The Hexagram

Saya lagi kerajingan bikin proyek meng-cover lagu menggunakan salah satu gadget dengan software yang mumpuni, bagaikan memiliki studio mini berjalan saja. Saya memainkan semua instrumen, menyanyikan semua part vokal baik lead maupun backing. Sudah dua lagu yang saya kerjakan, pertama Cherry Waves milik Deftones yang begitu indah namun garang dan All For Love milik Color Me Badd yang begitu catchy. Walo hasilnya belum maksimal karena direkam dengan sendirian saja, tidak ada yang bantu, jujur saja saya mengalami beberapa kesulitan untuk memanajemen alur. Ditambah lagi rekaman dilakukan di kamar tidur – tanpa peredam suara – saya kuatir kericuhan yang ditimbulkan bisa membuat tetangga sebelah (pasangan tua berusia di atas 70 tahun) bisa mendadak terkena serangan jantung karena kaget, maka dari itu saya nyanyinya pelan-pelan saja, sedikit lebih keras dari berbisik. Ribet banget dah pas bagian teriaknya, untungnya saya bisa falset jadi harus diakalin deh, namun tak urung terdengar beberapa kali gemeteran, tercekat, tersedak dan masalah vokal lainnya.

Bagian lain yang paling merepotkan adalah menjaga ketukan/tempo. Untuk menghasilkan musik yang bagus dan konsisten hendaknya tempo lagu tetap terjaga dan itulah tingkat tersulit bagi seorang pemusik. Saat dimainkan secara live biasanya tempo lagu akan berubah-ubah sesuai dengan emosi yang dialami/dirasakan oleh sang musisi. Jika lagunya beraliran cadas atau bertempo sedikit cepat biasanya akan menjadi lebih cepat dan sebaliknya jika lagunya agak mellow maka bisa jadi makin lama temponya makin lambat. Terbawa perasaan, katanya. Itulah yang saya rasakan. Walaupun ada alat bantu bernama digital metronome hal itu justru menimbulkan masalah baru, apalagi dalam hal membuat master track-nya. Saya harus membagi konsentrasi antara nyanyi, bermusik dan menjaga tempo. Ditambah lagi saya yang emang memiliki kesulitan dalam menghafal lirik lagu (dalam bahasa apapun) harus berusaha keras dalam pendistribusian pandangan, ke arah laptop yang menampilkan lirik di layar dan kedap kedip lampu  metronome yang menunjukkan kecepatan tempo. Jadi jangan salahkan saya jika kalian – kalo udah denger – menemukan banyak hal untuk dikoreksi. Apalagi buat para musisi beneran, pasti dijadiin bahan ketawaan deh.

Apapun itu dan bagaimana pun hasilnya, saya merasa amat senang karena kali ini memiliki gadget yang benar-benar berguna dan bisa mendukung hobi juga ego saya. Sama sekali tidak salah pilih. Lahirlah monicker bernama The Hexagram yang saat ini (masih) berusaha meng-cover lagu-lagu indah kesukaan diri sendiri dan semoga (dalam usaha) ke depannya bisa menghasilkan karya musik sendiri, bisa bersaing dengan band band lokal maupun interlokal juga SLI, underground maupun upperground. Kali aja bisa meledak, nge-heeiiitttzz gitu, terus masuk tipi di acara dahsyat atau inbox, digoyang sama alay-alay eksotis berusaha erotis, amit-amiiiiiiit deeeeeeeeeeh. Hahahahahahaha. Dalam hati kecil ini saya ingin mengalahkan eksistensi Bebi Romeo dengan Bunga Terakhir-nya, Ahmad Dhani dengan proyek bejibunnya dan Ka Rhoma Irama dengan Soneta-nya. Namun saya tahu pasti bahwa untuk mencapai taraf itu diperlukan proses, pembelajaran dan kesabaran.

Satu hal yang menjadi “mimpi” saya adalah mengajak Papa, sang Guru Gitar untuk mengerjakan proyek The Hexagram, walopun tidak mungkin saya memintanya untuk memainkan lagu-lagu cadas tapi boleh aja kan The Hexagram memainkan lagu berirama bossanova? Atau yang sedikit nge-jazz gitu? Niscaya hasilnya pasti mumpuni secara Papa saya itu ahlinya musik-musik begitu. Cuma ya gitu deh, koq malu ya mau mengajaknya, hehehehehehe.
Bicara tentang Papa, saya itu jadi kangen dengan masa-masa muda saat masih serumah dengan ortu. Misalnya ada acara musik di tipi, biasanya saya mengambil gitar dan mengikuti alur musik yang disiarkan, mengisi ritem atau melodi gitar atau bahkan memaikan alur bass-nya. Itulah sesi nonton sambil belajar musik. Biasanya Papa yang juga nonton akan ikutan memukul-mukul pahanya seperti memberi ketukan. Kepalanya akan sedikit bergoyang mengikuti irama. Itu tandanya Papa sudah menikmati paduan musik tipi dengan hasil gerakan tangan anaknya. Itulah saatnya saya menjadi ge er. Tiada yang lebih membanggakan daripada bisa membuat seorang musisi idola menikmati musik yang dihasilkan sendiri. Ya, Papa adalah musisi idola saya. Gitaris inspirasi saya. My Hero. Tunggulah saatnya kolaborasi The Hexagram dengan The Aipassa. Halaaaaaaaaah.

Ngomce-ngomce, The Hexagram itu adalah nama yang saya ambil dari lagunya Deftones “Hexagram”. Kalo Bigbangjoe itu dari lagunya Stone Temple Pilots “Bigbang Baby”. Gile, berat beban saya mengemban dua nama besar yang berasal dari dua band kesukaan saya. (Menurut saya) nama keren harus bisa menghasilkan karya yang keren juga. Doain aja ya, kali aja saya bisa jadi musisi internasional, entar yang udah doain akan saya ingat selalu deh, saya tulis namanya di dalam sampul CD/DVD pas bagian “Thanks To”. Setuju?

Have a nice day, people!

Bigbangjoe
The Hexagram
#Presiden Front Pembela Cinta

Epilogue:
“Neng, kamu kan pintar main gitar ya”
“Lumayan aja sih. Emangnya kenapa?”
“Kita kolaborasi yuk jadi duet kaya Endah & Reza”
“Boleh aja sih. Tapi aku pikir kamu mau kolaborasi dalam mahligai pernikahan – menjadi istri kamu…”
*buru-buru cetak undangan*

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s