Sabtu 2 Mei 2015 di Tribeca Park bersama The Groove

Sejak 3 hari yang lalu setelah membaca cuit yang menyebut bahwa The Groove akan manggung di Tribeca Park pada tanggal 2 Mei dalam suatu perhelatan FEUI, saya langsung membuking agenda saya sendiri supaya saya ga jadi sok sibuk, sok banyak acara padahal kaga ngapa-ngapain dan jomblo pulak. Maka janji pun di buat di dalam hati, sambil menunggu dengan cukup deg-degan datangnya hari yang dinanti. 

Akhirnya, tiba jua lah tanggal 2 Mei yang bertepatan sekali di hari Sabtu, hari yang katanya udah jadi hari resmi orang yang punya pasangan untuk menghabiskan waktu bersama. Well, dulu saya juga begitu sih namun setelah terjadi suatu kesalahan fatal yang saya lakukan sendiri maka sebagai konsekuensinya ya gini deh, jadi sendirian. Maka dengan perasaan hati yang semangat, saya segera siap-siap. Ga perlu dandan macem-macem cukup dengan memakai kaos hitam, celana cargo dan sneakers, saya siap untuk menonton pertunjukan The Groove.

Tiba di lokasi, sudah ada band Bara Suara yang unjuk kebolehan. Ternyata apa yang sering saya baca di media sosial mengenai band itu terbukti sudah, memang ciamik koq mereka mainnya, apalagi secara live ya, kalo rekaman mah semua bisa jadi bagus, tapi ketika live itulah pembuktian yang sebenarnya dan Bara Suara membuktikannya. Pasti akan saya beli rilisan mereka nanti. Pasti! Berdasarkan info, sesudah Bara Suara giliran The Groove untuk unjuk gigi. Saya duduk sendirian sambil nunggu panggung disiapkan, main game beberapa level sambil nungguin sang MC acara ngebagiin hadiah buat para peserta lomba – entah apa. Setelah bersabar beberapa saat akhirnya tibalah saatnya, nama The Groove disebut dengan keras oleh sang MC dan masuklah para personil satu-persatu. Sambutan yang diberikan tidak meriah, saya agak kuatir bakalan adem ayem aja nih, tapi saya mah ga peduli karena saya emang cinta banget ama The Groove, mau penonton lain adem ayem keq saya tetep akan memberi tepok tangan yang amat kencang.

Lalu perlahan-lahan saya yang tadinya duduk di daerah sekitar samping panggung, mulai beranjak ke bagian tengah untuk bisa mendapat kualitas suara yang lebih ciamik. Terlebih lagi di tengah itu pastinya menjadi tempat para penikmat The Groove untuk berdisko. Lalu muncullah duo Reza dan Rieka Roslan yang dengan penuh semangat terus berusaha membakar semangat para penonton yang emang adem ayem ajah. The Groove kali ini tidak ditemani dengan Tanto sebagai pemain keyboard namun “digantikan” oleh sepasang pemain alat tiup – trompet & saxophone yang ternyata malah membuat The Groove semakin kaya nuansa! Luar biasa!

Saya begitu kagum dengan permainan musik The Groove yang sejak awal saya melihat mereka di tahun 1996 atau 1997 atau 1998 dalam acara JGTC, sama sekali tidak “kendor” malah nampaknya semakin ciamik!!! Banyak aransemen baru yang mereka lakukan atau tambahkan pada lagu-lagu hits mereka yang rata-rata memang usianya hampir di atas 15 – 20 tahun. Sinkup yang mereka lakukan terasa sangat fresh dan amat “berbahaya”, namun dapat mereka lakukan dengan sangaaaat mulus. Saya tau rahasianya: Karena mereka memang BERSAHABAT jadi pasti komunikasinya bermusiknya lancar bangeeeet. Makanya, kalo bikin band itu enaknya berawal dari sahabatan, pasti jadinya solid banget dah. Juga salut saya haturkan pada Reza dan Rieka yang terus-terusan – tanpa kenal rasa menyerah – membakar semangat penonton yang terasa “dingin” di tengah sore hari yang agak gerah. Reza dengan goyangnya yang teramat sangat khas dan Rieka dengan suara yang begitu membahana, paduan kedua suara mereka ditambah dengan Rejoz yang beberapa kali mengambil bagian untuk menjadi lead vokal terasa sangat enerjik. Pelan-pelan bagian tengah Tribeca Park yang tadinya agak melompong mulai dipenuhi oleh para penikmat The Groove. Saya juga tentunya berada di sana, di antara banyaknya anak-anak muda, siap untuk berdisko menikmati energi yang ditransfer oleh The Groove melalui musiknya. 

The Groove menggelontorkan lagu-lagu hits mereka tanpa ampun. Suasana benar-benar jadi sangat meriah. Memang masih banyak penonton yang tidak juga berdiri dari tempat duduknya untuk bergabung dengan kami di tengah lapangan, namun ga apa-apa, pada dasarnya emang orang indonesia kan suka jaim kalo nonton konser. Hehhehehehee… Lagian juga bodo amat lah, yang penting saya sendiri mah tetep goyang di tengah lapangan, bersama dengan anak muda lainnya. Semoga tidak ketahuan ya bahwa saya ini sebenarnya berselisih umur belasan tahun dengan mereka, anyway kan musik itu bersifat universal dan mempersatukan segala perbedaan yaaaaa…. Apalah arti sebuah usia, yang penting kan jiwa mudanya, ya kan????

Namun tak urung ada kesedihan yang sempat terlintas di hati saya. Betapa sesungguhnya saya ingin menikmati pertunjukkan musik ini dengan seorang pasangan (tentunya harus wanita ya!), bersama berdisko dan menyanyikan lirik lagu The Groove. Jujur tadi saya terasa sangat menahan diri untuk berdisko, kurang maksimal karena ngerasa ga punya teman disko bareng. Beruntung di sebelah saya ada beberapa cewe yang berdisko dengan maksimal dan penuh semangat yang berhasil menstimulir otak saya untuk ikut berdisko juga. Tadinya sih saya mau ajak mereka disko bareng, namun karena kuatir saya disangka sebagai penjahat yang mengincar anak muda yang kemudian akan dilabrak terus ditampar terus dikeroyok – maka lebih baik saya urungkan niat baik saya itu dan kembali pada kondisi yang seharusnya: menikmati disko sendirian ajah. Agak garing sih, tapi masa iya sih nonton The Groove sambil duduk diem atau berdiri sambil lipat tangan di dada doang??? Itu ga betul banget! Musik yang baik harus diberi apresiasi dengan baik pula. Musik enerjik harus ditanggapi dengan enerjik pulak. Itu lah cara yang benar dalam menikmati musik dan menghormati artisnya. Dan tadi saya sangat tergila-gila saat The Groove membawakan lagu September dan Let’s Groove milik Earth Wind and Fire!!! Itu pecah banget sih. Secara pribadi juga saya sangat menyukai Earth Wind and Fire terlebih lagu September-nya, ada kenangan yang teramat manis yang tidak akan pernah terlupakan mengenai lagu itu… Tak ayal September sempat membuat saya termenung mengheningkan cipta beberapa detik demi mengingat keindahan masa lalu, namun beat yang menghentak membuat diri tidak bisa tinggal diam, lanjut disko teruuuusss!!!!

Namun tetap pertunjukan sebagus apapun harus berakhir juga kan? Pengennya sih The Groove masih terus perform dan membuat kami disko namun pasti panitia bakal kelimpungan karena abis itu masih ada RAN, Tompi, GBS yang sudah ada dalam list antrian performance. Ditutup dengan lagu Khayalan yang diiringi dengan rintik hujan yang turun dengan malu-malu, akhirnya The Groove menutup pertunjukkannya dengan begitu manis. Ah, saya sendiri secara pribadi dari hati yang terdalam mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada The Groove yang telah membuat this gloomy saturday nite menjadi colorful lonely nite. Terima kasih atas keindahan musik dan lagu yang kalian berikan. Bangga rasanya telah menjadikan diri ini sebagai fans dari band Indonesia yang paling saya idolakan.

The Groove

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s