Semrawut Lebih Menguntungkan?

Di Jakarta keadaan emang udah banyak yang terbalik. Hal yang ga benar malah dibenarkan dan yang benar malah dimusuhin. Bukti yang paling kuat adalah kondisi lalu lintasnya. Coba saya tanya, di belahan manakah di Jakarta ini bisa ditemukan kendaraan yang berhenti di balik garis putih saat menunggu lampu merah selesai menyala? Semua sudah semakin maju melewati garis putih, terlebih para pengguna motor yang seperti takut kehilangan momen untuk memacu kendaraannya seakan-akan kuatir kehilangan waktu 1 jam jika terlambat 1 detik saja untuk memutar kendali gas. Belum lagi para pengendara motor yang berjalan melawan arus dan kalau hampir ketabrak malah dia duluan yang marah-marah. Serunya lagi adalah mereka yang suka mengambil lahan pejalan kaki di trotoar, bahkan berani menglakson pejalan kaki yang dirasa menghalangi laju motornya. Semakin seru karena tidak jarang kelakuan minus itu memang direstui oleh polisi lalu lintas yang mungkin sudah kehilangan akal sehat dan kemampuan berpikirnya dikarenakan bingung tingkat tinggi dalam menjalankan tugasnya.

Tidak berlebihan rasanya jika saya bilang bahwa semakin diatur, keadaan lalu lintas Jakarta malah semakin ruwet. Ga percaya? Nih ya saya ceritain ya pengalaman pulang kantor kemarin.

Jam 17:30 secara tumben saya memutuskan untuk naik bis transjakarta yang kebetulan hampir sampai di halte tepat di seberang jalur saya berjalan kaki. Semenjak resmi terus-terusan memakai kacamata, pandangan saya menjadi lebih terang, jelas dan mampu untuk bisa melihat dalam jarak yang lebih jauh, maka terlihatlah bis transjakarta tersebut tidak terlalu padat penumpangnya, artinya saya masih bisa berdiri dengan posisi yang cukup nyaman. Maka kaki ini segera mengayun dalam langkah yang lebih cepat, membeli tiket, kemudian berdiri di halte – sambil melipat tangan – dekat dengan seorang mbak berwajah lelah sekali. Menunggu sebentar dan 5 menit kemudian tibalah bisa itu di depan halte dan melangkahlah kaki saya dalam gerakan yang anggun dan mendapat spot yang cukup asoy untuk berdiri. Mengapa asoy? Karena posisi saya berdiri adalah di bagian sisi pintu yang tidak akan terbuka, penumpang keluar dan masuk melalui sisi pintu seberangnya. Bersandar. Tak perlu kuatir harus bergeser karena desakan penumpang yang galau terburu-buru berebut posisi strategis.

Mendapat posisi yang amat menyenangkan ini membuat saya memutuskan melengkapi kenikmatan sesaat ini dengan mendengarkan alunan musik superkeren dengan menggukanan headphone. Sekaligus ngecenk – rasanya. Lokasi saya naik itu adalah di halte baswey perempatan Mampang – Kuningan. Saya memperkirakan waktu tempuh menuju cawang adalah selama 30 menit dengan mempertimbangkan jalur khusus yang memang didedikasikan untuk baswey ini. Namun perkiraan tinggallah perkiraan, pertimbangan tinggallah pertimbangan. Kenyataan yang terjadi sungguh membuat diri ini menderita…. Jalur yang seharusnya steril justru malah dipakai oleh banyak kendaraan lain, bukan hanya motor (yang kebanyakan pengemudinya terkenal suka melanggar aturan) namun juga mobil dan bus besar lainnya. Hal itu mengakibatkan tersendatnya laju baswey ditambah lagi memang harus berhenti di halte-halte yang sudah ditentukan. Tidak bisa menawar. Walhasil, perkiraan waktu tempuh selama 30 menit itu hanya berlaku dari perempatan kuningan (bahkan tidak) sampai pancoran. Tepatnya baru sampai di halte seberang persimpangan Bidakara. Bahkan saat nanjak di fly-over pancoran pun sempat terhenti lagi sekitar 15 menit. Luar biasa… Kemudian sesampainya di halte BNN – tempat saya rencananya turun – menghabiskan waktu lebih dari 30 menit dikarenakan entah antri apa. Benar-benar berhenti. Jadi total perjalanan menggunakan baswey dari arah perempatan kuningan sampai persimpangan cawang adalah selama 1 jam 15 menit. Padahal seharusnya paling lama cuma 15 menit saja jika jalur baswey memang steril.

Lalu saya membandingkan dengan waktu tempuh jika saya naik bis mayasari atau PPD.

Bis-bis tersebut biasanya memutar di bawah fly-over kuningan – yang pastinya bukanlah rute resmi. Kemudian “ngetem” sebentar di sana sambil menunggu datangnya calaon penumpang. Karena “ngetem”nya bukan di tempat resmi maka bisa dipastikan calon penumpang bisa mendapat tempat untuk duduk. Kemudian bis-bis tersebut akan jalan dengan santai seakan memberi kesempatan untuk para calon penumpang lainnya yang tidak sempat naik di tempat “ngetem”. Kemudian bis-bis tersebut akan masuk jalur baswey jika jalur reguler macet dan akan keluar dari jalur baswey untuk kembali masuk jalur reguler jika ternyata terhambat lajunya. Perpindahan jalur itu dilakukan dengan cara melindas separator. Serunya lagi, jika ada penumpang yang ingin turun di suatu tempat padahal bis sedang melaju di dalam jalur baswey, semerta-merta akan berhenti di tengah dan penumpang disuruh turun dengan buru-buru tanpa peduli resiko tersambar kendaraan yang melintas. Luar biasa ya.

Namun dengan segala kengacoan itu, waktu tempuh perempatan kuningan sampai persimpangan cawang bisa dicapai hanya 45 menit – paling lama. Belum lagi saya dapat duduk jadi bisa merasa cukup nyaman. Ya mungkin akan beda sih kalau minta testimoninya dari penumpang yang berdiri berhimpitan, tapi itu kan pilihan ya.. Kenapa juga dia mau naik bis yang udah penuh. Hehehehehe… Oh iya, segala ketidak teraturan namun menguntungkan itu bisa ditebus dengan hanya membayar Rp. 2000 saja, sementara keteraturan namun menghabiskan waktu itu harus ditebus dengan membayar Rp. 3.500. Ga seru ya…

Kesimpulan sekaligus pertanyaan, jadi apakah benar hal yang teratur justru membuat penduduk Jakarta merasa lebih rugi? Saya – sebagai warga Bekasi yang mencari nafkah di Jakarta – berharap kepada Gubernur terpilih nanti yang tidak lama lagi akan menjalankan masa baktinya mampu mengembalikan kedisiplinan dan keteraturan di kota ini. Buktikan bahwa sesuatu yang teratur itu memang jauh lebih menguntungkan dan menyenangkan. Saya rindu bisa bepergian dengan nyaman dan tenang…

Salam Macet,

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Tjintah

20121002-153452.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s