Kamuh Belum Kramas Ya?

Pagi ini saya sudah merasa tersiksa, selain karena kaki mulai kram akibat kemacetan juga karena adanya gangguan penciuman akibat menghirup hawa yang kurang sedap dengan intensitas tinggi. Saya kuatir bisa pingsan akibat kurangnya suplai oksigen ke otak. Kalo saya pingsan nanti ga bisa kerja. Kalo ga bisa kerja nanti kerjaan saya menumpuk. Kalo kerjaan menumpuk nanti saya dimarahin. Lihat, betapa saya berpotensi menderita kerugian cukup besar, makanya saya bertahan supaya tidak pingsan.

Sulitnya adalah sumber hawa kurang sedap itu berasal dari rambut seorang wanita (cukup manis) yang entah lah sudah berapa lama tidak dikramas. Diperparah dengan menyerbaknya hawa itu akibat terbawa angin dingin hembusan AC – yang seharusnya menjadi hiburan terbesar kala terjepit di dalam omprengan yang terjebak kemacetan.
Semakin parah, karena wanita yang belum kramas itu meletakkan kepalanya di pundak saya, nampaknya tidak disengaja karena ngantuk. Betapa saya hampir terlonjak genit akibat kaget dengan kehadiran kepala itu! Untung saya orang yang berhati baik, tidak tega membuat malu orang lain. Jadi saya berusaha tenang saja walo tak urung merasa terzolimi. Semakin terzolimi ketika melirik terlihatlah hamparan rambut yang begitu mengkilat, greasy gitu deh… Gosh, kenapa harus sepagi ini saya menerima cobaan?

Beberapa kali saya menggerakkan pundak sebagai tanda tidak terima atas perlakuan lalim seperti itu. Pemaksaan. Termasuk dalam kategori pemerkosaan. Pemerkosaan hak asasi menikmati hidup yang nyaman, bebas dan tentram! Tapi nampaknya wanita itu terlalu ngantuk, mungkin dia abis lembur kemarin malam di kantor, makanya dia benar-benar ga sadar. Tapi ini tidak adil! Sementara saya yakin wanita itu menikmati aroma pakaian yang telah direndam dalam pewangi selama berjam-jam dikombinasi dengan parfum Air Mata Duyung No.12, pastilah dia sedang bermimpi berada di sorga, bermain, berlarian di bukit berbunga, saya berjuang keras mensugesti diri bahwa semua itu hanya mimpi. Berjuang keras supaya tidak pingsan. Menghibur diri sendiri dalam kenyataan bahwa wanita belum kramas itu berwajah cukup manis. Kali aja besok-besok dia jadi penasaran sama pria yang berbaju wangi berparfum eksis di hari rabu pagi. Kali aja dia akan ajak kenalan. Akan saya terima. Tapi kalo ajak lebih lanjut lagi akan saya tolak. Maaf, saya pria beristri.

Akhirnya, pada kali kesekian saya kembali menghentak pundak. Kali ini agak kuat sehingga wanita belum kramas itu terhenyak. Bangun. Melihat kiri kanan, melihat ke arah saya, lalu kembali menutup mata. Namun untungnya kali ini dia tidak menjadikan pundak saya sebagai alas kepalanya lagi. Makanya saya bisa langsung nulis. Hehehehehehe. Tenang, dia tidak bisa membaca isi tulisan ini karena layar GT ini saya miringkan sekian derajat. Jadi dia ga tau bahwa tulisan ini adalah tentang dirinya.

Demikianlah sukaduka di dalam omprengan pagi ini. Pesan moralnya adalah menjadi wangi itu bukan semata-mata karena kamu pengen keliatan kece tapi lebih supaya tidak mengganggu keamanan sosial.

Dan mengapa tulisan ini sedemikian kacau? Karena pasokan oksigen ke otak ini semakin kurang, makanya jadi halusinasi…
Whatever. Selamet beraktivitas yah…

Yang Teraniaya,

Bigbangjoe

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s