Tentang Koboy dan Orang Tengil

http://news.detik.com/read/2012/05/04/073830/1908741/10/jika-bersalah-kapten-a-koboy-palmerah-bisa-dipecat-dan-dipenjara

image

Beberapa hari yang lalu warga jakarta dan para pemerhati berita dari luar daerah cukup dihebohkan oleh aksi seorang oknum TNI yang bertengkar dengan seorang pengendara sepeda motor sambil mengacung-acungkan senjatanya. Macam koboy saja gayanya. Tak salah lah ketika kemudian disebut sebagai Kapten Koboy (ternyata pangkatnya doski Kapten).
Saya sangat menentang segala macam kelakuan orang yang belagu, sengak, tengil atau apapun yang mempertontonkan kekuatan atau kekuasaan dalam upaya membuat orang lain takut/terintimidasi. Ditambah lagi jika orang itu punya alat bantu pendukung ketengilannya. Bagi saya sih orang seperti itu sebenarnya adalah pengecut, pecundang sejati yang kehilangan jati diri dan berusaha mencarinya dengan cara yang – menurutnya – sudah sewajarnya. Saya cuma berpikir, tanpa senjata apakah orang masih tetap menjadi pemberani? Tanpa backing apapun apakah orang masih tetap tengil?

Orang tua saya (terutama Papa) menanamkan nilai yang paling penting buat saya dan alm. adik: menjadi pria yang pemberani karena memang ada kebenaran yang perlu dipertahankan di dalamnya. Papa tidak pernah mengajar kami untuk menjadi pria (keturunan ambon – batak) yang petantang petenteng, tengil-tengilan. Seperti beliau sendiri sebagai teladan, kami melihat figur seorang pria yang nyalinya ga bisa diukur tapi bawaannya tenang, kalem, suka becandaan aja. Justru yang seperti Papa itu malah akhirnya dihormati oleh banyak orang. Papa mengajar kami untuk terus maju, ga perlu takut akan segala macam hal dan persoalan, yang penting tidak melanggar titah agama dan menjaga prinsip kebenaran.

Lalu saya coba melihat kasus di atas, oke saya setuju bahwa kelakuan si oknum itu emang super tengil tapi jangan juga kita termakan oleh satu sisi penulisan berita saja. Dalam satu tulisan dikatakan bahwa yang memulai panasnya situasi adalah si pengendara motor – walau mungkin karena provokasi tak sadar yang dilakukan oleh si koboy. Lalu terjadilah adegan saling mengintimidasi berpuncak pada diacungkannya senjata – yang katanya hanya berupa airsoft gun. Ah, lucu sekali pemandangan itu. Kalau saat itu saya menjadi salah satu saksi mata, akan menjadi seorang dengan tawa paling kencang. Melihat dagelan seperti itu di tengah kepenatan hari yang membosankan adalah sebuah hiburan gratis, bukan?
Mari kita lihat sendiri bagaimana kelakuan pengendara di jakarta, motor, mobil atau bahkan sepeda, semua merasa menjadi pemilik jalan yang berhak ngepot, sundul-sundulan dan berbagai kelakuan ga etis dalam berkendara lainnya di mengejar waktu. Tanpa memperhatikan keselamatan orang lain. Hebat kan? Yang paling parah memang adalah kelakuan banyak pengendara motor, dengan ukuran fisik kendaraan yang lebih kecil mereka merasa bisa (dan boleh) melintas melawan arah, ngepot sana-sini, menyuruduk sana-sini. Saya sendiri beberapa kali pengen nonjok pengendara motor yang semena-mena naik trotoar dan mengklakson supaya saya minggir. Terus kalo saya marah dan akhirnya berantem apakah akan disebut sebagai pendekar tangan kosong (bukan koboy karena ga punya senjata)?
Jadi sesungguhnya saya tidak terlalu setuju kalo semua kesalahan diembankan pada sang koboy. Dia – katanya – akan
diproses hukum, wajar saja karena seorang yang seharusnya menjadi pelindung warga negara indonesia dan menjamin kenyamanan keamanan hidup koq malah mempertontonkan intimidasi dalam arogansi. Namun apakah hukum yang akan diberi kepada si pengendara motor? Apakah mungkin dia dianggap tidak bersalah dan akhirnya bebas melenggang kangkung dan kemudian melakukan hal yang sama lagi di waktu dan tempat yang berbeda? Dengan orang atau oknum yang berbeda? Semoga kejadian ini dengan segala pemberitaannya tidak membuat si pengendara motor menjadi besar kepala, sok ketjeh dan menjadi role model yang ngaco buat yang lain. Kampret.

Tulisan ini sama sekali tidak untuk mendukung si koboy katro namun juga tidak menyudutkan si pengendara motor, namun saya ingin kita semua melihat kejadian konyol ini sebagai pelajaran bahwa seharusnya hal kampungan seperti ini tidak perlu terjadi jika semua orang saling menghormati dalam menggunakan fasilitas umum. Keselamatan semua pengguna jalan merupakan prioritas kita saat berkendara. Jangan kita menjadi pembunuh terselubung karena sikap tidak peduli dengan keadaan.

Dan yang paling penting: Ga Usah Jadi Orang Tengil. Titik.
Sekian dan terima kamu ada apanya jika kamu mau menerima aku apa adanya.

Pengendara Sepeda Yang Budiman,

Bigbangjoe
#Presiden Front Pembela Cintah

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s