“Selamat” Hari Pendidikan Nasional

Ternyata hari ini, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional ya? Maaf, saya lupa banget soalnya udah lama ga memiliki keharusan menghapal tanggal bersejarah juga jajaran orang-orang yang duduk di kabinet pemerintahan.
Jadi hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional ya? Gimana sih cara memperingatinya? Sekedar ngucapin “selamat” via media sosial macam efbi atau tuiter? Atau ada yang patungan buat ngasih kado untuk seorang guru tercinta semasa sekolah dulu? Silahkan aja.

Bagi saya udah terlalu banyak tanggal yang “dijadiin” peringatan tanpa punya makna mendalam. Salah satunya ya Hardiknas ini.
Ketika mengucapkan “Selamat” koq ya yang terlintas dalam pikiran adalah mahalnya biaya pendidikan, permainan uang dalam penyelenggaraannya yang dilakukan oleh oknum internal bekerja sama dengan oknum eksternal, kecurangan terbesar yang dipelihara dalam bentuk bocornya soal-soal UAN, bisa melenggangkangkung-nya joki-joki UAN (tergantung bayarannya), disunatnya dana bantuan sekolah, gedung sekolah yang akan (bahkan sudah) ambruk menjadi pemandangan kontras jika dibandingkan dengan tayangan konser musik berharga jutaan rupiah. Dan lain sebagainya.

Indonesia adalah negara yang besar – katamu.
Negara besar itu memiliki tata cara pengaturan yang kompleks – katamu.
Tidak mudah mengatur 200 juta penduduknya untuk mendapat kesetaraan pendidikan – katamu.
Setuju sama semua katamu itu. Tapi kita BISA kan kalau mau berusaha? Masalahnya adalah maukah kita berusaha? Maukah kalian, sang regulator, berusaha? Jangan cuma sekedar seremonial saja. Penyerahan bingkisan pada guru-guru “melarat” yang diisi dengan isak tangis dan sembah sujud – ujung-ujungnya tetep drama. Dasar negara sinetron.

“Selamat” Hari Pendidikan Nasional. Yang ada malah banyak anak muda yang “tidak selamat” kehidupannya karena tidak mendapat pendidikam yang sesuai. Bamyak anak pintar yang terpaksa jadi buruh, anak umur 7 tahun yang sudah harus berjualan ulekan batu, keliling komplek dengan pikulan dengan total berat yang nampaknya lebih dari berat badannya sendiri. Tapi dia tetap kuat mengangta karena didesak oleh kebutuhan sehari-harinya. No wonder mereka berpostur pendek. Apa mau dikata.

Saya sendiri dari sekarang sudah pusing dengan pendidikan anak beberapa tahun ke depan nanti. Jika suatu saat saya dianugerahi anak, tidak akan saya masukkan ke dalam playgroup atau TK. Malah SD dan SMP juga mau saya lewatin aja. Saya akan suruh dia home schooling dalam arti sebenarnya, saya yang akan mengajarnya. Kalo cuma sampe pelajaran SD atau SMP mah saya pasti sanggup lah. Yakin banget anak saya itu akan mampu mengikuti ujian kesetaraan. Masalahnya, negara ini akan percaya banget sama yang namanya sertipikat (sampe dijadiin usaha pemalsuan kan?). Ribet dah. Pendidikan dasar penting karena disitulah anak-anak belajar bersosialisasi. Well, itu bisa diatasi dengan suruh si anak maim di lapangan sama teman-temannya, mainin permainan “kampung” yang mengharuskannya mengerahkan kemampuan motorik dan sensorik. Suruh si anak nyebur ke got buat cari encu untuk makanan ikan, jadikan dia anak yang tangguh, punya banyak teman. Di situlah terletak ilmu, di Alam Semesta. Lingkungan.

Maka saya setuju dengan ungkapan “Pendidikan Awal Adalah Dari Rumah” dan saya sedih melihat kenyataan bahwa banyak orang tua yang merasa bahwa dengan memasukkan anaknya ke sekolah mahal dan ngasih sumbangan yang besar maka kewajiban untuk memberi pendidikan mumpuni sudah terpenuhi. Padahal di rumah anaknya jarang diajak ngobrol, ga tau bahwa anaknya suka bolos, dlsb. Kasian juga ya, si anak stress karena di sekolah dijejalin kurikulum pelajaran yang membabi buta, disuruh belajar dari pagi gulita dan pulang saat gelap menjelang. Luar biasa.

“Selamat” Hari Pendidikan Nasional. Seharusnya kita semua merenung, apakah kita sudah menjadi orang-orang yang benar-benar “Selamat” setelah mengenyam pendidikan di masa lalu?
Ijinkan saya menghaturkan kata terima kasih yang tak terucap kepada semua pendidik yang hidup jujur dan berpikir tulus untuk memajukan anak didiknya sehingga kelak menjadi insan kebanggan bangsa yang membawa negara ini naik akhlaknya. Juga kepada semua orang tua yang sudah bekerja keras dengan penuh cinta membanting tulang demi menjamin kelangsungan pendidikan yang baik dan benar buat anaknya.

Karena ilmu sejati terdapat di alam, maka kita tidak akan pernah berhenti belajar. Semoga tahun depan saya jadi kuliah S2. Pengen jadi master nih, dalam bidang kung fu.

Entah apalah maksud dari tulisan ini. Sekian dan terima nikahnya dengan mas kawin seperangkat gadget mutakhir dibayar dengan cicilan 0% selama 12 bulan.

Bigbangjoe
#Presiden Front Pembela Cintah.

Epilogue:
“Neng, pasti cita-citanya mau jadi guru ya?”
“Bener tuh. Koq kamu tau?”
“Soalnya kamu telah meng-tutwurihandayani-kan hatiku”
*foto bareng* *jadi model sampul* *sampul raport*

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s