Jarak

“Jarak rumah kita ternyata berdekatan”

“Lokasi kantor kita juga dekat”

“Tempat kita makan setiap siang juga ternyata selalu berdekatan”

“Profesi kerja kita juga hampir sama”

“Cara berpikir kita juga hampir sama”

“Aku suka melihatmu tertawa”

“Aku suka melihatmu mengucap canda”

“Menyenangkan saat kamu kaget”

“Dan kamu tau aku selalu suka kejutan”

“Sengaja aku melakukan itu”

“Karena kamu suka melihat lesung pipiku”

“Koq kamu bisa tau?”

“Banyak lagi hal yang aku tau tentang kamu”

“Aku merasa begitu dekat dengan kamu”

“Demikian juga aku”
….. Lalu perlahan terdengar sayup-sayup tawa redup bernama Takdir …..
“Sayangnya, hati kita berdua ternyata tidak bisa dekat”

“Tak perlu disesali, sejak awal memang tidak akan bisa dekat”

“Sekuat apapun aku berusaha”

“Cukuplah kita dekat dalam nuansa”

“Tanpa Cinta”

“Tanpa Cinta”
…. meneguk gelas terakhir, menikmati pilu …

(terinspirasi oleh obrolan sepasang insan yang duduk di deret kursi belakang dalam ruang tunggu kantor pajak)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s