Kisah Kasih

Kali ini saya mau menulis tentang satu keluarga kecil – yang kita sebut saja namanya Kasih. Saya mengenal Keluarga Kasih belum terlalu lama, paling lama sekitar 5 tahun. Keluarga ini terdiri dari seorang Ibu dengan dua orang anak laki yang pada saat ini berumur sekitar 26 dan 20 tahun. Saya mengenal mereka dari komunitas di gereja. Kedua anak itu aktif dalam kegiatan rohani, saya mengenal sang Kakak karena pernah aktif dalam kegiatan di suatu lembaga yang sama, sedangkan si Adik sendiri saya kenal karena dia aktif di gereja dan kemudian saya ajak untuk bermain musik bersama saya, juga sekarang menjadi pemain bass di band akustik yang saya bentuk, jadi secara pribadi saya lebih mengenal banyak sang adik. Ayah mereka telah lebih dahulu dipanggil oleh Tuhan YME beberapa tahun yang lalu. Bertiga mereka menjalani hidup yang penuh dengan suka maupun duka. 

Sekitar hampir setahun yang lalu, kami mendapat kabar bahwa Sang Ibu menderita penyakit yang cukup berat. Mereka berdua memeriksakan Sang Ibu dan mendapat diagnosa yang cukup mengejutkan, kanker usus stadium tiga. Pertama kali mendengar hal itu saya sungguh merasa “down” karena yang langsung terbayang adalah besarnya biaya yang harus mereka tanggung demi pengobatan dan perawatan, yang saya yakin kita semua tahu bahwa biaya pengobatan di negara ini tidaklah murah. Itu baru segi biaya, belum lagi dari segi waktu. Saya yakin bahwa mengurus orang yang sedang sakit memang pasti akan menyita banyak waktu. Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang dapat kita bayangkan sendiri. Hal-hal yang kemudian membuat saya (yang cuma sebagai teman) merasa berat, dan kemudian menjadi kuatir. Sebagai seorang teman saja saya bisa down dan kuatir, gimana dengan Sang Kakak dan Sang Adik itu sendiri? Mereka yang mengalami semuanya. Lebih lagi, bagaimana dengan Sang Ibu sendiri? Hal-hal tersebut tentunya dapat membuat mental dan spiritual Sang Ibu menjadi down, memikirkan banyak hal yang bisa saja bahkan lebih dari sekedar biaya…
Namun dalam suatu perbincangan dengan Sang Adik, saya justru mendapatkan banyak pelajaran darinya, betapa dia (dan saya yakin juga dengan Sang Kakak) memiliki optimisme yang tinggi mengenai penanganan dan perawatan Sang Ibu. Bukan sekedar optimisme, namun lebih dari itu, Iman! Dalam perbincangan singkat, Sang Adik mengatakan “hal ini memang berat, Ka, tapi kami percaya Tuhan pasti bantu kami, entah bagaimana dan dengan cara apa. Kami hanya akan menjalani semuanya dengan total”. Saya mendengar kata-kata penuh iman itu dari mulut seorang anak yang sedang kuliah sambil bekerja. Ya, Sang Adik pada pagi – sore hari harus bekerja dulu demi memenuhi kebutuhan biaya kuliah (dan mungkin juga untuk yang lainnya). Bersyukur karena Sang Kakak telah selesai kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan tetap. 
Begitulah akhirnya mereka menjalani pergumulan yang cukup berat dalam hidup. Saya sendiri suka tercengang ketika mengetahui bahwa Sang Adik yang memang masih kuliah harus berjibaku dengan pengaturan waktu, membagi pikiran dan konsentrasi antara kewajiban kuliah dan tanggungjawab dalam pekerjaan dan merawat Sang Ibu. Namun saya melihat betapa Tuhan begitu memimpin mereka, sehingga apapun yang terjadi dapat mereka atasi dengan baik. Tuhan terus menolong mereka – bahkan di dalam kesibukan mereka masing-masing – untuk bisa mengurus BPJS yang memang sangat-sangat luar biasa karena seluruh biaya pengobatan ditangguh sepenuhnya. Memang, saya dengar sendiri betapa Sang Ibu sempat harus menahan sakit beberapa lama karena belum mendapat jatah kamar, namun dengan kekuatan yang dari Tuhan sajalah akhirnya pada waktu yang tepat kamar bisa didapat dan Sang Ibu boleh mendapatkan perawatan. 
Namun perawatan dan pengobatan memerlukan biaya besar yang bukan saja sehubungan dengan pengeluaran obat, operasi atau setiap hal yang berhubungan dengan administrasi rumah sakit, namun juga mengenai biaya transportasi dan lain-lain. Mereka sempat merasa kesulitan karena memang tidak memiliki mobil sehingga harus beberapa kali naik taxi pulang pergi bekasi – slipi yang tentu saja menghabiskan banyak biaya… hanya untuk ongkos saja sudah beberapa juta bisa habis… Namun memang Tuhan itu Maha Penolong, DIA mengutus orang-orang di sekitar keluarga untuk memberikan bantuan. Ada yang memberikan pinjaman (sekaligus menjadi pengemudi) mobil pada saat-saat yang bisa dibilang genting. Lalu muncul lagi “masalah” baru, mobil bisa dipinjam tapi bagaimana dengan pengemudinya? Sedangkan Sang Kakak dan Sang Adik belum ada yang bisa menyetir. Sekali lagi Tuhan memberikan pertolongan dengan cara yang tidak terduga-duga. Sang Adik disuruh untuk belajar menyetir mobil (saya lupa siapa yang suruh) sampai mendapatkan SIM-nya. Luar biasa ya! Ketika saya mengevaluasi diri, sering kali permintaan yang diajukan ke Tuhan adalah uang dalam jumlah yang banyak supaya bisa terus cukup untuk membayar taxi (jika tidak bisa menggunakan mobil pinjaman karena tidak ada yang nyetir), namun ternyata jalan yang Tuhan kasih memang berbeda. Sang Adik malahan jadi memiliki suatu kemampuan sendiri untuk membantu Sang Ibu dan bahkan kemampuan itu bisa dipakai untuk seterusnya. Uang bisa habis, namun kemampuan akan terus selamanya. 
Dari hal-hal tersebut saya belajar bahwa seringkali kita meminta mujizat secara boombastis, hal-hal yang terlihat luar biasa, hal yang ga mungkin, hal yang beyond imagination lah… Namun ternyata mujizat Tuhan itu jauh lebih mulia, jauh lebih besar terjadi melalui hal-hal sederhana, hal kecil, hal yang sering dianggap “sepele”. Tuhan tidak memberikan uang yang banyak supaya mereka bisa terus-terusan naik taxi, namun memberikan kesempatan untuk Sang Adik belajar menyetir. That’s beyond my understanding. Ga pernah terpikir hal seperti itu lhow… Perjuangan dua anak laki terus berlanjut dan Tuhan terus memberikan penolong untuk berada di sekitar mereka. Oh iya, pengalaman mereka menggunakan BPJS yang menanggung seluruh biaya perawatan sang Ibu di rumah sakit itu benar-benar membuat saya bersyukur, sekaligus bersyukur atas kebijakan penghilangan subsidi BBM yang salah satunya digunakan untuk memberikan bantuan kepada mereka yang sakit. Mungkin memang pada awalnya kita semua merasa kesal karena pencabutan subsidi, namun ternyata hal itu telah menolong banyak orang. Bersyukurlah pada Tuhan bahwa kita semua yang ikut “menderita” akibat pencabutan subsidi justru telah menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa”, “penolong” bagi mereka yang sedang berjuang dengan nyawa di rumah sakit. Kita semua telah memberi andil untuk meringankan beban banyak orang yang memang sangat kesulitan dalam hal biaya. Bersyukurlah atas kebijaksanaan yang telah Tuhan berikan pada pemerintah untuk mengambil dan menjalankan kebijakan ini. 
Sang Kakak dan Sang Adik terus menjaga iman mereka dalam Tuhan dalam menjalani kesibukan dan perjuangan sehari-hari. Sampai akhirnya pada suatu subuh Sang Adik mengatakan bahwa Sang Ibu sudah masuk dalam masa kritis dan kondisinya terus menurun. Hati saya merasa sedih dan dapat saya bayangkan betapa hati kedua anak itu pun jauh lebih sedih, bahkan hancur. Namun saya dan Sang Adik yang ngobrol via WhatsApp berusaha untuk terus mengarahkan hati kepada Tuhan bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya adalah yang terbaik untuk Sang Ibu dan kedua anaknya. Apapun. 
Maka hari itu saya memutuskan untuk ke rumah sakit sepulangnya dari kerja. Di sana saya bertemu dengan teman-teman dekat dari kedua anak laki itu. Saya sendiri melihat memang kondisi Sang Ibu yang memang menurun dan dalam hati kecil pun saya berdoa memohon kesembuhan namun tetap akhirnya saya memohon yang terbaik saja yang terjadi. Lalu sebelum kami semua pulang, kami semua berdoa bersama. Doa yang kami naikkan adalah doa yang penuh ucapan syukur atas segala hal yang telah terjadi, yang telah Tuhan ijinkan untuk terjadi dalam masa perawatan Sang Ibu. Dalam doa itu kami menyatakan bahwa secara manusiawi kami mengharapkan adanya mujizat kesembuhan namun tetap kami mengatakan dengan iman bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang telah Tuhan persiapkan. Setelah itu kami pulang.
Setibanya di rumah, selesai mandi saya melihat ada beberapa notifikasi di hape, ternyata dari Sang Adik. Dia mengatakan bahwa Sang Ibu sudah dipanggil oleh Tuhan. Hati saya sedih, namun pada saat yang sama saya pun bersukacita karena Tuhan sudah memanggil Sang Ibu untuk pulang dan dengan demikian telah memuliakan beliau. Memang seharusnya iman yang benar itu bersuka cita jika orang yang kita kasihi telah dimuliakan oleh Tuhan. Tangis dan airmata yang keluar itu adalah hal yang teramat sangat wajar karena kita harus berpisah dengan orang yang kita cinta, namun bukanlah tangis dan airmata keputusasaan, melainkan tangis bahagia bahwa orang yang kita kasihi itu telah Tuhan nyatakan selesai dalam tugasnya di dunia, telah mencapai garis akhir dalam pertandingannya. Itulah pula kata-kata yang diucapkan Sang Kakak saat memberikan ucapan terima kasih di depan makam Sang Ibu. “Amin”, itu kata yang berkali-kali keluar dari hati dan mulut saya kala mendengar ucapan demi ucapan yang penuh dengan iman yang disampaikan dengan airmata yang bercucuran. 
Tugas Sang Ibu telah selesai. Beliau dalam pertolongan Tuhan telah berhasil membesarkan anak-anak yang begitu mencintai Tuhan dan keluarga, beliau telah berhasil membesarkan anak-anak yang tidak takut untuk berjuang. Sekarang Beliau sudah menerima mahkota dari Tuhan. 
Tugas kedua anak itu dalam mengurus ibu yang sangat mereka cintai pun telah selesai. Tanpa kehilangan iman mereka terus berjuang, meskipun masa yang berat harus mereka alami namun iman mereka kepada Tuhan yang menjadi kekuatan. Itulah pekerjaan Tuhan yang teramat luar biasa. 
Menutup tulisan ini, ijinkan saya menuliskan ayat yang Sang Kakak sampaikan di depan makam Sang Ibu, ayat yang menyatakan keyakinannya akan Tuhan dan bersama Tuhan saja mereka akan menjalani hidup memasuki masa depan yang penuh dengan tanda tanya:
Mazmur 23

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku. 

Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; 

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; 

dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Terpujilah Tuhan.

Amin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s