… Demi Saus Keju Gratisan …

Menjilat ludah sendiri. Apakah itu yang aku alami hari ini???

Kalian, warga Jakarta dan sekitarnya, pasti udah tau persis dengan satu tempat yang sesungguhnya adalah mini market namun juga menjual fast food dan menyediakan tempat nongkrong bernama 711, tempat yang ternyata menjadi ajang nongkrong banyak anak muda (kalo ga mau dibilang abege) dan terkadang membuat macet lalu lintas di sekitarnya. Mengapa? Entahlah. Kalo menurut pengamatan kasat mata yang saya lakukan sih kemacetan itu diakibatkan oleh banyaknya kendaraan yang diparkir melewati are parkir yang seharusnya, banyak banget pengunjung 711 (yang sekali lagi saya sebut anak muda) datang sambil membawa kendaraan pribadi. Contohnya sih di seberang Senayan City, sampingnya ITC Senayan, coba aja deh kalian liat sendiri apalagi kalo udah malam minggu… busyet daaaahhh… Saya sebagai pengguna jalan Asia Afrika cukup merasa kesal dibuatnya, bukan apa-apa Boi, naik taxi nih… macet bikin kendaraan tidak melaju namun argo tetep muter. Isi nominal dompet ga seiring dengan tebalnya bon tagihan yang menumpuk di dalamnya. Jadi kan mata ini yang seharusnya menikmati pemandangan jadi terganggu konsentrasinya oleh angka digital yang berkedap-kedip di kotak kecil di samping pak supir yang sedang bekerja. Kenaikannya Rp. 250 kalo tarif lama dan Rp. 300 kalo tarif baru. Bah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit dan jadilah Rp. 75.000 yang harus dibayarkan setelah taxi dengan sukses menibakan saya di depan pagar rumah. Angka segitu sedikit banyaknya dipengaruhi juga oleh kemacetan yang ditimbulkan arus kendaraan yang bolak balik parkir di 711 itu…

Suatu saat saya pernah mendapat kesempatan untuk berjalan kaki melintasi kumpulan anak muda yang duduk di bawah payung hijau dengan garis warna warni yang menjadi ciri khas 711, satu meja kecil dikelilingi oleh setidaknya 5 – 6 orang sambil bercerita, tertawa, berteriak, keplak-keplakan, tabok-tabokan, tendang-tendangan, tusuk-tusukan, bacok-bacokan…oke…oke… saya lebay… ga sampe kaya gitu koq, cuma cerita-cerita dan ketwa-ketawa dengan suara yang amat kencang. Jangan salahkan saya jadi lebay, abisnya emang keriuhan yang dibikin membuat saya curiga ada kejadian pembunuhan di sana. Ternyata tidak koq, cuma anak-anak muda yang sedang asik menikmati beberapa bungkus kripik kentang dan dengan beberapa gelas minuman dalam wadah terbuat dari kertas. Itu adalah hasil sekelebatan penglihatan mata saya yang kadang burem kadang bisa tembus pandang. Lalu sambil mengayunkan langkah (yang diperlambat karena ingin tahu apa sih yang mereka lakukan) saya bisa melihat ternyata payung hijau itu bukan hanya satu namun ada beberapa dan dalam kondisi yang (hampir) sama: 1 payung, 1 meja dikelilingi beberapa anak muda dengan menu konsumsi yang (hampir) sama: keripik kentang dan minuman dalam gelas kertas. Ada juga sih yang kayaknya makan burger apa hotdog gitu deh dan minumnya soft drink kalengan. Satu yang (lagi-lagi hampir) menjadi kesamaan dari kumpulan anak-anak muda itu adalah gayanya seperti ingin dilihat oleh orang lain – cari perhatian gitu deh. Ngobrol dengan suara keras nampaknya memang mereka sengaja ingin didengar topik pembicaraannya oleh kumpulan lain yang berada di sana. Well, itu sih menurut saya ya… Mata-mata sayaaaaa, otak-otak sayaaaa jadi terserah saya mau menilainya apa yaaaaa….  Jadi, dalam waktu hanya tidak sampai 1 menit saat melintas di depan lokasi tersebut saya sudah bisa mengambil kesimpulan sepihak namun rasanya cukup representatip deh… Eiiitttsss, buat para aktivis 711 ga boleh marah ya…

Akhirnya saya melihat bahwa koq hal itu malah menimbulkan ketidaknyamanan buat orang lain ya walaupun memang itu hak asasi mereka semua koq, namun koq ya rasanya gimanaaaaa gitu ya. Mungkin karena memang hampir sebagian besar yang menjadi aktivis nongkrong di 711 adalah anak muda dalam masa pertumbuhan, mencari jati diri, penuh kegalauan, penuh kebimbangan dan penuh usaha menggaet pasangan maka resmilah 711 mendapat predikat tidak resmi sebagai tempat gaol (baca: gaul – red)-nya abege. Banyak juga yang bilang tempat kumpulnya anak AL4Y. Tapi di beberapa lokasi – khususnya yang memang di daerah perkantoran – banyak juga koq eksekutip muda yang nongkrong di sana saat makan siang atau sekedar nunggu macet berakhir saat sore hari. Tapi ya tetap aja lebih banyak anak abege yang mendominir tongkrongan 711. Makanya tidak aneh misalnya lagi ngobrol dan tiba-tiba tercetus ide buat beli makanan di sana pasti ada aja yang nyamber dengan kalimat “ah, elo kaya abege aja mau makan di 711”. Massive banget ya efek dari aksi tongkrong-menongkrong itu…

Berdasarkan segala pengamatan dan evaluasi, juga informasi yang terdengar dan juga kuatir diceletukin “kaya abege” sama rekan seusia (yang di ambang 40 tahunan), maka saya memutuskan untuk tidak akan mau nongkrong di 711. Saya tidak mau menjadi bagian dari mereka yang suka bikin macet jalanan, mereka yang suka bikin kegaduhan kalo ngobrol, dlsb yang nampaknya kurang mencerminkan pribadi saya yang dewasa, berkharisma, berwibawa dan idola remaja ini (mohon maap jangan muntah ya, dimaklumi saja lah ya… – red). Ya, saya tidak akan mau belanja apapun di 711. Satu-satunya 711 yang pernah saya datangi adalah saat di negeri tetangga dan itu pun cuma karena pengen beli deterjen buat nyuci sendiri soalnya kalo pake jasa laundry mahal Boooooiii…. Tekad saya bulat: Say No To 711.

Namun entah mengapa, angin berhembus dari mana, mau ke mana dan dalam rangka apa, sekonyong-konyong pada suatu hari seorang rekan kerja saya yang juga seorang Ibu beranak dua tetiba bercerita bahwa salah satu dari anaknya suka banget beli makanan di 711. Kadang saat selesai bersepeda pun anaknya minta diajak makan di 711. Mengapa? Ternyata karena ada saus keju yang di taruh di dalam dispenser dan gratis untuk dimakan bersama makanan yang sudah dibeli. Saya bingung, saus keju? Masa gratis? Teman saya itu meyakinkan berkali-kali dan sebanyak itu juga saya mencoba menanyakan hal yang sama, masa iya sih saus keju dikasih gratis… Tak lama kemudian salah seorang rekan kerja saya yang lainnya – wanita yang masih cukup muda walau sudah memiliki satu anak balita – turut serta menguatkan fakta yang telah diungkapkan rekan saya. Saus Keju Memang Gratis. Bah! Macam mana! Sementara saya kalo makan di salah satu restoran dengan menu fast food harus bayar Rp. 3000 ditambah tax 10% menjadi Rp. 3.300 kalo mau minta cheese sauce. Tapi ini? Koq katanya 711 menyediakan gratis???? Luar biasa… Lalu saya mencoba memberikan situasi super ekstrim, misalnya aja saya beli pasta gigi atau sabun cuci tapi kemudian saya ambil saus keju-nya juga, apakah boleh? Bukan jawaban yang saya peroleh namun hampir saja CPU komputer dilempar ke muka saya atas rasa kekesalan rekan-rekan kerja karena saya benar-benar sulit percaya.

Lalu rekan saya menjelaskan lagi bahwa ternyata saus keju itu yang menjadi daya tarik tongkrongan bahkan ada cara khusus untuk menikmati keripik kentang dengan nikmat. Begini caranya: Ambil sekantong keripik kertas, merk apa saja dan rasa apa saja yang penting sesuai selera, bayar dulu, kemudian dibuka dan tuangkan saus keju ke dalam kantong tersebut. Ambil sebanyak yang disuka (walau ada tulisan “Ambil Secukupnya” di dekat dispenser ), pastikan bahwa saus keju sudah menutupi sebagian besar keripik kentang. Lalu ambil sumpit untuk digunakan sebagai pencapit keripik kentang yang telah terselimuti saus keju. Rupanya itu yang menjadi rahasia anak muda betah nongkrong… Bah… Ditambah lagi, teman saya memberitahu sebuah trik untuk menikmati minuman khas di sana – bernama Slurpee – yaitu dengan mencampur beberapa rasa niscaya akan mendapat minuman bercitra rasa tinggi dengan harga terjangkau. Bah… macam manaaaa….

Saya adalah pria berdarah ambon-batak dengan oma yang keturunan belanda, jadi wajar saja kalau saya doyan sama keju dan cerita tentang saus keju yang bisa diambil sebanyak-banyaknya membuat saya cukup ngiler. Ketika saya harus bayar Rp. 3.300 untuk sewadah kecil cheese sauce di restoran fast food, di 711 saya bisa mendapatkannya dengan gratis, sebanyak yang saya suka, gratis… gratis… g r a t i s… g  r  a  t  i  s  .  .  . GRATIS!!!!

Selanjutnya tentu bisa kalian tebak lah ke mana arah tulisan ini akan berlanjut… Hiks…

Tidak akan saya tuturkan apa yang terjadi selanjutnya… Namun saya rasa beberapa foto yang saya lampirkan di sini cukup memberikan clue mengenai hal yang terjadi kemudian… Yang pasti saya senang karena bisa mendapatkan saus keju sebanyak-banyaknya… GRATIIIISSSSS!!!!

… aku bertanya pada langit yang mulai menggelap dan lampu jalanan yang mulai berkilau … apakah ini yang disebut menjilat ludah sendiri … ampunilah aku, wahai engkau sang pemilik saus keju gratisan … ampunilah aku, wahai engkau sang pengguna jalan … aku hanya ingin mengambil saus keju sebanyak-banyaknya dan berjanji tak akan membuat macet jalanan … 

Salam kekenyangan,

Bigbangjoe

Presiden Front Pembela Tjintah

Advertisements

2 thoughts on “… Demi Saus Keju Gratisan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s