Hari ini telah dilangsungkan suatu perhelatan akbar bernama The Match of The Century, yaitu pertandingan tinju antara Floyd Mayweather Jr (selanjutnya disebut “Money”) vs Manny Pacquiao (selanjutnya disebut “Pacman). Disinyalir harga pertandingan ini sudah mencapai Rp. 5 Triliyun dengan bayaran Rp. 1,5 T untuk Money dan Rp. 1 T untuk Pacman. Saya pribadi pendukung Pacman. Papa saya juga. Teman-teman saya juga kebanyakan mendukung Pacman, entah karena merasa seperti sodara se-Asean, ato ada alasan-alasan spesifik lainnya. Kalo saya pribadi sih memilih Pacman karena – sepengetahuan saya – dia memiliki attitude yang baik, humble, dan tentunya teknik bertinju yang sangat keren. Pukulannya cukup mematikan, kecepatannya dalam mengombinasi pukulan pun perlu diacungi jempol. Gaya tinju yang cenderung menyerang itu juga membuat saya terkagum-kagum dan berdasarkan informasi dari para komentator tadi, dikatakan bahwa banyak lawan Pacman yang kalah dengan kondisi “bonyok”, memar di sana-sini di bagian wajahnya, jadi emang bisa diperkirakan bahwa Pacman punya pukulan yang cukup keras. Di samping itu – yang bagi saya amat melengkapi seluruh kehebatannya dia – sifatnya yang Takut Pada Tuhan, at least dari apa yang bisa saya lihat berdasarkan quote-quote dia yang dikutip oleh banyak pihak dan juga beberapa keterangan yang diberikannya dalam beberapa wawacara. Sifatnya tersebut membuatnya dicintai oleh banyak orang, baik sesama warga Filipina bahkan dari negara lain, banyak yang terpukau dengan kehebatan Pacman di atas ring dan berbagai cerita tentang kehidupannya.

Sementara saya sendiri tidak punya pengetahuan yang banyak tentang Money. Yang saya tau dia itu petinju yang hebat dan memiliki rekor tidak pernah dikalahkan. Saya ga tau tentang kehidupan pribadinya, sifatnya di luar ring tinju dlsb. Pokoknya saya ga tau apa-apa mengenai dia. Oleh karenanya tulisan ini saya bikin berlandaskan apa yang saya ketahui aja, ga pake sok tau.
Saat menonton pertandingan tinju terbesar abad ini bersama dengan papa saya – yang juga mendukung Pacman – kami melihat betapa Pacman begitu agresif dalam menyerang, dan memang seperti itulah dia dikenal, petinju yang sangat offensive, sementara Money lebih banyak bertahan dan menghindar, dan memang seperti itulah dia dikenal, petinju yang sangat defensive. Sejujurnya pertandingan ini berlangsung “kurang seru” karena berjalan seperti pacman yang sibuk sendiri. Mungkin memang itu lah strategi yang dipakai Money, banyak bertahan untuk menghindari pukulan mematikan lawannya. Namun lama-kelamaan sih akhirnya jadi ngeselin, jarang terjadi jual beli pukulan dalam pertandingan ini, ketika Pacman mulai menggila maka Money langsung memeluknya, atau kadang langsung menghindar saja, jarang banget melihat dia melakukan adu jotos walau memang dalam beberapa kali Money berhasil memasukkan counter hit yang cukup efektif. Tapi tetap saja, secara penglihatan mata awam saya dan juga berdasarkan ocehan dari para komentator, Pacman jauh lebih agresif dan banyak memasukkan pukulan, sehingga sempat membuat Money sedikit goyang dan kemudian mengambil langkah menghindar – mungkin karena dia sudah bisa merasakan betapa kuatnya pukulan Pacman. Jadi ga mungkinlah dia meladeninya demi bisa bertahan sampe ronde terakhir.
Nah sejauh ini emang tulisan saya terkesan memihak banget ye sama Pacman? biarin aje, emang saya ngejagoin dia koq. Hehheheheheee…
Pacman menyerang. Money bertahan. Minim jual beli pukulan. Sesekali counter hit. Too many hughs. Too many runs. Begitu seterusnya. Sejauh mata memandang (ya bayangin aja, saya di bekasi dan pertandingan di Vegas, jauh banget kan?) yang terlihat memang Pacman “pantas” untuk mendapat gelar juara, walaupun tidak sampai membuat Money terjatuh namun – paling tidak – bisa menang lewat akumulasi pengumpulan angka lah. Namun memang kenyataan itu kadang tidak sesuai dengan apa yang sudah diramalkan. Money menang, Pacman kalah. Dikatakan akumulasi nilai Money jauh di atas Pacman. Bahkan ada satu juri yang “tega” memberi nilai 118 vs 110 untuk keunggulan Money. Maka saya dan papa mengucapkan “MACAM MANAAAAA!!!!” secara bersama-sama. Kami tidak puas. Dan saya rasa banyak orang yang tidak puas dengan hasil tersebut. Segera saya liat Path, teman-teman saya langsung meng-update status dengan bilang “juri curang”, “Money ga pantas memang”, “Pacman juara sejati” dlsb. Apa yang dapat saya liat di tipi pun seperti itu, saat pengumuman pemenang tidak ada sambutan gegap gempita seperti kebanyakan pendukung lakukan buat idolanya. Malah terdengar nada cemooh, dan sungguh, tidak terdengar hingar bingar. Kemenangan yang sepi. Saat Money naik ke atas tali ring untuk melakukan selebrasi, tidak terdengar hingar bingar sambutan dari para penonton. Sebaliknya, saat Pacman melakukan hal yang sama, justru sambutan penonton terdengar lebih meriah, ada kesan membahana. Saya rasa penonton tau siapa pemenang sesungguhnya. Money gain the title, but Pacman gain people’s heart. And that makes him The Real Champion. Akhirnya sih saya cuma menantikan aja komentar-komentar pasca pertandingan terbesar abad ini yang mengganjar pemenangnya dengan predikat Kontroversial.
Namun ada satu hal yang cukup menggelitik saya, khususnya dalam hal keimanan. Bukan sok religius, namun saat ini saya memang sedang dalam kondisi belajar untuk melihat segala sesuatu dengan pemahaman yang lebih dalam – khususnya dalam kaitan tentang hubungan dengan Tuhan.
Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, saya mendukung Pacman juga karena mendengar dia memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Hal itu akhirnya membuat foto Pacman beberapa kali dipakai untuk membuat meme rohani yang menggambarkan betapa hidupnya hanya bergantung pada Tuhan saja. Bahkan saya sangat kagum dengan kaos yang dia kenakan yang bertuliskan “All Glory and Honor Belongs to God”, luar biasa banget kan? Sebelum bertanding pun Pacman selalu bersujud di sudut ring untuk berdoa. Betapa Pacman mendemonstrasikan kehidupan yang bersandar pada Tuhan. Atas hal itu juga saya selama pertandingan berlangsung membiarkan otak memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui pertandingan ini, Hati kecil saya mengucapkan “doa” yang sangat singkat, “Tuhan, kiranya Engkau memberikan kemenangan bagi Pacman agar namaMu tidak dipermalukan”. Ah, itu koq terkesan seperti doa yang dibuat-buat banget ya, doa “picisan” seorang fan untuk idolanya. Namun sungguh, ketika saya mengucapkan kata “agar namaMu tidak dipermalukan” saya benar-benar memikirkan apa jadinya nama Tuhan jika Pacman kalah? Padahal kan selama ini Pacman dikenal sebagai orang yang bertakwa pada Tuhan, masa iya Tuhan “memberikan” kekalahan bagi pengikutNya? Apa jadinya dengan segala tulisan dan gambar-gambar rohani yang selama ini beredar dengan menggunakan sosok Pacman? Contoh gagal?
Dan Tuhan pun ternyata mengijinkan Pacman kalah.
Lalu di manakah “Glory and Honor to God” itu? Kan Pacman kalah… Maka otak saya kembali berpikir, bahwa memang akhirnya segala sesuatu itu berada di tangan Tuhan. Ga semerta-merta Tuhan “membuat umatNya selalu berhasil secara duniawi”. Bahkan untuk mereka yang selalu menggunakan nama Tuhan dan – bahkan – melibatkan Tuhan dalam kehidupannya pun tidak selalu harus diiringi dengan kesuksesan duniawi. Tuhan mengijinkan kegagalan terjadi dalam kehidupan umatNya, bahkan dalam kehidupan orang yang amat sangat berpegang pada Tuhan pun kegagalan itu bisa terjadi. Sekali lagi, semua itu terjadi berdasarkan kedaulatan Tuhan. Namun janji Tuhan selalu ditepati, Tuhan selalu mengatakan bahwa mereka yang mengikutiNya dengan tulus dan sepenuh hati tidak akan dibiarkanNya mendapat malu. Tuhan yang menjanjikan hal itu. Tidak akan pernah sia-sia untuk menjadi pengikut Tuhan.
Dan hal itu pun terbukti. Pacman memang tidak mendapat gelar juara WBC. Catatan kekalahannya pun malah bertambah. Dia tidak berhasil mendapat predikat Juara Pertandingan Terbesar Abad Ini. Namun, melalui banyak hal yang saya perhatikan, Pacman tetap menjadi Pemenang di hati banyak pendukungnya, bahkan mungkin juga di hati banyak pendukung Money. Mengapa? Karena sebelum pertandingan dimulai pun sudah banyak orang yang memang berpihak pada Pacman bukan semata-mata pada teknik bertinjunya namun juga dikarenakan sifat humble dan hubungannya dengan Tuhan. Pacman bermain bersih, jujur, dan menunjukkan kualitas yang sangat baik. Itu sudah cukup untuk bisa memperlihatkan kualitas hidup seorang pengikut Tuhan. Melalui hal itulah nama Tuhan dimuliakan. Hanya satu hal saja yang sempat menjadi “cela” atau mungkin dalam bahasa yang lebih halus “kekecewaan saya”, yaitu saat dia “sesumbar” akan meng-KO kan Money. Well, mungkin memang perang urat syaraf itu diperlukan untuk membangkitkan animo penikmat tinju, terlebih lagi pertandingan ini memang sangat menguntungkan dari sisi bisnis, namun saya pribadi emang lebih suka kalau dia tetap tenang aja, ga usah sesumbar apapun. tapi ya udah lah, siapalah saya ini selain hanya sebentuk plastik gantungan chiki di warung pinggir jalan. Pacman tidak berhasil meng-KO kan lawan, bahkan tidak berhasil untuk membuat lawannya mendapat hitungan. Tapi orang kan memang membuat kesalahan ya, Pacman juga manusia biasa – hanya pukulannya aja yang berkekuatan jauh di atas rata-rata kita semua, hehehehehehe… Tapi tetap dia tidak mencoreng nama Tuhan. Tuhan tidak “dipermalukan” atas kegagalannya. Bahkan kalau boleh dibilang, apakah Pacman gagal? Hanya sebatas gagal dalam meraih predikat juara. That’s all. Dan melalui “kegagalan” Pacman itulah nama Tuhan pun tetap dimuliakan. Rumit? Emaaaang!!!! Kadang sulit untuk bisa diterima dengan rasio ya bagaimana kegagalan bisa memberikan kemuliaan buat Tuhan. Itu mah butuh pembahasan yang lebih mendalam lagi hehehehehee…..
Saya malah akhirnya menarik suatu pelajaran lagi, untuk tidak menjadikan Tuhan sebagai “jimat”. Tuhan itu memang layak koq untuk dimuliakan, ditinggikan, diikuti, disembah dan kemudian diikuti segala perintahNya, karena memang semua yang diperbuat oleh Tuhan adalah untuk kebaikan umat yang memang dengan sepenuh hati mengikutiNya. Saya belajar bahwa yang terpenting dari mengikuti jalan Tuhan adalah karena ingin memuliakan DIA, bukan semata-mata karena saya ingin mendapat berkatNya – walaupun itu tidak bisa dipungkiri memang menjadi kerinduan dan kebutuhan saya, namun saya kembali ingat bahwa Tuhan memberi segala sesuatu yang memang kita perlukan, bukan apa yang kita inginkan. Susah menerima kenyataan? Pastinya. Sesusah Pacman harus menelan kekalahannya setelah dia sesumbar akan menjatuhkan Money. Heheheheheheheee….
So, melalui pertandingan terbesar abad ini yang saya saksikan di rumah saya yang berlokasi di bekasi, saya bersyukur ketika akhirnya bisa mendapat banyak pelajaran tentang iman, bukan sekedar kepuasan batin bisa menonton pertandingan tersebut dan kesedihan karena jagoan saya kalah, namun ternyata efeknya jauh lebih dari itu koq. Semoga semua pelajaran yang saya peroleh bisa berguna bagi pertumbuhan iman saya.
I just want to live with God. Sungguh saya ingin bisa menghayati kalimat yang tertulis di kaos yang dikenakan oleh Pacman “All Glory And Honor Belongs To God” dan kemudian menerapkannya dengan melakukan segala sesuatunya memang untuk memuliakan Tuhan. Ketika kita sanggup melakukan sesuatu itu hanya karena Tuhan. Maka teramat sangat pantas jika Tuhan yang mendapat pujian, kehormatan yang tertinggi dalam segala sisi kehidupan kita.
Terpujilah Tuhan!
Floyd Mayweather Jr. v Manny Pacquiao - Weigh-In
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s