Tentang Buku: Rumah Kopi Singa Tertawa

IMG_1514 copy

Beberapa waktu yang lalu linimasa Twitter-ku ramai oleh berita tentang terbitnya buku Raden Mandasia karya Yusi Avianto Pareanom. Ketika buku sudah bisa dibeli dan banyak yang membaca, sebagian besar (bisa jadi malah hampir semua) yang melintas di linimasaku memberikan kesan yang sangat baik. Aku jadi penasaran dan mencoba untuk mencari tahu tentangnya. Selang beberapa waktu aku pergi ke toko POST dan melihat bahwa Raden Mandasia terpampang di rak dengan hikmat. Kubertanya kepada sang kurator (enaknya beli buku di POST tuh gitu, bisa nanya-nanya pendapat dari orang yang kompeten) dan hampir saja kubeli buku tebal itu ketika tanpa disangka-sangka mataku tertuju pada buku karangan penulis yang sama dengan judul: Rumah Kopi Singa Tertawa.

Jujur, aku adalah orang yang cukup mudah tertarik pada penampilan yang unik dan menurutku sampul buku ini terlihat begitu menarik perhatian. Sampul depan yang berupa foto dua orang dengan penampilan yang cukup unik sedang bermain catur di atas meja sebuah kedai kopi – yang ternyata merupakan satu kesatuan foto dengan sampul belakang yang menggambarkan lebih banyak isi kedai kopi itu, dengan pengunjung yang masing-masing sibuk dengan kegiatannya dan tetap berpenampilan unik, lengkap dengan seorang pegawai yang juga unik tampilannya. Hanya seorang wanita yang terlihat jelas wajahnya, tanpa ada hal unik apapun – selain paras yang menawan… Aku tidak mengerti apa maksud dari semuanya, namun sungguh merupakan penampilan yang cukup untuk membuatku menaruh Raden Mandasia kembali pada tempatnya semula (juga karena ketidakcukupan amunisi dalam dompet untuk memungkinkan membantai kedua buku tersebut – aku harus memilih salah satu). Ditambah dengan sedikit pemahaman yang kudapat dari tulisan di sampul belakang, aku rasa buku ini sangat menarik untuk – selain juga lebih tipis dibandingkan yang satunya lagi *nyengir kuda*.

Aku tetapkan buku ini akan menjadi hiburan di tengah liburan (aku sedang berpikir untuk mengambil cuti kerja selama dua hari saat membelinya di POST). Cuti ku gagal, liburan tidak jadi. Namun membaca buku adalah kesenangan sehingga – tentu saja – dapat kulakukan kapan saja, bahkan saat sedang bekerja. Hehehehehe… Tapi memang, kesibukan kerja tidak memungkinkanku untuk bisa melahap buku ini sekaligus satu hari. Butuh sekitar 3 kesempatan untuk bisa menyelesaikannya, satu saat sedang jam istirahat kerja, satu lagi saat sedang minum kopi di kedai kesukaan, satu yang terakhir waktu sore hari duduk di halaman rumah dengan beberapa gelas kopi hitam. Buku tandas, hati puas, kopi bablas, perut mulas. Hahahahahahahaaa….

Dan inilah beberapa pendapat pribadi yang kutemukan di dalam buku bersampul unik ini…

Pada awalnya aku berpikir bahwa Rumah Kopi Singa Tertawa (selanjutnya akan kusingkat aja ya jadi RKST) menjanjikan cerita yang lucu dan mengundang tawa di setiap halamannya, ditambah dengan sedikit pengetahuan yang kudapat dari sang kurator yang menyatakan bahwa memang Mas Yusi pintar sekali dalam menuturkan cerita dan orangnya pun lucu dan bisa asik banget. Ah, aku memang butuh buku yang “ringan” untuk sedikit mengganti hari-hari yang terasa berat… Namun tak kutemukan lawakan (baca: kekonyolan) pengundang tawa terbahak-bahak seperti yang kupikirkan, lebih dari itu, buku ini memberikan tawa dalam bentuk yang lain. Bukan juga materi seperti stand up comedy, namun ini sesuatu yang – entahlah aku musti bilang apa – berjalan dengan sangat natural dan tanpa kusadari membuat bibirku menyungging senyum bahkan dari hal-hal yang sesungguhnya bernuansa perih dan pedih. Satir? Mungkin bisa kusebut seperti itu. Bagaimana aku bisa menertawakan dosa seseorang yang pernah memukul kepala orang buta, orang yang usianya tak seberapa lama lagi, orang yang mati dengan kebetulan-kebetulan yang benar-benar kebetulan dan masih banyak lagi hal lainnya. Tapi memang, aku setuju sekali kalo dibilang bahwa Mas Yusi itu pinter ngelawak, karena dalam tulisannya ini aku juga menemukan kata dan kalimat lucu yang tidak dipaksakan dan meluncur apa adanya seperti yang digunakannya saat menggambarkan percakapan para tokoh dalam ceritanya ketika membandingkan ekting bintang porno jepang, tokoh yang semaput saat sadar harus minum banyak “obat” demi mendapatkan tubuh impian semata-mata supaya terlihat keren saat peluncuran bukunya, dan lain-lain. Aku sungguh suka cara Mas Yusi bertutur cerita dan aku seakan turut menjadi tokoh di dalam tiap cerita.

Bagiku, buku yang baik bukanlah buku yang memuat hal-hal “berat” namun terasa mentah – ada beberapa buku yang saat kuselesai membacanya malah membuatku menyesal setengah mati karena sudah membuang beberapa lembar rupiah dengan sia-sia. Hal yang tidak akan ditemukan dalam RKST! Tiap ceritanya memberikan pengalaman yang sangat unik. Aku begitu terhanyut saat membaca Edeweiss Melayat Ke Ciputat yang memberiku pemahaman bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan manusia adalah cinta, perhatian, bahkan sekedar pelukan, atau kalau mau lebih ya silahkan, bukan teori-teori yang kadang malah menimbulkan keangkuhan dan (tanpa disadari) bahaya laten memuncaknya kebencian. Aku terbuai dengan cerita Kabut Permata dan Kabut Suami, dua cerita berbeda namun menurutku memiliki nuansa yang sama: kehilangan. Yang satu berusaha untuk menemukan kebahagiaan dalam kehilangan sementara yang satunya merasa bahwa kehilangan justru memberikan kebahagiaan. Filsafatkah ini? Entahlah… Aku tenggelam dalam cerita Sengatan Gwen – karena aku mengalami kisah yang (hampir) sama sebelum akhirnya aku terkecoh! Ah, aku sampe baca sekali lagi dan sebelum kemudian memaki-maki. Tega sekali Mas Yusi yang tidak mengijinkanku terhanyut sampai akhir cerita! Gelas kopi kedua kutandaskan dengan cepat saat mengakhiri Sengatan Gwen. Cinta itu memang gila! Ada amin, sodara-sodara????

Aku tertawa geli saat membaca kisah Dari Dapur Bu Sewon dan menyadari betapa toleransi pun bisa menempatkanku dalam kondisi yang sulit, padahal dulu selalu digembar-gemborkan dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila: kita harus hidup bertoleransi. Yeeeaaaaaaahhhh!!!! Mas Yusi juga mengasah cara membacaku sehingga aku menjadi lebih teliti dan (mau ga mau) memperhatikan detail-detail ceritanya, seperti yang kutemukan dalam kisah Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih. Ga bisa deeeh kalo mau mempraktekan ilmu “membaca cepat dalam 1 menit”, musti musti benar-benar membaca dengan detail dan baru lah mendapatkan kenikmatan dari cerita ini. Secara khusus aku juga merasa kagum ketika Mas Yusi juga mendongeng dalam kisah Durna Sambat, cerita yang “diadaptasinya” dari kisah pewayangan. Aku pernah tau kisah wayang tentang Astina dan Kurawa sampai pada Mahabrata dan Bharatayudha, namun aku tak mengira bahwa Mas Yusi akan secara khusus memberikan pandangan yang cukup “menentang” pemahaman kita akan sesosok Durna dan beberapa tokoh wayang lainnya… Ini luar biasa sih! Aku jadi pengen baca ulang lagi semua kisah wayang itu berbekal pemahaman baru yang diberikan Mas Yusi.

Dan tentunya aku beri tepuk tangan paling keras saat membaca Rumah Kopi Singa Tertawa. Ini cerita yang unik. Mengapa harus rumah kopi – dalam pemahamanku kedai kopi? Sedikit mengawang-awang, aku merasa bahwa kedai kopi saat ini sudah menjadi tempat di mana segala macam hal bisa diobrolkan, bisa juga diperlihatkan. Di kedai kopi aku bisa mendengar masalah penting perusahaan, masalah penting rumah tangga, masalah penting orang pacaran, gerakan politik, sampai hal-hal yang cuma sehari-hari saja seperti debat kusir tentang ekting siapa yang lebih natural di antara para bintang porno jepang, contoh posesif, sampai pada usaha orang untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Alurnya yang tidak urut menurutku memang pas banget menggambaran keberadaanku saat di dalam kedai kopi dan melihat orang lain di sana. Mas Yusi benar-benar membangun suasana spontan dan sekali lagi aku harus membaca dengan teliti untuk bisa merangkai alur-nya. Walaaah, aku senang sekali membaca cerita ini. Gelas kopi ketiga adalah teman yang paling pas saat aku membaca cerita ini di sore hari nan dingin karena hembus angin pengundang hujan… Keren banget. Ada satu pertanyaanku sih, mengapa Singa Tertawa? Aku tak sanggup menemukan sendiri jawabannya…

Yah demikianlah sedikit pengalamanku dalam membaca buku RKST ini dan beberapa cerita yang secara khusus memberikan kesan yang cukup dalam buatku. Ga akan aku ceritakan semua di sini karena ini bukan resensi, sekedar sharing, kalo mau tau lebih banyak ya silahkan beli buku sendiri, aku yakin kalian akan mendapat sensasi yang berbeda dan jauh lebih kaya dari yang bisa kutemukan. Menambah keseruan dengan adanya nukilan dua cerita dari Raden Mandasia, cukup banget untuk membuatku semakin resah gelisah!

Rumah Kopi Singa Tertawa adalah buku yang sangat menarik dan menyenangkan untuk dibaca, yang sedikit banyak memberi pandangan-pandangan baru mengenai kehidupan dan bagaimana cara menjalaninya: dengan tawa dan jadilah tertawa.

Terima kasih banyak atas buku yang keceh ini, Mas Yusi. Teruslah berkarya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s