Kue Cake, Susu Milk, Permen Candy

Akhir-akhir ini saya suka teringat dengan beberapa kesalahan kecil tapi lucu dalam menyebutkan hal-hal yang saya suka, misalnya: Kue Cake, Susu Milk dan Permen Candy. Jangan salahkan saya atas kesalahkaprahan minor tersebut yang kadang terjadi karena emang kebiasaan yang diturunkan oleh mereka yang lebih tua dan tau dari saya, mereka adalah orang tua saya beserta jajarannya (om dan tante). Ketidakkonsistenan mereka terlihat ketika menyebut “kue” untuk penganan yang berbentuk jajanan pasar atau gorengan dan “cake” untuk penganan dalam bentuk taart dan sejenisnya. Dengan minimnya pengetahuan dalam berbahasa, maka saya selalu mengatakan “Kue Cake” dan saya tidak merasa bersalah, yang penting orang tau bahwa saya pengen makan kue tapi yang bentuknya cake, kue cheese cake, gitu deh.

Demikian juga dalam menyebut “susu”, digunakan hanya untuk menyebut minuman emulsi berawal dari bubuk ditambah air dan menjadi cair. “Susu” juga digunakan untuk menyebut hasil perahan dari sapi. Tapi ketika menyuruh untuk beli susu kemasan kotak, maka yang dipakai adalah “milk”. Sementara saya memang sangat suka dengan produk susu kotak, maka tercetuslah kata “Susu Milk” untuk memberitahu orang bahwa saya pengen minum susu bukan hasil adukan bubuk dengan air melainkan liquid yang tersedia di dalam kemasan (kotak).

Terakhir adalah ketika menyebut permen untuk menjelaskan benda manis yang bisa didapat di warung-warung pinggir jalan dengan harga (saat itu) Rp.100/4 butir. Permen karet pun termasuk di dalamnya. Namun ketika saya dibawain oleh-oleh dari luar negeri berupa permen dalam bentuk unik, disebutlah “Candy” yang identik dengan warna menggemaskan, tidak dalam kemasan seperti sugus atau ciklet. Saya sebagai penyuka permen selalu menyebut “Permen Candy” jika ingin menikmati manisan yang agak elit.

Pengalaman yang paling “ngeselin” sih adalah saat mencoba mencari susu kotak di warung, saya bilang berkali-kali bahwa saya mencari “susu milk” tapi mereka bersikeras tidak jual, akhirnya saya tunjuk aja satu kemasan yang terpampang di display warung dan apa jawabannya? “Oooo, susu ultra toooh”. Sejak saat itulah “susu milk” berubah menjadi “susu ultra”, apapun merk-nya. Sama aja kan seperti beli mie instan apapun tetep bilangnya indomie, beli air minera apapun tetep bilangnya aqua dan beli odol apapun tetep nyebutnya pepsoden.

Dan sekarang saya lagi menikmati Kue Cheese Cake dan Susu Milk Green Tea Frap sebagai menu makan siang. Untungnya para waitress di sini pinter-pinter bahasa asing ya jadi ga repot menjelaskan apa sebenarnya yang saya inginkan..

Ga penting banget deh ah…

Ketjoep Maoet,

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Cintah

20130214-122002.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s