Laci

Tidak pernah terpikir

terlebih disengaja

saat membuka laci yang selama ini tertutup rapat dan mulai terlupakan

tersimpan di sana berlembar-lembar kertas mengusang

penuh dengan gambaran dan guratan

menurutku sekedar kisah dalam coretan

menurutmu jelmaan isi hati dalam tulisan

Dulu…

Sekarang kembali terbuka

Mau tak mau kembali terbaca

Isinya masih tetap sama

Sedikit memudar namun masih jelas terbaca

Nuansanya masih sama

Inisial di akhir tulisan pun tak berubah

Saat itu kita mengguratnya bersama

Menuliskannya bersama

bukan bergantian

Menghiasnya bersama

Tanpa banyak argumen mengenai warna

atau komposisi lainnya

dan entah mengapa terlihat indah dan merdu

Merdu? tanyamu

Ya, jawabku

Apa yang indah tak layak jika hanya dinikmati oleh mata

Justru ketika mata dipejamkanlah keajaiban dari keindahan itu terjadi

Gelap yang tak dimengerti perlahan menjadi terang

Oleh indahnya suara hati yang mengalunkan nada mesra

dan sekejap kemudian kau merasa hangat memeluk

bunga di taman kembali semerbak

Dulu…

Hari ini

warna tetap cerah, lagu tetap mengalun, bunga tetap semerbak

Meski kau tidak terlihat lagi

Aku tau – entah bagaimana –

engkau masih ikut tersenyum

masih ikut memejamkan mata

masih menyenandungkan lagu

Hal yang sama dengan yang aku lakukan

Sekarang

saat kubuka laci dan kembali melihat semua guratan, coretan, tulisan

berkisahkan cerita yang entah sudah berakhir atau masih perlu dituntaskan

Mata yang terpejam, bibir yang tersenyum, mulut yang bersenandung

ku mencari jawaban

rasa ingin tahu ku ingin dipuaskan

p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s