Nonton Horror (Sendirian)

  Akhirnya kemarin malam saya kembali nonton di bioskop. Kali ini sendiri saja, tidak bersama teman dan boro-boro pasangan. Ya, semenjak berpisah dengan pasangan (akibat kesalahan diri sendiri) saya agak jarang nonton di bioskop, karena memang rasanya kurang afdol. Namun kemarin itu sedikit pengecualian, film yang ditayangkan adalah film horor dan itu adalah genre yang paling saya suka. Ya, saya sangat suka film horor – entah mengapa. Saya suka dengan hal-hal yang menakutkan, mendebarkan, membuat merinding dan lain-lain – entah mengapa. Ada sensasi tersendiri yang muncul saat rasa takut itu timbul, saat jantung berdebar dengan lebih cepat untuk mengantisipasi kekagetan yang diperkirakan akan muncul. Entah mengapa. Padahal waktu kecil saya termasuk penakut sama hantu, tapi saya beruntung memiliki orang tua yang ga kenal rasa takut pada hantu jadi saya memang digembleng untuk tidak menjadi penakut (akan hantu). 
Banyak film horror yang sudah saya tonton. Sangking banyaknya saya jadi kebal dengan rasa takut (akan hantu). Awal-awal nonton film horror saya masih suka terbayang-bayang adegannya sampe akhirnya bikin susah tidur. Saya ingat dulu ada film berjudul “It” yang setannya muncul dalam wujud badut. Akibat film itu saya sempat merasa takut sama badut dan sempat ga suka sama film horror. Belum lagi film-film buatan dalam negeri yang memang memiliki koleksi hantu yang lebih “paten” macam pocong, kuntilanak, genderuwo, sundel bolong dlsb. Dulu saya ketakutan banget waktu nonton film yang memunculkan tokoh Mak Lampir. Ketawanya yang khas dan menusuk telinga itu macam mengiris-iris nadi saya tiap kali mendengarnya. Namun entah mengapa saya malah semakin suka dengan semua sensasi yang timbul dan ternyata rasa takut itu malah membuat saya ketagihan dan bertekad untuk bisa mengatasi rasa takut itu. Saya kan laki-laki, masa sih takut sama hantu. Macam mana…

Rasa ketagihan dan tekad yang kuat untuk mengatasi rasa takut ternyata membuat saya makin kebal akan kengerian film horror. Makin lama makin tidak bisa merasa takut. Tidak ada lagi merinding, tidak ada lagi rasa dihantui oleh suara tawa bahkan ingatan tentang muke hantu yang jelek, benar-benar flat. Nonton film horror sudah tidak menegangkan lagi. Tapi saya tetap suka film horror dan terus menanti adanya sebuah karya seram yang memang menakutkan. Mengapa demikian? Karena menurut saya banyak yang terjebak antara “Menakutkan” dengan “Mengagetkan”. Film horror tanpa ngagetin itu jadinya seperti brenebon tanpa babi, tapi bila tidak menakutkan ya sama aja macam film berisi orang maen petasan, ngagetin doang tapi ga serem. Dan saya rasa hal itu yang akhirnya membuat banyak orang berpikir bahwa film macam Scream atau I Know What You Did Last Summer adalah film horror, padahal bukan, itu adalah film thriller, film yang penuh teror aja. Ok, ada rasa takut tapi bukan hantu. Ok ada hantu, tapi hantunya ga legit. Saya malah ketawa saat nonton film Nightmare on Elm Street dengan Freddy Krueger sebagai pemeran utamanya atau Halloween dengan Jason sang “hantu” yang ga mati-mati, masih perlu “gimmick” untuk menebar kengerian lewat teror-terornya.

Film horror harus menyediakan rasa takut yang lebih besar dari sekedar teror. Harus ada rasa takut yang muncul saat melihat wujud hantunya aja. 
Untung akhirnya ada Sadako dari The Ring yang menurut saya adalah juara 1 setan taraf internasional. Sosok Sadako sangat menakutkan dan cara kemunculannya pun memberikan sensasi merinding tersendiri. Namun Sadako tidak boleh berbangga diri karena jauh sebelumnya sudah ada legenda dalam negeri yaitu Suketi yang adalah wujud manusia dari sesetan (bukan seseoorang karena emang bukan orang) Kuntilanak. Itu asli seram banget lhooooow…. Belum lagi keberadaan pocong! Bayangkan, ada teror yang bisa dihasilkan oleh kemunculan setan yang terbungukus rapat macam lemper dengan gerakan melompat-lompat. Hebatnya lagi lompat-lompatnya itu bukan karena dia lagi girang, tapi karena emang ga bisa jalan dengan benar wong sekujur badannya dibedong gitu… Bayangkan, dengan keberadaan yang sebenarnya tidak berdaya seperti itu pocong bisa memberi teror yang luar biasa menakutkan. Hebat kali setan lokal kita! Mereka mendapat tempat tersendiri di podium juara.Sementara film horror buatan bule sering berakhir pada hantu yang ternyata adalah monster. Bah, macam mana… Hantu is Hantu. Arwah penasaran. Arwah gentayangan. Bukan monster. Monster itu adalah mahluk yang mengalami mutasi gen sehingga bentuknya jadi acak kadut, tapi kalo hantu sejatinya adalah roh halus… Nampaknya banyak bule berpikir bahwa penampilan yang aneh/menyeramkan/jelek sudah termasuk dalam kategori hantu. (kalo begitu saya juga hantu doooong, soalnya saya menyeramkan dan jelek…. hiks….). Untunglah bule cukup pinter dan mereka pun menciptakan zombie. Tapi bagi saya zombie tetap tidak menakutkan, hanya sosok jelek pemberi teror. Nonton film zombie pun menjadi seru karena melihat manusia kudu pontang-panting akibat mau dimakan sama mahluk yang jalannya aja udah terseok-seok tapi ajaibnya kalo lari bisa lebih cepat dari motor Sepesi Deptun saya.
Untunglah mereka terus memutar otak sehingga akhirnya muncul film-film horror yang lumayan menakutkan. Mahluk halus yang menjadi pemeran utamanya. Saya memberikan tepok tangan lumayan kencang buat Conjuring dan Insidious. Katanya siiiiiih Conjuring itu based on true story jadi mungkin itu penyebab film tersebut lumayan menakutkan – karena (konon) benar terjadi. Saya suka sama dua film itu karena sejatinya memang horror haruslah bertema tentang roh gentayangan yang penasaran dan wujud yang jelek itu hanyalah manifestasi untuk memberi rasa takut bagi para insan yang diterornya. Dan yang membuat saya suka lagi adalah karena dalam mengusir roh gentayangan memang tidak bisa tidak harus melibatkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Bukannya sok religius tapi memang roh gentayangan itu ada koq, merupakan manifestasi iblis yang emang ga suka liat manusia hidup baik dan benar. Kekuatan manusia tidak ada apa-apanya dibanding iblis makanya kudu minta pertolongan pada Yang Maha Kuasa, kan? Jadi setelah The Ring sebagai film horror juara 1, maka Conjuring adalah setaranya. Hantu-hantu yang bermunculan di film itu pun amat menakutkan. Insidious pun lumayan menakutkan, namun ini lebih bercerita tentang jiwa manusia yang “nyasar” ke alam kegelapan dan berusaha untuk mencari jalan keluar. Well tingkat kengeriannya sih masih di bawah Conjuring deh, namun cukup menyenangkan untuk ditonton.

The Conjuring dan Insidious masing-masing memiliki sequel (Conjuring 2 dan Insidious 2) yang bisa dikategorikan menakutkan dan saya memang sangat senang dengan Conjuring 2. Namun sayangnya prequel dari kedua film tersebut (Annabelle dan Insidious 3) sama sekali jauh dari harapan. Well, Annabelle masih sedikit lebih menyeramkan dari Insidious 3 yang saya tonton kemarin di bioskop yang lokasinya hanya sepelemparan kolor dari kantor saya. Berharap akan muncul rasa merinding disko, berharap saya harus memicingkan mata (tapi tetep ga pake nutupin muka terus ngintip dari sela jemari), namun sampai lebih dari setengah perjalanan pelem itu tetap sang sensasi tak kunjung datang. Kalau soal ngagetin sih emang boleh dibilang juara deh beberapa kali saya dibuat terlompat genit di kursi karena adegan-adegan yang bikin kaget, tapi kan sekali lagi, ini pelem horror, kudu menakutkan…. Kekecewaan saya justru terjadi pada saat film Insidious 3 sudah mendekati akhir, yang semestinya sih jadi klimaks, tapi jadi anti klimaks karena ternyata malah terlihat seperti adegan lucu, peperangan manusia dengan hantu yang dipaksakan. Tidak berhasil menyita perhatian dan memenuhi harapan saya yang mungkin memang terlalu besar… Kecewa siiih… No, saya ga akan bahas isi pelem Insidious 3 di sini, silahkan anda nonton dan kasih pendapat sendiri ya…
Dan kelucuan Insidious 3 itu semakin bertambah karena di sebelah saya duduklah “pasangan” pria. Sebelum bioskop digelapkan, saya masih bisa melihat mereka karena harus melewati saya yang memang duduk di paling ujung dari deret kursi G. Sayangnya mereka duduk persis di sebelah kiri saya (kanan saya adalah jalan). Sempat keki dan berpikir kenapa deh mereka mesti duduk persis di sebelah saya, kaya ga ada tempat yang lain aja. Ternyata saya salah, film ini ternyata banyak peminatnya walhasil deretan bangku terdepan pun dipenuhi oleh orang-orang yang rela pegal lehernya. Maap yeeeeee….. Dua pria itu berpenampilan modis kekinian dan yang lumayan “menyedihkan” adalah mereka sering kali nonton sambil menutup wajah (bayangkan ekspresi pacar anda – wanita ya – yang ketakutan dan menutup wajah), dan terkadang sambil membungkukkan diri pulak. Belum lagi mereka suka mengucapkan kata-kata yang bagi saya cukup menggelikan karena sesama pria koq ya bicaranya kemayu banget… Hhhhhhhhhh…. Jujur ya, seandainya pun saya punya sahabat pria yang akrab banget, laki-laki tulen banget, penggemar dan pemain musik cadas dan bahkan punya tatto di sekujur badannya, tidak akan pernah terlintas dalam pikiran saya ini bahwa mau ngajak dia nonton berdua. Bukan ape-ape, jaman sekarang hal yang agak “disorientasi” gitu udah semakin lumrah siiiiiih, jadi bisa aja orang berpikir yang aneh-aneh jika ngeliat dua orang pria jalan bersama. Ya contohnya saya sendiri lah, ngeliat dan langsung “”menuduh” pasangan pria itu agak disorientasi… hehehheehhehehee… tapi kan ada fakta yang menguatkan… hahahahahahahahaaa..

Jam 20:45 saya beranjak keluar dari gedung bioskop dengan segudang kecewa… Tapi ga apalah, at least saya berhasil menggunakan waktu dengan lebih baik daripada sekedar nongkrong sendirian di pinggir jalan sambil maen game demi menunggu malam semakin larut. Tapi emang sih, nonton sendirian itu ga seru karena saya sendiri bukanlah movie freak, nonton di bioskop itu biasanya saya lakukan karena ingin merasakan kesenangan berdua dengan pasangan saya – yang sekarang sudah meniti hidupnya sendiri juga…

Well, sebenarnya sih tulisan panjang lebar dan ga penting ini tujuannya cuma satu koq… Pengen bilang saya rindu mau menghabiskan banyak hal (lagi) bersama dengan dia… 

*setel lagu Kahitna*

Bhay!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s