Pagi yang Hujan

Senin pagi dan hujan. Nampaknya tidak ada yang lebih seru dari kombinasi kedua hal itu. Pagi di Senin yang seakan-akan lebih macet dibandingkan dengan pagi di hari lain, ditemani  dengan hujan yang sesungguhnya nikmat namun bisa memperparah kemacetan. Macet combo. Seru kan? Maka aku mesti bergegas jika ingin tiba di tempat kerja dengan hati yang tetap penuh sukacita dan dandanan yang cerah ceria. Maka aku terburu-buru menyiapkan segala sesuatu. Sesungguhnya terburu-buru membuat konsentrasi kerap terganggu, walhasil pagi ini aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, yang membuat semangat meredup dan menumpuknya rasa kesal.

Kekuatiran akan macet paket combo membuatku terburu-buru mengambil celana panjang untuk kukenakan. Yang aku tahu aku hafal dengan semua celana yang kupunya, baik merk maupun bahannya. Sepotong celana hitam polos dengan tulisan di bagian pinggang dalam mengindikasikan bahwa itu celanaku. Segera kupakai, tanpa sedikit pun ragu, dan langsung kugulung bawahnya demi menghindari rawan cipratan air kotor di perjalanan. Kiri dan kanan, kugulung kedua bagian kakinya dan setelahnya aku naik motor dengan diantar sang papa tercinta menuju tempat omprengan. Keputusanku untuk menggulung celana adalah tepat, gerimis genit sehabis hujan deras subuh tadi masih terus turun dan cukup untuk menjaga kebasahan jalan yang harus kutempuh. Beberapa kali kurasakan kakiku kena ciprat air kotor, tapi aku celanaku aman karena sudah kulipat.

Setibanya di pangkalan, tergopoh-gopoh aku menuju omprengan dengan rute melewati Kuningan. Segera masuk dan langsung duduk di deret kursi tengah. Sehelai saputangan berbahan handuk kupakai untuk mengeringkan wajah yang tak bisa menghindar dari genitnya cipratan air hujan. Setelah membayar ongkos aku merasa segalanya sudah usai. Aku sudah bisa duduk dengan tenang, bersandar sambil menikmati sepoi angin dingin yang dihembuskan AC sambil ditemani lagu-lagu syahdu yang membuai via hape.  Namun, hampir saja kulupa dengan celanaku yang masih tergulung… Ah, macam mana… untungnya tak ada yang memperhatikan dan mungkin juga mereka emang ga peduli, hehehehe… Maka kubuka gulungan celanaku dan lanjut membaca postingan teman-teman dalam media sosial sambil sesekali juga menulis-nulis. 1 jam 30 menit dibutuhkan untuk bisa mencapai tempat tujuanku…

Omprengan berhenti, aku turun dan lanjut berjalan kaki. Gerimis kecil membuatku harus mengenakan hoodie. Aku senang sekali! Hoodie selalu membuatku merasa bagai seorang penyanyi, otomatis gaya berjalanku pun berubah, seakan-akan aku adalah bintang pujaan kaum tua dan muda… Aku sok kece gitu sekali…

Namun di tengah jalan kaki nan penuh aksi, aku merasa ada yang kurang serasi… Mengapa aku merasa kakiku – bagian atas dari mata kaki – terkena angin? Memang angin cukup kencang, namun tidak pernah sampai bisa membuat celanaku terasa berkibar-kibar… Aku curiga… Sambil jalan aku menengok ke bawah untuk memperhatikan celanaku…

MENGAPA NGATUNG????

Aku terkejut! Tak percaya dengan penglihatanku, aku mencoba untuk meraba jangan-jangan aku lupa membuka gulungan celana.. namun sungguh mati aku ingat bahwa hal itu sudah kulakukan di dalam omprengan, dan memang celanaku sudah tidak tergulung… Sekelebat kemudian aku sadar… Ini bukan milikku… Ini adalah celana papa-ku…

Celana papa memang ada yang sama persis dengan yang milikku karena memang waktu itu belinya bersamaan, di tempat yang sama juga. Merk dan bahan juga warnanya memang sama persis, juga sama-sama ada tulisan di bagian dalam pinggangnya.. Hanya saja beda di panjangnya, aku lebih tinggi dari papa, dan ukuran perutnya pun masih (sedikit) lebih besar papa… Apa boleh buat, tak mungkin aku pulang lagi ke rumah untuk ganti celana kan? Apa yang akan kukatakan kepada atasanku jika aku sampai tidak masuk dan akhirnya tidak menyelesaikan tugas tanggungjawabku dengan baik – hanya gara-gara salah pakai celana… Maka dengan wajah yang tetap lurus ke depan aku terus melangkah… Hoodie yang kukenakan kembali pada fungsi yang seharusnya: melindungi wajah dari terpaan angin dingin dan rasa malu yang menyengat….

Ah, kusesali keterburu-buruan pagi tadi. Kusesali rasa percaya diri yang terlalu tinggi sehingga aku tidak teliti. Namun penyesalan memang selalu datang terlambat, karena kalo datangnya tidak terlambat namanya Pendaftaran. Penyesalan ini membuatku menjadi tak semangat menjalani hari. Bahkan aku menolak untuk makan siang ini, karena aku untuk membeli makanan aku harus berjalan kaki lagi.

Tapi tetap, sebagai orang yang beriman hendaknyalah aku tidak menggerutu karena tidak ada gunanya selain merusak hariku. Aku memilih untuk bersyukur karena – walau bagaimana pun – aku masih bisa tiba dengan kondisi yang baik di tempat kerja. Juga kubersyukur karena ukuran pinggang papa yang (sedikit) lebih besar membuat celana ini agak kedodoran dan aku penggunakan kemeja batik yang agak panjang sehingga dapat kuturunkan celana ini tanpa harus membiarkan celana dalamku kelihatan.

Maju terus, pantang mundur. Aku tetap cinta Hujan di Senin pagi.

Salam hangat selalu,

Aries Boi.

Advertisements

2 thoughts on “Pagi yang Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s