Kuatir?

Apakah harus menutup mata dan terus melangkah? Tidak kuatir kah tersandung? 

Aku bertanya pada mata yang enggan menatap dan hati yang enggan bercengkrama dengan segala kemungkinan

Tak berani aku melihat warna mulai memudar. Pengecut? Memang. Aku sudah kalah dalam angkuhnya sang hingar bingar warna kembang api yang tersulut terlalu dini, hingga yang kutahu saat ini hanya abu-abu menghitam, mengelam. 

Namun apakah itu berarti kau tetap enggan membuka? Tidakkah kau takut tersandung? Ada baiknya kau diam saja dan mengasah indera. Karena saat satu telah tumpul, masih ada yang lain yang belum tajam. 

Dalam keheningan adalah saat kau pertajam rasa. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s