Demo Kenaikan BBM. Dukung atau Hujat?

Kalian ada di posisi mana, mendukung kenaikan BBM atau menentang? Mendukung demo penolakan kenaikan BBM atau menentang?

Hidup di negara “Indonesia” yang kaya raya saat ini sudah sangat sulit. Ekonomi terpuruk di balik semakin banyaknya gedung bertingkat berdiri. Mobil mewah berlalu lalang di setiap sudut jalan di balik semakin banyaknya orang merangkak demi memperjuangkan hidup yang bahkan di bawah kata layak. Mall dan restoran premium mengajak dengan angkuh mereka yang punya cadangan uang untuk dibuang sementara di belakang sana ada ada mereka yang sekarat, menanti ajal menjelang sebagai tahap lanjut setelah membaca nominal tertulis di lembar resep obat yang bahkan tidak terpikir untuk ditebus – lebih baik mati. Harga sembako meningkat, mulai tak terkendali, entah di mana itu yang namanya operasi pasar.

Ada kesenjangan sosial yang jelas-jelas didemonstrasikan secara semena-mena, angkuh.

Kenaikan BBM menjadi salah satu – jika tidak bisa dibilang sebagai – penyebab utama naiknya harga barang kebutuhan hidup dasar. Yang saya sebutkan di sini adalah kebutuhan hidup dasar yang memang berlaku untuk kaum papa sampai yang belum merasa mapan, karena bisa saja kebutuhan dasar itu bagi kaum lain dengan beda strata menjadi kebutuhan pelengkap saja.
Kenaikan BBM bikin harga sembako meningkat walo tidak terlalu signifikan atau memberi efek langsung pada kenaikam harga gadget. Bahkan paling lama seminggu setelah wacana kenaikan BBM diumbar harga sayur mulai naik, harga daging semakin mencekik. Ga usah bicara harga susu lagi ya, udah dari kapan gitu susu dengan standar kandungan gizi sesuai WHO merupakan barang super mahal. Kenaikan BBM membuat kenaikan gaji yang baru aja diberi dengan predikat masih di atas inflasi menjadi terasa “kurang” berfaedah. Seakan sekedar menyamakan posisi seimbang tahun lalu dan niat untuk menabung “kelebihan” dari gaji yang sudah dinaikkan menjadi harapan untuk dipupuk kembali buat tahun depan.

Dan sekarang, ada kemacetan di jalan akibat demo BBM. Demo membuat macet jalan. Siapa yang kesal? Siapa yang memaki?

Saya adalah salah satu dari ribuan orang yang pada tahun 1998 kemarin turun ke jalan, ikut demo, merasakan sendiri sensasi ditodong senapan laras panjang, diintimidasi oleh beberapa orang tegap berseragam ketika melintas di jalan casablanca, sendirian, sepulangnya demo di depan gedung hewan eh dewan terhormat dengan jaket almamater terikat di pinggang. Saya yang saat itu menjadi mahasiswa dengan tugas utama menuntut ilmu begitu merasa tergerak turun ke jalan menuntut keadilan. Yang terlintas adalah wajah orang tua yang membiayai saya kuliah. Saya ingin punya andil dalam perbaikan politik negara ini – dengan cara yang mungkin ekstrim – dalam harap penuh bahwa terjadi perbaikan ekonomi di kemudian hari. Saat itu biangnya koruptor berhasil digulingkan, biang pembodohan masyarakat berhasil digusur. Kami, mantan demonstran 1998 bahagia dan bangga dengan wacana REFORMASI.

Tahun bergulir, apakah ekonomi makin membaik?

Reformasi yang diperjuangkan 1998 telah usang. Basi. Reformasi adalah celah utama kecurangan. Dulu korupsi terlihat jelas di lapisan atas, sekarang? Korupsi bahkan sudah didemonstrasikan dengan jelas saat urus KTP. Betapa para fakir jabatan terhormat rela buang uang bermilyar rupiah demi bisa mendapat predikat WAKIL RAKYAT. Reformasi sudah usang. Pejuang 1998 pun banyak yang sudah lupa semangat membela rakyat. Yang diingat hanya semangat membela perut sendiri, bahkan rela menyikut mereka yang menjadi saingan – mungkin saja saingannya itu adalah mereka yang dulu sama -sama berteriak di jalan, lari saat dikejar peluru, di tahun 1998.

Korupsi merusak negara. Terlihat jelas. Namun dibiarkan saja. Pemberantasan tidak lebih baik dari komedi satir. Penjara ada kelas VIP. Penjara bisa dijadikan kamar untuk melepas hawa nafsu dengan membayar sejumlah harga yang telah disepakati sesuai dengan pendistribusian hasil. Becanda semuanya.

Harga minyak dunia memang meningkat. Jadi wajar kah harga BBM naik? Kembali pada iman dan kepercayaan masing-masing saja. Saya berterima kasih pada tulisan Ibu Rieke Diah Pitaloka yang menjabarkan pendistribusian keuntungan penjualan BBM sekaligus menapik wacana Jebolnya APBN jika harga BBM tidak dinaikkan. Saya yakin penjabaran yang beliau buat sudah didukung dengan perhitungan matang yang dilakukan oleh ahli matematika ekonomi. Saya juga yakin bahwa banyak yang siap memberi argumen lebih hebat lagi. Silahkan, ini memang ajang kalian untuk demonstarsi kepintaran dan silat lidah.

Yang saya lihat sekarang hanyalah mereka, yang tanpa pemahaman jelas hanya tahu bahwa kenaikan BBM – apapun alasannya – akan membuat mereka semakin miskin.
Mereka adalah orang-orang yang berjuang demi bertahan hidup. Mereka berjuang demi pemenuhan kebutuhan dasar. Mereka turun ke jalan dengan tujuan jelas walau tak bisa dipungkiri banyak juga yang mendompleng gerakan “bodoh” itu dengan tujuan tertentu: menjungkirkan rezim saat ini. Ada keuntungan politik di dalam gerakan “orang-orang bodoh”.

Mengapa mereka “bodoh”? Karena mereka sengaja dibikin bodoh. Wong mereka ga bisa mendapat pendidikan tinggi karena mahalnya pendidikan. Dan akan semakin bodoh karena memang akan semakin mahal. Orang-orang “bodoh” itulah yang turun ke jalan dan bikin macet jalanan, bikin kita semua yang “pintar” karena telah mengecap pendidikan tinggi dan bahkan punya jabatan tinggi di pekerjaan merasa kesal karena terlambat absen. Bisa dikenakan sanksi dipotong uang makan. Kita orang “pintar” yang mungkin saat ini sedang duduk di mobil sejuk mudah sekali menghakimi mereka “orang bodoh” yang berjuang di bawah terik matahari.

Orang “bodoh” itu memperjuangkan perut mereka, yang akan membawa efek makro: memperjuangkan perut orang “pintar”. Mereka yang berjuang dan – kalo berhasil – maka orang senegara kaya ini yang akan menerima hasilnya. Kalo gagal? Ya mereka makin terpuruk sementara yang sudah mapan paling tidak hanya stuck di level yang sekarang saja. Tidak akan menjadi makin miskin. Kan udah naik gaji. Rite?

Saya hanya ingin menghimbau, janganlah kita memaki mereka yang demo menolak kenaikan BBM. Walau memang kemacetan total yang diakibatkan namun hasilnya (jika sukses dan didengar pemerintah) akan menolong kehidupan kita semua koq. Jangan menghujat, kecuali untuk gubernur jakarta yang sekarang ini karena emang ga bisa ngasih bukti janjinya dalam menanggulangi kemacetan total, setiap saat, tanpa ada demo sekalipun.

Mari, kita dukung dan doakan mereka para demonstran yang berjuang. Kita lihat gerakan ini sebagai akumulasi kemuakan atas ketidak adilan dan pelanggaran sila-sila Pancasila. Jangan menghakimi mereka semua. Jika saja pemerintah mendengar aspirasi rakyat dan hidup jujur dalam menjalankan fungsi-fungsinya niscaya kenaikan setinggi apapun tidak akan menyulitkan rakyat karena keadilan dan pembangunan merata sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Wacana. Harapan belaka. Mimpi di siang bolong.

Hidup perjuangan!
Manusia hidup harus berjuang!
Tidak berjuang maka manusia tidak layak hidup!

Tuhan jaga semua demonstran.
Tuhan jaga semua orang yang memiliki hati tulus memperjuangkan kebaikan negara.
Tuhan menilik semua orang yang mengambil keuntungan sepihak di balik pengorbanan mereka yang berjuang.

Yang hampir menangis di dalam omprengan,

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Cintah

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s