Tentang Kenangan

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Kar’na hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar’na waktu ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua

Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Saya suka banget dengerin lagu yang tertulis di atas, Kisah Klasik Untuk Masa Depan milik grup Sheila on 7. Liriknya benar-benar menggambarkan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini: kangen sama teman-teman lama saat duduk di bangku sekolah dan jaman kuliah, apalagi mereka yang benar-benar akrab sampe akhirnya bikin “geng” bahkan band.

Jaman itu, saat wajah masih belum ada kerutan selain bopeng akibat jerawat yang dipecahin sendiri, hampir tiada hari tanpa nongkrong bareng teman, sekolah/kampus tidak pernah menjadi tempat yang terpaksa didatangi, kegiatan belajar hanya menjadi pegisi waktu jeda antara kegiatan nongkrong yang satu ke nongkrong yang lain. Bahkan saat ujian selama 3 jam pun dihadapi dengan perasaan santai oleh karena setelah ujian akan disambung dengan latihan band. ngumpul di rumah teman adalah kegiatan wajib, makan bakso Rp.1.000/porsi adalah menu wajib dan jika indomi gratisan sebgai kemurahatian ibu teman yang rumahnya ditongkrongi itu merupakan anugerah terindah buat anak-anak dengan uang jajan yang dijatah setiap hari.

Agak membingungkan juga sebenarnya dengan apa yang menyebabkan saya jadi hobi nongkrong. Topik pembicaraannya juga yang itu-itu aja, kalo ga masalah strategi nembak cewek, niruin gaya guru/dosen dan paling mentok cuma masalah politik praktis dengan pemerintah orde baru sebagai terhujat tunggal. Ketika mulai ngeband sih emang makin seru ya, banyak kegiatan positip yang dilakukan: duduk bareng dan ngulik lagu sebagai persiapan manggung di minggu depan. Kondisi dompet yang cekak dan masih mengharap belas kasian dari ortu membuat kami semakin kreatip dalam mencari studio, dari yang kisaran harga Rp. 40.000/jam untuk kualitas “nyaris artis” dengan fasilitas studio full AC sampai yang kisaran harga Rp.4.000/jam untuk kualitas artis dangdut gerobak dengan studio menggunakan peredam bekas kemasan telor ayam negeri. Tetep pake AC koq, Angin Cepoy-cepoy…. Studio murah kami gunakan untuk ngulik tingkat awal dan studio mahal jika besoknya udah mau manggung, kan kami harus tau juga gimana hasil latihan yang sebenarnya. Hehehehhee…

Bagi saya, teman dekat bisa menjadi pribadi yang mengenal kita lebih banyak daripada sodara sepupu. Apalagi jika pertemanan telah meningkat menjadi persahabatan dimana topik curhat menjadi lebih banyak dan lebih detail pembahasannya. Ortu sendiri aja ga tau kalo anaknya galau gara-gara ditolak cewek idaman tapi sahabatlah yang hadir sebagai penyemangat. Dan dengan mengusung semangat anti narkoba: sahabat yang benar tidak akan menjadi orang yang menjerumuskan kita kedalam penggunaan bahan terlarang. Cam-kan itu, anak muda.

Tetapi hidup terus berlanjut, usia bertambah, nongkrong pun tidak bisa terus dilakukan seiring dengan bertambahnya tanggungjawab yang diemban. Teman-teman yang dulu bisa ditemui dengan mudah tiap hari sekarang telah memiliki kesibukan sendiri. Demikian juga dengan sahabat, jangankan seminggu sekali, setahun sekali pun belum tentu bisa ditemui lagi. Sungguh, itu adalah hal yang paling menyedihkan bagi saya saat lulus kuliah tahun 1999, apalagi saya adalah orang yang agak sulit berteman/bersahabat dan ga mudah bagi saya untuk “mengganti posisi” sahabat.

Maka saya agak bingung jika ada orang yang bisa melupakan temannya begitu saja. Dulu yang hampir setiap kali rasanya pengen ketemu sekarang malah kalo bisa ga usah ketemu lagi… Dulu saling mendukung sekarang saling menikung… Dulu kalo ada masalah langsung dibicarakan – walau berkelahi tapi masalah langsung selesai di hari yang sama, namun sekarang semua dipendam di hati, dibicarakan di belakang, tidak akan kelahi namun entah kapan selesainya masalah itu…

Saya sungguh bersyukur pernah memiliki sahabat-sahabat yang baik dan semoga mereka pun bersyukur pernah memiliki sahabat yang kayak saya gini.

Maka saat yang paling mengharukan adalah ketika kembali bertemu dengan mereka semua dalam satu kesempatan reuni atau sekedar kumpul aja. Membicarakan hal-hal yang dulu dianggap keren namun ternyata sekarang terlihat konyol dan ga penting banget. Membicarakan hal-hal yang dulu dianggap ga keren ternyata setelah dianalisa lebih lanjut memang ga keren banget. Ujung-ujungnya kembali menertawakan semua hal itu, baik yang keren maupun yang tidak keren. Rahang kembali terasa kram. Hahahaha…

Tawa.
Semua tertawa.
Terbahak-bahak.
Mata basah karena menahan rasa geli.
Sampai waktu memisahkan.
Tawa selesai.
Kembali ke alam nyata.

Dan saya sangat merindukan kalian semua, teman dan sahabat…

mari, duduk bersamaku
di kursi panjang berwarna biru
bersandarlah
bukalah semua rekaman kenangan
tunjuklah semua yang menyenangkan
juga yang tidak menyenangkan
niscaya semua memberimu tawa
karena masa lalu ternyata membuatmu kaya
dalam suka maupun duka

Sahabat, kau kukenang,
Sampai kapanpun akan kukenang…

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Cintah

20130208-122648.jpg

20130208-122707.jpg

20130208-122722.jpg

20130208-122734.jpg

20130208-122747.jpg

20130208-122810.jpg

20130208-122823.jpg

20130208-122836.jpg

20130208-122852.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s