Tentang Buku: Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah

WanitaMuda

Sejak kali pertama melihat buku ini di Gramedia, aku langsung tertarik untuk mengambilnya karena ke-nyeleneh-annya. Dengan sampul berwarna merah muda (atau entah apa namanya) dan dengan gambar seperti boneka kayu berjenis wanita dengan rambut seperti keriting atau ikal namun tak beraturan, wajah yang jauh dari elok dengan kemenoran yang jauh dari semestinya dengan gigi yang tanggal satu, mengenakan gaun dengan motif yang menurutku agak tua. Di pundaknya menggantung tas berwarna putih tak seiring sejalan dengan gaun, sepatu “teplek” berwarna merah yang sama sekali tidak modis dan sebatang rokok terselip di antara jari tangan kanannya. Ketika kuperhatikan wujud itu, tak urung kumenduganya sebagai patung kayu dengan kebimbangan jenis kelamin, karena kuperhatikan wajahnya – sesungguhnya – adalah pria namun dengan polesan bedak dan lipstik yang tak mengindahkan kaidah estetika. Lalu aku membaca judul “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah”. Demi Zeus, tidak ada sedikitpun pikiranku membayangkan sosok wanita yang masih muda dengan tubuh indah dan dandanan seirama dengan keaduhaiannya. Mulai dari sampulnya aku sudah mengernyitkan dahi, apakah maksud dari Bapak Hamsad Rangkuti sebagai penulisnya? Ini pasti ada apa-apanya! 

Lalu aku melihat tulisan di bawahnya “Kata Pengantar oleh Sapardi Djoko Damono” dan Epilog oleh Seno Gumira Ajidarma”, edan, ini pasti bukan buku main-main… Ini pasti SESUATU (rasanya aku menggunakan kata yang “kupinjam” dari “selebriti lebay” dengan tepat). Gila aja, dua nama besar di bidang sastra berkumpul menjadi satu. Makin gila lagi saat kubaca tulisan-tulisan di sampul belakang, selain Pak Sapardi dan Pak Seno memberikan beberapa kalimat pujian, ditambah dengan kata-kata dari F. Rahardi sang penyair juga Efix Mulyadi sang wartawan kebudayaan. Ini pasti buku edan! Aku terpikat, namun tanpa daya kutaruh buku itu kembali pada rak karena aku telah melewati jatah belanja.

Tiga minggu kemudian aku bertandang ke POST dan menemukan buku ajaib ini pada rak-nya. Menurutku, buku yang dijual di POST pastilah bermutu karena mereka memiliki kurator yang emang kompeten (menurutku yaaaaaa). Kali ini tanpa ragu, Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah menjadi buku kedua yang kupegang dan segera kutebus, tak sabar untuk menikmatinya! Buku ini adalah kumpulan beberapa cerpen, yang entah mengapa gambar nyeleneh seperti itu yang menjadi pilihan untuk ditampilkan pada sampulnya – sebagai wakil dari semua cerita yang tercantum di dalamnya. Semoga kutemukan jawabannya saat menuntaskannya. Oh iya, karena aku bukanlah seorang yang memiliki cukup pengetahuan tentang sastra atau tulisan, maka bukanlah review yang kutulis, sekedar berbagi apa yang sudah kudapat dari buku ini, yang secara keseluruhan aku beri predikat BAGUS BANGET!

Buku ini dibagi menjadi dua Belahan. Aku tidak mengerti mengapa disebut Belahan dan tidak mau terlalu pusing akan hal itu sehingga langsung saja kusantap cerita pertama dan kedua dari belahan pertamanya, yang kemudian memaksaku untuk mencari tahu tentang Pak Hamsad ini – kutemukan info mengenai beliau yang ternyata lahir pada tahun 1943 di Sumatera Utara. Aaaaaaahhhh pantes ajaaaaa… Kutemukan kata dan kalimat yang nampaknya jarang kutemukan di buku-buku penulis yang lebih muda, juga kutemukan “dialek” dan “logat” yang khas di dalamnya. Jangan tanya bagaimana bisa kumenyimpulkan itu karena aku tak mampu menjelaskan hanya bisa merasakan. Semakin tertarik aku membaca semua cerita dalam buku ini. Semangatku berkobar! Kubutuhkan waktu 3 hari yang tidak full 36 jam untuk menuntaskannya. DAN AKU KENYANG!

Aku kenyang dengan suguhan cerita yang amat detail dan dengan gaya yang agak oldskool yang ternyata mampu membuatku tenggelam semakin dalam pada setiap ceritanya. Kutemukan kalimat-kalimat berulang yang semakin menguatkan pemahamanku tentang alur dan jalan cerita. Sungguh, buku ini tidak membuatku merasa seperti membaca, namun bagai mendengar Pak Hamsad mendongeng! Menurutku, bisa mendongeng adaah hal yang sangat istimewa karena harus mampu menyampaikan semua tokoh dan situasi dengan begitu detail supaya pendengar bisa mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan yang diinginkannya. Itulah hebatnya Pak Hamsad dalam buku ini, beliau mendongeng tanpa suara, lewat cerita yang diketik!

Kurasakan buku ini adalah satire, khususnya kemiskinan. Ketika Pak Hamsad mendongeng tentang kemarahan orang miskin yang “tertipu”, kenekatan mereka demi memenuhi kebutuhan hidup, keserbasalahan mereka saat mencoba berargumen, kekuatiran yang melebihi keyakinan, ketakutan bahkan pada saat ada keberuntungan yang menyapa, dan tak mampunya mereka memilih selain menyerah pada kemauan yang punya harta (dan takhta) jika mereka juga mau merasakan harta (dan takhta). Itu semua kutemukan dalam belahan pertama. Secara khusus aku memuji cerita “Kalah”, hampir menangis aku dibuatnya saat menghayati peran menjadi orang miskin yang harus berpura-pura bahwa semua baik-baik saja supaya teman yang sedikit lebih beruntung sudi membawaku pulang ke kampung agar tidak dianggap membawa kesialan. Pak Hamsad jenius karena berhasil menjebakku dalam ruang petak dengan segala keredupan dan kesumpekannya. Aku bahkan bisa menghayati bau jaket yang tergantung di dindingnya…. Jaket yang kemudian digunakan untuk menipu teman supaya dia tidak tahu bahwa sang adik sudah meninggal, demi bisa pulang ke kampung halaman. Ah, ini begitu gila… Di cerita lainnya aku merasa tersilet dan diberi garam pada luka saat Pak Hamsad mendongeng bahwa lebih baik seorang terduga maling yang telah menjadi mayat digergaji jarinya supaya uang kertas sepuluh ribu rupiah yang masih terjepit di sana bisa diambil sebagai barang bukti kejahatan tanpa harus merobeknya – apalagi jika ternyata orang itu bukan melakukan kejahatan… Bisa kau bayangkan, kawan? Dan masih banyak kemirisan lain yang aku yakin sanggup membuatmu – paling tidak – berdebar kencang jantungnya… Ketika membaca buku (bagus) seringkali kucoba untuk mengevaluasi diri, seperti yang kulakukan setelah selesai membaca belahan pertama ini. Aku sebagai orang miskin dan aku sebagai orang yang melihat kemiskinan. Apakah aku adalah orang yang kalah? Apakah aku yang membuat orang lain kalah? Evaluasi yang tak akan selesai meski kubaca buku ini 200 kali khatam. Pertanyaan yang harus kuulang-tanya pada diriku sendiri berkali-kali, hari demi hari.

Beranjak pada Belahan Kedua. Ternyata di sini lah kutemukan cerita “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah”. Seperti yang pernah kuduga awalnya bahwa ini adalah tentang seorang wanita muda yang menjual diri di hotel. Jika kita pikir bahkan harap cerita ini ada nuansa “erotis”nya, akan kecewalah kita. Tidak sesimpel itu – tentunya – kawan, (dan aku sangat bahagia karena tidak ada hal-hal seperti itu di dalam cerita ini). Kurasa Pak Hamsad memainkan emosiku melalui emosi tiap tokoh khususnya saat melakukan tawar menawar tentang harga tertinggi, pada satu saat disebutkannyalah harga, namun pada akhirnya tidak kita ketahuilah berapa harga tertinggi yang sepantasnya sebagai pengganti harga diri yang dijual. Sudah pasti aku jadi penasaran karena sejak awal sudah bolak balik membicarakan satuan harga eeeeh terakhirnya malah tidak ketahuan. Harga diri memang seharusnya tidak bisa ditakar… Cerita ini ditutup dengan pertanyaan: “masih adakah orang yang tidak menjual dirinya, anakku?”, dan supir taksi melarikan mobilnya kencang sekali…

Belahan Kedua berisikan cerita-cerita istimewa, seperti Belahan Pertama. Kutemukan di sini cerita tentang sakralnya sebuah kepercayaan dan tanggungjawab yang ada di dalamnya – jangan sampai kita salah mengira dan salah ambil langkah. Di lain cerita kudiajak untuk sejenak menari untuk melukakan segala kekerasan yang terlihat dan teralami, bahkan melukakan hati. Meski sulit namun paksakan diri untuk nikmati saja, mungkin akhirnya malah di dalamnya akan menemukan diri sendiri yang selama ini tak diketahui. “Sukri Membawa Pisau Belati” adalah cerita yang sempat memusingkanku, bahkan sempat kupikir terjadi salah cetak karena pengulangan-pengulangan kalimatnya. Ternyata sama sekali bukan, kawan! Itulah bukti bahwa ilmu membaca singkat sangat tidak diperkenankan dalam menikmati cerita bagus. Aku kemudian berkonsentrasi penuh – bahkan mematikan musik yang selalu menjadi sahabat terdekatku – selain kopi – ketika membaca buku. Akhirnya aku mengerti dan malah mendapatkan pemahaman yang cukup mendalam tentangnya. Pak Hamsad hebat sekali dalam menentukan batas awal permainan emosi dan ketika sudah mencapai batas akhir eeeh dibawa lagi aku ke batas awal menuju batas akhir yang berbeda dan terus diulang lagi sampai beberapa kali dan akhirnya aku menemukan jawaban yang berbeda dari yang pertama telah kuduga. Hebat!.

“Untuk Siapa Kau Bersiul” adalah cerita penutup Belahan Kedua dan di dalamnya aku mendapat begitu banyak pelajaran untuk menjadi lebih bijaksana. Ah, mungkin Pak Hamsad tidak bermaksud untuk menjadi guru dengan memberikan pelajaran lewat tulisannya, mungkin beliau sekedar menulis saja, namun percayalah, kawan, di cerita ini aku diajar untuk menjadi bijaksana dalam menentukan cara pandang. Percayalah, aku mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide di kepalaku jadi sulit bagiku untuk memberikan sedikit penjelasan tentang “menentukan cara pandang” seperti yang kutulis tadi. Namun aku percaya bahwa jika engkau membaca sendiri cerita ini niscaya kau temukan jawabannya sendiri. Tuntaslah buku ini. Barulah kemudian kubaca kata pengantar yang diberikan oleh Pak Sapardi dan sungguh aku setuju pada kata beliau bahwa Pak Hamsad sesungguhnya tidak mengajak pembacanya untuk berfilsafat yang muluk-muluk, namun mengajak untuk kemudian menjebak pembacanya dalam pesona kejadian yang direkanya. Terima kasih banyak untuk setiap pelajaran yang meskipun tidak engkau maksud sebagai pelajaran ketika menulis tiap cerita, Pak Hamsad. Namun siapalah yang bisa menebak isi hati dan pikiran seorang penulis? Sukses selalu untukmu!

Satire. Itulah makna yang kudapat setelah membaca seluruh cerita yang ada dan kembali melihat gambar pada sampulnya, dengan warna merah muda (atau apalah) yang agak nyeleneh, dan  secara sadar atau tidak akan memancing kegelian atau keprihatinan saat berusaha mencocokkannya dengan fakta tertulis Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah… Mari tertawakan kehidupan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s