Marahin Pulisi

Daaaan saya lupa mau menulis satu pengalaman saya yang lumayan seru.

Jadi begini, minggu lalu sekitar hari selasa sore sepulang dari kantor, seperti biasa saya berjalan kaki menuju tempat bis idola menjemput para calon penumpang yang setia menunggu – walau sudah tidak ketjeh – di bawah jembatan fly over kuningan. Saat itu hujan turun dengan rintik namun lumayan besar butirannya, membuat saya harus membuat langkah sedikit berjinjit demi memperoleh kecepatan maksimum. Sambil sesekali memperhatikan posisi air yang menggenangi sudut jalan, saya memperhatikan betapa hujan rintik saja sudah cukup untuk membuat daerah Kuningan dan sekitarnya mengalami “bencana kecil-kecilan”. Macet, Boi, ga bergerak gitu deh….

Kemacetan diperparah dengan kondisi pengendara motor yang memang nampaknya ga bisa ngeliat celah 1cm aja, langsung bawaannya mau nyelip, macam upil. Bukan terlihat jago memanfaatkan space, tapi bagi saya hal itu lebih menunjukkan kualitas mental kampungan yang tidak mau antri. Sorry to say, butnampaknya hewan aja lebih bisa antri ya…. Jadi yang seharusnya antrian kendaraan mulai bisa bergerak terpaksa tertunda karena bodi motor selapselip yang menghalangi arus akibat memaksakan diri untuk nyelip dalam sejengkal celah. Katro.

Demikian juga di antrian lampu merah perempatan Kuningan Mampang. Motor-motor itu sudah tidak mengindahkan lagi peraturan lalu lintas yang sudah diajarkan sejak SD yaitu kalau berhenti harus di belakang garis putih, bukan di depan bahkan membelakangi posisi lampu lalu lintas.
Lalu saya lihat ada seorang pulisi yang berdiri sambil pengang handy talky.
Keadaan saat itu adalah sebagai berikut: lampu lalu lintas sedang berwarna merah untuk lajur dari Kuningan menuju Mampang, Gatot Subroto menuju Cawang, Mampang menuju Kuningan dan berwarna hijau untuk lajur Gatot Subroto menuju Kuningan – itu lhow, arah dari kisaran exit tol Kuningan yang belok ke kiri untuk masuk jalan Rasuna Said. Bisa ngebayanginnya kan? Nanti saya gambarin deh…. Semua lampu lalu lintas terpancang tepat di ujung setiap belokan – otomatis kondisi di bawah fly over Kuningan kosong dong… (Masih bisa ngebayanginnya kan?).

Hal itulah yang dimanfaatkan oleh pulisi yang sedang berdiri sok ketjeh itu. Entah berdasarkan kejeniusan pribadi atau emang masuk dalam kurikulum pelajaran tata lalu lintas yang diperolehnya selama pendidikan, doski menyuruh kendaraan-kendaraan yang tadinya lagi asik bengong meratapi nasip di belakang garis putih jalur Kuningan menuju Mampang untuk maju dan memenuhi bagian bawah fly over tersebut. Mungkin maksudnya supaya memberi sedikit kelegaan ya, atau sekedar pencitraan biar dibilang sweet? entah lah… Dengan terampil si pulisi meniup-niup priwitan (baca: sempritan a.k.a peluit) sambil terus melambai-lambaikan tangan menyuruh motor dan mobil untuk segera maju. Saya yang saat itu sedang berdiri manis di sisi GatSu yang hendak menyebrang menuju Cawang memperhatikan kejadian itu dengan seksama, bagaimana klakson terus berbunyi memekak telinga dan wajah tergesa-gesa mernyirat kekuatiran kehilangan 2 jam jika tidak sigap menanggapi arahan polisi. Kendaraan yang maju makin banyak, semakin memenuhi bagian bawah fly over dan pak pulisi budiman tidak menunjukkan tanda-tanda untuk segera mengakhiri arahannya itu. Kendaraan terus maju sehingga akhirnya menyempurnakan antrian Kuningan arah Mampang. Lajur yang seharusnya kosong karena buat arus laju kendaraan dari Gatsu menuju Cawang telah tertutup rapat oleh motor dan mobil. Sementara lampu hijau sudah menyala menyiaratkan kendaraan sisi Gatsu menuju Kuningan untuk bergerak melintas, pun demikian dengan saya, bergegas untuk menyebrang ketjeh.

Namun lihatlah apa yang terjadi, buah semangka berdaun sirih… Eh, maap, itu mah lagunya Broery… Maap… Maksud saya, namun lihatlah apa yang terjadi, kesempurnaan antrian yang terjadi akibat arahan sang pulisi trendy membuat kendaraan yang mau melintas tidak bisa melaju dengan lancar. Terhambat di tengah. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kemudian? Ya, klakson dan makian berbunyi bersahutan. Kondisi yang sama bahkan juga membuat saya sulit untuk menyebrang. Roda motor telah mengisi setiap senti celah nganggur sehingga kaki saya yang kecil ini pun tidak bisa nyelip. Maka dengan wajah penuh murka saya berbalik badan, menghampiri pulisi trendy yang nampaknya mulai menyesali arahan sok bijaksananya…
“PAAAAAAKKKK! GEMANA SEEEEEEEEHHHHHH!!!! MACET NEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHH!!!!
Ya, saya sengaja membentak pulisi itu yang karena kebodohannya malah membuat situasi makin runyam, bukannya mengatur dengan benar tapi malah menyuruh melanggar aturan. Lalu saya melangkah lagi, meninggalkan pulisi terdiam dengan wajah melongo. Dongo. Dengan susah payah dan sambil mengacungkan telunjuk ke arah motor yang masih berusaha masuk ke bawah fly over, saya terus melangkah. Pengen banget rasanya saya tendang itu pengendara motor goblok.

Keesokan harinya saya bercerita pada teman kantor dan responnya, “Pulisi itu kan cuma berusaha mengatur lalu lintas, pengemudinya aja yang emang ga sabaran”. Emang betul, tugasnya pulisi untuk menjamin kelancaran lalu lintas. Tapi pulisi juga berhak untuk menindak pelanggar aturan, bukannya malah mengijinkan pelanggaran peraturan. Pengijinan seperti itu niscaya bertendensi akan terulang di waktu lain namun dengan inisiatif langsung para pengendara dengan argumen pembenaran diri sendiri, “Kan kemarin juga pulisinya ngatur seperti itu…”. Asik kan?
Entahlah, apakah benar asumsi saya yang mengatakan lalu lintas ibu kota makin kacau karena para regulatornya ga sepenuh hati dalam memberi arahan dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Saya sih masih tetap berpegang pada prinsip jaman dulu, keteraturan membuahkan kelancaran. Mengantri merupakan salah satu pengejawantahan Keteraturan (bah… Macam bahasa P4 ajah…). Saya masih percaya bahwa walaupun terasa lama, namun kalo antri dengan benar malah bisa memperkirakan waktu yang dibutuhkan, daripada malah berebut dan membuat keadaan makin runyam.

Buat para pengendara, tolong diingat bahwa yang pake jalanan itu bukan cuma kalian doang, jadi tolong jaga etika mengemudi yang benar.

Dari mana pelajaran etika mengemudi itu didapat? Saat ujian SIM. Tapi gimana mau ujian SIM kalo bikinnya aja nembak? Ya ikut jalur resmi. Tapi kalo ikut jalur resmi lulusnya susah dan akhirnya biaya yang keluar karena ngulang secara total jadi sama dengan biaya calo yang sehari langsung jadi. Ya ikut calo aja, tokh diijinkan koq… Hahahahahahahahahaahahahahaaaaa….
Termyata saya baru sadar, mengapa dulu saat sepupu saya berada di amerika terlihat begitu bangga melalui tulisannya via email yang mengatakan bahwa dia akhirnya memperoleh SIM mengemudi mobil. Lewat jalur resmi dan ujiannya beneran Boi… Makanya pengemudi di luar negeri sana sebagian besar mengerti dan mempraktekan etika mengemudi dengan benar.

Jakarta? Bekasi?

Indonesia?

Salam mengemudi *genjot sepeda*

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Tjintah

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s