Pengalaman Pertama – “Jadi Orang Ngetop”

image

Ngetop.
Siapa coba yang dalam hati kecilnya ingin sekali mendapat kesempatan untuk menjadi ngetop? Entah itu menjadi artis sinetron, model iklan, atau jadi koruptor sekalian yang bisa memberikan jaminan pembicaraan setiap hari dan berkali-kali melalui berbagai macam saluran tipi. Siapa coba yang saat masih kecil ditanya cita-citanya langsung menjawab “jadi presiden”? Itu pertanda bahwa dia pengen banget ngetop karena presiden kan jadi orang nomor 1 ya senegara sementara anak kecil mana ngerti sih apa job desc-nya presiden. Jadi jawaban itu semata-mata hanya didasarkan pada penglihatan mereka bahwa presiden sering banget masuk tipi dan koran ibu kota.
Atau siapa yang masih kecil bilang “pengen jadi dokter”? Itu juga pasti didasarkan atas dorongan alam bawah sadar ingin menjadi orang yang paling bermanfaat saat dibutuhkan orang lain, orang yang ga bisa sembarangan ditemuin – harus bikin janji apalagi kalo udah jadi dokter sepesialis. Anak kecil mana ngerti sih tentang job desc-nya dokter selain tukang suntik doang, yang keliatan hanyalah sesosok manusia pake jaket putih bersih dengan wewangian aroma obat.

Keinginan untuk ngetop pun saat ini semakin terakomodir dengan semakin semaraknya jaringan sosial dunia maya macam efbi, path dan yang paling trendy twitter. Semua memberikan lahan bagi penggunanya untuk mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, seeksis-eksisnya yang terkadang sampai kebablasan dalam arti merugikan orang lain. Jangan lupa juga ajang pencarian jalan menuju ngetop yang paling efektif adalah yutup, bukan sekedar ngomong atau tulisan ngacok semata namun di sini kita dituntut untuk memperlihatkan keahlian yang dimiliki, well cocok banget buat mereka yang memiliki keahlian dan keterampilan tertentu untuk didemonstrasikan. Pokoknya saat ini sudah banyak banget media yang menjanjikan kengetopan sesuai dengan kemampuan dan keeksisan penggunanya.

Bicara tentang hasrat untuk jadi orang ngetop, pun berlaku bagi seorang Joseph Aipassa yang dalam usaha mencari jatidiri telah beberapa kali membuat nama samaran yang diharap bisa lebih ear-catchy dan yang mendengarnya bisa membayangkan sesosok pria keren nan manis kayak permen.
Kalo bicara tentang cita-cita sebagai representatif alam bawah sadar ingin menjadi ngetop, rasanya saya ga terlalu berlebihan koq. Waktu masih kecil banget saya ingin menjadi Pendeta karena memang garis darahnya kuat sekali di keluarga Ambon saya. Belum lagi saya selalu dikenal sebagai good boy-nya anak Bapak Rudy dan Ibu Butet Aipassa maka rasanya wajar saja memiliki cita-cita itu. Agak besar dikit cita-cita saja berubah menjadi Green Lantern dan dimulailah pencarian cincin bertuahnya itu namun tentunya tiada membuahkan hasil. Kemudian berubah lagi ingin menjadi insinyur karena saya hobi gambar. Namun tema gambar saya adalah para superhero macam Superman dkk sampai dengan Tiger Wong dan akhirnya membuat cita-cita saya berubah lagi pengen jadi ahli kungfu seperti Bruce Lee. Saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Om tercinta yang mempunyai penggaris besi sepanjang 60cm sebagai pedang khayalan saya dan beberapa eksemplar buku kopingho serta komik tiger wong dan kungfu boy yang suka memberikan detail gerakan mengenai suatu jurus kungfu. Ilmu yang akhirnya pernah berguna saat saya bersama almarhum Iyo mengejar sekelompok preman tanggung berseragam SMP yang mencoba memalak Iyo. Kami hanya berdua melawan sekitar 8 orang. Beneran lhow ini! Lalu cita-cita ini berubah lagi ingin menjadi seorang dokter sejalan dengan penjurusan Biologi yang saya dapatkan saat SMA. Apabolehbuat, keinginan untuk menjadi dokter kandas seiring dengan gagalnya saya dapat UMPTN masuk universitas negeri. Lalu banting setir lah saya untuk masuk ekonomi dan akhirnya menjadi seorang pegawai bidang keuangan dan akuntansi.

Apakah ini sudah sesuai dengan mimpi saya? Tentu tidak. Mimpi saya ternyata ingin menjadi musisi terkenal yang ngetop seantero kecamatan. Lah, koq sekonyong-konyong? Ya memang begitu. Mimpi ini terpupuk saat saya sudah mulai belajar musik dan kemudian merasakan enaknya mengekspresikan diri melalui permainan instrumen dan penuangan emosi melalui lirik dan irama. Maka saya memilih instrumen bass saat bergabung dalam suatu band dengan alasan keliatan gagah banget. Nah jaman dulu tuh susah banget ya untuk menjadi ngetop karena memang belom ada dukungan mumpuni jejaring sosial jadi kalo mau ngetop ya memang harus usaha sendiri, kerja keras dan banyak berdoa. Ga ada cara singkat.

Tapiiii, saya pernah lhow merasakan diri menjadi orang ngetop walau hanya sekejap. Kenikmatan sesaat. Begini ceritanya:
Suatu saat, ketika masih kuliah dan acara pentas musik fakultas sering banget diadakan, band saya sering banget berpartisipasi. Awalnya band saya mengikuti berbagai macam audisi supaya bisa tampil dan kami memberikan penampilan yang all out dalam setiap kesempatan. Hal itulah yang membuat kami akhirnya tidak perlu ikut audisi lagi dalam ajang pentas musik selanjutnya bahkan kami menjadi band undangan. Selain itu band saya sempat mau dijadikan band milik kampus walau akhirnya kandas di tengah jalan karena perbedaan aliran musik, kami main rock alternative sementara mereka mengharapkan Michael Learns To Rock. Ga nyambung, Boi. Emang sih band kami itu terlalu idealis mainin lagu-lagu yang memang kurang trendy di kalangan masyarakat, tapi kan pembelajaran mengenai kualitas harus dilakukan dalam segala lini kehidupan, sepokat??? Band kami yang tetap setia dalam memainkan rock alternatip dan sering latihan membuat kami semakin fasih dalam bermusik. Jujur aja, waktu itu saya baru tau lhow bahwa bass kalo dipakein efek suaranya jadi keren banget, norak ya… Hehehehehehe… Sampai akhirnya di suatu pentas musik di kampus sendiri, kami mendapat kesempatan buat tampil lagi dan waktu itu kami memainkan lagu Israel Son milik Silverchair. Well, lagu itu kan emang beat-nya asik banget ya dan lagu itu dimulai dengan intro bass yang diberikan efek. Wah – itu kesempatan banget buat saya berekspresi dan ketika musik full dimainkan saya langsung melompat-lompat. Benar-benar melepaskan energi baik positip maupun negatip. Saya pengen keliatan keren di atas panggung sambil tetap menjaga kualitas. Hehehehhehe… Singkat cerita, manggung kami saat itu berhasil banget. Bahkan ketika kami turun dari panggung dan berjalan menuju tempat kami nongkrong, banyak orang yang bilang “gila, edan kalian!”. Ah, hati ini berbunga-bunga..

Namun yang paling membuat hati berbunga-bunga adalah, saat kembali ke tempat tongkrongan eeeeh ada cewek kecengan yang sudah menunggu di situ. Maka, dengan kaos yang masih basah karena keringat, saya jalan menuju Blok M bersama dengan cewek itu. Macam betuuuuuul aja kelakuan sok rockstar banget. Huahahahhahahaaa…. Etapi itu belum seberapa deh… Yang paling membuat bunga hati semakin berbunga-bunga adalah ketika keesokan harinya, saat saya sedang berjalan melintasi parkiran kampus menuju kelas dan meliwati sekelompok mahasiswa baru yang sedang duduk bergerombol sekonyong-konyong terdengar suara perempuan menyapa, ” Hai Bang Joe”… Walaaah… hati ini terasa berdesir, agak kuatir, takutnya itu suara kuntilanak lagi nyengir… Untuk memastikannya saya menengok ke arah suara itu dan mendapati bahwa ada seorang mahasiswi muda lagi tersenyum ke arah saya. Saya balas senyum dan kemudian ada seorang mahasiswa muda yang berkata, “Bang, kemarin abang keren banget mainnya”. Ooooooooohhhh… ini kah yang disebut sorga dunia???? Dua pujian itu membuat saya salah tingkah. Baru kali ini saya mendapat pujian seperti itu! Tanpa bisa berkata lebih banyak lagi, saya hanya dapat membalas pujian itu dengan, ” Terima kasih ya….”. Seandainya saja sat itu sudah ada Twitter atau efbi pasti langsung saya kasih tau akun saya supaya di-follow atau add friend. Dengan pipi bersemu merah (karena jerawat), bibir tersenyum lebar dan hidung kembang kempis, saya melangkah meninggalkan mereka dengan langkah setengah melayang. Masuk kelas dan menghadapi pelajaran Akuntansi Tingkat Mahir dengan otak yang berbinar-binar. Seandainya saat itu langsung Final Test pun saya pasti siap banget! Terbukti, IPK saya saat itu mencapai 3, lebih daaaaaaaaahhhh…. Huahahahahahhaaaa…

Semenjak saat itu saya tau bahwa saya memang ingin ngetop sebagai musisi walaupun tidak untuk dijadikan sumber pencarian nafkah yang utama, namun terbersit juga keinginan untuk ngetop dan dikenal sebagai musisi yang baik dan tidak sombong. Tak kurang dari nama “DJXL” (Dope Joseph Xtra Large – nama saat saya masih tergila-gila dengan rap), lalu berubah menjadi “Skinny” (didasari fakta bahwa TB/BB saya saat itu adalah 170cm/45kg alias begenk), berubah menjadi Bigbangjoe (sebagai bukti bahwa saya mencintai rock alternatip milik Stone Temple Pilots) dan sekarang bertambah menjadi The Hexagram (sebagai moniker baru proyek one man band). Sekarang saya sudah punya twitter, efbi bahkan blog. Jangan lupa ada juga akun yutup-nya… Apakah itu sudah menunjukkan bahwa saya ingin banget jadi ngetop? Ah, follower twiter akyu aja ga pernah nyampe 190 orang koq, mana bisa dibilang ngetop… Hahahahahahahahahahahaaaa….

Ga penting banget yak… Have a nice day, people.

Bigbangjoe

#Presiden Front Pembela Tjintah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s