Stop Kebut-kebutan

http://m.detik.com/news/read/2013/04/26/042501/2230896/10/innalillahi-ustad-jeffry-meninggal-dunia-karena-kecelakaan-di-pondok-indah

Sekali lagi terjadi kecelakaan lalu lintas yang kali ini meminta korban seorang Ustad ternama Indonesia: Ustad Jeffry Al-Buchori. Dikatakan di dalam salah satu sumber berita beliau meninggal sekitar pukul 2 dini hari akibat kehilangan kontrol saat mengemudi sebuah motor besar kawasaki E650 di daerah pondok indah yang kemudian menabrak sebuah pohon. Akurat atau tidaknya kronologi kecelakaan tersebut saya belum bisa memastikan karena seringnya kesimpang-siuran berita yang secara “real time” alias cepat disampaikan oleh media, biasanya berita tersebut baru akan valid setelah setengah hari berlalu dan semua bukti/fakta telah terkumpul dengan lengkap dan ada pernyataan langsung dari pihak yang berwajib.

Usia adalah sepenuhnya milik Tuhan, manusia tidak pernah tahu kapan tugasnya di dunia ini akan selesai – bahkan dalam bentuk pertanda gaib sekalipun yang kita kenal dengan istilah firasat. Yang manusia tahu secara persis adalah bagaimana harus mengisi hidup yang adalah anugerah cuma-cuma dengan kualitas yang baik supaya tidak ada penyesalan nantinya.

Saya tidak menyalahkan siapa pun dan memang tidak ada yang perlu disalahkan, namun jika menilik berita yang sementara ini ada apakah mungkin hal tersebut terjadi karena tingginya kecepatan pacu motor dikombinasi dengan badan yang belum benar-benar “siap” (jam 2 dini hari) sehingga mengakibatkan hal yang fatal? Sekali lagi kita belajar bahwa berkendara itu merupakan hal yang memerlukan kesadaran dan rasa tanggungjawab yang tinggi, baik kepada pengguna jalan yang lain terlebih pada diri sendiri.

Untuk apa ngebut?

Bayangkan jika akibat kelalaian kita mengakibatkan orang lain harus menderita. Suatu kejadian nyata, seorang pria muda mengendarai motor saat pulang kerja dengan kecepatan normal saja ditabrak oleh seorang ABG usia belasan yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan cara mengemudi tidak bertanggungjawab – belakangan diketahui sambil mabok. Akibatnya, pria itu mengalami patah tulang belakang yang mengharuskannya lumpuh total, sama sekali tidak bisa bergerak kecuali menolehkan kepala. Padahal usianya saat itu baru 29an dan sudah beristri yang sedang mengandung anak pertama. Akhirnya pada usia 32 atau 33an pria itu meninggal, setelah “harus” mengalami penderitaan selama sekitar 4 tahun, tidak bisa menikmati hidup sebagai seorang bapak yang baru memiliki anak dlsb…

Tanggungjawab pada diri sendiri adalah hal yang terbesar. Seorang pria muda berusia 29 tahun pulang jam 5 pagi, mengendarai motor dalam keadaan lelah dan mengantuk setelah selesai bermusik. Di perjalanan dia melepas helm-nya untuk sekedar merokok sambil mengendarai motor. Kelelahan dan kantuk membuatnya kehilangan kontrol ketika sebuah tronton yang sedang parkir di pinggir jalan memberi tanda lewat lampu yang berkedip bahwa pria itu mengambil arah berlawanan dan bisa menabrak tronton. Tanda tersebut sia-sia, motor pria itu malah makin cepat melaju dan akhirnya menabrak tronton. Kejadian nyata itu merenggut nyawa adik saya sendiri… Saat tinggal 5 menit saja jaraknya dari rumah. (I miss you, Ganzamo)

Saya sungguh paham kenikmatan ngebut. Saya pun pernah ngebut – tidak sampai 35 menit waktu tempuh yang dibutuhkan untuk melintasi rute lapangan banteng – gambir – tugu tani – menteng – kuningan – casablanca – buaran – pondok kopi dan berhenti di jatibening dengan mengendarai motor matic. Rasanya puas, adrenalin terpacu tinggi membuat diri macam pembalap kenamaan tingkat dunia. Tapi sungguh saya lakukan hal itu saat diri sedang dalam kondisi tubuh yang sangat fit dan konsentrasi tinggi sambil terus mengembangkan kemampuan indera untuk mendeteksi keadaan sekitar. Ya, itu memang pembelaan diri sendiri karena sebenarnya tidak ada hal apapun yang membenarkan kita ngebut di area dan waktu yang bukan peruntukannya.

Ustad Uje pergi meninggalkan keluarga yang pasti sangat menyayanginya, anak-anaknya pun masih kecil. Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu rentang waktu hidup manusia. Apapun dan bagaimanapun kejadiannya, itu memang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Buat kita semua khususnya saya sendiri, stop ngebut-ngebutan. Perhatikan diri jika memang lelah janganlah memaksa untuk berkendara. Ambil waktu untuk istirahat dulu atau naik kendaraan umum saja, paling tidak kita bisa meminimalisasi resiko celaka.

Have a save day, people.

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Cintah

20130426-070808.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s