-beraninya melakukan resensi (bahkan sekedar review), ini hanya sekedar caraku untuk mengapresiasi karya tulis yang menyenangkan hatiku. Kalo ada yang bingung baca tulisanku ini ya ga apa-apa, wong aku aja suka bingung baca tulisan sendiri… hihihihihi…

Terima kasih buat Dunia Simon ini, Mbak Tias. Kunantikan karya-karya ajaibmu selanjutnya! Sukses selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s