O’Clan – Pertemuan Itu (part two)

Aaaahhh… akhirnya sampai juga saya pada titik ini, di mana ada rasa rindu yang menggebu untuk kembali menulis suatu tulisan yang panjang, suatu tulisan yang panjang dan ga penting banget, suatu tulisan yang panjang dan ga penting banget dan ga menginspirasi. Tapi ini penting bagi saya yang mengalami kebuntuan ide untuk menulis sesuatu yang ga penting dan akhirnya menganggap blog ini sebagai tempat yang terlalu serius dengan kebanyakan nulis puisi (yang ga penting juga), hehehehe… Maka dengan penuh kerendahan hati, ijinkanlah saya kembali hadir dengan rasa yang ceria untuk meneruskan kisah tentang geng SMA yang tentunya lebih keren daripada geng motor, yaitu: The O’Clan. Selamat merasa keki ya….
Sedikit banyak saya sudah menceritakan asal muasal tercetusnya nama O’Clan – berasal dari keabsurdan seorang guru les bahasa inggris bernama Muksin menjadi O’Brian yang kemudian ditiru oleh dua anak muda masa itu bernama Edi yang menjadi O’Neil dan Joe yang menjadi O’Reiley. Jika hanya dua orang yang berkumpul maka belum bisa disebut sebagai suatu geng ,berarti ada anggota-anggota lainnya yang turut serta dalam keabsurdan ini…. Begini kisahnya…

Edi dan Joe adalah dua orang yang meskipun berbeda dalam banyak hal namun memiliki kesamaan juga selain agama yaitu memiliki darah Batak. Kalo si Edi mah mentok banget dah, asli, produk orisinil, sementara Joe hanya setengah Batak yang dibawa dari darah mamanya. Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, Joe dan Edi cukup aktif di dalam persekutuan di sekolah dan ga jauh-jauh, di dalam persekutuan itu ternyata banyak orang Bataknya… Bertemu dengan teman-teman dari kelas lain yang (juga) memiliki darah Batak itu rasanya macam sedang kelaparan lalu dikasih martabak manis setengah coklat setengah keju dengan susu yang lumer, atau macam kehausan sehabis lari akibat dikejar sama anak es te em terus dikasih minum softdrink yang dingin banget sampe botolnya berembun gitu… Ternyata anak-anak dari kelas lain itu memang sudah kenal dengan Edi, malah ke-Batak-an mereka ternyata membawa berkah lainnya: hubungan sodara. Ya, entah emang mereka dari darah yang sama atau sekedar persamaan merk (baca: marga) nya saja, mereka merasa bersaudara. Saya sendiri mah ga ngerti tentang hal itu, tapi memang, orang Batak itu memiliki rasa kekerabatan yang amat erat. Siapapun kalo dirunut-runut bisa menjadi saudara mereka dan bahkan tiba-tiba menjadi saudara dekat! Padahal yang satu tinggal di Pulo Gadung dan satunya lagi di New York tapi bisa sama-sama kenal sama Bapak Jenderal di Tangerang. Demikianlah keajaiban kekerabatan di antara orang Batak.
Mari kita persingkat urusan kekerabatan itu…
Dalam kegiatan persekutuan, Joe akhirnya kenal dengan beberapa cowo lainnya yang bernama Dolep, Donald dan Jarden dan seorang anak baru pindahan dari sekolah lain bernama Jhon. Ya, tulisannya memang demikian, bukan John tapi Jhon. Semua nama yang disebutkan itu adalah orang-orang Batak asli, tanpa tedeng aling-aling atau keraguan sedikitpun. Mereka adalah Batak Garis Keras. Batak Harga Mati. Demikianlah adanya. Berteman lah mereka, sering kumpul saat kegiatan persekutuan. Pertemanan itu membuat Edi dan Joe menceritakan keabsurdan O’Brian – sang inspirator – yang mengundang derai tawa dan tak dinyana ternyata mereka pun menganggap bahwa keabsurdan itu demikian seru!
Jadilah pria-pria Batak itu mencari nama keren penyaing O’Neil dan O’Reiley. Dolep memilih nama O’Jackson, nama yang dipilih sebagai penghormatan atas sang idola, the King of Pop, the one and only: Michael Jackson. Setelah kami perhatikan pun, ternyata pemilihan nama O’Jackson itu bukan sekedar penghormatan kepada sang idola, tapi lebih ke arah Dolep merasa mirip dengan Om Michael, khususnya pada bagian rambutnya yang ikal dan berjambul, bedanya Om Michael rambutnya lebih panjang dan selalu ber-efek basah, kalo Dolep mejauhi kesan basah itu, tapi tak pernah lupa dia membawa sisir kecil yang dengan setia tersemat di kantong celana belakang demi menjaga eksitensi sang jambul. Maka rasanya nama O’Jackson tidak lah berlebihan baginya. God have mercy….
Donald memilih nama Benedict. Lah? koq ga pake awalan “O’”??? ah, mereka protes! Ga seru, menyalahi kodrat, menyalahi aturan, tidak menghargai inspirator, kurang kompak, ga asik, macam betul aja si Donald ini… Tapi dia bersikeras untuk tetap memakai nama Benedict meskipun mereka sudah memaksanya dengan berbagai cara. Segala masukan yang diberi tidak ada yang berhasil menggugah hatinya, dia teguh pada pendiriannya: Benedict, tidak kurang tidak lebih. Dengan terpaksa mereka menyetujuinya. Meski hati merasa tidak sepakat tapi hubungan pertemanan adalah dia atas segalanya. Lihatlah kawan, betapa sikap mereka dapat dijadikan contoh bagi generasi muda jaman sekarang. Meski berjumlah lebih banyak daripada Donald, tapi tetap mereka terima usul dan bahkan menyetujui saja keinginannya menggunakan nama Benedict. Mereka mengalah demi menjaga persatuan bukan karena kalah. Tokh nama samaran hanyalah buat lucu-lucuan, bukan hal penting yang menjamin diterima atau tidaknya mereka di sorga kelak. Mereka malah curiga, jangan-jangan Donald sebenarnya menyesal telah diberi nama seperti itu oleh orang tuanya, sayangnya dia tidak punya kuasa untuk memberi ide untuk kedua orang tuanya ketika menyiapkan nama, karena jika dia bisa maka pasti Donald akan menyebut nama Benedict. Sudahlah, tak usah diteruskan polemik nama ini. Kita lanjut saja.
Tersisa dua orang lagi, yaitu Jarden dan Jhon. Ah, ternyata dua orang ini meski asik dan lucu tapi kurang kreatip deh, masa mereka ga bisa mencari nama berimbuhan “O’” sih? Padahal kan kalo mereka sering baca koran atau nonton tipi bisa tau banyak nama itu ya… Bener-bener buntu katanya, dan mereka pun menyerahkan kepada floor perihal pemberian nama. Maka memutar otak lah mereka, mengira-ngira nama yang cocok untuk kedua pria engga kece itu.. Menimbang-nimbang, mencoba berpikir dengan arif dan bijaksana, memperhatikan sikap hidup dan kegiatan sehari-hari dengan mempertimbangkan penampilan mereka, akhirnya tercetuslah dua nama yang dirasa sangat cocok untuk menggambarkan kedua pribadi ga kece itu. Dengan hati berdebar mereka menyebut nama O’Tomat untuk Jarden, dengan pertimbangan struktur wajah Jarden memang seperti tomat, namun kerennya O’Tomat terdengar seperti “otomatis”, bernuansa hi-tech, kece kan! Dan ternyata Jarden menyetujuinya! Satu pelukan penuh haru diberikannya kepada Joe dan Edi. Pastinya dia menganggap namanya keren sekali!
Tugas belum selesai. Jhon masih menunggu. Debar jantung yang cepat tersirat pada wajah lugunya. Melewati proses pemilihan yang sama seperti Jarden, maka tercetuslah nama O’Raiki. Nama yang terdengar bernuansa Jepang… Ya, O’Raiki diambil dari bahasa Jawa: ora iki, yang kalo ga salah memiliki arti “bukan ini”. Dan mereka pikir nama yang mengandung arti “bukan ini” memang sangat cocok buat Jhon. Mengapa demikian? tunggu saja kelanjutannya dalam kisah-kisah yang akan datang.. Sesungguhnya Joe dan Edi merasa bingung karena Jhon sama sekali tidak keberatan, tidak ada sedikitpun protes yang mencuat dari bibirnya, atau tatapan kesal via mata belo-nya. Jhon dengan penuh senyum menyetujui nama yang dianugerahkan kepadanya. Namun ke-legowo-an Jhon membuahkan perasaan ga enak kepada Joe dan Edi, maka dengan penuh rasa cinta kasih digantilah huruf “i” di akhir nama dengan huruf “y”, sehingga menjadi O’Raiky. Aaaah, Jhon merasa sangat bahagia, spontan dia menraktir Joe dan Edi mie ayam di kantin belakang sekolah… Wajarlah Jhon merasa bahagia karena namanya terlihat demikian keren!
Demikianlah dengan resmi muncul nama-nama aneh bin absurd semacam O’Neil, O’Reiley, O’Jackson, O’Tomat. Oraiky dan Benedict. Namun mereka merasa kurang jika tidak memiliki wadah resmi untuk mengatasi keabsurdan yang menjelang. Musti ada lembaga resmi, supaya terjamin keteraturan dan tidak adanya protes dari pihak-pihak lain yang merasa iri. Maka Joe berpikir bahwa nama “O’Clan”adalah paling cocok untuk mewadahi pria-pria sok kece itu. Joe membocorkan rahasianya, penggunaan “Clan” untuk menggambarkan perkumpulannya terinspirasi dari film-film silat berseri yang pada tahun itu masih suka diputar di saluran tipi swasta, juga dari pengaruh lagu-lagu rap yang memang sedang booming dan kerap terdengar di radio. Luar biasa.
Resmilah O’Clan berdiri. Sangat disayangkan pada saat itu para anggota tidak ada yang sedang memegang pulpen dan kertas, juga belum ada pikiran bahwa suatu saat nanti O’Clan akan menjadi kelompok penuh kenangan. Maka sejarah lupa mencatat tanggal pasti pendirian O’Clan. Tapi sejarah tidak lupa untuk mencatat suatu saat yang paling indah di dalam kehidupan anggota O’Clan yang di masa yang akan datang akan menjadi bahan cerita lucu pengundang tawa di antara para anggotanya dan bahkan kepada generasi penerus mereka…
Masih banyak cerita yang harus dituliskan, semoga sabar menunggu edisi yang akan datang yaaaaa….
Salam pegel ngetik…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s