Pilih Gadget Karena Fungsi

Wacana bahwa saya lagi mengincar iPad telah menjadi berita hangat dalam beberapa komunitas, mengapa? Pertama karena saya dikenal sebagai “fanboy” gadget berbasis Android. Saya sudah kadung dicap sebagai Pria ber-Galaxy Tab yang sudah saya miliki sejak bulan Oktober 2010 sejak pertama kali dijual secara resmi di Jakarta yang waktu belinya rela antri dari jam 5:30 di Plaza Senayan yang bahkan belum buka demi menjadi salah satu pemilik pertama juga kesempatan mendapat diskon Rp.1.000.000 dari harga jual normal. Semenjak saat itu GT selalu menjadi teman terdekat saya. Menghibur di kala butek kejebak macet, pengusir kebosanan kala pagi hari nongkrong di wésé, pasangan mumpuni kala ngecenk di mol, saksi pertama yang menjadi curahan isi hati kala ngeblog dan lain sebagainya. Pokoknya bisa dibilang bahwa GT dan saya bagai lem ama perangko, batman ama robin, martabak ama telor dan tata ama dado.

Yang saya sukai dari GT tidak lain adalah segala kemudahan yang diberikan sebagai hasil perkawinannya dengan OS Android. Mau ngapa-ngapain gampang banget, masalah per-email-an, save gambar yang disuka dari web terus share ke mana pun, belum lagi tersedianya berbagai software full version yang bisa dimiliki dengan gratis. Amat menyenangkan. OS Android memang menyediakan fitur yang amat user friendly, sangat mudah digunakan bahkan oleh pemula sekalipun. Olah gambar secara digital dan kemudiam dibagikan secara virtual terasa begitu mudah. Diintegrasikan ke dalam jejaring sosial favorit menjadi fitur paling idola. Ditambah lagi harga yang relatif murah. Dengan kisaran harga di bawah 2 jutaan anda sudah bisa mendapat berbagai kepintaran yang jaman dulu terasa bagai fitur premium. Yang menjadi pembeda antara hape harga menengah dengan kelas premium hanyalah kejernihan layar dan kecepatan prosesor. Ya harus adalah perbedaan antara yang mahal dengan yang murah lah… Namun tak dipungkiri kehadiran Android mampu merubah harga pasaran gadget mumpuni di dunia. Pokoknya saya cinta banget sama Android beserta segala kemudahan dan kemurahannya.

Atas segala hal itu saya selalu menertawai orang-orang Indonesia yang tergila-gila sama produk Apple, yang rela antri berjam-jam demi sebuah device dengan harga ga masuk akal dan fitur yang ga beda jauh bahkan setara dengan apa yang diberikan oleh Android. Perbandingannya gini, dengan harga produk Apple Rp.6juta, kalian bisa mendapatkan teknologi yang (hampir) sama dengan hanya membayar produk Android Rp.4juta saja. Gilak kan?

Tetapi ada hal yang memang mungkin tidak disadari oleh kebanyakan pengguna gadget di negara ini. Hal itu adalah: FUNGSI. Yup, pengguna gadget di negara ini kebanyakan didorong oleh faktor fashion yang bisa menaikkan derajat sosial di tengah komunitas. Rasanya gimanaaaaa gitu saat bisa menggenggam perangkat mumpuni di tengah keramaian dan menjadi pusat perhatian orang. Hal yang sama juga saya alami saat memakai GT beberapa bulan pertama, banyak yang masih bingung ketika melihat saya melakukan pemotretan menggunakan “nampan” lalu bisa langsung mengedit gambarnya di tempat yang sama dan langsung kirim hasilnya ke mereka yang menginginkannya. Saat itu orang-orang pasti menganga melihat kecanggihan dan kefasihan saya saat mengutak-atik walhasil membuat diri ini merasa jumawa. Keketjhean meningkat 257%!
Beberapa bulan kemudian mulai lah bertebaran para fotografer yang menggunakan “nampan”, jadi ingat bahwa saya pernah diketawain gara-gara hal itu. Heheehehehe.

Sayangnya, pengguna gadget banyak yang tidak menggunakan fungsi yang dikandung, hanya sekedar dipakai untuk telepon dan chat. Paling maksimal hanya untuk foto terus dikasih filter dan dikirim ke facebook atau twitter, kesannya udah bisa menghasilkan foto yang canggih banget. Syah-syah aja sih, namun sayang bangeeeeeet. Itulah mengapa saya sangat “menghina” para pengguna produk Apple yang – kebanyakan – memakainya buat gaya aja. Rela antri berjam-jam dan bayar mahal banget demi bisa mendapatkan penampakan Apple Tergigit yang menyala di perangkatnya, berharap bisa membuat orang lain iri pas melihat. Padahal digunainnya hanya untuk telepon, chat sama email aja. Sayang banget kan? Saya ingat banget dulu iPhone 3GS pernah dijual sampai seharga Rp.12 juta. Hanya dipakai untuk hal yang bisa dicapai dengan gadget seharga Rp.6 juta. Untuk apah???!!!

Tetapi jika sekarang saya mulai beralih pada perangkat Apple, apakah itu salah? Apakah saya berkhianat? Sebelum kalian menuduh lebih jauh mari dengarkan argumen saya.

Sejak awal saya sudah bilang bahwa pembelian gadget itu adalah karena FUNGSI-nya, ditambah faktor pendukung lain yang tak kalah penting: harga. Ketika saat ini Apple mulai menjadi pilihan semata-mata karena saya memiliki kebutuhan tinggi dalam hal olah multimedia. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa Apple memang ahlinya multimedia. Maka saya membeli Macbook Air. Saya yang saat ini sangat ingin menjadi musisi tunggal merasa sangat terbantu dengan teknologi yang tertanam di situ. Saya yang lagi belajar edit foto tingkat lanjut merasa amat terbantu dengan teknologi yang memanjakan mata. Android memang menyediakan semua hal itu namun tetap kualitasnya di bawah Apple. Kemarin saya sempat mengutak-atik foto menggunakan “Little Photo” dari Android dam kemudian saya retouch menggunakan “iPhoto” milik Apple, hasilnya? Ga kalah dengan foto setudio. Padahal foto yang saya edit itu lokasi pemotretannya cuma di kamar dan dengan pencahayaan lampu neon ala kadarnya. Kemudian saya juga sedang berusaha membuat komposisi one man band menggunakan “Garage Band” – software yang membuat saya membulatkan tekad untuk memakai Apple. Mengutak-atik lagu tidak pernah semudah itu, juga kualitas suara yang demikian mumpuni – hampir terdengar natural, bagai menggunakan alat musik analog. Dari macbook langsung saya sambung ke ampli, hasilnya saya seperti bermain musik dalam band penuh. Hal itu tidak bisa dihasilkan dengan maksimal jika “hanya” menggunakan Android. Jadi jelas dong apa alasan saya? Hehehhe.

Satu hal lagi, tau kah kalian kenapa Apple menjual iPhone dengan harga yang mahal – terlepas dari permainan intern regulator di negara ini yang nge-mark up harga tinggi banget? Karena iPhone bisa dijadikan insturmen musik yang mumpuni. Satu kelompok musik pernah manggung dengan masing-masing personil menggunakan iPhone (dan iPod) sebagai pengganti instrumen analog yang biasa mereka gunakan. Efek gitar pun bisa diganti dengan hanya menggunakan iPhone/iPod/iPad. Peenah liat orang main piano pake iPad? Bahkan ada kemampuan touch response lhow. Pokoknya gebleg dah. Makanya ga heran kalo kalian liat banyak musisi pas manggung malah bawa-bawa laptop bergambar apel kegigit, itu karena tidak diperlukan lagi emulator sound card tambahan untuk menghasilkan suara yang maksimal dari laptop ke souns system. Perangkat Apple bisa langsung menerjemahkan semua suara dengan maksimal. Kita ga usah ngomong terlalu jauh lah mengenai fitur video karena hampir di semua gadget menyediakan hal itu, bedanya hanya jika mau ditindaklanjuti saja. Banyak koq video clip yang dibuat dengan menggunakan camera blackberry (yang notabene ga maksimal) atau nokia atau deretan samsung galaxy. Saya sendiri juga lagi punya proyek utak atik video hasil rekaman GT dan diolah lebih kanjut pake iMovie. Naaaaaah, hal itu yang saya maksud dengan FUNGSI.

Pemilihan gadget yang tepat (dan hemat sesuai kekuatan dompet dan jantung) itu pertama kali memang harus ditentukan dulu dari diri sendiri, apa yang menjadi kebutuhannya. Bagi saya adalah hal yang hebat jika bisa memakai perangkat sederhana namun hasilnya maksimal, kecuali bila ingin beranjak ke tahap lanjut yang memang tidak disediakan oleh perangkat sederhana. Tentukan dulu apa yang ingin kalian lakukan dengan gadget tersebut, apa hasil maksimal yang bisa kalian buat, pelajari setiap fitur yang terkandung, baru kemudian sesuaikan dengan kondisi dompet. Niscaya kalian mendapatkan gadget kesayangan yang bisa membuat diri bahagia karena terbantu oleh perangkat kecil serbaguna dalam genggaman. Tapi tetep ya syah-syah aja lhow kalo emang tetep pengen beli gadget demi menaikkan derajat. Itu namanya hak asasi. Cuma lucu aja pas sekali waktu ditanyain ini-itu mengenai perangkatnya sang pemilik malah cengar-cengir tak ngerti. Kebanyakan sih dalam perangkat hape, sehingga sering ada istilah: smartphone, stupid user. Paaaaaiiit! Ha3x!

Jadi mohon jangan anggap saya adalah fanboy Android yang berkhianat. Saya membeli karena butuh fungsi yang maksimal. Btw, saya juga ga tertarik tuh buat beli GT varian yang terbaru. Buat apa? Tokh dengan GT edisi perdana ini udah banyak hasil yang cukup maksimal, khusunya dalam fotografi. Saya lampirkan di sini deh beberapa hasilnya supaya keliatan betapa kalo kita mengerti fungsi maka kita bisa melakukan apa ajah.

Semoga tulisan ini ga membuat saya dibilang belagu atau sok tahu ya, apapun itu saya hanya seorang awam yang sok belagu (lhaaaaaaaaaaahhh…).

#PeloekTjiumSemuanjah

Bigbangjoe
Presiden Front Pembela Cintah

image

 

image

image

image

image

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s